11 April 2017

Seleb Dadakan Banjir Kemanh

Untuk kedua kalinya, saya terjebak banjir besar di depan Kemcik selepas magrib tadi. Seperti pada banjir beberapa tahun yang lalu, saya lebih memilih menunggu di atas jembatan Kali Krukut di Kemang Raya. Menerjang banjir jelas tindakan yang sulit diterima akal sehat.



Dari kejauhan, di depan Hooters Breastaurant, terlihat kedalaman air mencapai jok motor para pelintas dari arah seberang. Beberapa ada yang selamat. Puluhan sisanya, ngenes.

Melihat ada yang selamat dari arah seberang, beberapa pemotor dari arah saya berdiri segera mengikuti cara mereka. Lagi-lagi bisa ditebak, hampir semuanya mblebek di jalan.

Air semakin tinggi, para penunggu makin berjejal, kesabaran makin menipis.

Selanjutnya, muncullah ide-ide super yang bahkan belum pernah terpikirkan oleh para inovator maupun motivator kerjakan. Entah siapa yang memulai, satu-satu pemotor mulai menuntun melintasi banjir dengan mesin mati. Beberapa di antaranya membungkus ujung knalpot dengan plastik kresek terlebih dahulu. Beberapa di antaranya menyumpalnya. Banyak di antaranya asal nekat.

Bergelombang-gelombang para pemotor mencoba cara yang sama. Rombongan dalam jumlah belasan hingga puluhan. Melihat tak ada yang kembali, sepertinya cara ini cukup menjanjikan. Lalu disusullah gelombang penuntun lain. Lagi. Lagi dan lagi.

Hasilnya? Embuh. Wong saya tak bisa lihat mereka di ujung banjir. Jaraknya mungkin sekitar 200-300 m di depan sana.

Setelah lebih dari sejam cengo di situ, lalu datanglah sebuah gerobak dengan 4 operatornya berusaha menawarkan jasa. Saya masih asik menonton rombongan orang-orang dari seberang yang setibanya di sisi saya berdiri, mendadak giat berolahraga. Mengengkol mesin motor yang mati tanpa hasil.

Sepuluh lima belas menit berlalu, ternyata jasa gerobak (G) belum juga laku. Iseng-iseng saya (S) tanya.

S: Emang berapa, Bang?
G: 40 rebu aja.
S: Ok. Angkut motor saya.

Motor segera dinaikkan ke atas gerobak, operator menyuruh saya nangkring di atasnya. Tinggi menjulang. Bagai pengantin sunat di atas kuda karnaval yang dengan gagahnya menyalip para penuntun di tengah banjir. Tak lupa pula saya lambaikan tangan ke kerumunan penonton di kanan kiri jalan. Riuh rendah dan suitan bersahut-sahutan untuk sesaat. Alhamdulillah... :D

Seratusan meter di ujung banjir selanjutnya, kanan kiri jalan dipenuhi mungkin ratusan pengendara yang sedang mencoba menghidupkan motornya yang mogok. Bisa dipastikan, besok mereka akan ngantor dengan betis yang kencang.

Makanya entu, Nyak dan Ncing, jangan gampang tertipu iklan. Dibilangnya motor bebek, eh ternyata tak bisa berenang...

Tidak ada komentar: