19 Maret 2017

Gojeg Kere Ala Santri Jadul: Telek Lancung

Ceritanya, di depan rumah kami ada sebuah pesantren kecil yang tetap eksis hingga sekarang. Sebelum tv (apalagi listrik) menyentuh kampung kami, setiap anak remaja hingga yang belum menikah "wajib" tidur di masjid. Mereka yang tetap tidur di rumah diolok-olok tukang netek. Sebutan yang tentu saja tidak disukai.



Namanya juga banyak kepala, pasti ulahnya juga bermacam-macam. Dari yang manis penurut, telmi hingga yang benga-bengal. Perkara yang terakhir menyimpan begitu banyak cerita. Contohnya, ya berikut ini.

Para santri cilik biasanya tidur berderet-deret di ubin tegel. Mereka yan tidur duluan berhak menentukan tempat terbaik dan bebas dari hembusan angin. Maklum, meski sudah bertegel, masjid kami ini belum bertembok. Malah tak ada bangunan gedong di kampung kami.

Karena ruangnya yang terbuka, pada siang hari banyak hewan piaraan yang keluar masuk dan tentu saja berak sembarangan. Para santri kampung yang sudah lewat remaja, biasanya punya kesadaran untuk membersihkan kotoran itu sebelum gelap. Tapi karena jumlahnya yang tak pernah berkurang, tiap hari pasti masih banyak telek lancung yang belum sempat dibersihkan sebelum senja. Kami biasa menandainya dengan menaruh batu sekepalan tangan di sekelilingnya. Jadi, jika dalam gelap kami menyandung batu, ada kewajiban tak tertulis untuk mengembalikan batu batu tersebut ke tempat semula. Biasanya dengan menunggu orang yang punya korek atau senter lewat.

Penanda batu ini juga punya fungsi lain bagi para begundal. Bagi mereka, tidur cepat adalah tindakan yang sangat bodoh. Selain bisa bermain lebih banyak, apalagi kalau sedang purnama, mereka juga punya kesempatan ngerjai para tukang tidur.

Modus yang paling sering, ya dengan mencari batu-batu itu tadi. Caranya, telek lancung terbaik, yang bentuknya seperti pasta coklat dan tidak padat, didulit dengan telunjuk. Lalu dengan segera dan hati-hati diusapkan ke bawah hidung korban. Apalagi jika dapat pinjaman senter, tugas itu semakin mudah dan massif.

Begitulah. Selanjutnya para pelaku dan korban bisa tidur tenang hingga subuh menjelang.

Hasil baru bisa dipetik saat azan subuh berkumandan dan para santri dibangunkan untuk selanjutnya mengambil air wudlu. Dengan sendirinya mereka akan teriak bersahut-sahutan: "Mambu mbelek! Mambu mbelek!".

Cilakanya bau telek lancung itu sulit hilang berapa kali pun kalian basuh kecuali dengan sabun, sesuatu yang sulit didapat pada subuh yang gulita. Apalagi kalau si korban tidak tahu bahwa lancung itu bersarang tepat di bawah hidungnya.

Tidak ada komentar: