22 Juli 2015

Mudik dan Ingatan Masa Lalu


Dulu, penumpang kereta (terutama ekonomi) dengan mudah mengetahui sudah sampai mana kereta berjalan. Dengan memperhatikan pedagang yang naik.

Ketika sampai Cirebon, yang naik adalah penjual nasi murah meriah dengan bungkus kecil. Beli di warung stasiun lebih disarankan.

Di Kroya, giliran penjual pecel kecombrang yang menjajakan dagangan. Pilihan lainnya: gorengan udang yang cuma tinggal kepalanya doang dengan tingkat kekerasan batu akik sungai dareh.


Di Kutoarjo, penjaja menawarkan gorengan berukuran besar plus lontong-lontongnya. Juga suguhan khas lain: special performance dari tiga penyanyi waria: "wer-ewer-ewer... manuke manuk cucakrawa... wer-ewer-ewer" (tambahan dari Mas Nugroho Dewayanto)

Pedagang Jogja sudah pasti menawarkan gudeg dan berbagai macam ikan. Ada ikan ayam, ikan tempe-tahu, ikan telor hingga ikan daging. Semuanya dimasak dalam rendaman madu alias super manis. :D

Di Solo, saya biasanya mabuk dan muntah. Jadi tak membeli apa pun dan lebih banyak berdoa. :(

Di Madiun, saya hanya berharap semoga kereta segera sampai. Terkadang saya membeli brem untuk menghilangkan asam di mulut. Gimmick marketing dari penjual bilang konon katanya ini penganan berkhasiat menghilangkan jerawat menahun.

Di Nganjuk atau Kertosono, bisa dibeli gethuk pisang yang tak laku sejak kemarin dan diperuntukkan bagi mereka yang berperut tabah.

Di Jombang, baju sudah beraroma segala macam bau yang ada di dunia dan akan hilang setelah melewati laku mandi sehari dua kali selama 1 purnama penuh. Di situ saya turun.
Terpujilah engkau para supir angkot jomplangan-cukir yang begitu tabah menerima kami para pendatang beraroma syurga.

Begitulah. Kini, semuanya sudah berlalu. Para pedagang telah menghilang entah ke mana, dan kereta pun sudah ber-ac.

Hanya Agnes Monica yang diperbolehkan menawarkan dagangan. Untuk penumpang yang akan tiba dalam keadaan kelelahan dan tentu saja masuk angin.

Salam...

2 komentar:

Salman Faris mengatakan...

Kenyamanan memang agak menghilangkan suasana kedaerahan yang dulu bisa dirasakan di setiap stasiun pemberhentian, dulu pas di daerah Cirebon pasti banyak yang dagang nasi lauk yang enak2 dengan harga murah meriah

Ipoul Bangsari mengatakan...

ya begitulah mas faris. perubahan selalu ada kurang dan lebihnya. orang jadul memang susah berubah, termasuk saya. :))