19 Juli 2015

Arus Balik Lebaran 2015: Revolusi Ala Pak Jonan Pada Kereta Ekonomi



Kereta Ekonomi Jayabaya jurusan Surabaya Gubeng-Pasar Senen ini patut dipujikeun.

Pertama, rangkaian gerbongnya baru dan kinclong. Lebih baru dari Kereta Mutiara Selatan yang beberapa hari lalu kami tumpangi. Setidaknya karoserinya terlihat baru. Dugaan saya, ini hasil kerja INKA Madiun.

Kedua, pendingin ruangan alias AC-nya didesain built in ke dalam bodi kereta. Bukan sekedar tempelan seperti pada Kereta Bisnis Mutiara Selatan atau ekonomi Serayu (pagi dan malam). Sehingga temperatur lebih stabil dan merata ke seluruh ruangan. Malah saat mentari tenggelam gerbong berubah menjadi kulkas raksasa.


Ketiga, kaca jendela yang lebar. Jadi terkesan lebih berkelas dan ruangan terasa lebih lega.

Keempat, toiletnya sudah lebih maju dari model kereta ekonomi lama yang langsung bolong ke rel. Itu sebabnya, dulu ada larangan beol selama kereta berhenti di stasiun. Lha itu yang kebagian nyethoki harta karun siapa? :P

Yang ini hampir semuanya dibikin dari stainless steel. Mulai dari dinding, lantai, atap hingga jamban jongkoknya. Akibatnya, saya jadi teringat peturasan Masjid Istiqlal. :))

Kelima, sambungan antar gerbong dikerjakan dengan rapi sehingga suara benturan roda dan rel besi relatif terdengar tak terlalu keras dari sebelah pintu. Bau asap diesel lokomotif juga tak tercium dari gerbong 7.

Keenam, ciri kereta ekonomi tetap dipertahankan. Seperti tempat duduk yang tegak saling berhadapan, tak ada tirai jendela, aroma minyak kayu putih dan goyangan kereta yang memabukkan.

Cuma kurang pedagang pecel keliling dan special performance para banci wer ewer-ewer saja. :P
Oh, iya. Harganya juga terlalu mahal untuk ukuran kereta ekonomi. Malah lebih mahal dari kereta bisnis yang tempohari kami naiki. Bayi di bawah 2 tahun juga dikenakan tarif penuh. Padahal di kelas bisnis dibebaskan. Untungnya, ini lebaran. Di mana stok maaf dan pemakluman banyak tersedia.

Selebihnya, saya angkat topi.

Salam hormat...

Tidak ada komentar: