20 Agustus 2014

Tentang "Klepto" di Kantor

Gambar suasana dalam pasar di Pasar Minggu. Tidak ada hubungannya dengan tulisan. Biarin.

Tahu dong apa itu klepto? Kata Wikipedia kleptomania atau yang biasa diucapkan secara singkat menjadi klepto adalah:
"Kleptomania (bahasa Yunani: κλέπτειν, kleptein, "mencuri", μανία, "mania") adalah penyakit jiwa yang membuat penderitanya tidak bisa menahan diri untuk mencuri. Benda-benda yang dicuri oleh penderita kleptomania umumnya adalah barang-barang yang tidak berharga, seperti mencuri gula, permen, sisir, atau barang-barang lainnya. Sang penderita biasanya merasakan rasa tegang subjektif sebelum mencuri dan merasakan kelegaan atau kenikmatan setelah mereka melakukan tindakan mencuri tersebut. Tindakan ini harus dibedakan dari tindakan mencuri biasa yang biasanya didorong oleh motivasi keuntungan dan telah direncanakan sebelumnya."

Sebenarnya terlalu kejam sih kalau dibilang kebiasaan yang akan dibahas disini sebagai klepto. Karena dalam klepto, ada unsur kesengajaan, juga kelainan jiwa. Sementara disini mungkin lebih tepat disebut khilaf. Khilaf mengambil barang orang lain. Hahaha. Tapi sebagai bahan candaan, ya sudah kita sebut saja sebagai klepto.

Bagusnya, (ya ngga ada bagus-bagusnya juga sih) ini dilakukan secara tidak sengaja. Mengapa begitu? Nah. Di sini masalahnya.

Jadi rupanya, saat sibuk dengan beberapa fokus sekaligus, otak kesulitan mengingat beberapa hal kecil. Maka tak mengherankan saat mengerjakan ini-itu, lalu kebetulan kita meminjam barang milik orang lain, lalu kita membawanya seolah itu milik kita. Sekali lagi, tanpa sengaja.  Barang yang sering kali jadi bahan klepto: bolpen, pensil, penggaris, penghapus, tip ex, pengokot (straples), gunting, spidol, kalender meja hingga tisu.

Dan menurut teori, cowok lebih sulit multitasking dibanding kaum hawa. Sehingga pria lebih mudah klepto dari cewek. Teori dari mana? Dari saya. Iya. Dari saya. Pokoknya dari saya. Tak usah tanya lebih lanjut. :D

Nah. Di sini ada sebuah kejadian paling di kenang di pabrik kami hingga saat ini.

Suatu kali, ada klien yang datang ke pabrik kami. Si klien ini memiliki sedikit masalah administrasi dengan kami sehingga dia perlu untuk berbicara dengan atasannya via telepon. Pada perkembangannya, si klien tidak bisa menjawab beberapa pertanyaan penting dari bosnya. Dan untuk itu, si klien ini menyilahkan si bos untuk berbicara langsung dengan salah satu staf pabrik kami. Sebut saja Fulan Bin Fulan.

Begitulah. Pembicaraan berlangsung relatif lama, sampai kemudian si klien ini pamit pulang.

Berselang beberapa menit kemudian si klien menelpon si Fulan menanyakan apakah hp-nya ketinggalan. Di situlah si tersangka itu menyadari telah mengantongi hp yang dimaksud. :))

Dan sialnya, kali ini saya lah pelakunya. Yang lebih saya sesali, kok ya si klien inget gitu loh. :))

2 komentar:

oelpha mengatakan...

tinggal bilang "ups!" hahahahahaha....

Ipoul Bangsari mengatakan...

pengalaman pribadi juga ya? :P