27 Agustus 2014

Batu Mulia: Mainan Baru Kelas Menengah

Brazilian Amethyst. Sebagian kalangan menyebut Amethyst dengan Kecubung. Jenis potongan ini disebut cabochon. Hasil gosokan sendiri.

Ada hal yang baru di Pasar Minggu belakangan ini. Setidaknya setelah lepas lebaran yang lalu, saya baru menyadari kehadiran beberapa pengasah batu mulia di deretan kios dari stasiun hingga pertigaan Poltangan. Kehadiran para tukang gosok yang menyewa kios ini melengkapi deretan penggosok di emperan perempatan lampu merah pasar yang sudah lebih dulu ada bertahun-tahun sebelumnya. Berbeda dengan pengrajin yang di emperan, para penyewa kios tersebut beroperasi hingga larut malam. Meski begitu, beberapa pedagang baru juga dijumpai menggelar dagangan di sisi trotoar stasiun pada malam hari dengan memanfaatkan penerangan dari lampu para penjual buah.


Menjamurnya perdagangan batu mulia ini ternyata tak hanya terjadi di Pasar Minggu. Di beberapa tempat, menurut pengakuan rekan-rekan kerja, juga menjamur kios-kios sejenis.

Di Jakarta Gems Centre atau biasa disebut Pasar Rawa Bening Jatinegara yang merupakan pusat perdagangan batu mulia terbesar se-Indonesia, jumlah pedagang juga terlihat melonjak beberapa waktu belakangan. Hal ini bisa dilihat dari jumlah pedagang yang berjualan di luar gedung, terutama di jalanan kecil memanjang di sebelah pasar. Jumlah pengunjung pun tak kalah banyak dengan pengunjung di dalam mall. Maka tak heran, pada hari libur para pemotor kesulitan mendapatkan parkiran bahkan untuk parkir tidak resmi.

Ametrine dengan potongan faceted. Batu ini terkenal karena dwi warnanya.

Mungkin akan ada yang bertanya, apa sih menariknya batu-batu itu? Sejujurnya ini pertanyaan yang sulit di jawab. Yang jelas, tradisi memakai batu mulia sudah terjadi jauh sebelum masehi. Bahkan sejak jaman Fir'aun.

Lalu, apa sih yang membedakan batu-batu itu? Secara singkat, batu-batu mulia itu terbagi dalam dua kategori besar: akik dan permata. Mudahnya, akik tidak tembus cahaya sedangkan permata lebih bening dan mengkilap.

Soalnya harga, keduanya bisa jadi relatif sulit dibandingkan. Kalau dulu akik lebih dianggap lebih murah, sekarang mitos itu gampang dipatahkan. Penentunya: kelangkaan, warna, motif/gambar dan lain-lain. Belum lagi embel-embel khadam dan sejenisnya. Maka jangan heran sebuah batu akik bisa berharga berlipat-lipat kali dari sebuah permata yang pasaran.

Seorang karib pernah bilang, maraknya bisnis batu ini menunjukkan membaiknya perekonomian negeri ini. Secara sederhana, dia menjelaskan begini: setelah orang kenyang, berpakaian bagus dan hidup layak, mereka kemudian membutuhkan klangenan (hobi). Pendeknya, ada uang lebih. Berita bagusnya, perkembangan ini terjadi di mana-mana.

Selamat datang kemakmuran...

4 komentar:

kw mengatakan...

wah akik itu batu mulia bukan si?
kalau kelas menengah mainnya bukannya di batu-batu jamrud, giok gitu2:))

Ipoul Bangsari mengatakan...

akik itu masuk berharga. jamrud masuk golongan permata. zamrud berkualitas bagus harganya ajegile...

Anggara mengatakan...

di kantor, malah saling uji coba dengan menyentuhkan batu ke layar ponsel. Entah bener entah tidak metode itu

Ipoul Bangsari mengatakan...

Mungkin maksudnya disenteri mas