17 April 2014

Paspor untuk Bre: Kantor Imigrasi Jaksel yang Asik


Ceritanya, pagi ini kami membuatkan paspor untuk si bontot Bre (4 bulan). Nah. Karena saya terkesan, maka saya berniat menuliskan pengalaman tersebut.

Ok. Baiklah. Saya mulai dengan ceritanya dengan hal yang tak enak dulu, pendaftaran layanan paspor online.

Sebelumnya, setelah browsing sana sini, saya berkesimpulan bahwa pendaftaran online akan memudahkan dan mempersingkat waktu pembuatan paspor. Maka, sehari sebelum mendatangi kantor imigrasi saya berniat mencobanya. Pertama proses berlangsung bagus. Semua langkah mudah dimengerti dan diisi. Masalah ada di step terakhir yaitu saat mengunggah data pendukung seperti hasil pemindaian KK, KTP dan sejenisnya. Kurang lebih 3 jam dari waktu istirahat makan siang hingga asar menjelang saya mencoba dan hasilnya gagal. Mau tak mau kami melewatkan prosedur ini.



Selanjutnya, pagi ini kami memutuskan untuk berangkat langsung ke kantor Imigrasi Jakarta Selatan yang berlokasi di Warung Buncit tak jauh dari tempat kami tinggal. Sempat terpikir untuk menggunakan layanan jasa orang ketiga (alias calo) sih, tapi kami tidak tahu harus menghubungi siapa dan bagaimanya. Ya sudah, kami putuskan untuk langsung datang saja.

Sekitar jam 6 pagi kami sampai di lokasi. Belasan orang sudah mengantri di pintu masuk, padahal sama sekali belum terlihat adanya kehadiran pegawai. Dari petugas keamanan di pintu masuk gedung kami mendapat penjelasan bahwa kantor baru buka satu setengah jam kemudian. Dia menambahkan bahwa untuk anak di bawah 2 tahun dan lansia di atas 60 tahun akan diperbolehkan masuk terlebih dahulu. Juga memiliki nomor antrian dan loket tersendiri.

Pukul 7 tepat, seorang petugas berpakaian rapi jali wangi berdasi yang murah senyum memegang mikrofon melakukan sambutan selamat datang dan ucapan terima kasih atas kepercayaan para pemohon paspor kepada institusi Imigrasi Jakarta Selatan. Selama kurang lebih 15 menit dia menjelaskan detil prosedur yang akan ditempuh, dokumen yang harus disiapkan termasuk fotokopinya, pukul berapa loket di buka dan sebagainya. Dari sini saya mulai menilai lumayan nih kantor.

Mendekati setengah delapan pemohon paspor anak di bawah 2 tahun dan para lansia dipersilahkan masuk terlebih dulu disusul pemohon yang lain. Kami mendapat nomor urut 3.

Setelah masuk (ke lantai dua), kami langsung mendapatkan nomor antrian plus selembar isian registrasi yang harus diisi. Pukul 07:30, seorang petugas melalui pengeras suara mengulang panduan yang sudah diberikan di depan pintu masuk tadi. Namun kali ini lebih detil dan teknis. Yang saya acungi jempol, petugas ini membuka pidato dengan greeting dan humor yang baik untuk mengurangi ketegangan para pemohon paspor. Bahkan beberapa orang sampai terbahak-bahak.

Di sisi lain ruangan di belakang meja, berjaga petugas yang dengan sigap melayani peserta. Saat saya mendatanginya, dia mengucapkan salam dan tersenyum terlebih dulu sebelum saya sendiri, menanyakan dokumen-dokumen dan segera memilah mana yang perlu dan mana yang tidak. Kemudian dia menjepit sepaket dokumen saya yang nantinya akan dipakai di tahap selanjutnya.

Dan yang membuat saya salut, petugas yang saya sebut ini bukanlah pegawai pemula. Beberapa helai rambutnya sudah memutih dan saya perkirakan umurnya sudah lebih dari 40 tahun. Mustinya sih sudah punya jabatan. Atau setidaknya pangkat kepegawaiannya sudah lumayan. Sikap yang sulit ditemui di instansi pemerintah lainnya.

Pukul 08:00 layanan pembuatan paspor dibuka. Satu-satu peserta dipanggil ke ruangan selanjutnya.

Dan pada 08:20 Bre sudah menyelesaikan verifikasi data, sedikit wawancara, pengambilan foto dan mendapatkan kwitansi permohonan pembuatan paspor yang pembayarannya bisa dilakukan di BNI mana saja. Si petugas juga menyilahkan kami untuk pulang. Paspor bisa diambil 3 hari kerja sesudah pembayaran.

Total jendral dari masuk ruangan hingga selesai memakan waktu kurang dari sejam.

Beberapa hal yang patut diacungi jempol di sini:

  1. Prioritas untuk anak-anak, kaum difabel dan lansia
  2. Nomor antrian yang sedang berjalan terpampang besar dan jelas
  3. Penyedia dokumen pendukung yang dilayani koperasi karyawan tidak memungut biaya tinggi. Sebagai contoh: selembar fotokopi dihargai Rp 500,- sama dengan layanan fotokopi umum, surat ijin orang tua untuk bayi/anak plus materai Rp 6.000,- dijual seharga Rp 7.000,-
  4. Photobox yang bahkan lebih bagus dari photobox di mal-mal
  5. Adanya layanan SMS untuk mengetahui nomor antrian yang sedang berjalan. Sehingga pengantri bisa dengan leluasa meninggalkan tempat untuk berbagai keperluan
  6. Dan yang terpenting: TIDAK ADA PEMBAYARAN dalam bentuk apa pun kepada petugas

Kalau begini, himbauan petugas untuk tidak menggunakan jasa calo saya amini dengan senang hati.

Terberkatilah kalian para pegawai di Imigrasi Jakarta Selatan. Semoga kalian dilimpahi berkah dan karir yang baik. Bravo!

Link terkait:
- Membuat Paspor Bayi
- Cara Membuat Paspor Online ~ Daftar Paspor Online Lebih Mudah

10 komentar:

wahyu nurdiyanto mengatakan...

Hai bre..kowe wis gede. Kapan sambang zoey di banyuwangi.jangan keluar negeri dulu sebelum sambang zoey di banyuwangi ya :).

Lucu lucu bre dan ken

Denny Indrayana mengatakan...

Terimakasih banyak Pak. Insya Allah, pelayanan imigrasi terus kami evaluasi dan perbaiki. Mohon terus koreksinya...

Ipoul Bangsari mengatakan...

@wahyu nurdiyanto: semoga ada kesempatan cak...

@denny indrayana: siap, profesor... saya ikut senang dengan beberapa keberhasilan reformasi birokrasi. bravo!

Belajar mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Anonim mengatakan...

Semoga dapat dijadikan role model, bagi kantor imigrasi lainnya, dalam memberikan pelayanan pembuatan paspor yang mengedepankan kepastian biaya, waktu dan persyaratan.

Anonim mengatakan...

terima kasih pak Ipoul Bangsari atas penilainnya dan do'akan kami utk terus semangat memberikan yang terbaik bagi rakyat Indonesia dalam memperoleh layanan keimigrasian.

Ipoul Bangsari mengatakan...

Anonim 1: Amin... kami juga berharap demikian.

Anonim 2: Terima kasih kembali. Semoga makin maju dan bermanfaat bagi semua.

@_mizan mengatakan...

Penasaran dengan prosedur ngecek antrian melalui SMS

Ipoul Bangsari mengatakan...

@_mizan: hambok jajal gawe paspor maneh. :D

cara membuat blog mengatakan...

terima kasih sudah berbagi tentang pengalamannya, artikelnya asik untuk di baca