19 Desember 2014

Bus Baru dari DAMRI Kampung Rambutan - Kawunganten


Pertama kali dalam sejarah sejak berdirinya rekiblik, DAMRI menyediakan bus baru untuk jurusan Kampung Rambutan - Kawunganten dengan tujuan akhir Cilacap. Tidak tanggung-tanggung, 2 bus baru dengan fasilitas yang patut dipujikeun.

Full AC, sandaran kursi yang bisa diatur, toilet, koneksi wifi yang lebih kenceng dari paket internet langanan saya dan jarak antar kursi yang sangat lega. Sudah pasti menurunkan risiko gegar otak bagi mahluk seperti saya. :P Satu-satunya kekurangannya adalah sayangnya bus ini tak bisa terbang.

Mbok, aku mudik naik Mercy...

18 Desember 2014

Buntil Daun Talas


Buntil! Siapa yang tak kenal buntil, makanan top markotop yang bisa membuat pembikinnya masuk surga? Saya kira hampir semua orang jawa mengenalnya dengan baik.

Nah! Setidaknya ada 3 jenis buntil yang saya kenal: buntil daun pepaya, buntil daun singkong dan buntil daun talas. Kedua jenis yang pertama masih banyak dijual di pasar-pasar tradisional hingga saat ini. Sedang yang ketiga memerlukan usaha ekstra untuk mendapatkannya.

Buntil daun talas adalah salah satu masakan bikinan ibu yang menjadi favorit saya hingga sekarang. Isian parutan kelapa mudanya menjadikan buntil terasa gurih di lidah. Selain itu, ibu juga sering menambahkan isian lainnya: yuyu (kepiting air tawar), udang, ikan gabus atau ikan apa saja yang mudah didapat atau malah gratis.

04 Desember 2014

Parkir Partikelir Samping Pabrik


Pernah suatu kali, malah belum lama, terjadi kebakaran di kawasan ini. Berhubung mobil damkar tak bisa masuk karena terhalang banyaknya kendaraan yang parkir, ya gitu deh... Beberapa rumah pun akhirnya menjadi korban. Jangankan mobil blangwir, mobil ukuran keluarga saja musti ekstra hati-hati agar tak menyerempet motor-motor itu. Padahal semestinya jalan ini bisa dilewati 2 mobil sekaligus.

Saat kejadian, polisi sempat melarang parkir di jalan samping pabrik ini. Tapi larangan hanya efektif berlangsung selama 2 hari. Setelah itu, bisnis berjalan seperti biasa.

Sebenarnya jalan ini, karena posisinya yang di cekungan, juga rawan dilanda banjir. Terutama saat hujan turun dengan dahsyat dan lama. Tapi sekali lagi, kontrakan harus dibayar, dapur harus dikebulkan, perut harus diisi.

Tarif: Rp 4.000;- dari subuh hingga mall tutup

29 Agustus 2014

Kunjungan Tanpa Sengaja ke Masjid Istiqlal

Lorong
 Jum'at yang lalu, kebetulan saya dan rekan pabrik tanpa sengaja mampir ke Masjid Istiqlal. Awalnya sih cuma mau nyari tumpangan kamar kecil tapi akhirnya numpang shalat, istirahat sebentar, dan iseng-iseng. Meski pernah beberapa kali mampir ke sini, tapi masjid yang menurut kabar terbesar di Asia Tenggara ini tetaplah mengesankan. Beginilah hasil pengamatan kurang gawean tersebut:

27 Agustus 2014

Batu Mulia: Mainan Baru Kelas Menengah

Brazilian Amethyst. Sebagian kalangan menyebut Amethyst dengan Kecubung. Jenis potongan ini disebut cabochon. Hasil gosokan sendiri.

Ada hal yang baru di Pasar Minggu belakangan ini. Setidaknya setelah lepas lebaran yang lalu, saya baru menyadari kehadiran beberapa pengasah batu mulia di deretan kios dari stasiun hingga pertigaan Poltangan. Kehadiran para tukang gosok yang menyewa kios ini melengkapi deretan penggosok di emperan perempatan lampu merah pasar yang sudah lebih dulu ada bertahun-tahun sebelumnya. Berbeda dengan pengrajin yang di emperan, para penyewa kios tersebut beroperasi hingga larut malam. Meski begitu, beberapa pedagang baru juga dijumpai menggelar dagangan di sisi trotoar stasiun pada malam hari dengan memanfaatkan penerangan dari lampu para penjual buah.

20 Agustus 2014

Tentang "Klepto" di Kantor

Gambar suasana dalam pasar di Pasar Minggu. Tidak ada hubungannya dengan tulisan. Biarin.

Tahu dong apa itu klepto? Kata Wikipedia kleptomania atau yang biasa diucapkan secara singkat menjadi klepto adalah:
"Kleptomania (bahasa Yunani: κλέπτειν, kleptein, "mencuri", μανία, "mania") adalah penyakit jiwa yang membuat penderitanya tidak bisa menahan diri untuk mencuri. Benda-benda yang dicuri oleh penderita kleptomania umumnya adalah barang-barang yang tidak berharga, seperti mencuri gula, permen, sisir, atau barang-barang lainnya. Sang penderita biasanya merasakan rasa tegang subjektif sebelum mencuri dan merasakan kelegaan atau kenikmatan setelah mereka melakukan tindakan mencuri tersebut. Tindakan ini harus dibedakan dari tindakan mencuri biasa yang biasanya didorong oleh motivasi keuntungan dan telah direncanakan sebelumnya."

10 Juli 2014

Fungsi Lain Kopiah

Kopiah milik sendiri. Uang punya bini. Dibelanjakan untuk makan sekeluarga.

Adalah hal yang jamak di kalangan santri tradisional untuk menyimpan uang di antara selipan kopiah. Juga terkadang identitas diri, kuitansi atau apa saja yang dianggap perlu. Mengapa begitu?

Itu karena kopiah adalah aksesoris yang hampir selalu di bawa kemana saja. Mulai dari ngaji, sekolah, belanja ke pasar hingga jalan-jalan. Pendeknya, hanya saat tidur dan ke kamar mandi peci ini dilepas.

Lha kenapa ngga ditaruh dalam dompet saja? Nah. Ini ceritanya lain lagi.

Sebenarnya sudah menjadi kebiasaan santri cuma mengenakan sarung tanpa celana di dalamnya. Baik yang luar maupun dalam. Maka membawa dompet jelas merepotkan. Menyelipkan di bundelan sarung juga berisiko jatuh. Maka jalan keluar yang mudah ya itu tadi. Peci.

Omong punya omong, soal kebiasaan hanya bersarung ini kerapkali memakan korban akibat keisengan sejawat. Mingsalnya saja tiba-tiba diplotrokkan dari belakang di depan khalayak ramai. Dan lalu muncullah apa-apa yang selama ini tak pernah ditampakkan kepada matahari. :D

Tapi itu dulu...

12 Mei 2014

Upil Sebagai Indikator Tingkat Polusi Suatu Kota

Foto jalanan sebelah penginapan di pagi yang libur

Pada pagi yang tenang di bawah pepohonan rindang di kawasan Orchard, saya dan seorang kawan baru menyadari bahwa produksi upil kami jauh menurun dalam 3 hari terakhir. Kesimpulannya: upil menjauhi kawasan yang bersih, dan menyukai daerah yang polusif.

Maka merbahagialah warga Jakarta, atas anugerah upil yang berlimpah...

17 April 2014

Paspor untuk Bre: Kantor Imigrasi Jaksel yang Asik


Ceritanya, pagi ini kami membuatkan paspor untuk si bontot Bre (4 bulan). Nah. Karena saya terkesan, maka saya berniat menuliskan pengalaman tersebut.

Ok. Baiklah. Saya mulai dengan ceritanya dengan hal yang tak enak dulu, pendaftaran layanan paspor online.

Sebelumnya, setelah browsing sana sini, saya berkesimpulan bahwa pendaftaran online akan memudahkan dan mempersingkat waktu pembuatan paspor. Maka, sehari sebelum mendatangi kantor imigrasi saya berniat mencobanya. Pertama proses berlangsung bagus. Semua langkah mudah dimengerti dan diisi. Masalah ada di step terakhir yaitu saat mengunggah data pendukung seperti hasil pemindaian KK, KTP dan sejenisnya. Kurang lebih 3 jam dari waktu istirahat makan siang hingga asar menjelang saya mencoba dan hasilnya gagal. Mau tak mau kami melewatkan prosedur ini.