15 Februari 2013

Jadi Bilal Dadakan

Jumatan barusan terasa sedikit aneh. Speaker masjid tak berfungsi sama sekali alias mati total sehabis khotib menyelesaikan tugasnya hingga shalat selesai dilakukan.

Semula saya, dan mungkin sebagian besar jamaah di lantai bawah, berpikir speaker akan diperbaiki lebih dulu sebelum shalat dimulai. Beberapa saling menengok bingung satu sama lain seperti hendak bertanya, termasuk saya. Nyatanya speaker tidak diperbaiki sama sekali. Yang terdengar malahan teriakan "amin" yang panjang dan lantang dari jamaah lantai atas.

Masjid ini terbagi menjadi dua lantai. Imam dan khotib plus sebagian besar jamaah ada di lantai atas, sementara jamaah di lantai bawah hanya kebagian suara dari pengeras suara.

Tempat favorit saya adalah di lantai bawah persis di bawah tangga besi kecil dengan lubang di lantai atas yang sempit dan belum pernah saya lihat ada orang masuk dan keluar dari situ. Siapapun pengusul tangga ini pastilah orang yang paham Fiqih. Karena alasan itu pula lah saya menyukai posisi ini. Sudah tentu tangga ini tidak dipakai, hanya sebagai sarat biar sah saja. Sementara tangga yang dipakai naik-turun jamaah ya ada di belakang.

Maka sangat wajar bila tanpa pengeras suara jamaah di bawah tidak bisa mendengar suara dari atas. Begitu pun sebaliknya.

Dari tempat favorit saya ini, pada posisi berdiri saya hanya bisa melihat punggung seorang jamaah di atas dari bawah. Tidak lebih. Itu pun kalau dia juga berdiri. Selain pada posisi keduanya berdiri, saya sama sekali tak bisa melihat mereka.

Kembali ke takbiratul ihram.

Antara kaget dan bingung, juga sambil mengintip jamaah di atas, saya memutuskan untuk takbir sendiri. Begitupun jamaah lantai bawah lainnya. Pendeknya, takbir dilakukan sendiri-sendiri tanpa komando.

Sambil shalat, saya mikir. Ini bagaimana kalau nanti tidak ada yang berinisiatif menjadi bilal? Maksud saya, orang yang mengulang ucapan imam para setiap posisi shalat dengan keras dan lantang supaya jamaah lainnya bisa mengikuti imam dengan baik. Pasti kacau balau dan jamaah bisa bubar sendiri-sendiri. Saya sendiri juga sempat bingung. Ya wis. Saya memantapkan diri menjadi bilal, dengan catatan kalau tidak ada orang lain yang melakukannya.

Dan benar saja. Saat jamaah atas mulai melakukan ruku', saya "terpaksa" menjadi pemandu bagi jamaah bawah. Masalahnya, saya juga tidak bisa mendengar suara imam. Hanya sedikit gerakan makmum yang bisa saya intip. Maka saya melaksanakan jurus tertinggi sepanjang hayat. Ilmu kira-kira!

Semua gerakan setelah ruku' sudah dipastikan hanya berdasar perkiraan. Saya sendiri ndak yakin berapa lama delay tiap gerakan kami dengan gerakan imam. Namanya juga darurat. Pokoknya sampai takhiyyat pertama berakhir, semuanya berjalan lancar. Setidaknya saya berharap demikian.

Masalahnya terbesar ada pada posisi duduk takhiyyat akhir. Sudah tidak bisa mengintip, tidak pula terdengar suara dari atas sama sekali. Semula saya berharap akan terdengar sedikit saja suara imam atau makmum dari atas. Saya memasang telinga baik-baik cukup lama. Malah bisa dibilang lama sekali.

Dan nyatanya tidak terdengar suara dari atas sama sekali. Pun jamaah bawah tidak ada yang mengucapkan salam. Sampai akhirnya saya mendengar suara gaduh anak-anak yang berlarian di luar. Saya memutuskan mengucapkan salam. Dan jamaah lantai bawah lainnya mengikuti.

Di luar, jamaah atas sudah menenteng sajadah. Sebagian malah sudah klepas klepus menikmati merokok.

Begitulah. Jumatan kali ini dimulai dengan teriakan "Amin..." dan diakhiri dengan teriakan anak-anak. Nuwun sewu, Gusti...


5 komentar:

kw mengatakan...

hohohoho......
biasanya di lantai bawah itu dipasangi tipi, pernah sih kejadiah yg sama, tp jamaah tak mendengar suara imam, jadi tipilah yang menggantikannya :)

bangsari mengatakan...

Di kantor lama juga pernah ngalami. Suara mati tapi tipi idup dan suara mati tipi mati. Keduanya teratasi karena bilalnya siap.

maslie mengatakan...

masjid ndi kui kang?jangan2 masjidnya pns yang dananya akan habis *suudzon

endik sangar mengatakan...

Meh podo yen aku dikon ng nggrejo, ngertine amin tok, soale mesti aku turu

iwan hariyanto mengatakan...

diterusin sampai sekarang juga gpp gan
catatan bang harie