28 Januari 2013

Sekilas Tentang Harga Padi

Malam minggu kemarin, seperti biasa, saya menelpon ibu. "Padi kini turun jadi 500 kurang seprapat", sebut Ibu di seberang telepon. Maksudnya Rp 475.000,- per kwintalnya. Ini berarti turun signifikan dibanding beberapa bulan yang lalu saat harganya mencapai 600 ribuan. Malah kalau tak salah padi kami sempat dihargai lebih dari itu. Jelas ini kabar yang menyenangkan bagi petani

Lebih menyenangkan lagi seandainya itu terjadi pada jayanya lumbung kami yang bisa memuat hingga 14 ton sekali panen. Tapi itu dulu. Dulu sekali. Saat tanah kami masih utuh dan anak-anak baru memulai sekolah. Sayangnya tidak begitu.

Kemudian ingatan saya terbang, ceile terbang, ke taun 93-94 saat masih duduk di bangku SMA di Jombang sana.

Dalam satu perjalanan dengan kereta ekonomi yang penuh sesak setelah libur lebaran, saya berangkat bersama Kang Udin, santri pondok khufadz Tebuireng yang sudah seperti keluarga bagi kami. Mukanya murung sepanjang jalan.

Usut punya usut, pangkal masalah adalah harga padi yang sedang turun. Masalahnya, itu berimbas pada uang sakunya yang mau tak mau ikut menciut.

Belum lagi, menjelang panen tanamannya sempat roboh sehingga padinya terendam air. Padi roboh menjelang panen jelas musibah bagi petani. Harganya dipastikan turun jauh. Maka, tambah sedihlah dia punya tampang.

Seingatku dia sempat menyebut angka Rp 18.000,- per kwintalnya. Empat ribu lebih murah dari harga normal di kampung kami waktu itu. Pokoknya bakalan priatin kuadrat deh.

Trus? Ya sudah, itu saja.

So, apa yang mau disampaikan dalam cerita ini? Tidak ada. Sekedar berbagi cerita saja. Lumayan untuk melatih kelenturan jari. :D

4 komentar:

Pinkina mengatakan...

Horeeeeeeeeeeee ngeblog lagi, gak sido dadi mantan blogger. mari dirayakannnnnn

Muhammad Syaefulloh mengatakan...

ayo, makan-makan nang omahmu ping...

gambarpacul mengatakan...

vi2ng juga suwi ra tau posting yah...

admin mengatakan...

Mbak vivink postingane dagangan terus