29 Januari 2013

Kwaci Seharga 65 Juta


Sekitar 3-4 tahun yang lalu, adik saya yang waktu itu sedang kuliah di Al Azhar, dengan biaya dari organisasi akhirnya bisa pulang. Jelas ini peristiwa yang istimewa bagi kami. Masalahnya, apalagi kalau bukan perkara biaya? Hehehe.

Nah. Sudah menjadi kebiasaan bagi siapa pun mahasiswa yang pulang ke Indonesia, maka dia akan mendapat berbagai macam titipan. Apalagi saat hendak balik ke sana. Namanya juga sudah tradisi.

Begitulah. Ceritanya, salah satu orang tua dari teman adik saya juga hendak menitipkan oleh-oleh. Tidak istimewa. Hanya sebungkus kwaci. Tidak lebih.

Beliau, yang ternyata adalah salah satu kyai sepuh di Cilacap, menyempatkan untuk menemui adik saya di rumah dan terjadilah obrolan hangat ngalor ngidul.

Singkatnya, lalu sang tamu pamit dan selanjutnya barang titipan dikumpulkan menjadi satu dengan yang lain. Sampai di sini semua baik-baik saja.

Cerita kemudian beralih ke adik saya. Karena kepulangannya dibiayai organisasi dengan tujuan untuk membantu adik-adik kelas yang hendak kuliah di sana, maka mau tak mau dia musti tinggal agak lama di sini. Pendeknya, dia baru bisa berangkat lagi sekitar 3 bulan kemudian.

Rupanya pak kyai yang kemudian baru mengetahui hal ini sepertinya agak "gelo" dan mengutus santrinya untuk mengambil titipan tadi. Sampai di sini kami tak tahu lanjutan ceritanya.

Beberapa bulan kemudian, Bapak saya mendapat kelanjutan cerita tadi dari Kyai Mujib, kyai pesantren dekat rumah yang disegani dan masih bersaudara dengan kyai sepuh tadi.

Jadi, rupanya pak kyai tersebut akhirnya memutuskan untuk mengantar sendiri kwaci kegemaran sang anak langsung ke Mesir sana. Itung-itung sekalian ingin menjenguk dan mungkin sedikit plesir. Sang ibu juga diajak serta.

"Jebul, murah. Berdua cuma 65 juta pulang pergi", cerita Kyai Mujib menirukan cerita pak kyai sepuh sambil geleng-geleng kepala antara tak percaya dan takjub.

Kalau dipikir-pikir sebenarnya ngga heran juga sih. Wong memang nyatanya kyai sepuh tadi memang berada.

Cuma ya itu tadi. Lha wong cuma kwaji kok ya jadinya sampai puluhan juga. Byuh!

Gambar diambil tanpa ijin dari sini.

28 Januari 2013

Sekilas Tentang Harga Padi

Malam minggu kemarin, seperti biasa, saya menelpon ibu. "Padi kini turun jadi 500 kurang seprapat", sebut Ibu di seberang telepon. Maksudnya Rp 475.000,- per kwintalnya. Ini berarti turun signifikan dibanding beberapa bulan yang lalu saat harganya mencapai 600 ribuan. Malah kalau tak salah padi kami sempat dihargai lebih dari itu. Jelas ini kabar yang menyenangkan bagi petani

Lebih menyenangkan lagi seandainya itu terjadi pada jayanya lumbung kami yang bisa memuat hingga 14 ton sekali panen. Tapi itu dulu. Dulu sekali. Saat tanah kami masih utuh dan anak-anak baru memulai sekolah. Sayangnya tidak begitu.

Kemudian ingatan saya terbang, ceile terbang, ke taun 93-94 saat masih duduk di bangku SMA di Jombang sana.

Dalam satu perjalanan dengan kereta ekonomi yang penuh sesak setelah libur lebaran, saya berangkat bersama Kang Udin, santri pondok khufadz Tebuireng yang sudah seperti keluarga bagi kami. Mukanya murung sepanjang jalan.

Usut punya usut, pangkal masalah adalah harga padi yang sedang turun. Masalahnya, itu berimbas pada uang sakunya yang mau tak mau ikut menciut.

Belum lagi, menjelang panen tanamannya sempat roboh sehingga padinya terendam air. Padi roboh menjelang panen jelas musibah bagi petani. Harganya dipastikan turun jauh. Maka, tambah sedihlah dia punya tampang.

Seingatku dia sempat menyebut angka Rp 18.000,- per kwintalnya. Empat ribu lebih murah dari harga normal di kampung kami waktu itu. Pokoknya bakalan priatin kuadrat deh.

Trus? Ya sudah, itu saja.

So, apa yang mau disampaikan dalam cerita ini? Tidak ada. Sekedar berbagi cerita saja. Lumayan untuk melatih kelenturan jari. :D