04 Desember 2013

Ken Mengunci Diri

Akhirnya drama si Ken mengunci diri di dalam rumah selama 2 jam berhasil diatasi. Dengan bantuan pembantu, ibu tetangga dan tukang ojek.

Bukannya coba membuka kunci, dia malah sibuk bermain dan ketawa ketiwi sendiri seolah menggoda kami yang sedang panik di luar rumah. Berbagai rayuan tidak digubris, termasuk rayuan es krim yang biasanya manjur.

Ceritanya, tiba-tiba pembantu rumah dan pembantu cabutan menelpon istri yang masih di rumah sakit sehabis melahirkan anak kedua. Katanya Ken terkunci (lebih tepat mengunci sendiri) di dalam saat keduanya sedang menjemur cucian di luar.

Saya, yang juga masih menemani di rumah sakit segera meluncur pulang. Sejujurnya saya juga belum punya ide untuk mengatasinya. Tapi ya sudahlah, yang penting pulang dulu.

Sesampainya di rumah, saya mendapati 2 rewang, abang (anak tetangga) dan ibunya sedang membujuk Ken untuk membuka pintu dari dalam. Juga ibu sebelah sudah membawa obeng guna membuka teralis jendela. Sayang ukurannya tidak pas.

Lalu saya mampir ke bengkel depan gang untuk meminjam obeng yang lebih pas. Kemudian datanglah bantuan dari tukang ojek langganan anak saya sekolah. Begitulah. Akhirnya teralis bisa dicopot dan masalah selesai.

Yang mengherankan, selama proses berlangsung si Ken bersikap santai-santai saja. Malah mencandai kami yg sedang membuka teralis dengan cueknya.

Sungguh hari yang meriah...
-----

Sent from my BerryBerry® Kriditanphone from Sinyal Angus, Mbayar Teruuusss...!

26 September 2013

Kacamata Tidur dari Bantal Duduk

Namanya juga ngantuk, apa saja bisa jadi penutup. Ini masalah klasik bagi mereka yang sulit tidur di tempat terang.

Dulu, saya suka menutupkan buku yang terdekat sebagai kacamata tidur. Juga koran atau kertas apa saja. Belakangan, terutama pada jam istirahat pabrik, saya lebih suka menggunakan tissu yg diselipkan di antara kacamata. Tidurnya lelap, nafas pun lancar.

Terbuat dari apakah kacamata tidurmu?

10 September 2013

Sandal Lily: Si Jadul yang Melegenda


Aha! Sandal Lily!

Ada yang masih ingat? Ups. Ketahuan deh jadulnya.

Ya. Konon sandal ini sudah populer di negeri ini pada tahun 70-an. Malah menurut kabar, sandal yang aslinya berasal dari Jepang ini sudah ada di Indonesia sebelum itu. Setelah pabrik aslinya tutup, sandal ini justru berkembang pesat secara nasional di sini hingga 80-an.

Namun begitu, saya baru mengenalnya di awal 90-an. Di kampung saya saat itu, alas kaki ini masih sangat populer dan dipuja. Begitu populernya hingga menjadi hal yang jamak bila seorang anak lelaki yang hendak dikhitan minta sarat berupa sandal ini. Begitu juga saat perayaan lebaran selain baju, sarung baru, sandal Lily diburu banyak orang. Tentu saja secara ekonomi tak mungkin ketiga item itu diminta pada tahun yang sama.

Nah. Lebaran kemarin, seseorang bertamu ke rumah kami mengenakan sandal unik ini. Setelah saya minta ijin, si empunya bercerita sedikit bahwa sandal jenis ini dia dapatkan di Kebumen. Toko-toko tertentu masih menjual barang yang semakin terbatas ini. Dan... dari mesin pencari saya juga baru tahu kalau ternyata ada website dan bahkan grup facebooknya.

Maka dari itu, bergembiralah para jaduler!

Link terkait:

  1. Sejarah sandal lily http://noorwansyah.blogspot.com/2010/12/sandal-lily.html.
  2. Website sandal lily http://www.sandal-lily.com/
  3. Grup FB pecinta sandal lily https://www.facebook.com/pages/pecinta-sandal-lily/131914033505699


06 September 2013

Kerudung Non Syariah


Saya tak kuat menahan tawa saat melihat dia melintas melewati warung kecil kami di satu siang yang panas. Laki laki mengenakan jilbab. Pink pula. Dunia yang ajaib.

Namanya Kang Likin. Sudah barang tentu kami mengenalnya dengan baik karena dia dan keluarganya numpang mendirikan rumah di tanah kami selama bertahun-tahun.

Usut punya usut, ternyata dia bukan satu-satunya laki-laki yang mengenakannya. Pada masa panen raya, dan hanya pada musim saja, banyak kaum adam yang melakukan hal serupa. Rupanya ini berfungsi sebagai penutup untuk menghindari debu saat memanen padi.

Bagi Anda yang belum tahu, kulit padi pada saat masih di pohon sebenarnya memiliki bulu-bulu halus. Saat dipanen, padi musti dirontokkan dengan cara dipukul-pukulkan ke alat tertentu, atau di injak-injak menurut cara lama. Akibatnya, bulu-bulu halus ini rontok dan menghasilkan debu halus. Masalahnya, debu ini sangat tajam di kulit dan bisa menimbulkan gatal-gatal yang parah. Bahkan mereka yang berkulit badak sekalipunt masih merasakan efeknya. Yang paling parah adalah bila debu ini sampai masuk ke telinga. Tingkat gatalnya pantas dimasukkan dalam daftar salah satu siksaan neraka Jahim.

Begitulah. Meski tak sesuai syariah, kerudung juga bisa berguna bagi kaum lelaki.

16 Agustus 2013

Tahlil Malam Tujuh Belasan

Woh. Ternyata besok sudah tujuh belas agustusan lagi!

Dan ngomong-omong soal tujuh belasan, saya jadi teringat Mbah Kyai Sarbini. Beliau adalah panutan kami. Pendiri pondok pesantren kecil depan rumah di kampung sana.  Jadi, ceritanya kembali ke sekitar 90-an.

Sudah menjadi kebiasaan, setiap habis maghrib sesudah sembahyang pada malam tujuh belasan, Mbah Kyai akan sedikit berbicara kepada jamaah tentang bagaimana kemerdekaan dulu diperjuangkan. Tak lebih dari 5 menit. Lalu Simbah akan mengajak semuanya untuk bertahlil dan berdoa bagi para pahlawan dan pendiri negara. Juga mengirim Al Fatihah untuk para almarhum.

Sederhana. Tapi ternyata ini hal sulit ditemukan. Masih adakah ustadz sekarang yang melakukannya?

05 Juni 2013

Begitulah Semestinya Negara Diurus


"Ko Wing-man, Sekretaris untuk Pangan dan Kesehatan Hong Kong telah berjanji melakukan penyelidikan secara menyeluruh.", demikian kutipan dari berita "Di Hong Kong, Bakso Babi Dijual Bebas di Pasar dan Toko, PRT Muslim Marah".

Membaca sepintas judul berita ini, membuat saya merasa terheran-heran. Statusnya yang hanya kaum minoritas, orang asing, dan maaf, hanya menempati golongan kelas bawah, marah-marah atas kebijakan negara yang mereka sendiri menumpang hidup di situ. Aneh bin ajaib. Ini tak bisa diterima akal orang Indonesia.

Lebih mengherankan setelah membaca respon dari pejabat yang dikutip di atas. Mustinya, menurut logika pejabat ala negeri ini, dia akan meradang dan menyerang balik. Nyatanya tidak. Si pejabat malah berjanji untuk menindak-lanjuti keluhan tersebut.

Luar biasa. Saya sangat terkesan dan menaruh hormat setinggi-tingginya pada tata kelola pemerintahan di sana. Begitulah semestinya negara diurus.


04 Juni 2013

Muktamar Blogger 2013: Kumpul Seru, Kenyang dan Menyenangkan


Beberapa tahun belakangan saya mulai menyadari sebuah hal kecil yang terdengar aneh bagi orang luar. Bahwa kumpul dengan teman di kota Jakarta adalah sebuah kemewahan. Iya. Langka. Kemungkin bisa bertemu semakin mengecil jika masing-masing pihak sudah berkeluarga dan apalagi sedang memiliki anak kecil. Maklum saja, penghuni kota ini sebagian besar sudah menghabiskan sebagian besar waktu dan tenaganya di tempat kerja dan tentu saja macet di jalan. Pendeknya, pergi sebelum matahari terbit dan pulang jauh setelah matahari terbenam. Tak heran kemudian ada cerita seorang bapak yang terkaget-kaget karena tahu-tahu anaknya sudah besar.

Tentu saya tak mengalami kejadian seekstrim itu, tapi tetap saja berkumpul dengan teman adalah peristiwa istimewa bagi Homo Jakartanensis. Lebih istimewa lagi berkumpul dengan banyak teman dalam waktu bersamaan. Keajaibannya berlipat ganda.

Berangkat dari keinginan untuk ngumpul itu, maka diadakanlah acara Muktamar Blogger. Acara ini biasanya diadakan tiap tahun (dan kalau tak salah dimulai sejak 2007) oleh Komunitas Blogger Bunderan Hotel Indonesia untuk melengkapi atau mungkin lebih tepatnya memparodikan acara yang lebih besar yaitu Pesta Blogger. Dan karena dalam dua tahun belakangan pesta blogger tidak diadakan, acara reuni ini jelas sangat dinanti.

Begitulah. Kemudian, melalui obrolan yang tak disengaja , ditunjuklah secara semena-mena Mba Ainun sebagai Manusia Amben (plesetan dari chair person) Muktamar Blogger tahun ini. Dan hanya seminggu sebelum acara dipastikan diadakan, Mba Ainun, mengajak beberapa teman termasuk saya untuk merembuk acara. Edan!

Berdasar kebiasaan dari tahun ke tahun, saya sih sudah yakin acara bakal beres. Biasanya juga begitu. Tidak pernah ada persiapan khusus. Cuma bikin pengumuman, sebarkan, dan tinggal menunggu Pak Presiden BHI seumur hidup untuk menyiapkan teks pidatonya. Beres!

Malah baru kali sebenarnya acara muktamar disiapkan dengan serius. Maksudnya, kalau biasanya diadakan secara ala kadarnya di emperan Bunderan Hotel Indonesia dengan mengambil waktu malam hari, baru kali ini diadakan pada siang hari, di dalam gedung pula.

Nah. Karena dibikin sedikit lebih serius, maka jadi akan ada: tema, pembicara, konsumsi, hiburan, biaya, sponsor dan sebagainya. Mengenai bagaimana riweuhnya persiapan acara ini, silakan baca cerita dari manusia amben.

Dus! Jadilah Muktamar Blogger seperti yang kemarin. Seru, kenyang dan menyenangkan.

Oh, iya. Sebelum acara, mendung tebal sempat dikhawatirkan panitia. Jangan-jangan hujan deras akan menurunkan animo muktamirin. Dan benar saja, hujan turun di awal acara. Namun setelah itu peserta mulai membanjiri ruangan. Malah banyak peserta yang tak kebagian tempat dan akhirnya memilih bolak-balik keluar masuk ruangan sambil membawa makanan dan minuman. :D. Saya perkirakan tak kurang dari 200-an orang menghadiri acara ini.

Terima kasih untuk @XL123 dari XL Axiata yang di saat-saat terakhir bersedia mendukung acara ini. Juga kepada Komunitas Internet Sehat, Aditya Sani dengan Sate Jepangnya, Soto ayam dan Bubur Ayam Madura, kiriman jambu kristal dan pisang dari Sunpride, kiriman tiramisu dari @weMISU, Coca Cola dan mungkin beberapa pihak yang tak disebut namanya. Juga kepada para peserta yang membawa makanan, kue, buah, hingga souvenir. Terima kasih, terima kasih...


Baca juga link terkait:

  1. Proyek Nekat itu Bernama Muktamar Blogger 
  2. Semarak Muktamar Blogger 2013 
  3. Muktmar Blogger Mewah
  4. Foto-foto Muktamar Reuni Blogger 2013


02 Mei 2013

Posting Via Hape. Kurang Keren Apalagi Saya Ini?

Fitur ini sudah ada sejak lama. Seingat saya sih beritanya begitu. Mungkin sudah lebih dari 3 tahun yang lalu.

Ajaibnya, saya baru mencobanya pagi ini. Bwahaha.

Lumayan buat pengganti posterous yang mati.
-----

Sent from my BerryBerry® Kriditanphone from Sinyal Angus, Mbayar Teruuusss...!

Jebulnya Sudah Lama Saya Tak Menulis

Tak penting juga sih. Toh era blog telah lama berlalu, seperti diramalkan oleh Oom Roy beberapa taun yang lalu.

Demikian.

Lalu saya teringat ucapan Pram yang kira-kira bunyinya: "Menulislah. Karena dengan begitu engkau kan tau sumber kekusutan pikiranmu". Jadi, sebenarnya si penulis lah yang membutuhkan daripada pembacanya.

Nah!
-----

Sent from my BerryBerry® Kriditanphone from Sinyal Angus, Mbayar Teruuusss...!

15 Februari 2013

Jadi Bilal Dadakan

Jumatan barusan terasa sedikit aneh. Speaker masjid tak berfungsi sama sekali alias mati total sehabis khotib menyelesaikan tugasnya hingga shalat selesai dilakukan.

Semula saya, dan mungkin sebagian besar jamaah di lantai bawah, berpikir speaker akan diperbaiki lebih dulu sebelum shalat dimulai. Beberapa saling menengok bingung satu sama lain seperti hendak bertanya, termasuk saya. Nyatanya speaker tidak diperbaiki sama sekali. Yang terdengar malahan teriakan "amin" yang panjang dan lantang dari jamaah lantai atas.

Masjid ini terbagi menjadi dua lantai. Imam dan khotib plus sebagian besar jamaah ada di lantai atas, sementara jamaah di lantai bawah hanya kebagian suara dari pengeras suara.

Tempat favorit saya adalah di lantai bawah persis di bawah tangga besi kecil dengan lubang di lantai atas yang sempit dan belum pernah saya lihat ada orang masuk dan keluar dari situ. Siapapun pengusul tangga ini pastilah orang yang paham Fiqih. Karena alasan itu pula lah saya menyukai posisi ini. Sudah tentu tangga ini tidak dipakai, hanya sebagai sarat biar sah saja. Sementara tangga yang dipakai naik-turun jamaah ya ada di belakang.

Maka sangat wajar bila tanpa pengeras suara jamaah di bawah tidak bisa mendengar suara dari atas. Begitu pun sebaliknya.

Dari tempat favorit saya ini, pada posisi berdiri saya hanya bisa melihat punggung seorang jamaah di atas dari bawah. Tidak lebih. Itu pun kalau dia juga berdiri. Selain pada posisi keduanya berdiri, saya sama sekali tak bisa melihat mereka.

Kembali ke takbiratul ihram.

Antara kaget dan bingung, juga sambil mengintip jamaah di atas, saya memutuskan untuk takbir sendiri. Begitupun jamaah lantai bawah lainnya. Pendeknya, takbir dilakukan sendiri-sendiri tanpa komando.

Sambil shalat, saya mikir. Ini bagaimana kalau nanti tidak ada yang berinisiatif menjadi bilal? Maksud saya, orang yang mengulang ucapan imam para setiap posisi shalat dengan keras dan lantang supaya jamaah lainnya bisa mengikuti imam dengan baik. Pasti kacau balau dan jamaah bisa bubar sendiri-sendiri. Saya sendiri juga sempat bingung. Ya wis. Saya memantapkan diri menjadi bilal, dengan catatan kalau tidak ada orang lain yang melakukannya.

Dan benar saja. Saat jamaah atas mulai melakukan ruku', saya "terpaksa" menjadi pemandu bagi jamaah bawah. Masalahnya, saya juga tidak bisa mendengar suara imam. Hanya sedikit gerakan makmum yang bisa saya intip. Maka saya melaksanakan jurus tertinggi sepanjang hayat. Ilmu kira-kira!

Semua gerakan setelah ruku' sudah dipastikan hanya berdasar perkiraan. Saya sendiri ndak yakin berapa lama delay tiap gerakan kami dengan gerakan imam. Namanya juga darurat. Pokoknya sampai takhiyyat pertama berakhir, semuanya berjalan lancar. Setidaknya saya berharap demikian.

Masalahnya terbesar ada pada posisi duduk takhiyyat akhir. Sudah tidak bisa mengintip, tidak pula terdengar suara dari atas sama sekali. Semula saya berharap akan terdengar sedikit saja suara imam atau makmum dari atas. Saya memasang telinga baik-baik cukup lama. Malah bisa dibilang lama sekali.

Dan nyatanya tidak terdengar suara dari atas sama sekali. Pun jamaah bawah tidak ada yang mengucapkan salam. Sampai akhirnya saya mendengar suara gaduh anak-anak yang berlarian di luar. Saya memutuskan mengucapkan salam. Dan jamaah lantai bawah lainnya mengikuti.

Di luar, jamaah atas sudah menenteng sajadah. Sebagian malah sudah klepas klepus menikmati merokok.

Begitulah. Jumatan kali ini dimulai dengan teriakan "Amin..." dan diakhiri dengan teriakan anak-anak. Nuwun sewu, Gusti...


29 Januari 2013

Kwaci Seharga 65 Juta


Sekitar 3-4 tahun yang lalu, adik saya yang waktu itu sedang kuliah di Al Azhar, dengan biaya dari organisasi akhirnya bisa pulang. Jelas ini peristiwa yang istimewa bagi kami. Masalahnya, apalagi kalau bukan perkara biaya? Hehehe.

Nah. Sudah menjadi kebiasaan bagi siapa pun mahasiswa yang pulang ke Indonesia, maka dia akan mendapat berbagai macam titipan. Apalagi saat hendak balik ke sana. Namanya juga sudah tradisi.

Begitulah. Ceritanya, salah satu orang tua dari teman adik saya juga hendak menitipkan oleh-oleh. Tidak istimewa. Hanya sebungkus kwaci. Tidak lebih.

Beliau, yang ternyata adalah salah satu kyai sepuh di Cilacap, menyempatkan untuk menemui adik saya di rumah dan terjadilah obrolan hangat ngalor ngidul.

Singkatnya, lalu sang tamu pamit dan selanjutnya barang titipan dikumpulkan menjadi satu dengan yang lain. Sampai di sini semua baik-baik saja.

Cerita kemudian beralih ke adik saya. Karena kepulangannya dibiayai organisasi dengan tujuan untuk membantu adik-adik kelas yang hendak kuliah di sana, maka mau tak mau dia musti tinggal agak lama di sini. Pendeknya, dia baru bisa berangkat lagi sekitar 3 bulan kemudian.

Rupanya pak kyai yang kemudian baru mengetahui hal ini sepertinya agak "gelo" dan mengutus santrinya untuk mengambil titipan tadi. Sampai di sini kami tak tahu lanjutan ceritanya.

Beberapa bulan kemudian, Bapak saya mendapat kelanjutan cerita tadi dari Kyai Mujib, kyai pesantren dekat rumah yang disegani dan masih bersaudara dengan kyai sepuh tadi.

Jadi, rupanya pak kyai tersebut akhirnya memutuskan untuk mengantar sendiri kwaci kegemaran sang anak langsung ke Mesir sana. Itung-itung sekalian ingin menjenguk dan mungkin sedikit plesir. Sang ibu juga diajak serta.

"Jebul, murah. Berdua cuma 65 juta pulang pergi", cerita Kyai Mujib menirukan cerita pak kyai sepuh sambil geleng-geleng kepala antara tak percaya dan takjub.

Kalau dipikir-pikir sebenarnya ngga heran juga sih. Wong memang nyatanya kyai sepuh tadi memang berada.

Cuma ya itu tadi. Lha wong cuma kwaji kok ya jadinya sampai puluhan juga. Byuh!

Gambar diambil tanpa ijin dari sini.

28 Januari 2013

Sekilas Tentang Harga Padi

Malam minggu kemarin, seperti biasa, saya menelpon ibu. "Padi kini turun jadi 500 kurang seprapat", sebut Ibu di seberang telepon. Maksudnya Rp 475.000,- per kwintalnya. Ini berarti turun signifikan dibanding beberapa bulan yang lalu saat harganya mencapai 600 ribuan. Malah kalau tak salah padi kami sempat dihargai lebih dari itu. Jelas ini kabar yang menyenangkan bagi petani

Lebih menyenangkan lagi seandainya itu terjadi pada jayanya lumbung kami yang bisa memuat hingga 14 ton sekali panen. Tapi itu dulu. Dulu sekali. Saat tanah kami masih utuh dan anak-anak baru memulai sekolah. Sayangnya tidak begitu.

Kemudian ingatan saya terbang, ceile terbang, ke taun 93-94 saat masih duduk di bangku SMA di Jombang sana.

Dalam satu perjalanan dengan kereta ekonomi yang penuh sesak setelah libur lebaran, saya berangkat bersama Kang Udin, santri pondok khufadz Tebuireng yang sudah seperti keluarga bagi kami. Mukanya murung sepanjang jalan.

Usut punya usut, pangkal masalah adalah harga padi yang sedang turun. Masalahnya, itu berimbas pada uang sakunya yang mau tak mau ikut menciut.

Belum lagi, menjelang panen tanamannya sempat roboh sehingga padinya terendam air. Padi roboh menjelang panen jelas musibah bagi petani. Harganya dipastikan turun jauh. Maka, tambah sedihlah dia punya tampang.

Seingatku dia sempat menyebut angka Rp 18.000,- per kwintalnya. Empat ribu lebih murah dari harga normal di kampung kami waktu itu. Pokoknya bakalan priatin kuadrat deh.

Trus? Ya sudah, itu saja.

So, apa yang mau disampaikan dalam cerita ini? Tidak ada. Sekedar berbagi cerita saja. Lumayan untuk melatih kelenturan jari. :D