10 Januari 2012

Darurat

Seingat saya ini hal yang belum terlalu lama diterapkan. Mungkin dulu juga sudah ada peraturannya, hanya saja penerapannya yang tak jalan.

09 Januari 2012

Typo Alias Slaah Kteik

Ini penyakit yang, sangat mengherankan, tidak juga hilang selama bertahun-tahun. Padahal yang namanya latihan menulis sepertinya ndak kurang-kurang deh. Eh. Kurang juga ding. Lha wong buktinya ini sudah setahun lebih barang kali, baru ngeblog lagi.

Jadi, entah bagaimana ceritanya ada semacam ketidak-sesuaian antara antara apa yang terpikir di kepala dengan yang kemudian tangan gerakkan untuk menulis di layar komputer. Hasilnya? Ya gitu deh. Memalukan.

Kalau masalahnya kurang huruf atau salah letak huruf sih mangsih masup di akal. Tapi kalau sudah kurang atau malah salah letak kata, maka maksudnya akan menjadi aneh.

Contoh. Pas kepikiran mau ngetwit:
"Evra kena kartu kuning. Kali ini sepertinya wasit memihak ManC. Akankah berlanjut dgn kartu merah? :D"

yang tertulis malahan

"Evra kena kartu kuning. Kali ini sepertinya wasit memihak ManC. Akankah berlanjut dgn kartu kuning? :D"

Beda banget artinya kan? Juga ambigu. Itu baru satu contoh kasus. Contoh lainnya masih banyak dan sepertinya terlalu menyebalkan untuk diungkap.

Bila dilihat lebih seksama, kesalahan ketik ini banyak muncul karena tak adanya koreksi ulang terutama karena menulis secara cepat dan selintas. Pas ngetwit apalagi. Tapi yang mengherankan, mengapa bisa sampai sebanyak itu? Padahal miturut saya, yang terlintas dalam benak sudah benar. Kok bisa? Itu yang mengherankan.

Ada yang bilang bahwa menulis itu penting untuk membuat otak berfikir secara jelas dan terstruktur. Ya. Saya setuju. Untuk itulah proses menulis musti dilatih secara konsisten dan terus menerus. Weh. Malah terdengar seperti bahasa birokrat. Pokoknya begitu lah. Dan itu itu pula, meski tak penting, setidaknya tulisan ini di buat.

Lalu soal typo tadi? Ya itu bagian dari keruwetan pola pikir. Dan sepertinya sudah menjadi nama tengah saya. Hahahaha.

06 Januari 2012

Kalender


Kalender adalah barang berharga bagi saya terutama saat akhir tahun menjelang. Akan terasa lebih berharga lagi bila sudah di awal tahun dan belum juga punya. Rasanya lebih panik lagi. Ya gimana tidak, sekarang banyak instansi sudah mulai jarang menerbitkannya. Toko bangunan juga sepertinya sudah tidak menerbitkannya. Pun toko-toko emas. Pokoknya semakin sulit didapat lah.

Lha memang masalahnya apa to?

Ya begitu itu kebiasaan orang pabrik. Seni mencari tanggal merah alias libur dari kalender baru adalah hal yang sangat disukai kalangan karyawan. Semakin banyak yang merah di luar hari Minggu tentunya, semakin baiklah tahun itu.

Itu pentinya kalender. Dari sana lalu disusunlah rencana-rencana apa saja yang akan atau bisa dilakukan di tahun itu. Kira-kira berapa biayanya, bagaimana strategi untuk mendapatkan pembiayaan yang cukup de-el-el. Intinya, berbagai harapan dan mimpi indah nan menyenangkan berseliweran secara luar biasa. Pokoknya asyik dah. Perkara terlaksana atau tidak, itu urusan nanti. Begitulah asyiknya kalender baru.

Lalu mengapa semakin jarang instansi yang menerbitkan kalender? Nah. Kalau soal yang ini saya ndak paham. Mungkin internet dengan segala informasinya ikut berpengaruh. Entah.

Yang menarik, di kalangan pesantren tradisional di pelosok, kalender masih mudah diperoleh. Malah tak jauh setelah awal tahun dimulai, biasanya kalangan pesantren sudah mulai bersiap untuk mencetak kalender tahun berikutnya. Lebih tepatnya pihak percetakan.

Pihak percetakan biasanya memiliki beberapa macam template dan umumnya menganut sistem Al-Manak Menara Kudus. Seperti apa sistem itu? Mbuh. Pokoknya yang tertera di bagian belakang kalender begitu.

Untuk pencetakan, pihak pesantren tinggal menyediakan foto yang ingin mereka tampilkan. Beserta biaya cetak mustinya. Foto itu umumnya sih bergambar sang pendiri, kegiatan belajar mengajar, perlombaan dan semacamnya. Biaya konsultasi sudah termasuk dalam biaya cetak.

Memang apa pentingnya kalender bagi kalangan pesantren?

Nah. Kalender memiliki manfaat ganda bagi pesantren. Pertama, pesantren tradisional biasanya tidak memiliki badan usaha. Santrinya pun jarang yang berasal dari kaum menengah ke atas. Di situlah pentingnya kalender. Debagai alat pengumpul derma umat.

Harga per satuan kalender biasanya sudah ditetapkan dan diterakan di bagian belakang kalender sehingga baik pihak penjual maupun pembeli bisa melihatnya langsung. Uang derma boleh dan malah diharapkan lebih dari angka itu. Hal ini bisa dipahami karena si pembawa biasanya adalah santri aktif di pesantren itu dan penjual adalah alumni sana. Karena kebiasaan nyantri biasanya berpindah-pindah, maka satu orang bisa mendapatkan kalender lebih dari satu.

Fungsi kedua adalah sarana pemasaran alias iklan. Karena di kampung yang namanya kalender biasanya di pajang di dinding ruang tamu, maka iklan ini menjadi efektif.

Kegiatan penggalangan dana ini lazim disebut "ngelis". Ngelis dilakukan mulai dari lingkungan sekitar pesantren hingga ke luar daerah bahkan luar pulau, tergantung koneksi dengan alumni pesantren dan imajinasi si pelaku. Oh iya. Tidak ada pembiayaan dari lembaga untuk si santri. Jadi, ongkos diambilkan sebagian dari "keuntungan" penjualan kalender. Kesalehan si santri diuji di sini. :D

Karena itulah sampai sekarang saya masih menyukai kalender ala pesantren. Meski desainnya sering terlihat wagu, tapi bisa jadi semacam pengingat suasana kampung.

Lagi pula hampir tiap tahun kalender di rumah saya di kampung berjumlah lebih dari 5 buah. Dan semuanya adalah kalender ala pesantren. Hahaha.