
Masih ada tersedia di emperan pasar jatinegara. Empat ribu rupiah untuk yang terbuat dari kayu dan Rp 15 ribu untuk yang dari tanduk kerbau.
Seingatku, dulu barang beginian hanya diimpor dari Cina. Terutama yang berbahan bambu. Gambar di atas sepertinya menunjukkan sekarang sudah diproduksi di dalam negeri.
Kembali ke masa lalu, saya masih tidak habis pikir mengapa dulu banyak orang (kampung) yang rambutnya berkutu begitu parah hingga cononen. Anda tau conon?. Itu lho... Luka-luka bernanah di kulit kepala. Jadi, ceritanya kutu-kutu itu (yang entah mengapa) sangat aktif di malam hari. Akibatnya tanpa sadar anak-anak menggaruk kepala tak habis-habisnya. Lalu kulit terluka. Selanjutnya luka melebar dan rambut menjadi lengket serta gembel.
Ada dua cara untuk mengatasinya. Pertama, dengan serit itu tadi. Setiap malam menjelang tidur di bawah penerangan lampu senthir. Setelah diserit, lalu serit diketok-ketokkan ke atas kertas. Lalu dipithes satu-satu. Bagian tersulit adalah "berburu" larva kutu. Dalam hal ini serit sampai harus disiangi dengan jarum. Lalu ujung jarum dibakar di atas api lampu.
Bayangkan bagaimana susahnya itu. Lha wong di siang hari saja nyerit tidaklah gampang, apalagi di malam hari. Belum lagi kertas polos putih bukanlah barang yang mudah didapat pada masa itu. Jalan keluar terbaik jika cononnya sudah terlalu parah, ya dipangkas habislah itu rambut. Cerita ini sepertinya terlalu tidak beradab bagi anak sekarang.
Lalu. kira-kira kemana larinya barisan kutu itu ya?




