14 Oktober 2010

Petunjuk jalan aka rambu-rambu

Mestinya bikin jelas, bukan sebaliknya

Tempat baru. Jalur baru. Masalah baru. Ndak aneh sebenarnya. Salah sendiri ga suka keluyuran, (mungkin) kata sampeyan.

Begitulah saya belakangan ini. Maksud hati pengin tahu jalur-jalur alternatif, yang terjadi malah kesasar. Pada akhirnya tahu juga sih, hanya saja prosesnya seringkali bikin kesal hati. Clingak-clinguk kanan-kiri dengan maksud nyari pertanda, eh, tahu-tahu ada petugas nongol di depan kendaraan. Jadi dah kondangan 20 ribuan. Terberkatilah engkau wahai bapak berseragam...


Ngomong-omong soal rambu-rambu jalan, ampai sekarang saya masih saja bingung. Siapa saja, atau departemen apa saja yang berhak bikin? Bagaimana koordinasi antara mereka? Mengapa masih terdapat rambu (termasuk lampu lalu lintas) yang sepertinya salah letak? Dan yang lebih penting lagi, kok bisa-bisanya, masing masing rambu itu seringkali tidak sinkron?



Untuk hal terakhir, saya punya contoh. Maksud hati mengikuti papan "ke Blok A". Jadi, ceritanya saya pulang dari pabrik di seputaran Gandaria. Wah, jalan pintas menuju Mampang nih, pikir saya. Apa lacur, beberapa puluh meter dari papan pertama ada percabangan pertama. Tidak ada petunjuk harus ke kanan atau ke kiri. Ngawur saja, saya ambil kiri. Hasilnya mbulet. Lha bagaimana tidak? Di percabangan setelahnya tidak menyebut tempat yang saya tuju. Tempat itu baru disebut setelah entah percabangan ke berapa. Lalu hilang lagi, kemudian muncul lagi dan seterusnya. Mau tak mau saya memakai ajian kira-kira.

Hari berikutnya, saya coba ambil belokan yang ke arah kanan. Hasilnya? Sama. Tidak lebih baik atau lebih buruk. Malah ada satu tanda yang saya patuhi yang harusnya lurus, eh begitu sampai pertigaan, jalan ke arah sana malah diportal. Njuk piye jal?

Hari berikutnya sama. Begitu juga berikutnya lagi. Ya sudah, daripada pusing, mending saya anggap saja sebuah petualangan kecil. Rambu-rambu, prek!

Inti ceritanya, jangan sepenuhnya percaya pada rambu lalu lintas. Percayalah pada Tuhan.

3 komentar:

lembaranpung mengatakan...

Konon setiap prapatan itu sudah ada lapake, kang.

Setoran wis ditentukan, semakin rame jalan protokol, semakin gede setorane.

Adol jere kulak ndean, kiye ya..hehe

ude baha mengatakan...

klo di Malaysia ga takut kesasar karena setiap perempatan atau pertigaan atau ada jalan cawang pasti ada sign board. kadang aku palah niat nyasar ben bisa keliling KL make motor butut.

mikow mengatakan...

rambu2 semacam itulah yg dinamakan jebakan betmen :)