21 Oktober 2010

Serit aka pembasmi larva dan kutu rambut


Masih ada tersedia di emperan pasar jatinegara. Empat ribu rupiah untuk yang terbuat dari kayu dan Rp 15 ribu untuk yang dari tanduk kerbau.

Seingatku, dulu barang beginian hanya diimpor dari Cina. Terutama yang berbahan bambu. Gambar di atas sepertinya menunjukkan sekarang sudah diproduksi di dalam negeri.

Kembali ke masa lalu, saya masih tidak habis pikir mengapa dulu banyak orang (kampung) yang rambutnya berkutu begitu parah hingga cononen. Anda tau conon?. Itu lho... Luka-luka bernanah di kulit kepala. Jadi, ceritanya kutu-kutu itu (yang entah mengapa) sangat aktif di malam hari. Akibatnya tanpa sadar anak-anak menggaruk kepala tak habis-habisnya. Lalu kulit terluka. Selanjutnya luka melebar dan rambut menjadi lengket serta gembel.

Ada dua cara untuk mengatasinya. Pertama, dengan serit itu tadi. Setiap malam menjelang tidur di bawah penerangan lampu senthir. Setelah diserit, lalu serit diketok-ketokkan ke atas kertas. Lalu dipithes satu-satu. Bagian tersulit adalah "berburu" larva kutu. Dalam hal ini serit sampai harus disiangi dengan jarum. Lalu ujung jarum dibakar di atas api lampu.

Bayangkan bagaimana susahnya itu. Lha wong di siang hari saja nyerit tidaklah gampang, apalagi di malam hari. Belum lagi kertas polos putih bukanlah barang yang mudah didapat pada masa itu. Jalan keluar terbaik jika cononnya sudah terlalu parah, ya dipangkas habislah itu rambut. Cerita ini sepertinya terlalu tidak beradab bagi anak sekarang.

Lalu. kira-kira kemana larinya barisan kutu itu ya?

19 Oktober 2010

1000 Buku: Mari Berbagi


Aha! Pesta Blogger tahun ini datang lagi. Dan seperti biasa, Muktamar Blogger juga akan digelar. Mengenai keduanya, tentu Anda semua sudah mafhum.

Nah, untuk memeriahkan keduanya, kami gerombolan BHI berniat mengadakan Gerakan 1000 Buku Jilid II. Mengapa Jilid II? Itu karena pernah ada gerakan 1000 Buku Jilid Pertama. Tepatnya dua tahun lalu. Malah waktu itu gerakan ini berhasil mengumpulkan sekitar 4.000 buku selama sekitar 2 bulan kegiatan.

Inti gerakan ini sederhana saja. Yaitu mengumpulkan buku-buku bacaan yang sudah tidak terpakai untuk selanjutnya didistribusikan ke daerah-daerah yang membutuhkan. Tidak ada batasan ketat mengenai jenis buku di sini. Namun berdasarkan pengalaman yang dulu, sangat disarankan untuk TIDAK mengirimkan MAJALAH atau BUKU TULIS BEKAS. Ini penting kami tekankan di awal, karena banyak diantara yang sebut di depan pada akhirnya hanya akan menjadi sampah. Mohon maaf sebelumnya.

Adapun beberapa calon penerima sumbangan sejauh ini adalah:

Perpus Ngampon di lereng Sumbing, CP Sang Nanang dari Bala Tidar
Perpus di Malang , CP Cak Hedi
Perpus Solo, CP Blontakpoer
Taman Bacaan Pelangi, CP Wiwikwae
Sanggar Bunga Padi, Kulon Progo Yogyakarta
Catatan: daftar bertambah sesuai permintaan


Oh iya, gerakan kali ini juga menerima pengumpulan kaos bekas yang masih layak pakai. Untuk disumbangkan ke mereka yang membutuhkan (sasaran masih dalam progress):

Karena berbagi tak pernah rugi!

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan buka di 1000buku.org

Tempat Pengumpulan Buku:
Antyo 1000buku
Rumah Langsat
JL. Langsat I no 3A, Kramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta.

Link terkait:
Pasarsapi
Ipung
Utet
Hani berada di sini
Wiwikwae
Mikow
Colonelseven

14 Oktober 2010

Petunjuk jalan aka rambu-rambu

Mestinya bikin jelas, bukan sebaliknya

Tempat baru. Jalur baru. Masalah baru. Ndak aneh sebenarnya. Salah sendiri ga suka keluyuran, (mungkin) kata sampeyan.

Begitulah saya belakangan ini. Maksud hati pengin tahu jalur-jalur alternatif, yang terjadi malah kesasar. Pada akhirnya tahu juga sih, hanya saja prosesnya seringkali bikin kesal hati. Clingak-clinguk kanan-kiri dengan maksud nyari pertanda, eh, tahu-tahu ada petugas nongol di depan kendaraan. Jadi dah kondangan 20 ribuan. Terberkatilah engkau wahai bapak berseragam...


Ngomong-omong soal rambu-rambu jalan, ampai sekarang saya masih saja bingung. Siapa saja, atau departemen apa saja yang berhak bikin? Bagaimana koordinasi antara mereka? Mengapa masih terdapat rambu (termasuk lampu lalu lintas) yang sepertinya salah letak? Dan yang lebih penting lagi, kok bisa-bisanya, masing masing rambu itu seringkali tidak sinkron?



Untuk hal terakhir, saya punya contoh. Maksud hati mengikuti papan "ke Blok A". Jadi, ceritanya saya pulang dari pabrik di seputaran Gandaria. Wah, jalan pintas menuju Mampang nih, pikir saya. Apa lacur, beberapa puluh meter dari papan pertama ada percabangan pertama. Tidak ada petunjuk harus ke kanan atau ke kiri. Ngawur saja, saya ambil kiri. Hasilnya mbulet. Lha bagaimana tidak? Di percabangan setelahnya tidak menyebut tempat yang saya tuju. Tempat itu baru disebut setelah entah percabangan ke berapa. Lalu hilang lagi, kemudian muncul lagi dan seterusnya. Mau tak mau saya memakai ajian kira-kira.

Hari berikutnya, saya coba ambil belokan yang ke arah kanan. Hasilnya? Sama. Tidak lebih baik atau lebih buruk. Malah ada satu tanda yang saya patuhi yang harusnya lurus, eh begitu sampai pertigaan, jalan ke arah sana malah diportal. Njuk piye jal?

Hari berikutnya sama. Begitu juga berikutnya lagi. Ya sudah, daripada pusing, mending saya anggap saja sebuah petualangan kecil. Rambu-rambu, prek!

Inti ceritanya, jangan sepenuhnya percaya pada rambu lalu lintas. Percayalah pada Tuhan.

12 Oktober 2010

Dasi


Bagian dari gaya hidup urban. Konon penting untuk mendongkrak "harga" seseorang. Terutama jika yang dihadapi adalah kastamer dari kalangan yang begitu deh.

Perkakas yang hanya saya kenakan saat di dalam pabrik. Begitu pula sepatu. Karena sungguh tak lucu jika kita (eh, saya maksudnya) mengenakan dasi, bersepatu mengkilat, baju ber-cuffling tapi makannya di warteg. Sudah gitu naik angkot pula. :D


Suatu kali saya berangkat kerja dengan senjata lengkap seperti tersebut di atas. Bersepeda motor tentu saja. Petugas parkir belakang pabrik terlonga-longo dan mengira saya sudah naik pangkat. "Woh. Sekarang sudah jadi sales, bos?" hahaha.

Bonus, berdasi kali pertama.