19 Agustus 2010

Terowongan. Hujan. Ngiyup


Sebuah barisan pendek sepeda motor yang menepi di terowongan kedua di jalan antara Pasar Minggu - Depok. Pada siang minggu kemarin saat hujan deras melanda. Di terowongan kedua ini, hanya terdapat beberapa motor yang parkir. Mungkin karena banyak diantaranya sudah berhenti di terowongan pertama. Kira-kira 100 meteran sebelumnya. Satu dua pesepeda motor berhenti sejenak untuk memakai mantel dan kemudian melanjutkan perjalanan. Sebagian besar lainnya tidak. Saya masih memutuksan untuk terus di terowongan pertama, tapi hujan yang semakin lebat membuat saya berhenti di terowongan kedua ini.

Terowongan pertama disesaki jenis kendaraan yang sama hingga memenuhi separuh badan jalan. Memaksa mobil yang lewat untuk melambatkan laju dan (dalam waktu tak terlalu lama sesudahnya) akan menyisakan antrian panjang mengular penuh gerutuan jauh di belakangnya.

Biasanya, saya tak pernah berhenti. Maksudnya, tidak pernah berhenti dibawah terowongan atau pun di bawah jembatan layang. Dua jas hujan selalu tersedia di bawah jok. Namun kali ini barang yang saya bawa adalah jenis yang mudah rusak jika terkena air. Padahal jarak hantaran cuma tinggal tak lebih dari 1 kilometer lagi ke depan. Apa boleh buat.

Dalam gelap terowongan, saya jadi paham. Mengapa jakarta begitu gampang mengalami macet total dimana-mana setiap kali hujan turun. Pertama, ya barisan tukang ngiyup pesepeda motor itu. Bayangkan saja. Ribuan (atau mungkin jutaan, saya tak tahu pasti) kendaraan berseliweran di jalanan kota ini terutama pada jam-jam sibuk. Katakanlah sepersekiannya saja sepeda motor. Artinya, dalam beberapa menit saja hujan turun, bisa jadi ratusan sepeda motor sudah nunut ngiyup di situ. Pantes macet. Alasan lain, hujan juga sering menyebabkan genangan air. Ini lebih parah lagi. Kali ini korbannya tak cuma motor, tapi juga mobil dan pengendara yang lain.

Ngomong-omong soal motor ini, saya kadang jadi mikir, kendaraan ini sepertinya adalah jenis yang (maaf) "kurang" manusiawi. Kemampuan mesinnya yang dahsyat misalnya, membuat pengendaranya untuk cenderung ngebut. Lihatlah ke jalanan. Kota ini (bagi saya) terasa mirip arena kebut-kebutan nasional. Risiko senggolan, jatuh dan yang lebih parah dari itu mengancam setiap saat. Belum lagi risiko kepanasan dan kehujanan.

Eh, bukannya sepeda (pancal) juga punya risiko ini? Betul. Tapi saya melihat berkendara sepeda lebih merupakan pilihan daripada keterpaksaan. Bahkan sebagian pesepeda adalah kalangan yang lebih dari cukup untuk memiliki mobil. Ini betulan lho.

Oh iya. Satu lagi. Penggunaan sepeda motor juga lebih berisiko kejahatan. Baik sebagai sarana maupun sebagai korban. Penjambretan misalnya. Untuk hal terakhir, saya pernah menjadi korbannya. Rasanya @#$%^&&...

Sayangnya, sampai sekarang belum ada pilihan yang lebih baik. :P

6 komentar:

Moes Jum mengatakan...

motor2 itu pancen nyebelin, tapi mau gimana lagi lha wong cuma kendaraan itu yg paling mudah menjangkau tempat di jakarta dalam waktu singkat. Soal balapan itu yaa ... anggap aja ajang "balap motor kredit" hehehe

Pinkina mengatakan...

begitulahhhhhhh

neng jeni mengatakan...

sing penting sampeyan ndak ikut kebut-kebutan n selalu hati-hati. bermotor pastinya melelahkan, bulan lalu mobilku yg lagi berenti juga disundul motor, dan pesepeda motornya juga bingung kenapa dia bisa nabrak, entah ngelamun entah kecapean

hedi mengatakan...

hiihihi berarti awakmu iso tuku mobil, wong duwe seli :P

mikow mengatakan...

seharusnya sebelum terowongan yg pertama itu belok ke kanan, mampir ke tempatku :)

Anang mengatakan...

kalo di sby di bawah jalan tol.. banyak yang berenti.. akhirnya macet.... hihi..