30 Agustus 2010

Tempayan air untuk pelintas

Konon hal beginian masih lestari di india



Sebuah tempayan air nangkring di pagar depan sebuah rumah. Persis di pinggir jalan komplek dimana saya tinggal. Siapa pun boleh memanfaatkan, mengambil, meminum atau cuma sekedar membasuh muka. Tanpa gelas maupun wadah tentunya. Apalagi gayung. Selesai minum, silahkan berlalu. Pun tak perlu mengucap terima kasih.

Saya tahu tempayan itu masih berisi air. Itu terlihat dari rembesannya di seputar kran plastik. Ya kran plastik. Sebuah penyesuaian kecil terhadap sebuah tradisi lama. Barangkali ini sebuah kebiasaan yang sudah sangat langka bahkan mungkin hilang. Apalagi di Jakarta.

Dulu. Dulu... sekali. Seingat saya, penyediaan air bagi pelintas di pinggir jalan model beginian kebanyakan menggunakan kendi. Beberapa rumah ada yang menggunakan gentong air. Untuk yang ini, biasanya disediakan pula sebuah gayung. Keduanya diletakkan di rak terlindung namun mudah dilihat dan diraih. Namanya juga untuk umum. Dan keduanya berisi air sumur. Mentah pula.

Untuk ukuran sekarang, mungkin ini tak layak minum. Apalagi dengan semakin banyaknya air dalam kemasan dengan harga murah. Namun percayalah, masih ada sebagian orang yang tak keberatan dengan air mentah. Di pesantren-pesantren tradisional misalnya, para santrinya masih meminum air sumur hingga sekarang. Juga masih ada sebagian orang di kampung (kami) yang meminum air sembari mandi.

Dan ngobrol-ngobrol soal minuman gratis untuk pelintas, saya jadi ingat even tahunan yang selalu melintasi daerah kami di Bangsari sana. Pertama, barisan tentara (katanya dalam rangka pembaretan kopassus) yang berjalan kaki dari Bandung hingga menyeberang ke Nusakambangan. Juga gerak jalan sipil 45 kilometer setiap agustusan. Untuk keduanya, kami menyediakan makanan kecil dan minuman seadanya tanpa diminta siapa pun sepanjang jalan. Meski sebenarnya itu dilarang oleh sang komandan. hahaha.

Btw, apa kabar tuh gerak jalan 45 kilo?

6 komentar:

Pinkina mengatakan...

Ternyata gak hanya di Bangsari yha mas, di Bojonegoro juga ada gerak jalan 45 kilo tiap agustusan :D biasanya orang rumah ngasih minuman cuma2 diwadahi plastik kecil. ada air putih matang, air putih mentah, teh manis dan teh tawar :D

Bangsari mengatakan...

@pinkina: hooh. kayanya tradisi nasional. dulu. tur rung tau melu... :P

Ndoro Seten mengatakan...

nek padasan pring ono?

zammy mengatakan...

di Jakarta, gantine galon. njuk ada tulisannya: minum 500. :p

ude baha mengatakan...

siki wis angel golet sing gratisan...

escoret mengatakan...

hahhaha..barang antik iki..???