24 Agustus 2010

Lampu listrik. Sirna sudah masa-masa bermain di bawah cahaya bulan



Saya lahir dan tumbuh hingga cukup besar dalam gelap, maksudnya tanpa listrik, nun di pelosok sana. Saat selepas magrib, yang ada hanya gelap pekat. Satu dua rumah menggunakan penerangan lampu petromaks (kami menyebutnya strongking, nama merek kata orang), kebanyakan lainnnya berlampu senthir atau teplok. Dan itu hanya berlangsung sampai pukul 8 atau maksimal banget jam 9 malam. Terkecuali jika pesta sedang digelar. Baik kelahiran, hajatan maupun kematian. Menghidupkan lampu hingga pagi adalah cerita ajaib yang susah kami terima.

Dalam gelap, pulang dari surau sesudah mengaji selepas isya dilakukan dengan meraba-raba. Lucu, membayangkan kaki melangkah tanpa tahu pasti apa yang ada di depannya. Lubang atau permukaan tinggi rendah tanah tak bisa dihindari. Maka jalan akan terasa dengklak dengklik mirip orang buta yang pincang kedua kakinya. Tips sederhana: lepaslah alas kaki, perjalanan akan terasa lebih mudah dilewati.


Satu dua anak ada yang membawa obor. Yang paling umum adalah seikat daun kelapa kering. Beberapa membawa obor bambu dengan isian minyak tanah, ada juga yang membawa upet, pelepah bunga kelapa yang disuwir-suwir dan diikat ketat seperti sapu lidi. Itu peristiwa yang hanya terjadi pada waktu musim hujan. Supaya bisa memilih jalan yang aman dan tak terjerembab ke kubangan air. Membawa obor itu tidak praktis.

Waktu itu baterai adalah barang mewah yang hanya dimiliki kaum ayah. Bapakku sendiri tak pernah mengijinkan orang lain menyentuhnya terkecuali untuk urusan penting. Ke peturasan belakang rumah misalnya. Itu pun dengan kondisi khusus. Hujan adalah alasan yang paling bisa diterima. Baterai yang sudah lemah akan dialih-fungsikan untuk radio kebanggaan kami. Sumber hiburan satu-satunya yang selalu tersedia setiap saat. Tipi? Cuma ada dalam cerita tentang kota-kota gemerlap. Kata orang sih.

Kejadian paling seru adalah saat berburu buah jatuhan saat musim mangga tiba. Ceritanya, suatu ketika ada seorang teman yang usil dengan (maaf) buang kotoran di bawah pohon buruan. Padahal kami hanya mengandalkan rabaan tangan untuk menemukan buah masak yang jatuh. Kejadian selanjutanya tak usah diceritakan disini. :P


Malam terang bagi seluruh kampung hanya terjadi saat terang bulan (rasanya sudah lama sekali tak menggunakan kata ini). Inilah saat yang benar-benar magis bagi kami penduduk kampung. Pada purnama musim kemarau, hampir semua orang keluar rumah untuk berkumpul di halaman. Wanita, laki-laki, tua dan muda. Ibu-ibu dengan saling memijit, bergosip atau mengepang rambut. Bapak-bapak dengan kopi dan obrolan palawijanya. Anak-anak bermain dan berlarian hingga bulan tepat di tengah-tengah cakrawala.

Pernah suatu ketika kepala desa kami mewajibkan setiap rumah memasang satu lampu minyak kecil dengan ukuran dan model tiang yang seragam sepanjang jalan. Indah sekali. Sayangnya itu hanya bertahan tak lebih dari sebulan. Selebihnya, kehidupan kembali seperti semula.

Begitu lamanya hidup salam suasana demikian, sampai-sampai saya tak berpikir hidup dengan cara yang lain. Maka saat pertama kali merantau ke peradaban yang lebih terang (bukan lebih baik, atas koreksi dari mas yahya), hal pertama yang paling mengganggu saya ya soal lampu listrik itu. Apalagi tidur di barak dengan belasan orang di satu ruangan terang benderang adalah ujian terbesar yang paling sulit saya lewati selama bertahun-tahun. Bahkan sampai sekarang.

Rasanya itu sudah sangat-sangat lama terjadi. Dan setiap kali PLN memutuskan aliran listrik, saya selalu merayakannya...

6 komentar:

Pinkina mengatakan...

ojok ngunu tohhh, listrik kan gak hanya untuk lampu....
jadi aku selalu mengumpat kl PLN mematikan listrik, masih ada 110 botol ASI di freser hikssss

yati mengatakan...

ternyata di kampung bagian mana pun selama masih di indonesia, sama aja ceritanya. di kampung saya di sulawesi nun di pelosok sana juga gini :)

hedi mengatakan...

aku pas KKN yo ga ate listrik, di kawasan Malang Selatan sekitar tahun 94...mbuh saiki wis mlebu listrik opo gurung

yahya mengatakan...

Maka saat pertama kali merantau ke peradaban yang lebih baik, ...
Bukan lebih baik, lebih terang mungkin.. seenggaknya kalo malem. Dan peradaban yg lebih terang ini seringkali lebih biadab kok mas daripada yg biasa pake senthir kalo malem.

Bangsari mengatakan...

@pinkina: hohoho. lagian pln mati kan ra ben dino. tur diluk.

@yati: hohoho. senasib.

@hedi: enak to? mak nyus to?

@yahya: suwun koreksine mas dab. segera tak revisi.

Sakti mengatakan...

Kalo kita telat bayar listrik PLN teriak2 dan kita didenda... Saat listrik lagi sering mati PLN gak kasih diskon, cuek bahkan menyalahkan masyarakat. Penghematan! heheheh

Mari kita rayakan! :D