31 Agustus 2010

Hak orang lain

Seperti tahun lalu, saya kebagian zakat maal lagi dari majikan. Bedanya, kali ini tulisan yang tertera betul. "Mungkin maksudnya bukan zakat, tapi sedekah. Cuma istilahnya saja yang salah", kata seorang teman. Bisa dan sangat boleh jadi. Apa pun itu, saya yakin maksudnya pasti baik.

Tapi lagi-lagi saya merasa tidak berhak menerimanya. Dan lagi-lagi, setelah tahu jumlahnya (salahnya kok ya mbuka amplop itu) , rasanya masih ngga rela menyerahkannya ke orang lain. hahaha...

Jumlah itu lho... bisa buat ini, itu, inu. Apalagi momennya pas banget menjelang lebaran. Belum lagi keadaan saya sekarang lagi begini, begitu, beginu. Begitulah. Selalu ada banyak pengandaian dan pembenaran.

Duh Gusti, paringono sae...

30 Agustus 2010

Tempayan air untuk pelintas

Konon hal beginian masih lestari di india



Sebuah tempayan air nangkring di pagar depan sebuah rumah. Persis di pinggir jalan komplek dimana saya tinggal. Siapa pun boleh memanfaatkan, mengambil, meminum atau cuma sekedar membasuh muka. Tanpa gelas maupun wadah tentunya. Apalagi gayung. Selesai minum, silahkan berlalu. Pun tak perlu mengucap terima kasih.

Saya tahu tempayan itu masih berisi air. Itu terlihat dari rembesannya di seputar kran plastik. Ya kran plastik. Sebuah penyesuaian kecil terhadap sebuah tradisi lama. Barangkali ini sebuah kebiasaan yang sudah sangat langka bahkan mungkin hilang. Apalagi di Jakarta.

Dulu. Dulu... sekali. Seingat saya, penyediaan air bagi pelintas di pinggir jalan model beginian kebanyakan menggunakan kendi. Beberapa rumah ada yang menggunakan gentong air. Untuk yang ini, biasanya disediakan pula sebuah gayung. Keduanya diletakkan di rak terlindung namun mudah dilihat dan diraih. Namanya juga untuk umum. Dan keduanya berisi air sumur. Mentah pula.

Untuk ukuran sekarang, mungkin ini tak layak minum. Apalagi dengan semakin banyaknya air dalam kemasan dengan harga murah. Namun percayalah, masih ada sebagian orang yang tak keberatan dengan air mentah. Di pesantren-pesantren tradisional misalnya, para santrinya masih meminum air sumur hingga sekarang. Juga masih ada sebagian orang di kampung (kami) yang meminum air sembari mandi.

Dan ngobrol-ngobrol soal minuman gratis untuk pelintas, saya jadi ingat even tahunan yang selalu melintasi daerah kami di Bangsari sana. Pertama, barisan tentara (katanya dalam rangka pembaretan kopassus) yang berjalan kaki dari Bandung hingga menyeberang ke Nusakambangan. Juga gerak jalan sipil 45 kilometer setiap agustusan. Untuk keduanya, kami menyediakan makanan kecil dan minuman seadanya tanpa diminta siapa pun sepanjang jalan. Meski sebenarnya itu dilarang oleh sang komandan. hahaha.

Btw, apa kabar tuh gerak jalan 45 kilo?

26 Agustus 2010

Lebaran, Uang Baru


Uang pecahan 10 ribuan baru dengan desain baru. Tidak sepenuhnya baru sebenarnya, hanya sedikit berbeda dengan sebelumnya. Warna emisi baru ini lebih pucat. Sepintas terlihat seperti versi lama yang jadi mbulak atau luntur karena kelamaan terpanggang sinar matahari. Juga seperti salah cetak warna. Selain perbedaan warna, gambar dan desain bisa dikatakan sama persis, terkecuali adanya tanda bintik-bintik merah.

Konon dibikin demikian karena banyaknya keluhan uang pecahan ini mirip banget dengan pecahan 100 ribu. Membuat para penjual sepuh yang tak lagi awas merugi dan anak-anak muda jahil tergirang-girang. Katanya... Kata siapa? Ya kata saya.


Adapun uang koin 1 ribuan baru ini dibikin untuk menyaingi koin dingdong. Ngawur. Yang benar, ini masalah efisiensi. Desainnya memungkinan koin difungsikan sebagai alat kerokan yang bagus.

Ngomong-omong soal emisi uang baru, setelah era '98, rasa-rasanya frekuensinya semakin sering. Cuma kira-kira sih. Tentang pastinya saya tak yakin.

Lalu mengapa? Apakah itu artinya semakin banyak pemalsuan? Atau karena laju inflasi yang tinggi? Jawaban paling gampangnya ya mbuh. Tapi, setelah saya pikir-pikir alasan yang paling tepat ya karena mau lebaran. Iya to?

24 Agustus 2010

Lampu listrik. Sirna sudah masa-masa bermain di bawah cahaya bulan



Saya lahir dan tumbuh hingga cukup besar dalam gelap, maksudnya tanpa listrik, nun di pelosok sana. Saat selepas magrib, yang ada hanya gelap pekat. Satu dua rumah menggunakan penerangan lampu petromaks (kami menyebutnya strongking, nama merek kata orang), kebanyakan lainnnya berlampu senthir atau teplok. Dan itu hanya berlangsung sampai pukul 8 atau maksimal banget jam 9 malam. Terkecuali jika pesta sedang digelar. Baik kelahiran, hajatan maupun kematian. Menghidupkan lampu hingga pagi adalah cerita ajaib yang susah kami terima.

Dalam gelap, pulang dari surau sesudah mengaji selepas isya dilakukan dengan meraba-raba. Lucu, membayangkan kaki melangkah tanpa tahu pasti apa yang ada di depannya. Lubang atau permukaan tinggi rendah tanah tak bisa dihindari. Maka jalan akan terasa dengklak dengklik mirip orang buta yang pincang kedua kakinya. Tips sederhana: lepaslah alas kaki, perjalanan akan terasa lebih mudah dilewati.


Satu dua anak ada yang membawa obor. Yang paling umum adalah seikat daun kelapa kering. Beberapa membawa obor bambu dengan isian minyak tanah, ada juga yang membawa upet, pelepah bunga kelapa yang disuwir-suwir dan diikat ketat seperti sapu lidi. Itu peristiwa yang hanya terjadi pada waktu musim hujan. Supaya bisa memilih jalan yang aman dan tak terjerembab ke kubangan air. Membawa obor itu tidak praktis.

Waktu itu baterai adalah barang mewah yang hanya dimiliki kaum ayah. Bapakku sendiri tak pernah mengijinkan orang lain menyentuhnya terkecuali untuk urusan penting. Ke peturasan belakang rumah misalnya. Itu pun dengan kondisi khusus. Hujan adalah alasan yang paling bisa diterima. Baterai yang sudah lemah akan dialih-fungsikan untuk radio kebanggaan kami. Sumber hiburan satu-satunya yang selalu tersedia setiap saat. Tipi? Cuma ada dalam cerita tentang kota-kota gemerlap. Kata orang sih.

Kejadian paling seru adalah saat berburu buah jatuhan saat musim mangga tiba. Ceritanya, suatu ketika ada seorang teman yang usil dengan (maaf) buang kotoran di bawah pohon buruan. Padahal kami hanya mengandalkan rabaan tangan untuk menemukan buah masak yang jatuh. Kejadian selanjutanya tak usah diceritakan disini. :P


Malam terang bagi seluruh kampung hanya terjadi saat terang bulan (rasanya sudah lama sekali tak menggunakan kata ini). Inilah saat yang benar-benar magis bagi kami penduduk kampung. Pada purnama musim kemarau, hampir semua orang keluar rumah untuk berkumpul di halaman. Wanita, laki-laki, tua dan muda. Ibu-ibu dengan saling memijit, bergosip atau mengepang rambut. Bapak-bapak dengan kopi dan obrolan palawijanya. Anak-anak bermain dan berlarian hingga bulan tepat di tengah-tengah cakrawala.

Pernah suatu ketika kepala desa kami mewajibkan setiap rumah memasang satu lampu minyak kecil dengan ukuran dan model tiang yang seragam sepanjang jalan. Indah sekali. Sayangnya itu hanya bertahan tak lebih dari sebulan. Selebihnya, kehidupan kembali seperti semula.

Begitu lamanya hidup salam suasana demikian, sampai-sampai saya tak berpikir hidup dengan cara yang lain. Maka saat pertama kali merantau ke peradaban yang lebih terang (bukan lebih baik, atas koreksi dari mas yahya), hal pertama yang paling mengganggu saya ya soal lampu listrik itu. Apalagi tidur di barak dengan belasan orang di satu ruangan terang benderang adalah ujian terbesar yang paling sulit saya lewati selama bertahun-tahun. Bahkan sampai sekarang.

Rasanya itu sudah sangat-sangat lama terjadi. Dan setiap kali PLN memutuskan aliran listrik, saya selalu merayakannya...

19 Agustus 2010

Terowongan. Hujan. Ngiyup


Sebuah barisan pendek sepeda motor yang menepi di terowongan kedua di jalan antara Pasar Minggu - Depok. Pada siang minggu kemarin saat hujan deras melanda. Di terowongan kedua ini, hanya terdapat beberapa motor yang parkir. Mungkin karena banyak diantaranya sudah berhenti di terowongan pertama. Kira-kira 100 meteran sebelumnya. Satu dua pesepeda motor berhenti sejenak untuk memakai mantel dan kemudian melanjutkan perjalanan. Sebagian besar lainnya tidak. Saya masih memutuksan untuk terus di terowongan pertama, tapi hujan yang semakin lebat membuat saya berhenti di terowongan kedua ini.

Terowongan pertama disesaki jenis kendaraan yang sama hingga memenuhi separuh badan jalan. Memaksa mobil yang lewat untuk melambatkan laju dan (dalam waktu tak terlalu lama sesudahnya) akan menyisakan antrian panjang mengular penuh gerutuan jauh di belakangnya.

Biasanya, saya tak pernah berhenti. Maksudnya, tidak pernah berhenti dibawah terowongan atau pun di bawah jembatan layang. Dua jas hujan selalu tersedia di bawah jok. Namun kali ini barang yang saya bawa adalah jenis yang mudah rusak jika terkena air. Padahal jarak hantaran cuma tinggal tak lebih dari 1 kilometer lagi ke depan. Apa boleh buat.

Dalam gelap terowongan, saya jadi paham. Mengapa jakarta begitu gampang mengalami macet total dimana-mana setiap kali hujan turun. Pertama, ya barisan tukang ngiyup pesepeda motor itu. Bayangkan saja. Ribuan (atau mungkin jutaan, saya tak tahu pasti) kendaraan berseliweran di jalanan kota ini terutama pada jam-jam sibuk. Katakanlah sepersekiannya saja sepeda motor. Artinya, dalam beberapa menit saja hujan turun, bisa jadi ratusan sepeda motor sudah nunut ngiyup di situ. Pantes macet. Alasan lain, hujan juga sering menyebabkan genangan air. Ini lebih parah lagi. Kali ini korbannya tak cuma motor, tapi juga mobil dan pengendara yang lain.

Ngomong-omong soal motor ini, saya kadang jadi mikir, kendaraan ini sepertinya adalah jenis yang (maaf) "kurang" manusiawi. Kemampuan mesinnya yang dahsyat misalnya, membuat pengendaranya untuk cenderung ngebut. Lihatlah ke jalanan. Kota ini (bagi saya) terasa mirip arena kebut-kebutan nasional. Risiko senggolan, jatuh dan yang lebih parah dari itu mengancam setiap saat. Belum lagi risiko kepanasan dan kehujanan.

Eh, bukannya sepeda (pancal) juga punya risiko ini? Betul. Tapi saya melihat berkendara sepeda lebih merupakan pilihan daripada keterpaksaan. Bahkan sebagian pesepeda adalah kalangan yang lebih dari cukup untuk memiliki mobil. Ini betulan lho.

Oh iya. Satu lagi. Penggunaan sepeda motor juga lebih berisiko kejahatan. Baik sebagai sarana maupun sebagai korban. Penjambretan misalnya. Untuk hal terakhir, saya pernah menjadi korbannya. Rasanya @#$%^&&...

Sayangnya, sampai sekarang belum ada pilihan yang lebih baik. :P

10 Agustus 2010

Refleksi bodoh menjelang puasa

Aha! Akhirnya sebentar lagi puasa ke 6 akan saya jalani di kota ini. Insya Allah. Sebuah prestasi yang ajaib dan mengharukan. Lha bagaimana tidak? Awalnya saya mengira akan berada di kota ini sepintas lalu saja. Yah, mungkin setahun dua tahun lah. Atau setidaknya tak kan terlalu lama dari itu. Cita-cita saya: mencari dan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Kemudian pulang kampung dalam keadaan kaya raya. Lalu berleha-leha sampe tuwek elek. Begitulah. Namanya juga cita-cia. Tercapai atau tidak, toh gratis saja. Khayal memang. Dan gemblung.

Dan kenyataannya ya pasti tidak seindah itu. Mengapa? Karena, nyatanya tak ada satupun manusia di kota ini yang mencari uang (kecuali mungkin para peminta-minta). Yang ada mereka itu bekerja. Sekali lagi. Orang jakarta yang punya duit banyak itu ya karena bekerja. Ndak ada tuh yang namanya duit tercecer di jalan-jalan untuk dikumpulin. Owalah.... Ya pantesan. Dan jelas saja saya gagal total! :D

Kecewa dong? Mutung? Ngambek? Tidak! Sekali lagi tidak! Eh. Maksudnya, ada sedikit...

Lho kok bisa? Ya jelas bisa. Lha wong saya kesini cuman modal dengkul je. Artinya saya ndak pernah rugi. Bukankah kata pak guru ekonomi dulu, rugi itu terjadi ketika hasil yang didapat lebih kecil dari modal yang digunakan. Kalau modalnya nol ya berarti ndak bakalan rugi. Lebih banyak untungnya malahan.

Lagipula dalam beberapa hal, saya mulai bisa beradaptasi.

Adaptasi. Nah itu dia. Saya rasa inilah salah satu anugrah terbesar yang diberikan Tuhan untuk mahluk bernama manusia. Sehingga manusia bisa merasa nyaman, enak dan terbiasa dengan sesuatu. Dan saya merasa sangat bersyukur dengan dengan kemampuan ini. Adapun soal macet, banjir dan sebagainya, biarin aja. Seperti kata anak gaul, dibawa asik aja jek. Mending fokus pada hal yang positif aja.

Hidup ini terlalu berharga untuk cuma berkeluh kesah bukan? Selamat berpuasa...

link terkait: catatan puasa tahun lalu

04 Agustus 2010

Umpel-umpelan Isi Dompet Lelaki


Kapan terakhir kali Anda membongkarnya? Kalau saya, kemarin lusa. Sebelum itu? Entah. Saya tak ingat.

Belakangan saya curiga. Kok bisa-bisanya dompet saya itu terasa ngganjel sekali di saku belakang. Begitu tebalnya, rasa-rasanya pantat jadi miring ke kiri sewaktu dibawa duduk. :P

Bukan. Bukan karena semakin banyak duitnya. Sumpah. Toh, misalnya duit semakin banyak, semestinya tak berpengaruh terhadap ketebalan dompet bukan? Bukankah (kata orang), sekarang mah jamannya uang plastik? Maksudnya, tinggal gesek kalo diperlukan. Kalo ndak perlu ya biar saja dia ngendon saja di suatu tempat antah berantah dan hanya muncul di layar sebagai angka-angka imajiner. Itu cuma misal lho...



Dan benar saja. Nyatanya, dompet saya jadi tebal itu karena kebanyakan isi yang ndak perlu. Contoh: surat tanda bukti pengurusan STNK yang hilang dari kepolisian dan tanda terima pengurusan perpanjangan STNK dari biro calo, padahal surat yang dimaksud sudah beres dari kapan tahu. Kemudian ada DP penginapan, aplikasi frequent flyer, kartu survey layanan kualitas dari emprit airline, kartu nama toko rahayu (embuh toko apa), kartu piala dunia dari indomaret, struk-struk transaksi yang sebagian sudah tak bisa dilihat angkanya, catatan nomor telpon saudara jauh yang tak pernah saya temui apalagi saya hubungi dari sekian tahun yang lalu, kartu kedutaan besar mesir dan kartu keanggotaan klinik di kos lama. Kesemuanya itu sudah kadaluarsa entah sejak kapan.

Belum lagi kartu-kartu yang masih berguna: kartu-kartu nama dari teman, kenalan atau apa lah. Kartu donor darah, kartu nama sendiri, STNK, 2 lembar uang 100-an merah, kartu asruransi, kartu atm yang tak ada isinya, kartu NPWP, SIM dan kartu frequent flyer yang sudah jadi.

Yang mengherankan, kartu konsumsi yang tak terpakai saat wisuda sekian tahun yang lalu masih juga terselip. hahaha.

Pantesan tebal!

Nasi Kuning Maknyus


Sewaktu tiba, waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam. Karena sedari siang perut belum juga diisi nasi, lapar yang hebat bertalu-talu mendera perut. Sungguh tega itu si singa udara. Emangnya saya orang bule yang bisa makan roti buat pengganjal perut? Udah gitu, mana tak ada yang jualan popmie atau indomie keliling pula. Mbok yaa itu pedagang asongan diijinin jualan. Pasti penumpang senang. huh!

"Jam segini cuma ada nasi kuning, pak", kata pemandu menjawab pertanyaan pertama saya.

Waduh. Saya tak begitu suka jenis makanan ini. Mau gimana lagi, tak ada pilihan lain. Saya mengiyakannya dengan ogah-ogahan.

Sampai di penginapan tanpa babibu segera saya lahap. Lha... Jebul nasi kuning Manado itu maknyus sekali sodara-sodara. Jauh sekali bedanya dengan nasi kuning di jawa. Bukan cuma bungkusnya yang entah terbuat dari daun apa, namun rasanya itu lho... Wuenak sekali. Sumpah!

03 Agustus 2010

Terbanglah Jauh Dek...


Adik paling kecil kami akhirnya terbang jauh mengunjungi negeri Fir'aun. Mewujudkan mimpinya untuk mengikuti jejak sang kakak yang sudah tidak lagi di sana. Menggeluti huruf-huruf keriting gundul yang tak pernah kupelajari benar-benar. Aku iri dengan mereka berdua.



Berbeda dengan saatku dulu pergi, kali ini tidak ada airmata. "Sudah biasa", kata ibu enteng. Enam kali ditinggal anak-anaknya merantau, ibu jadi terbiasa.

Terbanglah jauh dek... Doakan kami bisa mengunjungimu kelak.

Pelangi Sore



Sebuah keajaiban kecil. Pelangi muncul di balik kaca jendela pabrik. Tak ada bidadari yang turun. Mungkin mereka sudah tak butuh mandi di atas sana. :P

Aus Terpakai



Susah risiko. Tak ada barang yang tak rusak. Begitupun kaos kaki ini. Saya baru menyadarinya ketika dalam perjalanan jauh yang bikin saya harus duduk melulu ndak bisa ngapa-ngapain lagi, selain cuma bisa jalan ke toilet.

Namanya juga perjalanan panjang, apalagi duduknya di bangku ekonomi yang sempit, ya tentu pengin ganti posisi. Mulai dari goyang-goyang kaki, bersila hingga jegang. Pas nyopot sepatu, lha... jebul kaos kakinya sudah growong.