10 Juli 2010

Mengenang Poniran

Tiba-tiba aku mendengar kabar itu. Dia meninggalkan seorang istri dengan 7 orang anak. Yang tertua baru saja drop out dari kelas 2 sekolah menengah pertama, bahkan dua yang terkecil masih menyusui. Tanpa penghasilan tetap, bisa dibayangkan bagaimana si bini menghidupi mereka. Begitu Ibu memulai cerita melalui telepon. Hampir sebulan sesudah kejadian itu berlalu, Bapak Ibu baru datang berkunjung.

Keadaan mereka begitu menyedihkan. Di sebuah kamar kontrakan yang lembab, kumuh dan sempit di belakang kawasan pabrik di Bandung Selatan, mereka tinggal. Sebuah kamar yang dibayari sewanya oleh bibi mereka yang penjual sayur kecil-kecilan. Tujuh orang anak dan seorang ibu. Adakah yang lebih buruk dari itu?

Aku tahu Ibu tidak sedang menginginkan jawaban. Aku hanya menangkap suasana yang suram dari dari nada suaranya. Selebihnya sedih dan gelap. Dan memang seperti itulah jalan cerita hidupnya yang kukenang, segelap fragmen Anak Lelaki Berpiyama Garis Garis itu.

Namanya Poniran. Thok. Aku tak pernah tahu siapa bapak dan dan ibunya ketika dia mulai menjadi anggota keluarga kami. Informasi tentang dirinya hanyalah dia seorang yatim piatu.

Di kemudian hari, kelak kutahu bahwa bapaknya menginggalkannya saat dia masih berwujud bayi merah. Adapun sang Ibu meninggal saat masa persusuannya belum juga usai. Cerita selanjutnya, dia diasuh oleh kerabat yang kebetulan janda. Nasih baik tak juga singgah, si kerabat meninggal dunia tak lama sesudah itu. Sekali lagi, dia berpindah keluarga. Cerita tentang dia kemudian hanyalah berpindah dari satu keluarga ke keluarga lain. Aku tak ingat berapa keluarga yang pernah disinggahinya. Tapi kurasa tak lebih dari 5. Dan itu semua tidaklah gratis.

Sebagai gantinya, dia ikut bekerja dengan si empunya rumah. Sebuah hubungan yang umum pada masa itu. Di sawah, ikut mencangkul dan bertani. Juga ikut menjual hasil bumi ke pasar terdekat setiap akhir pekan. Eh. Sebenarnya tak ada yang benar-benar bisa disebut akhir pekan di sana. Keluarga terakhir yang kutahu ditinggalinya adalah keluarga pemelihara bebek. Maka menjelmalah dia menjadi Poniran Si Pangon Bebek. Sekolahnya bolong-bolong tentu saja, hal yang biasa bagi kami anak-anak keluarga petani.

Tak lama di keluarga itu, dia memutuskan keluar. Keluar dari keluarga itu dan juga keluar dari sekolah dasar. Kelas empat atau lima lah kira kira. Aku tak ingat pasti. Cerita yang kuingat, dia menangis sewaktu meminta ijin ke wali kelasnya dan beberapa gurunya, termasuk ke Bapakku si kepala sekolah. Alasannya, dia ingin menyusul bapaknya yang konon pergi ke Sumantra. Para guru tentu saja menahannya dan memberi sebuah tawaran untuknya: bebas memilih tinggal di salah satu gurunya. Dia memilih rumahku, dan jadilah dia kakak tertua kami.

Sebagai anak lelaki tertua, kehadirannya sungguh membanggakan dan menimbulkan keingin-tahuanan yang dalam di benakku. Dia pribadi yang hebat menurutku. Rajin dan bersemangat. Aku masih belum sekolah waktu. Hanya lamat-lamat kuingat bagaimana dia makani ayam, mentok, basur, itik dan sebagainya di halaman rumah kami setiap pagi dan sore. Lebih dari seratus ekor semuanya, begitu kuingat dia pernah bilang. Dan itu semua adalah hasil kerja kerasnya sendiri.

Pernah kudapati di suatu pagi, seekori burung kutilang lepasan menghampirinya selagi melakukan tugas. Bukan tugas sebenarnya. Bapak dan Ibu setahuku tak pernah memerintahkan untuk memelihara unggas. Dia sendiri yang menentukan pekerjaannya sendiri. Mungkin itu bagian dari kebiasaan yang dia bawa dari keluarga-keluarga sebelumnya.

Setelah proyek unggasnya sukses, selajutnya dia mulai memelihara burung: perkutut, deruk sabrang dan kutilang. Perkututnya dan kutilangnya tidak berkembang, tapi deruk sabrangnya berkembang pesat. Oh iya. Ada satu lagi. Merpati. Jumlahnya luar biasa banyak. Sampai-sampai menjadi masalah besar di rumah kami. Genting-genting banyak yang melorot, menimbulkan kebocoran di musim penghujan. Kotorannya bertebaran dimana-mana. Belum lagi padi di lumbung yang "dibobol" rombongan merpati itu. Begitulah. Nalurinya bertahan hidupnya yang bekerja kurasa.

Di sore hari, dia memandikan kami adik-adiknya dengan sabun kebanggaanya lifeboy yang selalu dia lafalkan sebagai lifeboek. Ini berbeda dengan kebiasaan keluarga kami yang pengguna setia sabun lux. Dia pula yang paling rajin mengeramasi conon (borok) di kepala kami dengan gosokan daun randu muda. Entah darimana dia mendapatkan resep itu. Yang jelas, seingatku resep itu sama sekali tak manjur.

Aku tak berani mengatakan dia sudah bahagia di keluarga kami. Setidaknya dia kelihatan senang, bersih dan layak. Tapi itu tak menghilangkan hasratnya untuk menyusul bapaknya nun jauh di seberang. Setelah lulus SD, dia mengutarakn niatnya lagi. Dan lagi-lagi Bapak masih menahannya dengan alasan dia belum menamatkan SMP-nya. Alasan kedua, alamatnya tidak jelas. Mau nyari kemana?

Lha kok ndilalahnya, tanpa perlu bersusah payah dia mendapatkan informasi keberadaan si bapak. Seorang santri pondok depan rumah bilang ada tetangganya di Lampung sana yang sepertinya cocok dengan ciri-ciri yang disebut Poniran. Tanpa bisa dicegah lagi, dia minta menyusul kesana. Dan kabar itu terbukti benar.

Tapi itu tak berarti masalahnya selesai. Dia sempat tinggal disana selama kurang lebih sebulan. Lagi-lagi nasib baik belum berpihak, ternyata si bapak dan keluarga barunya sama sekali tidak memperhatikannya. Tegasnya, dia tidak diinginkan dalam keluarga itu. Mau bagaimana lagi? Maka kembalilah dia ke rumah kami. Setelah peristiwa itu, dia tak pernah menyinggung tentang bapaknya. Sepertinya dia punya jalannya sendiri.

Sampai sekarang aku masih juga tak habis pikir. Bagaimana bisa seorang pelajar kelas 1 SMP sudah memiliki keputusan sendiri seperti itu. Ku pikir, mungkin akibat akumulasi tekanan batin dan ekonomi sepanjang hidupnya. Aku sendiri tak yakin.

Tapi begitulah yang terjadi. Sama tidak jelasnya dengan segmen ketika bapaknya meninggalkannya. Orang bilang keadaan waktu itu begitu sulit. Jauh sebelum irigasi masuk, sebagian besar sawah kami selalu kebanjiran di musim penghujan dan baru surut menjelang musim kemarau. Akibatnya, waktu tanam menjadi lebih pendek. Sering pula terjadi, saat tanaman padi belum juga bunting, kekeringan sudah menghadang di depan mata. Ancaman gagal panen langsung terpampang. Bahkan para tuan tanah pun tak jarang kehabisan pangan. Tidak ada jaminan panen berhasil.

Sedang nasib keluarga yang tidak berpunya hanyalah cerita muram yang membosankan. Bahaya kelaparan bisa terjadi kapan saja. Cerita makan umbi-umbian (ketela pohon, ketela rambat, ganyong, dan sejenisnya) atau pisang sebagai makanan utama bukan hanya ada, itu sudah jadi keseharian. Mmmm, sebenarnya tidak begitu. Yang benar, belum tentu tersedia setiap hari.

Dalam suasana zaman yang seperti itulah Poniran kecil harus bertahan hidup sendiri. Maka tak mengherankan jika dia kerap hanya mendapatkan makanan satu-dua hari sekali dari si tuan rumah. Pernah dia bercerita tiga hari dia tak dikasih makan. Dia punya pembenaran, sebagai bukan anggota keluarga, wajar saja dia diperlakukan begitu. Ceritanya mengalir enteng seperti bukan dia saja yang mengalaminya.

Pertanyaannya, lalu bagaimana caranya dia bertahan hidup? Nah inilah hebatnya para penggembala. Masih ada singkong atau pepaya setengah matang di tegalan. Atau kacang panjang dan ketimun di musim kemarau. Juga pisang-pisang di pekarangan orang. Tentu saja itu semua didapat tanpa seijin si pemilik tanaman. Itu biasanya dilakukan awal pagi atau senja hari sembari pulang. Itu cerita yang lazim lebih dari dua puluh tahun yang lalu. Terutama ketika wabah TKW dan TKI belum melanda kampung kami di akhir tahun 80-an.

Belum juga menginjak kelas 2 SMP, dia pamit pada kami hendak merantau ke Bandung. Bukan hal yang aneh, mengingat banyak teman sepermainannya yang sudah kesana: kerja di bengkel, di pabrik, jadi pembantu atau apa saja. Sekali lagi aku tak bisa mengerti mengapa dia sampai berpikir ke sana. Bisa jadi disebabkan faktor umur. Seingatku dia sudah mulai kumisan selepas SD. Hal yang tak aneh lagi di kampung kami. Apalagi jika masuknya saja sudah di atas tujuh tahun. Belum lagi ditambah beberapa kali tinggal kelas alias nunggak.

Dia sering bolak-balik setelah itu. Di kepulangan selanjutnya, dia minta dikawinkan dengan gadis belakang pabrik. Si gadis, setahuku dia tak bisa baca tulis. Orangnya pendek, kecil, berambut lurus dan berkulit putih. Tadinya kupikir dia bisu karena hampir tak pernah kudengar dia bicara. Tapi dalam beberapa kali kunjungan ke kampung, kutahu dia istri yang bisa diandalkan. Kecuali dalam hal pengaturan uang.

Dia masih sering pulang sesudah itu, baik dengan anak istri atau sendiri. Cerita selanjutnya yang kudengar selalu monoton: anak yang lahir hampir setiap tahun. Tentang saudara-saudara istrinya yang karena nganggur dan miskin selalu minta jatah dari gajinya. Juga selalu kekurangan uang setiap kali pulang. Padahal, penghasilannya sebagai pemintal wol yang mahir jauh di atas gaji bapak yang cuma pegawai negeri rendahan.

Setelah itu aku merantau. Dan selama itu pula aku tak pernah lagi mendengar kabarnya. Sepertinya dia takut pulang karena Ibu pernah memarahinya gara-gara kebanyakan hutang. Hal yang tabu bagi kami.

Sekitar tiga bulan yang lalu aku menelponnya untuk pertamakalinya. Seperti biasa, dia selalu menangis selama pembicaraan. Aku menebak itu tangisan haru, sebagaimana biasanya dia selalu begitu saat bertemu salah satu dari kami. Tapi tebakanku salah besar. Ada nada lain dalam tangisan itu. Sebuah kekhawatiran besar tersirat di sana.

Sebuah usaha konveksi kecil yang dia tangani mengalami kerugian. Bos yang punya pun kebetulan bangkrut. Maka jadilah dia ikut bangkrut pula. Sementara 9 kepala termasuk dirinya harus tetap dikasih makan.

Hari itu dia mengeluh sakit kepala. Seperti biasanya, tiap kali mengeluh sakit tiap kali itu pula dia menenggak Puyer Tjap 19. Dan tenggakan ke dua belas hari itu mengakhiri segalanya.

Ibu diliputi perasaan bersalah yang teramat sangat. Terutama karena, tidak seperti biasanya, membiarkan dia tak berani kembali di saat yang sulit itu. Tapi sebenarnya dia tak pernah benar-benar meninggalkan kami.

Seperti peristiwa lebih dari 20 tahun lalu, anak-anaknya kini memasuki keluarga kami. Memang tidak semua. Hanya 3: satu yang seharusnya sudah kelas satu smp, satu yang seharusnya kelas 6 sekolah dasar dan satu lagi yang baru berusia 6 tahun.

Seperti juga bapaknya dulu, mereka sangat ceria dan bersemangat. Juga tak pernah susah. Namun kali ini kami tak ingin mereka bernasib seperti bapaknya. Bapak, Ibu, aku dan saudara-saudaraku bertekad akan mendidik mereka. Entah bagaimana caranya. Dan kalau bisa, semuanya.

Hanya doa yang bisa kulakukan. Semoga kali ini kami berhasil membahagiakan mereka.

Catatan: Untuk mengenang dia yang bahkan fotonya pun kami tak punya.