22 Juni 2010

Berita Lelayu

Inalillahi wa inna ilaihi raji'un.

Telah meninggal dunia ibunda dari mba Rini Suryanti atau mertua dari Bahtiar Rifa'i (pembuat/pendiri www.sepeda.wordpress.com ), sekitar pukul 19:00 WIB di Rumah Sakit Kramat Jakarta karena sakit Kanker Payudara.

Semoga beliau diterima dengan baik dan diberit tempat yang baik di sisi-Nya dan keluarga yg ditinggalkan diberi ketabahan.

Amin

18 Juni 2010

Khotbah Jumat

Khotbah jumat tadi siang bagi saya sungguh sangat menarik. Menarik karena mengetengahkan bagaimana agama sebenarnya juga sangat humanis.

Baiklah, berikut saya sarikan dari khotbah tersebut. Ada 2 kasus pencurian yang terkenal dalam sejarah islam.

Yang pertama, terjadi pada jaman rasulullah. Seorang wanita terpandang dan terhormat (plus kaya, mestinya) melakukan pencurian (atau dalam bahasa sekarang korupsi) terhadap kepentingan orang banyak. Karena merasa dirinya bersalah dan akan terkena sangsi, si wanita mencoba melobi nabi melalui cucu angkat nabi yang bernama Usamah. Usamah adalah anak dari anak angkat nabi yang bernama Zaid bin Haritsah.

Nabi, tentu saja, tak bisa menerima kejadian ini. Beliau bahkan menegur Usamah atas tindakan tindakannya yang tak patut. Pendek kata, Nabi kemudian menghukum si wanita tersebut. Sampai di sini jelas, tak ada tafsir.

Kejadian kedua terjadi pada jaman Khalifah Umar bin Khattab. Seorang laki-laki mencuri dari baitul mal. Nahasnya, dia tertangkap. Oleh massa kemudian dia diserahkan ke pengadilan. Persindangan itu sendiri dipimpin langsung oleh sang khalifah.
Kemudian terjadilah dialog antara sang Khalifah (K) dan si tersangka (T) kira–kira begini:

K: Apa benar anda mencuri dari baitul mal berupa barang bukti ini?
T: Benar. Saya mencuri barang tersebut.
K: Sebagai orang islam, apakah Anda tidak tahu bahwa mencuri itu dilarang?
T: Tahu yang mulia. Allah melarang itu.

Kemudian si tersangka menyitir sebuah ayat tentang pencurian dan hukum potong tangan. Hal ini membuat sang khalifah tertegun. Untuk meyakinkannya, beliau kemudian mengulangi pertanyaan itu sekali lagi. Dan si tersangka tetap menjawab dengan jawaban yang sama. Hal ini tentu saja membuat heran semua orang.

Khalifah: kalau tahu, mengapa Anda melakukannya?

Lalu si tersangka tertunduk lama hingga sang khalifah sampai mengulang lagi pertanyaannya.

T: Saya terpaksa.

Selanjutnya, terjadilah dialog panjang lebar yang intinya si tersangka mencuri karena keadaan keterpaksaan. Dia menanggung seorang istri dan 2 orang anak dalam kelaparan.

Beliau kemudian membebaskan si tersangka sekaligus memberikan tunjangan untuk yang bersangkutan. Di akhir sidang, sang khalifah menyitir sebuah ayat:

"Barangsiapa dalam keadaan terpaksa dengan tidak sengaja dan tidak melewati batas, maka tiada berdosa atasnya, karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Belas-kasih." (al-Baqarah: 173)

Moral of the story dari peristiwa ini adalah: dalam keadaan terpaksa, suatu hukum bisa berubah. Dan inilah yang kemudian menjadi salah satu kaidah fikih yang paling terkenal.

Wallahu a’lamu bish-shawab.