29 Maret 2010

Jayapura


Begitu menerima tiket perjalanannya, saya langsung tergumun-gumun. Bagaimana tidak? Pesawat berangkat sesuai jadwal dari Cengkareng pukul 22:10 WIB, transit dua kali (masing-masing kurang lebih setengah jam) di Makassar dan Biak, melintasi 3 zona waktu atau seperdelapan dunia, barulah kami mendarat di baru sampai di Bandara Sentani pukul 07:00 WIT.

Tujuh jam perjalanan udara! Bayangkan! Dan itu masih di dalam negeri lho... Jika jarak perjalanan yang sama dilakukan ke arah barat, mungkin bisa sampai ke India. Lha wong naik haji ke arab sana saja cuma butuh waktu setengah hari je. Entahlah, saya tak pernah benar-benar menghitungnya. Yang jelas, negeri ini memang luas luar biasa.

Begitulah. Akhirnya kesampaian juga mengunjungi tanah ini. Selama empat hari, seperti biasa, tugas bikin wedang yang mengantar saya dan seorang rekan sepabrik ke sini. Menginjak bumi paling timur negeri ini dan hanya berjarak sekitar 3 jam perjalanan darat ke perbatasan Papua Nugini.

Bagasi yang bikin shock

Selain lamanya waktu penerbangan, kejutan lain juga terjadi saat boarding di Cengkareng. Seperti biasa, tuntutan pekerjaan mengharuskan kami membawa banyak peralatan pembikin wedang. Dan hampir selalu juga, kami kelebihan muatan. Sejauh ini sih kami tak pernah membayar banyak untuk itu. Paling-paling kisarannya seratus hingga dua ratus ribu. Namun tagihan kali ini benar-benar membuat kami takjub.

Sejuta lima puluhan ribu rupiah untuk kelebihan 15 kilogram bagasi (itu pun sudah dikorting oleh petugas penimbang, angka awalnya 22 kilo). Hampir setara harga tiket itu sendiri. Byuh! Untunglah ditanggung pabrik. :P

Kota gunung dan pantai bertemu


Dari pesawat, pulau ini terlihat seperti tegalan sangat luas dengan gundukan dan cekungan tanah yang kadang tersusun rapi dan kadang tidak. Beberapa cekungan itu berisi air, menjadi danau-danau besar dan kecil. Pemandangan bandara ditepi Danau Sentani terasa begitu luar biasa. Lebih istimewa lagi karena danau maha luas ini seperti menyatu dengan laut.

Kejutan masih terus berlangsung di darat. Pemandangan gunung-gunung di sekitar bandara yang berkabut sehabis hujan pagi membuat bulu kuduk merinding. Saya langsung teringat dengan film Avatar, dimana hutan dan keanggunannya terlihat. Bedanya, ini nyata bung!


Selanjutnya, perjalanan masih harus disambung dengan bermobil kurang lebih 45 menit menyusuri pinggiran Danau Sentani dan barulah kami sampai di tujuan. Begitu besarnya danau ini, hingga saya tidak bisa membedakan mana danaunya dan mana lautnya.

Kesan pertama memasuki kota, ini kota yang asyik. Jayapura adalah sebuah kota kecil di pinggir sebuah teluk besar. Di sinilah pantai dan gunung sekaligus bertemu. Sebuah kombinasi yang langka dan ajaib.

Atas lindungan teluk yang dalam membuat lautnya terlihat begitu tenang. Hembusan angin laut juga terasa halus dan lembut, hanya mampu menimbulkan riak-riak kecil di pinggir pantai. Hampir tak ada ombak. Yang lebih penting lagi, pantainya sangat bersih. Sayangnya, di sini tak ada pasir. Pantai berpasir ada di sisi lain kota ini.


Dan di sisi inilah kami menginap. Matahari terbit langsung tersaji tepat di depan jendela setiap pagi. Juga kapal-kapal barang maupun kapal penumpang yang sedang bersandar di kejauhan.

Jika ingin melihat Jayapura dari ketinggian, naiklah ke daerah Angkasa (bagian dataran tinggi yang sekaligus jadi kawasan elit kota ini). Dari sini kita bisa menyaksikan hampir seluruh sudut kota. Sebuah rumah makan bernama Bagus Pandang (sepertinya cuma satu-satunya di kawasan ini) yang siap mengakomodir hal ini. Sayangnya, rumah makan itu belum buka ketika kami berkunjung. Untungnya, kami diperbolehkan melihat-lihat semau kami suka. Beberapa foto artis terkenal ibu kota tertempel di dinding. Selebihnya, tumpukan kursi yang belum tertata.

Ndilalah kersane ngalah, seorang rekanan tiba-tiba mengundang kami ke tempat tinggalnya di kawasan ini. Bahkan lebih tinggi dan tentu saja lebih bagus. Dari sana pula kita bisa menyaksikan kabut yang turun hingga menyentuh laut menjelang magrib atau di pagi hari. Juga kerlap kerlip lampu karamba di tengah laut selepas gelap, promosi si empunya rumah. Dan benar saja, semuanya terhidang tanpa cacat persis di beranda rumahnya. Terasa lebih lengkap lagi dengan ditemani kopi istimewa yang didatangkan langsung dari gayo. Kalau saja tak ada pekerjaan, undangan menginap tak akan mampu kami tolak.

Multi budaya


"Papua dalam bayangan banyak orang, masih tak jauh dari persoalan konflik. Setidaknya begitulah berita-berita yang ditampilkan media selama bertahun-tahun. Padahal Papua tak hanya itu. Lagi pula, konflik itu hanya terjadi di daerah tertentu, sebagian besar lainnya aman ", demikian keluh seorang rekanan di sana.

Dan memang benar. Jayapura sangat jauh dari kesan tidak aman. Kesan multi budaya malah terasa lebih kentara. Seperti biasa, orang jawa ada dimana-mana. Mulai dari yang berjualan soto lamongan, mie ayam pati, pecel lele hingga pekerja sektor formal. Juga banyak ditemui orang-orang madura, makassar, bugis dan tionghoa. Bahkan pimpinan dua bank besar di kota ini dipimpin orang dari sumantra. Ini kota yang multi kultur. Di luar itu semua, ini kota yang saling menghargai. Begitu cerita pemandu kami.

Salah satu bentuk tradisi saling menghormati itu adalah dengan menutup semua toko setiap hari libur nasional, Setidaknya hingga selepas makan siang. Sepagian itu warga akan pergi ke rumah ibadah atau beraktifitas di rumah. Jalanan menjadi lengang. Di kota ini pula saya menjumpai jalanan yang macet selepas bubaran gereja. Tapi di saat yang sama, suara adzan disuarakan dari masjid yang terletak tak jauh dari situ. Sempat juga kami berjalan-jalan selepas magrib. Aman dan nyaman. Juga bersih dan segar!

Beberapa hari sepulang dari sana saya mendengar kabar Jayapura rusuh. Duh!

Nginang

Satu hal yang terasa agak aneh bagi kami adalah kebiasaan makan buah pinang dan buah sirih, atau biasa disebut nginang dalam bahasa jawa. Di jawa, kebiasaan ini biasanya hanya dilakukan kaum perempuan yang sudah berumur. Itu pun sudah sangat jarang ditemui saat ini. Di sini, justru kebanyakan laki-laki, tua maupun muda. Dimana-mana. Di pingir jalan hingga pusat perbelanjaan. Sebagai konsekuensinya, bercak-bercak merah tersebar di banyak tempat.

Maka tak heran jika kemudian pihak bandara memasang pengumuman dilarang makan buah pinang di seputar bandara. Tapi tetap saja saya menemui beberapa orang mengunyah pinang di ruang tunggu. Hanya saja bercak merah itu tak satu pun saya temui di sini.

Oleh-oleh

Koteka. Itulah yang langsung tergambar dalam benak saya begitu menyebut kata oleh-oleh. Dan memang benar, pilihan oleh-oleh dari sini tidak terlalu banyak. Memang masih ada tas dari serat kayu yang cukup besar dan kuat untuk menggendong bayi, kalung gigi babi, atau tiruan kapak berburu. Juga masih ada buah merah dan sarang semut. Tapi di luar itu pilihan lainnya sulit dicari.

Sebenarnya masih ada batik papua sih. Tapi bisa dibilang ini bukan batik asli sana karena dibikin oleh orang jawa. Maksudnya, didesain dan dibikin di jogja untuk kemudian di pasarkan di Papua. Begitu cerita sang pemilik toko dalam bahasa jawa yang halus.

Oleh-oleh makanan? Entah. Saya tak banyak tahu. Untunglah masih ada selimut maskapai yang bisa dibawa pulang. eh, diembat ding. :P