25 November 2010

Diklat

Dulu disebut begitu. Sekarang mungkin training terasa lebih keren. Esensinya sama. Pelatihan tentang sesuatu dalam waktu singkat. Intinya sama, pekerja diharapkan lebih produktif sehingga bisa meningkatkan kinerja perusahaan. Lalu gaji naik. (harapannya) pekerja juga lebih bahagia dan sejahtera.

Hidup pekera!

*Di tengah sakaw diklat*

21 Oktober 2010

Serit aka pembasmi larva dan kutu rambut


Masih ada tersedia di emperan pasar jatinegara. Empat ribu rupiah untuk yang terbuat dari kayu dan Rp 15 ribu untuk yang dari tanduk kerbau.

Seingatku, dulu barang beginian hanya diimpor dari Cina. Terutama yang berbahan bambu. Gambar di atas sepertinya menunjukkan sekarang sudah diproduksi di dalam negeri.

Kembali ke masa lalu, saya masih tidak habis pikir mengapa dulu banyak orang (kampung) yang rambutnya berkutu begitu parah hingga cononen. Anda tau conon?. Itu lho... Luka-luka bernanah di kulit kepala. Jadi, ceritanya kutu-kutu itu (yang entah mengapa) sangat aktif di malam hari. Akibatnya tanpa sadar anak-anak menggaruk kepala tak habis-habisnya. Lalu kulit terluka. Selanjutnya luka melebar dan rambut menjadi lengket serta gembel.

Ada dua cara untuk mengatasinya. Pertama, dengan serit itu tadi. Setiap malam menjelang tidur di bawah penerangan lampu senthir. Setelah diserit, lalu serit diketok-ketokkan ke atas kertas. Lalu dipithes satu-satu. Bagian tersulit adalah "berburu" larva kutu. Dalam hal ini serit sampai harus disiangi dengan jarum. Lalu ujung jarum dibakar di atas api lampu.

Bayangkan bagaimana susahnya itu. Lha wong di siang hari saja nyerit tidaklah gampang, apalagi di malam hari. Belum lagi kertas polos putih bukanlah barang yang mudah didapat pada masa itu. Jalan keluar terbaik jika cononnya sudah terlalu parah, ya dipangkas habislah itu rambut. Cerita ini sepertinya terlalu tidak beradab bagi anak sekarang.

Lalu. kira-kira kemana larinya barisan kutu itu ya?

19 Oktober 2010

1000 Buku: Mari Berbagi


Aha! Pesta Blogger tahun ini datang lagi. Dan seperti biasa, Muktamar Blogger juga akan digelar. Mengenai keduanya, tentu Anda semua sudah mafhum.

Nah, untuk memeriahkan keduanya, kami gerombolan BHI berniat mengadakan Gerakan 1000 Buku Jilid II. Mengapa Jilid II? Itu karena pernah ada gerakan 1000 Buku Jilid Pertama. Tepatnya dua tahun lalu. Malah waktu itu gerakan ini berhasil mengumpulkan sekitar 4.000 buku selama sekitar 2 bulan kegiatan.

Inti gerakan ini sederhana saja. Yaitu mengumpulkan buku-buku bacaan yang sudah tidak terpakai untuk selanjutnya didistribusikan ke daerah-daerah yang membutuhkan. Tidak ada batasan ketat mengenai jenis buku di sini. Namun berdasarkan pengalaman yang dulu, sangat disarankan untuk TIDAK mengirimkan MAJALAH atau BUKU TULIS BEKAS. Ini penting kami tekankan di awal, karena banyak diantara yang sebut di depan pada akhirnya hanya akan menjadi sampah. Mohon maaf sebelumnya.

Adapun beberapa calon penerima sumbangan sejauh ini adalah:

Perpus Ngampon di lereng Sumbing, CP Sang Nanang dari Bala Tidar
Perpus di Malang , CP Cak Hedi
Perpus Solo, CP Blontakpoer
Taman Bacaan Pelangi, CP Wiwikwae
Sanggar Bunga Padi, Kulon Progo Yogyakarta
Catatan: daftar bertambah sesuai permintaan


Oh iya, gerakan kali ini juga menerima pengumpulan kaos bekas yang masih layak pakai. Untuk disumbangkan ke mereka yang membutuhkan (sasaran masih dalam progress):

Karena berbagi tak pernah rugi!

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan buka di 1000buku.org

Tempat Pengumpulan Buku:
Antyo 1000buku
Rumah Langsat
JL. Langsat I no 3A, Kramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta.

Link terkait:
Pasarsapi
Ipung
Utet
Hani berada di sini
Wiwikwae
Mikow
Colonelseven

14 Oktober 2010

Petunjuk jalan aka rambu-rambu

Mestinya bikin jelas, bukan sebaliknya

Tempat baru. Jalur baru. Masalah baru. Ndak aneh sebenarnya. Salah sendiri ga suka keluyuran, (mungkin) kata sampeyan.

Begitulah saya belakangan ini. Maksud hati pengin tahu jalur-jalur alternatif, yang terjadi malah kesasar. Pada akhirnya tahu juga sih, hanya saja prosesnya seringkali bikin kesal hati. Clingak-clinguk kanan-kiri dengan maksud nyari pertanda, eh, tahu-tahu ada petugas nongol di depan kendaraan. Jadi dah kondangan 20 ribuan. Terberkatilah engkau wahai bapak berseragam...


Ngomong-omong soal rambu-rambu jalan, ampai sekarang saya masih saja bingung. Siapa saja, atau departemen apa saja yang berhak bikin? Bagaimana koordinasi antara mereka? Mengapa masih terdapat rambu (termasuk lampu lalu lintas) yang sepertinya salah letak? Dan yang lebih penting lagi, kok bisa-bisanya, masing masing rambu itu seringkali tidak sinkron?



Untuk hal terakhir, saya punya contoh. Maksud hati mengikuti papan "ke Blok A". Jadi, ceritanya saya pulang dari pabrik di seputaran Gandaria. Wah, jalan pintas menuju Mampang nih, pikir saya. Apa lacur, beberapa puluh meter dari papan pertama ada percabangan pertama. Tidak ada petunjuk harus ke kanan atau ke kiri. Ngawur saja, saya ambil kiri. Hasilnya mbulet. Lha bagaimana tidak? Di percabangan setelahnya tidak menyebut tempat yang saya tuju. Tempat itu baru disebut setelah entah percabangan ke berapa. Lalu hilang lagi, kemudian muncul lagi dan seterusnya. Mau tak mau saya memakai ajian kira-kira.

Hari berikutnya, saya coba ambil belokan yang ke arah kanan. Hasilnya? Sama. Tidak lebih baik atau lebih buruk. Malah ada satu tanda yang saya patuhi yang harusnya lurus, eh begitu sampai pertigaan, jalan ke arah sana malah diportal. Njuk piye jal?

Hari berikutnya sama. Begitu juga berikutnya lagi. Ya sudah, daripada pusing, mending saya anggap saja sebuah petualangan kecil. Rambu-rambu, prek!

Inti ceritanya, jangan sepenuhnya percaya pada rambu lalu lintas. Percayalah pada Tuhan.

12 Oktober 2010

Dasi


Bagian dari gaya hidup urban. Konon penting untuk mendongkrak "harga" seseorang. Terutama jika yang dihadapi adalah kastamer dari kalangan yang begitu deh.

Perkakas yang hanya saya kenakan saat di dalam pabrik. Begitu pula sepatu. Karena sungguh tak lucu jika kita (eh, saya maksudnya) mengenakan dasi, bersepatu mengkilat, baju ber-cuffling tapi makannya di warteg. Sudah gitu naik angkot pula. :D


Suatu kali saya berangkat kerja dengan senjata lengkap seperti tersebut di atas. Bersepeda motor tentu saja. Petugas parkir belakang pabrik terlonga-longo dan mengira saya sudah naik pangkat. "Woh. Sekarang sudah jadi sales, bos?" hahaha.

Bonus, berdasi kali pertama.

31 Agustus 2010

Hak orang lain

Seperti tahun lalu, saya kebagian zakat maal lagi dari majikan. Bedanya, kali ini tulisan yang tertera betul. "Mungkin maksudnya bukan zakat, tapi sedekah. Cuma istilahnya saja yang salah", kata seorang teman. Bisa dan sangat boleh jadi. Apa pun itu, saya yakin maksudnya pasti baik.

Tapi lagi-lagi saya merasa tidak berhak menerimanya. Dan lagi-lagi, setelah tahu jumlahnya (salahnya kok ya mbuka amplop itu) , rasanya masih ngga rela menyerahkannya ke orang lain. hahaha...

Jumlah itu lho... bisa buat ini, itu, inu. Apalagi momennya pas banget menjelang lebaran. Belum lagi keadaan saya sekarang lagi begini, begitu, beginu. Begitulah. Selalu ada banyak pengandaian dan pembenaran.

Duh Gusti, paringono sae...

30 Agustus 2010

Tempayan air untuk pelintas

Konon hal beginian masih lestari di india



Sebuah tempayan air nangkring di pagar depan sebuah rumah. Persis di pinggir jalan komplek dimana saya tinggal. Siapa pun boleh memanfaatkan, mengambil, meminum atau cuma sekedar membasuh muka. Tanpa gelas maupun wadah tentunya. Apalagi gayung. Selesai minum, silahkan berlalu. Pun tak perlu mengucap terima kasih.

Saya tahu tempayan itu masih berisi air. Itu terlihat dari rembesannya di seputar kran plastik. Ya kran plastik. Sebuah penyesuaian kecil terhadap sebuah tradisi lama. Barangkali ini sebuah kebiasaan yang sudah sangat langka bahkan mungkin hilang. Apalagi di Jakarta.

Dulu. Dulu... sekali. Seingat saya, penyediaan air bagi pelintas di pinggir jalan model beginian kebanyakan menggunakan kendi. Beberapa rumah ada yang menggunakan gentong air. Untuk yang ini, biasanya disediakan pula sebuah gayung. Keduanya diletakkan di rak terlindung namun mudah dilihat dan diraih. Namanya juga untuk umum. Dan keduanya berisi air sumur. Mentah pula.

Untuk ukuran sekarang, mungkin ini tak layak minum. Apalagi dengan semakin banyaknya air dalam kemasan dengan harga murah. Namun percayalah, masih ada sebagian orang yang tak keberatan dengan air mentah. Di pesantren-pesantren tradisional misalnya, para santrinya masih meminum air sumur hingga sekarang. Juga masih ada sebagian orang di kampung (kami) yang meminum air sembari mandi.

Dan ngobrol-ngobrol soal minuman gratis untuk pelintas, saya jadi ingat even tahunan yang selalu melintasi daerah kami di Bangsari sana. Pertama, barisan tentara (katanya dalam rangka pembaretan kopassus) yang berjalan kaki dari Bandung hingga menyeberang ke Nusakambangan. Juga gerak jalan sipil 45 kilometer setiap agustusan. Untuk keduanya, kami menyediakan makanan kecil dan minuman seadanya tanpa diminta siapa pun sepanjang jalan. Meski sebenarnya itu dilarang oleh sang komandan. hahaha.

Btw, apa kabar tuh gerak jalan 45 kilo?

26 Agustus 2010

Lebaran, Uang Baru


Uang pecahan 10 ribuan baru dengan desain baru. Tidak sepenuhnya baru sebenarnya, hanya sedikit berbeda dengan sebelumnya. Warna emisi baru ini lebih pucat. Sepintas terlihat seperti versi lama yang jadi mbulak atau luntur karena kelamaan terpanggang sinar matahari. Juga seperti salah cetak warna. Selain perbedaan warna, gambar dan desain bisa dikatakan sama persis, terkecuali adanya tanda bintik-bintik merah.

Konon dibikin demikian karena banyaknya keluhan uang pecahan ini mirip banget dengan pecahan 100 ribu. Membuat para penjual sepuh yang tak lagi awas merugi dan anak-anak muda jahil tergirang-girang. Katanya... Kata siapa? Ya kata saya.


Adapun uang koin 1 ribuan baru ini dibikin untuk menyaingi koin dingdong. Ngawur. Yang benar, ini masalah efisiensi. Desainnya memungkinan koin difungsikan sebagai alat kerokan yang bagus.

Ngomong-omong soal emisi uang baru, setelah era '98, rasa-rasanya frekuensinya semakin sering. Cuma kira-kira sih. Tentang pastinya saya tak yakin.

Lalu mengapa? Apakah itu artinya semakin banyak pemalsuan? Atau karena laju inflasi yang tinggi? Jawaban paling gampangnya ya mbuh. Tapi, setelah saya pikir-pikir alasan yang paling tepat ya karena mau lebaran. Iya to?

24 Agustus 2010

Lampu listrik. Sirna sudah masa-masa bermain di bawah cahaya bulan



Saya lahir dan tumbuh hingga cukup besar dalam gelap, maksudnya tanpa listrik, nun di pelosok sana. Saat selepas magrib, yang ada hanya gelap pekat. Satu dua rumah menggunakan penerangan lampu petromaks (kami menyebutnya strongking, nama merek kata orang), kebanyakan lainnnya berlampu senthir atau teplok. Dan itu hanya berlangsung sampai pukul 8 atau maksimal banget jam 9 malam. Terkecuali jika pesta sedang digelar. Baik kelahiran, hajatan maupun kematian. Menghidupkan lampu hingga pagi adalah cerita ajaib yang susah kami terima.

Dalam gelap, pulang dari surau sesudah mengaji selepas isya dilakukan dengan meraba-raba. Lucu, membayangkan kaki melangkah tanpa tahu pasti apa yang ada di depannya. Lubang atau permukaan tinggi rendah tanah tak bisa dihindari. Maka jalan akan terasa dengklak dengklik mirip orang buta yang pincang kedua kakinya. Tips sederhana: lepaslah alas kaki, perjalanan akan terasa lebih mudah dilewati.


Satu dua anak ada yang membawa obor. Yang paling umum adalah seikat daun kelapa kering. Beberapa membawa obor bambu dengan isian minyak tanah, ada juga yang membawa upet, pelepah bunga kelapa yang disuwir-suwir dan diikat ketat seperti sapu lidi. Itu peristiwa yang hanya terjadi pada waktu musim hujan. Supaya bisa memilih jalan yang aman dan tak terjerembab ke kubangan air. Membawa obor itu tidak praktis.

Waktu itu baterai adalah barang mewah yang hanya dimiliki kaum ayah. Bapakku sendiri tak pernah mengijinkan orang lain menyentuhnya terkecuali untuk urusan penting. Ke peturasan belakang rumah misalnya. Itu pun dengan kondisi khusus. Hujan adalah alasan yang paling bisa diterima. Baterai yang sudah lemah akan dialih-fungsikan untuk radio kebanggaan kami. Sumber hiburan satu-satunya yang selalu tersedia setiap saat. Tipi? Cuma ada dalam cerita tentang kota-kota gemerlap. Kata orang sih.

Kejadian paling seru adalah saat berburu buah jatuhan saat musim mangga tiba. Ceritanya, suatu ketika ada seorang teman yang usil dengan (maaf) buang kotoran di bawah pohon buruan. Padahal kami hanya mengandalkan rabaan tangan untuk menemukan buah masak yang jatuh. Kejadian selanjutanya tak usah diceritakan disini. :P


Malam terang bagi seluruh kampung hanya terjadi saat terang bulan (rasanya sudah lama sekali tak menggunakan kata ini). Inilah saat yang benar-benar magis bagi kami penduduk kampung. Pada purnama musim kemarau, hampir semua orang keluar rumah untuk berkumpul di halaman. Wanita, laki-laki, tua dan muda. Ibu-ibu dengan saling memijit, bergosip atau mengepang rambut. Bapak-bapak dengan kopi dan obrolan palawijanya. Anak-anak bermain dan berlarian hingga bulan tepat di tengah-tengah cakrawala.

Pernah suatu ketika kepala desa kami mewajibkan setiap rumah memasang satu lampu minyak kecil dengan ukuran dan model tiang yang seragam sepanjang jalan. Indah sekali. Sayangnya itu hanya bertahan tak lebih dari sebulan. Selebihnya, kehidupan kembali seperti semula.

Begitu lamanya hidup salam suasana demikian, sampai-sampai saya tak berpikir hidup dengan cara yang lain. Maka saat pertama kali merantau ke peradaban yang lebih terang (bukan lebih baik, atas koreksi dari mas yahya), hal pertama yang paling mengganggu saya ya soal lampu listrik itu. Apalagi tidur di barak dengan belasan orang di satu ruangan terang benderang adalah ujian terbesar yang paling sulit saya lewati selama bertahun-tahun. Bahkan sampai sekarang.

Rasanya itu sudah sangat-sangat lama terjadi. Dan setiap kali PLN memutuskan aliran listrik, saya selalu merayakannya...

19 Agustus 2010

Terowongan. Hujan. Ngiyup


Sebuah barisan pendek sepeda motor yang menepi di terowongan kedua di jalan antara Pasar Minggu - Depok. Pada siang minggu kemarin saat hujan deras melanda. Di terowongan kedua ini, hanya terdapat beberapa motor yang parkir. Mungkin karena banyak diantaranya sudah berhenti di terowongan pertama. Kira-kira 100 meteran sebelumnya. Satu dua pesepeda motor berhenti sejenak untuk memakai mantel dan kemudian melanjutkan perjalanan. Sebagian besar lainnya tidak. Saya masih memutuksan untuk terus di terowongan pertama, tapi hujan yang semakin lebat membuat saya berhenti di terowongan kedua ini.

Terowongan pertama disesaki jenis kendaraan yang sama hingga memenuhi separuh badan jalan. Memaksa mobil yang lewat untuk melambatkan laju dan (dalam waktu tak terlalu lama sesudahnya) akan menyisakan antrian panjang mengular penuh gerutuan jauh di belakangnya.

Biasanya, saya tak pernah berhenti. Maksudnya, tidak pernah berhenti dibawah terowongan atau pun di bawah jembatan layang. Dua jas hujan selalu tersedia di bawah jok. Namun kali ini barang yang saya bawa adalah jenis yang mudah rusak jika terkena air. Padahal jarak hantaran cuma tinggal tak lebih dari 1 kilometer lagi ke depan. Apa boleh buat.

Dalam gelap terowongan, saya jadi paham. Mengapa jakarta begitu gampang mengalami macet total dimana-mana setiap kali hujan turun. Pertama, ya barisan tukang ngiyup pesepeda motor itu. Bayangkan saja. Ribuan (atau mungkin jutaan, saya tak tahu pasti) kendaraan berseliweran di jalanan kota ini terutama pada jam-jam sibuk. Katakanlah sepersekiannya saja sepeda motor. Artinya, dalam beberapa menit saja hujan turun, bisa jadi ratusan sepeda motor sudah nunut ngiyup di situ. Pantes macet. Alasan lain, hujan juga sering menyebabkan genangan air. Ini lebih parah lagi. Kali ini korbannya tak cuma motor, tapi juga mobil dan pengendara yang lain.

Ngomong-omong soal motor ini, saya kadang jadi mikir, kendaraan ini sepertinya adalah jenis yang (maaf) "kurang" manusiawi. Kemampuan mesinnya yang dahsyat misalnya, membuat pengendaranya untuk cenderung ngebut. Lihatlah ke jalanan. Kota ini (bagi saya) terasa mirip arena kebut-kebutan nasional. Risiko senggolan, jatuh dan yang lebih parah dari itu mengancam setiap saat. Belum lagi risiko kepanasan dan kehujanan.

Eh, bukannya sepeda (pancal) juga punya risiko ini? Betul. Tapi saya melihat berkendara sepeda lebih merupakan pilihan daripada keterpaksaan. Bahkan sebagian pesepeda adalah kalangan yang lebih dari cukup untuk memiliki mobil. Ini betulan lho.

Oh iya. Satu lagi. Penggunaan sepeda motor juga lebih berisiko kejahatan. Baik sebagai sarana maupun sebagai korban. Penjambretan misalnya. Untuk hal terakhir, saya pernah menjadi korbannya. Rasanya @#$%^&&...

Sayangnya, sampai sekarang belum ada pilihan yang lebih baik. :P

10 Agustus 2010

Refleksi bodoh menjelang puasa

Aha! Akhirnya sebentar lagi puasa ke 6 akan saya jalani di kota ini. Insya Allah. Sebuah prestasi yang ajaib dan mengharukan. Lha bagaimana tidak? Awalnya saya mengira akan berada di kota ini sepintas lalu saja. Yah, mungkin setahun dua tahun lah. Atau setidaknya tak kan terlalu lama dari itu. Cita-cita saya: mencari dan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Kemudian pulang kampung dalam keadaan kaya raya. Lalu berleha-leha sampe tuwek elek. Begitulah. Namanya juga cita-cia. Tercapai atau tidak, toh gratis saja. Khayal memang. Dan gemblung.

Dan kenyataannya ya pasti tidak seindah itu. Mengapa? Karena, nyatanya tak ada satupun manusia di kota ini yang mencari uang (kecuali mungkin para peminta-minta). Yang ada mereka itu bekerja. Sekali lagi. Orang jakarta yang punya duit banyak itu ya karena bekerja. Ndak ada tuh yang namanya duit tercecer di jalan-jalan untuk dikumpulin. Owalah.... Ya pantesan. Dan jelas saja saya gagal total! :D

Kecewa dong? Mutung? Ngambek? Tidak! Sekali lagi tidak! Eh. Maksudnya, ada sedikit...

Lho kok bisa? Ya jelas bisa. Lha wong saya kesini cuman modal dengkul je. Artinya saya ndak pernah rugi. Bukankah kata pak guru ekonomi dulu, rugi itu terjadi ketika hasil yang didapat lebih kecil dari modal yang digunakan. Kalau modalnya nol ya berarti ndak bakalan rugi. Lebih banyak untungnya malahan.

Lagipula dalam beberapa hal, saya mulai bisa beradaptasi.

Adaptasi. Nah itu dia. Saya rasa inilah salah satu anugrah terbesar yang diberikan Tuhan untuk mahluk bernama manusia. Sehingga manusia bisa merasa nyaman, enak dan terbiasa dengan sesuatu. Dan saya merasa sangat bersyukur dengan dengan kemampuan ini. Adapun soal macet, banjir dan sebagainya, biarin aja. Seperti kata anak gaul, dibawa asik aja jek. Mending fokus pada hal yang positif aja.

Hidup ini terlalu berharga untuk cuma berkeluh kesah bukan? Selamat berpuasa...

link terkait: catatan puasa tahun lalu

04 Agustus 2010

Umpel-umpelan Isi Dompet Lelaki


Kapan terakhir kali Anda membongkarnya? Kalau saya, kemarin lusa. Sebelum itu? Entah. Saya tak ingat.

Belakangan saya curiga. Kok bisa-bisanya dompet saya itu terasa ngganjel sekali di saku belakang. Begitu tebalnya, rasa-rasanya pantat jadi miring ke kiri sewaktu dibawa duduk. :P

Bukan. Bukan karena semakin banyak duitnya. Sumpah. Toh, misalnya duit semakin banyak, semestinya tak berpengaruh terhadap ketebalan dompet bukan? Bukankah (kata orang), sekarang mah jamannya uang plastik? Maksudnya, tinggal gesek kalo diperlukan. Kalo ndak perlu ya biar saja dia ngendon saja di suatu tempat antah berantah dan hanya muncul di layar sebagai angka-angka imajiner. Itu cuma misal lho...



Dan benar saja. Nyatanya, dompet saya jadi tebal itu karena kebanyakan isi yang ndak perlu. Contoh: surat tanda bukti pengurusan STNK yang hilang dari kepolisian dan tanda terima pengurusan perpanjangan STNK dari biro calo, padahal surat yang dimaksud sudah beres dari kapan tahu. Kemudian ada DP penginapan, aplikasi frequent flyer, kartu survey layanan kualitas dari emprit airline, kartu nama toko rahayu (embuh toko apa), kartu piala dunia dari indomaret, struk-struk transaksi yang sebagian sudah tak bisa dilihat angkanya, catatan nomor telpon saudara jauh yang tak pernah saya temui apalagi saya hubungi dari sekian tahun yang lalu, kartu kedutaan besar mesir dan kartu keanggotaan klinik di kos lama. Kesemuanya itu sudah kadaluarsa entah sejak kapan.

Belum lagi kartu-kartu yang masih berguna: kartu-kartu nama dari teman, kenalan atau apa lah. Kartu donor darah, kartu nama sendiri, STNK, 2 lembar uang 100-an merah, kartu asruransi, kartu atm yang tak ada isinya, kartu NPWP, SIM dan kartu frequent flyer yang sudah jadi.

Yang mengherankan, kartu konsumsi yang tak terpakai saat wisuda sekian tahun yang lalu masih juga terselip. hahaha.

Pantesan tebal!

Nasi Kuning Maknyus


Sewaktu tiba, waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam. Karena sedari siang perut belum juga diisi nasi, lapar yang hebat bertalu-talu mendera perut. Sungguh tega itu si singa udara. Emangnya saya orang bule yang bisa makan roti buat pengganjal perut? Udah gitu, mana tak ada yang jualan popmie atau indomie keliling pula. Mbok yaa itu pedagang asongan diijinin jualan. Pasti penumpang senang. huh!

"Jam segini cuma ada nasi kuning, pak", kata pemandu menjawab pertanyaan pertama saya.

Waduh. Saya tak begitu suka jenis makanan ini. Mau gimana lagi, tak ada pilihan lain. Saya mengiyakannya dengan ogah-ogahan.

Sampai di penginapan tanpa babibu segera saya lahap. Lha... Jebul nasi kuning Manado itu maknyus sekali sodara-sodara. Jauh sekali bedanya dengan nasi kuning di jawa. Bukan cuma bungkusnya yang entah terbuat dari daun apa, namun rasanya itu lho... Wuenak sekali. Sumpah!

03 Agustus 2010

Terbanglah Jauh Dek...


Adik paling kecil kami akhirnya terbang jauh mengunjungi negeri Fir'aun. Mewujudkan mimpinya untuk mengikuti jejak sang kakak yang sudah tidak lagi di sana. Menggeluti huruf-huruf keriting gundul yang tak pernah kupelajari benar-benar. Aku iri dengan mereka berdua.



Berbeda dengan saatku dulu pergi, kali ini tidak ada airmata. "Sudah biasa", kata ibu enteng. Enam kali ditinggal anak-anaknya merantau, ibu jadi terbiasa.

Terbanglah jauh dek... Doakan kami bisa mengunjungimu kelak.

Pelangi Sore



Sebuah keajaiban kecil. Pelangi muncul di balik kaca jendela pabrik. Tak ada bidadari yang turun. Mungkin mereka sudah tak butuh mandi di atas sana. :P

Aus Terpakai



Susah risiko. Tak ada barang yang tak rusak. Begitupun kaos kaki ini. Saya baru menyadarinya ketika dalam perjalanan jauh yang bikin saya harus duduk melulu ndak bisa ngapa-ngapain lagi, selain cuma bisa jalan ke toilet.

Namanya juga perjalanan panjang, apalagi duduknya di bangku ekonomi yang sempit, ya tentu pengin ganti posisi. Mulai dari goyang-goyang kaki, bersila hingga jegang. Pas nyopot sepatu, lha... jebul kaos kakinya sudah growong.

10 Juli 2010

Mengenang Poniran

Tiba-tiba aku mendengar kabar itu. Dia meninggalkan seorang istri dengan 7 orang anak. Yang tertua baru saja drop out dari kelas 2 sekolah menengah pertama, bahkan dua yang terkecil masih menyusui. Tanpa penghasilan tetap, bisa dibayangkan bagaimana si bini menghidupi mereka. Begitu Ibu memulai cerita melalui telepon. Hampir sebulan sesudah kejadian itu berlalu, Bapak Ibu baru datang berkunjung.

Keadaan mereka begitu menyedihkan. Di sebuah kamar kontrakan yang lembab, kumuh dan sempit di belakang kawasan pabrik di Bandung Selatan, mereka tinggal. Sebuah kamar yang dibayari sewanya oleh bibi mereka yang penjual sayur kecil-kecilan. Tujuh orang anak dan seorang ibu. Adakah yang lebih buruk dari itu?

Aku tahu Ibu tidak sedang menginginkan jawaban. Aku hanya menangkap suasana yang suram dari dari nada suaranya. Selebihnya sedih dan gelap. Dan memang seperti itulah jalan cerita hidupnya yang kukenang, segelap fragmen Anak Lelaki Berpiyama Garis Garis itu.

Namanya Poniran. Thok. Aku tak pernah tahu siapa bapak dan dan ibunya ketika dia mulai menjadi anggota keluarga kami. Informasi tentang dirinya hanyalah dia seorang yatim piatu.

Di kemudian hari, kelak kutahu bahwa bapaknya menginggalkannya saat dia masih berwujud bayi merah. Adapun sang Ibu meninggal saat masa persusuannya belum juga usai. Cerita selanjutnya, dia diasuh oleh kerabat yang kebetulan janda. Nasih baik tak juga singgah, si kerabat meninggal dunia tak lama sesudah itu. Sekali lagi, dia berpindah keluarga. Cerita tentang dia kemudian hanyalah berpindah dari satu keluarga ke keluarga lain. Aku tak ingat berapa keluarga yang pernah disinggahinya. Tapi kurasa tak lebih dari 5. Dan itu semua tidaklah gratis.

Sebagai gantinya, dia ikut bekerja dengan si empunya rumah. Sebuah hubungan yang umum pada masa itu. Di sawah, ikut mencangkul dan bertani. Juga ikut menjual hasil bumi ke pasar terdekat setiap akhir pekan. Eh. Sebenarnya tak ada yang benar-benar bisa disebut akhir pekan di sana. Keluarga terakhir yang kutahu ditinggalinya adalah keluarga pemelihara bebek. Maka menjelmalah dia menjadi Poniran Si Pangon Bebek. Sekolahnya bolong-bolong tentu saja, hal yang biasa bagi kami anak-anak keluarga petani.

Tak lama di keluarga itu, dia memutuskan keluar. Keluar dari keluarga itu dan juga keluar dari sekolah dasar. Kelas empat atau lima lah kira kira. Aku tak ingat pasti. Cerita yang kuingat, dia menangis sewaktu meminta ijin ke wali kelasnya dan beberapa gurunya, termasuk ke Bapakku si kepala sekolah. Alasannya, dia ingin menyusul bapaknya yang konon pergi ke Sumantra. Para guru tentu saja menahannya dan memberi sebuah tawaran untuknya: bebas memilih tinggal di salah satu gurunya. Dia memilih rumahku, dan jadilah dia kakak tertua kami.

Sebagai anak lelaki tertua, kehadirannya sungguh membanggakan dan menimbulkan keingin-tahuanan yang dalam di benakku. Dia pribadi yang hebat menurutku. Rajin dan bersemangat. Aku masih belum sekolah waktu. Hanya lamat-lamat kuingat bagaimana dia makani ayam, mentok, basur, itik dan sebagainya di halaman rumah kami setiap pagi dan sore. Lebih dari seratus ekor semuanya, begitu kuingat dia pernah bilang. Dan itu semua adalah hasil kerja kerasnya sendiri.

Pernah kudapati di suatu pagi, seekori burung kutilang lepasan menghampirinya selagi melakukan tugas. Bukan tugas sebenarnya. Bapak dan Ibu setahuku tak pernah memerintahkan untuk memelihara unggas. Dia sendiri yang menentukan pekerjaannya sendiri. Mungkin itu bagian dari kebiasaan yang dia bawa dari keluarga-keluarga sebelumnya.

Setelah proyek unggasnya sukses, selajutnya dia mulai memelihara burung: perkutut, deruk sabrang dan kutilang. Perkututnya dan kutilangnya tidak berkembang, tapi deruk sabrangnya berkembang pesat. Oh iya. Ada satu lagi. Merpati. Jumlahnya luar biasa banyak. Sampai-sampai menjadi masalah besar di rumah kami. Genting-genting banyak yang melorot, menimbulkan kebocoran di musim penghujan. Kotorannya bertebaran dimana-mana. Belum lagi padi di lumbung yang "dibobol" rombongan merpati itu. Begitulah. Nalurinya bertahan hidupnya yang bekerja kurasa.

Di sore hari, dia memandikan kami adik-adiknya dengan sabun kebanggaanya lifeboy yang selalu dia lafalkan sebagai lifeboek. Ini berbeda dengan kebiasaan keluarga kami yang pengguna setia sabun lux. Dia pula yang paling rajin mengeramasi conon (borok) di kepala kami dengan gosokan daun randu muda. Entah darimana dia mendapatkan resep itu. Yang jelas, seingatku resep itu sama sekali tak manjur.

Aku tak berani mengatakan dia sudah bahagia di keluarga kami. Setidaknya dia kelihatan senang, bersih dan layak. Tapi itu tak menghilangkan hasratnya untuk menyusul bapaknya nun jauh di seberang. Setelah lulus SD, dia mengutarakn niatnya lagi. Dan lagi-lagi Bapak masih menahannya dengan alasan dia belum menamatkan SMP-nya. Alasan kedua, alamatnya tidak jelas. Mau nyari kemana?

Lha kok ndilalahnya, tanpa perlu bersusah payah dia mendapatkan informasi keberadaan si bapak. Seorang santri pondok depan rumah bilang ada tetangganya di Lampung sana yang sepertinya cocok dengan ciri-ciri yang disebut Poniran. Tanpa bisa dicegah lagi, dia minta menyusul kesana. Dan kabar itu terbukti benar.

Tapi itu tak berarti masalahnya selesai. Dia sempat tinggal disana selama kurang lebih sebulan. Lagi-lagi nasib baik belum berpihak, ternyata si bapak dan keluarga barunya sama sekali tidak memperhatikannya. Tegasnya, dia tidak diinginkan dalam keluarga itu. Mau bagaimana lagi? Maka kembalilah dia ke rumah kami. Setelah peristiwa itu, dia tak pernah menyinggung tentang bapaknya. Sepertinya dia punya jalannya sendiri.

Sampai sekarang aku masih juga tak habis pikir. Bagaimana bisa seorang pelajar kelas 1 SMP sudah memiliki keputusan sendiri seperti itu. Ku pikir, mungkin akibat akumulasi tekanan batin dan ekonomi sepanjang hidupnya. Aku sendiri tak yakin.

Tapi begitulah yang terjadi. Sama tidak jelasnya dengan segmen ketika bapaknya meninggalkannya. Orang bilang keadaan waktu itu begitu sulit. Jauh sebelum irigasi masuk, sebagian besar sawah kami selalu kebanjiran di musim penghujan dan baru surut menjelang musim kemarau. Akibatnya, waktu tanam menjadi lebih pendek. Sering pula terjadi, saat tanaman padi belum juga bunting, kekeringan sudah menghadang di depan mata. Ancaman gagal panen langsung terpampang. Bahkan para tuan tanah pun tak jarang kehabisan pangan. Tidak ada jaminan panen berhasil.

Sedang nasib keluarga yang tidak berpunya hanyalah cerita muram yang membosankan. Bahaya kelaparan bisa terjadi kapan saja. Cerita makan umbi-umbian (ketela pohon, ketela rambat, ganyong, dan sejenisnya) atau pisang sebagai makanan utama bukan hanya ada, itu sudah jadi keseharian. Mmmm, sebenarnya tidak begitu. Yang benar, belum tentu tersedia setiap hari.

Dalam suasana zaman yang seperti itulah Poniran kecil harus bertahan hidup sendiri. Maka tak mengherankan jika dia kerap hanya mendapatkan makanan satu-dua hari sekali dari si tuan rumah. Pernah dia bercerita tiga hari dia tak dikasih makan. Dia punya pembenaran, sebagai bukan anggota keluarga, wajar saja dia diperlakukan begitu. Ceritanya mengalir enteng seperti bukan dia saja yang mengalaminya.

Pertanyaannya, lalu bagaimana caranya dia bertahan hidup? Nah inilah hebatnya para penggembala. Masih ada singkong atau pepaya setengah matang di tegalan. Atau kacang panjang dan ketimun di musim kemarau. Juga pisang-pisang di pekarangan orang. Tentu saja itu semua didapat tanpa seijin si pemilik tanaman. Itu biasanya dilakukan awal pagi atau senja hari sembari pulang. Itu cerita yang lazim lebih dari dua puluh tahun yang lalu. Terutama ketika wabah TKW dan TKI belum melanda kampung kami di akhir tahun 80-an.

Belum juga menginjak kelas 2 SMP, dia pamit pada kami hendak merantau ke Bandung. Bukan hal yang aneh, mengingat banyak teman sepermainannya yang sudah kesana: kerja di bengkel, di pabrik, jadi pembantu atau apa saja. Sekali lagi aku tak bisa mengerti mengapa dia sampai berpikir ke sana. Bisa jadi disebabkan faktor umur. Seingatku dia sudah mulai kumisan selepas SD. Hal yang tak aneh lagi di kampung kami. Apalagi jika masuknya saja sudah di atas tujuh tahun. Belum lagi ditambah beberapa kali tinggal kelas alias nunggak.

Dia sering bolak-balik setelah itu. Di kepulangan selanjutnya, dia minta dikawinkan dengan gadis belakang pabrik. Si gadis, setahuku dia tak bisa baca tulis. Orangnya pendek, kecil, berambut lurus dan berkulit putih. Tadinya kupikir dia bisu karena hampir tak pernah kudengar dia bicara. Tapi dalam beberapa kali kunjungan ke kampung, kutahu dia istri yang bisa diandalkan. Kecuali dalam hal pengaturan uang.

Dia masih sering pulang sesudah itu, baik dengan anak istri atau sendiri. Cerita selanjutnya yang kudengar selalu monoton: anak yang lahir hampir setiap tahun. Tentang saudara-saudara istrinya yang karena nganggur dan miskin selalu minta jatah dari gajinya. Juga selalu kekurangan uang setiap kali pulang. Padahal, penghasilannya sebagai pemintal wol yang mahir jauh di atas gaji bapak yang cuma pegawai negeri rendahan.

Setelah itu aku merantau. Dan selama itu pula aku tak pernah lagi mendengar kabarnya. Sepertinya dia takut pulang karena Ibu pernah memarahinya gara-gara kebanyakan hutang. Hal yang tabu bagi kami.

Sekitar tiga bulan yang lalu aku menelponnya untuk pertamakalinya. Seperti biasa, dia selalu menangis selama pembicaraan. Aku menebak itu tangisan haru, sebagaimana biasanya dia selalu begitu saat bertemu salah satu dari kami. Tapi tebakanku salah besar. Ada nada lain dalam tangisan itu. Sebuah kekhawatiran besar tersirat di sana.

Sebuah usaha konveksi kecil yang dia tangani mengalami kerugian. Bos yang punya pun kebetulan bangkrut. Maka jadilah dia ikut bangkrut pula. Sementara 9 kepala termasuk dirinya harus tetap dikasih makan.

Hari itu dia mengeluh sakit kepala. Seperti biasanya, tiap kali mengeluh sakit tiap kali itu pula dia menenggak Puyer Tjap 19. Dan tenggakan ke dua belas hari itu mengakhiri segalanya.

Ibu diliputi perasaan bersalah yang teramat sangat. Terutama karena, tidak seperti biasanya, membiarkan dia tak berani kembali di saat yang sulit itu. Tapi sebenarnya dia tak pernah benar-benar meninggalkan kami.

Seperti peristiwa lebih dari 20 tahun lalu, anak-anaknya kini memasuki keluarga kami. Memang tidak semua. Hanya 3: satu yang seharusnya sudah kelas satu smp, satu yang seharusnya kelas 6 sekolah dasar dan satu lagi yang baru berusia 6 tahun.

Seperti juga bapaknya dulu, mereka sangat ceria dan bersemangat. Juga tak pernah susah. Namun kali ini kami tak ingin mereka bernasib seperti bapaknya. Bapak, Ibu, aku dan saudara-saudaraku bertekad akan mendidik mereka. Entah bagaimana caranya. Dan kalau bisa, semuanya.

Hanya doa yang bisa kulakukan. Semoga kali ini kami berhasil membahagiakan mereka.

Catatan: Untuk mengenang dia yang bahkan fotonya pun kami tak punya.

22 Juni 2010

Berita Lelayu

Inalillahi wa inna ilaihi raji'un.

Telah meninggal dunia ibunda dari mba Rini Suryanti atau mertua dari Bahtiar Rifa'i (pembuat/pendiri www.sepeda.wordpress.com ), sekitar pukul 19:00 WIB di Rumah Sakit Kramat Jakarta karena sakit Kanker Payudara.

Semoga beliau diterima dengan baik dan diberit tempat yang baik di sisi-Nya dan keluarga yg ditinggalkan diberi ketabahan.

Amin

18 Juni 2010

Khotbah Jumat

Khotbah jumat tadi siang bagi saya sungguh sangat menarik. Menarik karena mengetengahkan bagaimana agama sebenarnya juga sangat humanis.

Baiklah, berikut saya sarikan dari khotbah tersebut. Ada 2 kasus pencurian yang terkenal dalam sejarah islam.

Yang pertama, terjadi pada jaman rasulullah. Seorang wanita terpandang dan terhormat (plus kaya, mestinya) melakukan pencurian (atau dalam bahasa sekarang korupsi) terhadap kepentingan orang banyak. Karena merasa dirinya bersalah dan akan terkena sangsi, si wanita mencoba melobi nabi melalui cucu angkat nabi yang bernama Usamah. Usamah adalah anak dari anak angkat nabi yang bernama Zaid bin Haritsah.

Nabi, tentu saja, tak bisa menerima kejadian ini. Beliau bahkan menegur Usamah atas tindakan tindakannya yang tak patut. Pendek kata, Nabi kemudian menghukum si wanita tersebut. Sampai di sini jelas, tak ada tafsir.

Kejadian kedua terjadi pada jaman Khalifah Umar bin Khattab. Seorang laki-laki mencuri dari baitul mal. Nahasnya, dia tertangkap. Oleh massa kemudian dia diserahkan ke pengadilan. Persindangan itu sendiri dipimpin langsung oleh sang khalifah.
Kemudian terjadilah dialog antara sang Khalifah (K) dan si tersangka (T) kira–kira begini:

K: Apa benar anda mencuri dari baitul mal berupa barang bukti ini?
T: Benar. Saya mencuri barang tersebut.
K: Sebagai orang islam, apakah Anda tidak tahu bahwa mencuri itu dilarang?
T: Tahu yang mulia. Allah melarang itu.

Kemudian si tersangka menyitir sebuah ayat tentang pencurian dan hukum potong tangan. Hal ini membuat sang khalifah tertegun. Untuk meyakinkannya, beliau kemudian mengulangi pertanyaan itu sekali lagi. Dan si tersangka tetap menjawab dengan jawaban yang sama. Hal ini tentu saja membuat heran semua orang.

Khalifah: kalau tahu, mengapa Anda melakukannya?

Lalu si tersangka tertunduk lama hingga sang khalifah sampai mengulang lagi pertanyaannya.

T: Saya terpaksa.

Selanjutnya, terjadilah dialog panjang lebar yang intinya si tersangka mencuri karena keadaan keterpaksaan. Dia menanggung seorang istri dan 2 orang anak dalam kelaparan.

Beliau kemudian membebaskan si tersangka sekaligus memberikan tunjangan untuk yang bersangkutan. Di akhir sidang, sang khalifah menyitir sebuah ayat:

"Barangsiapa dalam keadaan terpaksa dengan tidak sengaja dan tidak melewati batas, maka tiada berdosa atasnya, karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Belas-kasih." (al-Baqarah: 173)

Moral of the story dari peristiwa ini adalah: dalam keadaan terpaksa, suatu hukum bisa berubah. Dan inilah yang kemudian menjadi salah satu kaidah fikih yang paling terkenal.

Wallahu a’lamu bish-shawab.

29 Maret 2010

Jayapura


Begitu menerima tiket perjalanannya, saya langsung tergumun-gumun. Bagaimana tidak? Pesawat berangkat sesuai jadwal dari Cengkareng pukul 22:10 WIB, transit dua kali (masing-masing kurang lebih setengah jam) di Makassar dan Biak, melintasi 3 zona waktu atau seperdelapan dunia, barulah kami mendarat di baru sampai di Bandara Sentani pukul 07:00 WIT.

Tujuh jam perjalanan udara! Bayangkan! Dan itu masih di dalam negeri lho... Jika jarak perjalanan yang sama dilakukan ke arah barat, mungkin bisa sampai ke India. Lha wong naik haji ke arab sana saja cuma butuh waktu setengah hari je. Entahlah, saya tak pernah benar-benar menghitungnya. Yang jelas, negeri ini memang luas luar biasa.

Begitulah. Akhirnya kesampaian juga mengunjungi tanah ini. Selama empat hari, seperti biasa, tugas bikin wedang yang mengantar saya dan seorang rekan sepabrik ke sini. Menginjak bumi paling timur negeri ini dan hanya berjarak sekitar 3 jam perjalanan darat ke perbatasan Papua Nugini.

Bagasi yang bikin shock

Selain lamanya waktu penerbangan, kejutan lain juga terjadi saat boarding di Cengkareng. Seperti biasa, tuntutan pekerjaan mengharuskan kami membawa banyak peralatan pembikin wedang. Dan hampir selalu juga, kami kelebihan muatan. Sejauh ini sih kami tak pernah membayar banyak untuk itu. Paling-paling kisarannya seratus hingga dua ratus ribu. Namun tagihan kali ini benar-benar membuat kami takjub.

Sejuta lima puluhan ribu rupiah untuk kelebihan 15 kilogram bagasi (itu pun sudah dikorting oleh petugas penimbang, angka awalnya 22 kilo). Hampir setara harga tiket itu sendiri. Byuh! Untunglah ditanggung pabrik. :P

Kota gunung dan pantai bertemu


Dari pesawat, pulau ini terlihat seperti tegalan sangat luas dengan gundukan dan cekungan tanah yang kadang tersusun rapi dan kadang tidak. Beberapa cekungan itu berisi air, menjadi danau-danau besar dan kecil. Pemandangan bandara ditepi Danau Sentani terasa begitu luar biasa. Lebih istimewa lagi karena danau maha luas ini seperti menyatu dengan laut.

Kejutan masih terus berlangsung di darat. Pemandangan gunung-gunung di sekitar bandara yang berkabut sehabis hujan pagi membuat bulu kuduk merinding. Saya langsung teringat dengan film Avatar, dimana hutan dan keanggunannya terlihat. Bedanya, ini nyata bung!


Selanjutnya, perjalanan masih harus disambung dengan bermobil kurang lebih 45 menit menyusuri pinggiran Danau Sentani dan barulah kami sampai di tujuan. Begitu besarnya danau ini, hingga saya tidak bisa membedakan mana danaunya dan mana lautnya.

Kesan pertama memasuki kota, ini kota yang asyik. Jayapura adalah sebuah kota kecil di pinggir sebuah teluk besar. Di sinilah pantai dan gunung sekaligus bertemu. Sebuah kombinasi yang langka dan ajaib.

Atas lindungan teluk yang dalam membuat lautnya terlihat begitu tenang. Hembusan angin laut juga terasa halus dan lembut, hanya mampu menimbulkan riak-riak kecil di pinggir pantai. Hampir tak ada ombak. Yang lebih penting lagi, pantainya sangat bersih. Sayangnya, di sini tak ada pasir. Pantai berpasir ada di sisi lain kota ini.


Dan di sisi inilah kami menginap. Matahari terbit langsung tersaji tepat di depan jendela setiap pagi. Juga kapal-kapal barang maupun kapal penumpang yang sedang bersandar di kejauhan.

Jika ingin melihat Jayapura dari ketinggian, naiklah ke daerah Angkasa (bagian dataran tinggi yang sekaligus jadi kawasan elit kota ini). Dari sini kita bisa menyaksikan hampir seluruh sudut kota. Sebuah rumah makan bernama Bagus Pandang (sepertinya cuma satu-satunya di kawasan ini) yang siap mengakomodir hal ini. Sayangnya, rumah makan itu belum buka ketika kami berkunjung. Untungnya, kami diperbolehkan melihat-lihat semau kami suka. Beberapa foto artis terkenal ibu kota tertempel di dinding. Selebihnya, tumpukan kursi yang belum tertata.

Ndilalah kersane ngalah, seorang rekanan tiba-tiba mengundang kami ke tempat tinggalnya di kawasan ini. Bahkan lebih tinggi dan tentu saja lebih bagus. Dari sana pula kita bisa menyaksikan kabut yang turun hingga menyentuh laut menjelang magrib atau di pagi hari. Juga kerlap kerlip lampu karamba di tengah laut selepas gelap, promosi si empunya rumah. Dan benar saja, semuanya terhidang tanpa cacat persis di beranda rumahnya. Terasa lebih lengkap lagi dengan ditemani kopi istimewa yang didatangkan langsung dari gayo. Kalau saja tak ada pekerjaan, undangan menginap tak akan mampu kami tolak.

Multi budaya


"Papua dalam bayangan banyak orang, masih tak jauh dari persoalan konflik. Setidaknya begitulah berita-berita yang ditampilkan media selama bertahun-tahun. Padahal Papua tak hanya itu. Lagi pula, konflik itu hanya terjadi di daerah tertentu, sebagian besar lainnya aman ", demikian keluh seorang rekanan di sana.

Dan memang benar. Jayapura sangat jauh dari kesan tidak aman. Kesan multi budaya malah terasa lebih kentara. Seperti biasa, orang jawa ada dimana-mana. Mulai dari yang berjualan soto lamongan, mie ayam pati, pecel lele hingga pekerja sektor formal. Juga banyak ditemui orang-orang madura, makassar, bugis dan tionghoa. Bahkan pimpinan dua bank besar di kota ini dipimpin orang dari sumantra. Ini kota yang multi kultur. Di luar itu semua, ini kota yang saling menghargai. Begitu cerita pemandu kami.

Salah satu bentuk tradisi saling menghormati itu adalah dengan menutup semua toko setiap hari libur nasional, Setidaknya hingga selepas makan siang. Sepagian itu warga akan pergi ke rumah ibadah atau beraktifitas di rumah. Jalanan menjadi lengang. Di kota ini pula saya menjumpai jalanan yang macet selepas bubaran gereja. Tapi di saat yang sama, suara adzan disuarakan dari masjid yang terletak tak jauh dari situ. Sempat juga kami berjalan-jalan selepas magrib. Aman dan nyaman. Juga bersih dan segar!

Beberapa hari sepulang dari sana saya mendengar kabar Jayapura rusuh. Duh!

Nginang

Satu hal yang terasa agak aneh bagi kami adalah kebiasaan makan buah pinang dan buah sirih, atau biasa disebut nginang dalam bahasa jawa. Di jawa, kebiasaan ini biasanya hanya dilakukan kaum perempuan yang sudah berumur. Itu pun sudah sangat jarang ditemui saat ini. Di sini, justru kebanyakan laki-laki, tua maupun muda. Dimana-mana. Di pingir jalan hingga pusat perbelanjaan. Sebagai konsekuensinya, bercak-bercak merah tersebar di banyak tempat.

Maka tak heran jika kemudian pihak bandara memasang pengumuman dilarang makan buah pinang di seputar bandara. Tapi tetap saja saya menemui beberapa orang mengunyah pinang di ruang tunggu. Hanya saja bercak merah itu tak satu pun saya temui di sini.

Oleh-oleh

Koteka. Itulah yang langsung tergambar dalam benak saya begitu menyebut kata oleh-oleh. Dan memang benar, pilihan oleh-oleh dari sini tidak terlalu banyak. Memang masih ada tas dari serat kayu yang cukup besar dan kuat untuk menggendong bayi, kalung gigi babi, atau tiruan kapak berburu. Juga masih ada buah merah dan sarang semut. Tapi di luar itu pilihan lainnya sulit dicari.

Sebenarnya masih ada batik papua sih. Tapi bisa dibilang ini bukan batik asli sana karena dibikin oleh orang jawa. Maksudnya, didesain dan dibikin di jogja untuk kemudian di pasarkan di Papua. Begitu cerita sang pemilik toko dalam bahasa jawa yang halus.

Oleh-oleh makanan? Entah. Saya tak banyak tahu. Untunglah masih ada selimut maskapai yang bisa dibawa pulang. eh, diembat ding. :P