30 Desember 2009

In Memoriam GD

Segera setelah Mbah Surip dan Rendra meninggal dalam jeda yang hampir beriringan beberapa saat yang lalu, saya dan beberapa kawan mendapat kabar bahwa Gus Dur sakit keras. Saraf-saraf ditubuhnya menjadi sangat sensitif terhadap sentuhan. Singkatnya, disentuh sedikit sudah kesakitan. Tentu saja kami jadi berburuk sangka, jangan-jangan kali ini beliau akan segera menyusul. Maka, segera saja kami putuskan untuk membezuk beliau di kediamannya di daerah Ciganjur.

Lha kami ini siapa kok sok ikut-ikutan mbezuk? Embuh. Kayanya aneh saja, kalau sebagai orang yang mengaku nahdliyyin kok ndak pernah ketemu GD langsung. Anehnya lagi, saya yang bukan siapa-siapa ini sempat merayakan sukuran pernikahan tepat setahun yang lalu di Wahid Institute, rumah kediaman GD semasa kecil dekat masjid matraman, ujung Menteng. Selebihnya, tidak ada yang istimewa.

Sewaktu kami datang, banyak sekali tamu mengantri di depan masjid. Mulai dari tokoh terkenal, kerabat, hingga orang-orang yang seperti kami. Simpatisan. Mba Ainun lah freepass kami dalam melewati protokoler. Meski begitu, sebagai figuran, tentu saja kami mendapatkan giliran terakhir. Sambil menunggu dibawah pohon mangga, saya mengamati keadaan sekitar.

Rumah ini lumayan besar, dengan sedikit sentuhan jawa. Terutama pada pintu masuknya yang terbuat dari kayu jati berukir. Jendelanya dari jati polos. Beberapa pot bunya diletakkan di depan rumah. Dua buah mobil hitam terparkir agak jauh di depan. Di samping kiri, terbentang lahan kosong yang luas. Sepertinya tidak dimanfaatkan.

Konon, rumah dan tanah ini adalah pemberian dari Pak Harto semasa berkuasanya dulu. Ketika itu kedaannya masih sangat sepi dan gung liwang liwung. Setelah GD jadi presiden, dan jalanan menuju kesana diperbaiki, kawasan ini menjadi ramai dan harga tanah melambung tinggi.

Lamunan saya terhenti saat kami mendapat kabar kemungkinan GD tak bisa dijenguk. Beliau baru saja tertidur. Untungnya, saat kami kehabisan harapan, tiba-tiba ada kabar kalau GD bisa ditemui. Dengan terburu-buru, kami memasuki ruang tamu.

Ruang tamunya besar dan hampir kosong melompong. Tidak banyak perabot di sini. Seset tempat duduk terletak di dekat jendela. Petugas pengawal kepresidenan memanfaatkanya untuk menonton televisi yang dinyalakan tanpa suara. Di ruang ini pula GD tidur.

Dia berbaring di atas lantai yang dilapisi karpet. Begitulah caranya tidur sedari dulu. Kulitnya menghitam akibat proses penumpukan zat besi yang tidak tersaring proses cuci darah selama bertahun-tahun, kurus dan lemah.

Dibuka oleh Mba Ainun yang sudah jadi bagian dari keluarga Ciganjur, satu-satu diantara kami memperkenalkan diri: Yudi, Kang Joko, Omith, saya sendiri. Tidak banyak yang diomongkan kecuali pas bagian Yudi. Sebagai anak Madiun, dia ditanya: " Apanya Semaun le?". Yang ditanya gelagepan menjawab tak begitu jelas. Di belakang, karuan saja kami jadi cekikikan.

Meski dalam keadaan sakit, GD tetap melaksanakan ritual seperti biasa. Bangun setiap jam 4 pagi, memberikan pengajian secara bandongan kepada santri-santri, dan mewajibkan putri-putrinya yang belum menikah untuk "menyetor" sema'an Al Qur'an seminggu sekali.

Itulah tatap muka saya dengan GD. Sekali dan satu-satunya. Setelah itu saya dengar beliau berangsur-angsur sehat. Sukurlah.

Lha kok, tiba-tiba saya mendapatkan kabar, dia telah meninggalkan kita untuk selamanya. Selamat jalan Gus...