12 November 2009

Singapore #4: Mount Sophia nomor 7


Mount Sophia nomor 7. Sebuah alamat yang kami berempat belum pernah tahu, ke sana lah kami menuju. Mengingat waktu yang sudah larut, maka langsung saja kami menghampiri pangkalan taksi. Ada empat taksi mangkal berjajar di sana. Tak jauh dari situ, dua tiga orang terlihat sedang mengelilingi tong sampah. Merokok. Tebakan saya, mereka orang Indonesia. Selebihnya, sepi.

Secarik kertas berisi alamat kami sodorkan ke tukang taksi dan dia langsung mengiyakan. Ajaib! Sesuatu yang jarang saya jumpai di jakarta.

Dalam perjalanan, secara iseng teman yang duduk di samping sopir bertanya, darimana dia bisa tahu alamat dimaksud. Jawabannya ternyata dari GPS yang terpasang di dashboard mobil. Layarnya seukuran tivi kecil, jauh lebih besar dari GPS versi burung biru di Jakarta. Saya perhatikan, selama perjalanan si supir melakukan aktivitas menerima atau membaca pesan di layar itu, sepintas membaca peta dan berkali-kali mengobrol di telepon (sesuatu yang terasa janggal di Jakarta) plus melayani pertanyaan-pertanyaan kami. Oh iya, argometernya juga tertera di situ.

Kurang dari 30 menit, kami sampai di alamat. Adi sang tuan rumah, teman main rekan sepabrik yang hanya saya kenal lewat jejaring facebook, telah menanti di depan penginapan. Dan kami harus banyak berterima kasih kepadanya atas semua panduannya ke semua tempat tanpa diminta. Dari dia juga saya jadi tahu banyak hal. Berapa yang harus dibayar untuk naik MRT atau bus, dimana lokasi makanan yang halal dan bagaimana sertifikasi halal itu bisa diperoleh, tentang orang-orang kaya Indonesia yang tinggal dan mengendalikan bisnis dari sana, dan terlalu banyak hal yang saya tak bisa ingat satu-satu.

Karena baru sampai selepas tengah malam, kami tak sempat kemana-mana. Kecuali mencari pengganjal perut ke tempat makan terdekat. Hujan deras mengguyur saat kami memutuskan keluar. Salahnya kami, kami pikir tempat terdekat itu ya benar-benar dekat. Lha ternyata jaraknya ada sekiloan lebih. Saat berangkat, tak begitu terasa. Tapi begitu hujan menderas sewaktu pulang, jarak segitu terasa begitu berat. Belum lagi lelah yang mulai menyerang, ngantuk dan belum juga mandi.

Kloter kedua datang sekitar sejam setelah kami selesai makan. Waktu sudah menunjukkan pukul 02:30-an dan mereka kehabisan energi untuk mencari makan. Dan kami harus cepat tidur untuk menyimpan tenaga guna jalan-jalan esok hari. Dua teman kami memisahkan diri menginap di kawasan Arab Street.
*****


Paginya kami baru bisa memperhatikan sekeliling. Penginapan ini dulunya komplek gereja. Ini terlihat jelas dari sebuah salib yang masih bertengger kokoh di puncak aulanya. Kemudian tampat ini beralih fungsi menjadi Kampus Trinity College sekaligus pemondokan mahasiswa. Ya kira-kira mirip asrama mahasiswa Darma Putra di Jogja lah. Bedanya, di sini kamarnya lebih kecil dan ranjangnnya bersusun. Layaknya asrama, di sini juga disediakan dapur kecil, televisi milik bersama dan kamar mandi umum. Bedanya lagi, tersedia air panas dan dingin untuk mandi. Air krannya, sebagaimana standar sana, layak minum. Begitu sterilnya, kata Adi, orang sana cenderung jadi penakut. :P

Mount sophia terletak di perbukitan kecil, dekat dengan The Istana dan favoritnya kebanyakan orang Indonesia, Orchard Road. Mount sophia juga relatif dekat dengan kawasan backpacker di seputaran YMCA. Ke Marina Bay pun tak terlalu jauh. Sebenarnya sih bisa dikatakan hampir kesemua tempat itu relatif dekat. Lha wong singapura itu kecil je. Hal yang sangat saya sukai dari tempat penginapan kami adalah, suasana yang sepi dan pemandangan yang indah.


Berapa harga per malam? Ini dia pertanyaan yang sering di ajukan orang. Di hari terakhir, kami dikenakan SGD 30 per kepala. Ya, sangat murah untuk ukuran sana. Tapi kata teman saya, di Arab Street dan sekitarnya yang termasuk pusat kawasan backpacker, harganya sedikit berbeda. Tapi ya itu, harus mau berbagi dengan orang lain.
- untuk kamar berdelapan, harga perkepala SGD 15
- untuk kamar berenam, harga perkepala SGD 18
- untuk kamar berempat, harga perkepala SGD 21
- untuk kamar berdua, harga perkepala SGD 25
- untuk kamar berdua, kamar madi didalam, harganya beda lagi

Plus gratis sarapan pagi. Oh iya, seringkali harga penginapan di sana belum termasuk biaya registrasi SGD 20. Katanya, untuk uang member yang berlaku selamanya. Entahlah.

Catatan perjalanan 28 Oktober - 01 November 2009

16 komentar:

hedi mengatakan...

aku luwih seneng di Arab Street, lebih berasa kota :P

detEksi mengatakan...

dolan terus...

morishige mengatakan...

oh, penginapan murah ya, bro..
masuk nih dalem catetan...

mudah2an bisa keluar negeri secepatnya.
amin...

*menunggu cerita selanjutnya*

Bangsari mengatakan...

@hedi: betul. saya juga suka disana. keren dah tertata.

@deteksi: yo ben.

@morishige: penginapan murahnya persis di gang sebelah masjid sultan di arab street. kata teman sih.

zam mengatakan...

sing nomer telu ning ndi?

bluethunderheart mengatakan...

kunjungaana
salam hangat selalu

oCHa mengatakan...

horeeee, paspor dah siaaaapp...tapi kapan yhaaa T___T

mita mengatakan...

tar kalo ke Sing lagi, kontak ke Adi lagi aja ndud...
(mayan guide gretong) heheh

... :P

dafhy mengatakan...

patan untuk mencicipi negara tetangga itu

didut mengatakan...

*siap siap memperpanjang paspor* :)

nothing mengatakan...

ayooo, dolan nang malang. njanjan bakso kucing

haris mengatakan...

lha cari makannya itu jalan kaki mas? bukannya sampe penginapan lapar lagi? :P

Bangsari mengatakan...

@oCHa: lha tinggal wer to..

@mita: baelah ndud.

@didut: sing penting mangkate dab.

@nothing: emoh. wis tahu. :P

@haris: iya sih. tapi ya gimana lagi.

eko mengatakan...

ketok koyok wisatawan tenan je..

amethys mengatakan...

kontak e ke Adi piye carane? hehehehe
kali2 nanti klo mudik bisa ngajakin rombongan sirkus ke negri singa...

tour ke china mengatakan...

bersih sekali jalannya
kapan indonesia bisa kayak singapura ya?