07 September 2009

Tartil

Tersadar waktunya istirahat siang, malah bikin saya bingung sendiri. Mau makan, puasa. Mau tidur, tak ngantuk. Mau berselancar di dunia maya, sudah mabuk berjuta teks.

Aha! Saya masih punya simpanan. Mendengar bacaan tartil sepertinya bisa jadi terapi yang menarik.

Hm... Rasanya belum terlalu lama masa itu terjadi. Tiap kali mendengar ini, sebuah tempat di belahan timur sana segera tertampil di benak. Sebuah masjid yang belum jadi tersesat di tengah belantara hijau kebun tebu. Orang-orang bergamis, bersarung dan berpeci putih. Di seputar masjid, di sela-sela selasar, di lapangan bola yang menganggur, di bawah pohon-pohon mangga, dan di rumpun-rumpun bambu sepanjang pinggir sungai. Mereka membaca buku magis itu. Berdengung-dengung sepanjang waktu. Pagi, siang, malam, tengah malam. Jumlahnya ribuan. Menciptakan suasana magis yang sulit dilukiskan.

Selama ramadhan, dua pondok besar yang saling berseberangan jalan besar Jombang-Malang itu melebur. Gerbangnya terbuka hingga melewati tengah malam, keduanya bertukar murid, menerima pelawat dari segala penjuru. Orang-orang datang berduyun dari mana-mana berseped onthel. Mereka datang sebelum magrib, dan kembali pada dini hari. Kyai sepuh itu selalu menjadi magnet bagi semuanya.

Saya sendiri bukan bagian dari mereka, meski saya sangat menginginkannya. Ndak punya bekal Nahwu-sharaf, pun memori yang cukup untuk menghafal, cukup menjadi pembatas yang efektif. Saya menempatkan diri sebagai seksi sibuk yang ngider sana ngider sini selayaknya penikmat keramaian pasar malam. Saat bosan menghinggapi, saya ambil sepeda dan berkeliling desa seputaran pondok. Suatu kali pernah sampai ke daerah Kandangan, dan lagi-lagi sepanjang jalan masih didengungkan hal yang sama.

Saya tak pernah jadi bagian penting dari perhelatan itu . Herannya, saya selalu merindukannya. Menjadi pengganggu bagi mereka yang taat.

11 komentar:

hedi mengatakan...

pesantren besar itu kalo bukan bulan Ramadhan, sepi..adem ayem :D

detEksi mengatakan...

tartil...

warottilil qurana tartila...

gus pitik mengatakan...

nek mbahas tartil,aku dadi kelingan omahe mbahku neng pare

gus wahyu mengatakan...

dadi eling nang kampungku mbiyen, nang bangil, sing ben gang ono pesantrene

eko mengatakan...

mbok ojo jadi pengganggu tp ikut gabung..

kw mengatakan...

saya tak punya pengalaman tartil maupun baca quran.. jadi kalau mendengar mereka melakukan kok ya tak ada rasa apa-apa, datar ....
beda kalau mendengar takbiran, adzan magrib atau
denger choir panis angelicus, malam kudus atau dalam kekudusanmu
:)

amethys mengatakan...

hehehehehe blom pernah dengar dan blom pernah masuk pondok seh.....jadi ga bisa mbayangin

MT mengatakan...

ehm... jadi pengen baca...

Ndoro Seten mengatakan...

paling nggak yo tadarus lah Ndoro!

Bangsari mengatakan...

@hedi: tebuireng malah lebih rame cak.

@deteksi: tul

@gus pitik: trus?

@gus wahyu: sampeyan alumni juga to?

@eko: iyo no. ben apik wae secara tulisan.

@kw: mungkin kalo sedikit-sedikit tahu artinya akan berbeda rasanya mas.

@amethys: ga usah dibayangin. lewati aja ceritanya. :P

@ndoro: idem @eko.

yati mengatakan...

sama kayak mas kw, ga ngerti. tapi kalo suara takbir...nangis! apalagi kalo pas malam lebaran, apalagi ga lebaran di rumah. pastilah nangis-nangis.