04 September 2009

Istri Bekerja: untuk apa dan Siapa?

Suatu kali seorang blogger senior panutan saya menanyakan, apa ndak sebaiknya istri berhenti bekerja saja? Jelasnya, apa ndak sebaiknya berhenti selama kuliahnya belum selesai? Biar kuliahnya lebih fokus dan ilmunya lebih dapet gitu. Dengan sedikit menyentil pula dia menegaskan: "mosok kamu ndak bisa mbiayain dia?"

Dengan gelagapan saya menjawab, belum kami pikirkan pakde.

Lama berselang setelah peristiwa itu, kami kembali merenungkan hal ini. Dan jawabannya adalah: tidak. Maksud saya, omith tidak mau berhenti.

Saya sendiri setuju dengan pilihannya dan tidak senang dengan pilihan nganggur karena alasan-alasan berikut:

1. Penghasilan

Faktanya, hidup di kota besar itu butuh biaya besar. Sebenarnya kalo mau dipaksa, bisa saja sih penghasilan saya dipakai untuk hidup kami berdua. Dan berdasarkan pengalaman, saya bisa hidup dengan standar yang jauh lebih minim dari yang saya jalani sekarang. Hanya saja, rasanya kok ndak manusiawi gitu.

Dengan punya penghasilan pula artinya dia bisa menghidupi, menyenangkan dirinya sendiri tanpa merepotkan saya. Orang kampung bilang, supaya bisa beli bedak dan gincunya sendiri. Nah, di sini bisa jadi muncul anggapan kalau saya mau enaknya saja, ndak bertanggung jawab sebagai laki-laki. Tapi apa iya kaya gitu masih berlaku? Atau kalau pun masih berlaku, apa perlu kami mendengarkan orang lain? Toh nyatanya ndak ada orang kenyang karena mengikuti orang lain kan? :P

Sukur-sukur sih dia bisa menabung untuk kebaikan kami ke depan, tapi kami sepakat untuk sama sekali tak menargetkan itu. Di sini berlaku perjanjian: Uang saya adalah uang dia, uang dia ya uang dia sendiri.

2. Dia butuh pergaulan

Dengan bergaul dia akan membuka wawasan dan sekaligus berkompetisi dengan orang lain. Dengan alasan itu pula dia akan tetap merawat diri agar tetap menarik. Kalo ndak percaya, cobalah iseng bilang ke salah satu rekanita di sekitar anda: "Kamu kok jadi gendut gitu ya?". Perhatikan reaksinya. Bisa jadi dia akan melupakan makan siangnya (kalau lagi ndak ramadhan) dan besoknya jadi rajin puasa. :P

Bagi saya ini jelas penting.

3. Bahaya Tikus Werog Syndrome

Saya kok ndak bisa mbayangin seorang istri yang cuma ngendon di rumah dan beraktifitas terbatas dalam radius yang cuma meteran. Perkiraan saya, waktunya pasti habis untuk menonton belasan sinetron aneh bin ajaib itu. Dan lebih sulit lagi dibayangkan itu berlangsung selama berpuluh tahun. Akibatnya, dia tidak merawat diri, jadi tidak menarik dan menggendut.

Ini benar-benar terjadi di sekitar lingkungan kos saya yang dulu. Ibu-ibu dan anak-anak gadis tidak bekerja berjejer di pinggir gang. Pagi, siang, sore, malam, bahkan menjelang tengah malam. Hampir tiap kali lewat, selalu saya lihat mereka sendang melahap sesuatu. Teman saya menyebutnya: Sindrom Tikus Werog.

Ini bagian yang paling sulit saya bayangkan.

4. Karena belum punya anak

Entah kalo sudah punya, rejeki lebih dari cukup, sudah punya rumah, kendaraan pribadi dan sejumlah tabungan.

Ngarep kan boleh-boleh saja to? hehehehe.

Jadi, kuliahnya gimana? Mbuh.

13 komentar:

mpokb mengatakan...

yah.. semoga tetap santai dan bahagia, walaupun jakarta memang tidak masuk akal..
jangan sampai tekanan emosional mengganggu pola makan, jadi berlebihan atau malah tidak sama sekali. dua2nya berbahaya, euy.. jadi, pilih mana, obesitas atau anoreksia? eh, jangan.. :P

amethys mengatakan...

hehehehe saya jadi mbayangkan diri sendiri seandainya ndak kerja..........klo di Indonesia pasti bener jadi tikus werog...blebar bleber sekitar kalenan dl gang rumah, ngerumpi sana sini, nyemal nyemil, sepanjang hari dasteran....ngeriiii

bener tuh jeng Omith, jangan mau brenti kerja, soalnya klo brenti kerja ilang kreatifitasnya, self esteem menurun tajam....soalnya : pekerjaan ikut suami (statusnya)
Padahal menikah itu kan untuk mengembangkan diri?

nothing mengatakan...

maju tak gentar terus lah bekerja nabung dan investasi. ntar kalo usai 40 atau 45 berhenti semua, tinguk tinguk nang kampung.

detEksi mengatakan...

kalian sudah komitmen menikah artinya sudah sepakat dalam banyak hal dalam menjalani kehidupan berdua itu..

apapun yang menurut hasil diskusi kalian bagus maka itulah yang bagus..

henny mengatakan...

kalau aku sih pengen tetap kerja karena pengen mandiri finansial ... dan tentunya aktualisasi diri. Meski nyatanya juga semua kebutuhan dah dipenuhi suami, tapi tetap aja kalo bisa terus kerja, hehehe. Emang sih sedihnya kalo dah ada anak gini ... trus kerjaan di kantor loadingnya lagi tinggi, mau ga mau musti ninggalin si kecil sampe malam :( Tapi namanya juga konsekwensi ya ... jadi musti pinter2 aja bagi waktunya :D

Omith mengatakan...

Itulah kenapa, saat berencana bulan ini istirahat, ndak gawe ngurusin pekrjaan rmh tangga saja, tp nyatanya saat dpt tawaran dr tmen untk gawe tetep aja ndak mau melewatkan kesempatan tuk mengambilnya. Hebatnya bangsaripun mendukung penuh meski rela wkt wikennya bininya gawe. Justru seninya disini jd bs ngatur ritme kehidupan kel, tanpa melepas tanggung jwb. Menikah bukan membuat smuanya berhenti, tp justru saatnya aktualisasi diri n explorasi spy tidak mati kreasi.
Tx ndude..

alfaroby mengatakan...

wah, bener juga nih, terkadang saya sendiri ketika melihat seorang pasangan suami istri yang istrunya bekerja terkesan kalau suaminya tidak becus bekerja atau terkadang juga suaminya tidak bisa memberikan nafkah yang mencukupi untuk keluarganya

hedi mengatakan...

hihihi faktor uang suami adalah uang istri dan uang istri ya punya dia sendiri, weleh nasib suami indonesia :D

Evi mengatakan...

sangat setuju, duitmu adalah duitku, duitku adalah duitku.

Bangsari mengatakan...

@mpokb: amin. begitulah, kami masih belajar mengenal jakarta.
@amethys: betul sekali. lagi pula biaya hidup disini tidak murah.:P
@nothing: amin.. pengalman pribadi cak?
@deteksi: tul. jadi kapan giliran sampeyan?
@henny: ndak berminat jadi bos sendiri?
@omith: thanks ndid... *peluk belgenndith*
@alfaroby: ndak ada orang kenyang karena kesan bukan?
@hedi: jadi pengin yang ekspat cak?
@evi: baiklah. :(

nengjeni mengatakan...

pada dasarnya setiap orang berhak untuk mengembangkan dirinya dengan caranya sendiri, perkara hasil dari mengembangkan dirinya itu mendatangkan uang, ya itu bonus kan … ;).
pernah juga berhenti kerja setengah tahun, tapi malah mengkurus, capek mikirin kerjaan RT yang nggak ada abis-abisnya.

@ mas hedi: jangan gitu ah… itung-itung itu service feenya istri ngurusin keluarga (dan mendatangkan bonus), makin bagus servicenya, makin tinggi bayarannya ... hahaha….

musafir mengatakan...

Urun rembuk mas,
Sebelum nikah istriku kerja di daerah selama 3 tahun, setelah menikah ikut saya merantau ke Jakarta. Gak lama hamil dan gak kepikiran kerja lagi, apalagi saat anak kami lahir, dia sudah gak tega untuk ninggalin anak pada orang lain karena orangtua jauh di desa. Saat dia memutuskan untuk tidak bekerja aku meyakinkan diriku dan dirinya bahwa rezeki telah digariskan oleh-Nya dan berjanji akan berupaya sekuat tenaga agar penghasilanku dapat menyamai suami dan istri yang bekerja. Percaya gak percaya mas, setelah 4 tahun kami menjalani kehidupan yang hampir tak pernah kekurangan, akhirnya mimpi itu terwujud. Dengan keyakinan akan kemurahannya, ternyata tak ada yang tak mungkin tuk diwujudkan. Yang paling ku syukuri adalah, selama 5 tahun ini kami tak pernah mengalami konflik, ini yang jarang aku dapati dari teman-teman yg kedua-duanya bekerja. Apakah sang istri kemudian menjadi berkurang kepintarannya? Jika aku bandingkan dengan teman2 wanita yang bekerja rasanya gak kalah, apalagi dengan teknologi seperti saat ini.
Bagi kami dengan bekerja yang tak bisa dibeli adalah hilangnya waktu sang ibu yang sebenarnya menjadi hak asasi sang anak. Satu lagi, uangku uangmu, uangmu uangmu. Bagiku itu yang kedua mengingkari makna kesetiaan.
Pilihan menjadi ibu rumah tangga adalah pilihan yang sulit dipilih oleh wanita saat ini, akupun sempat mengatakan pada istriku, seandainnya aku diposisi dia belum tentu bisa melakukan pilihan sebagai mana yang dia lakukan

Maaf jika ada yang tak berkenan.

Semoga menjadi antitesa bagi kita semua.

Salam

Musafir

Pinkina mengatakan...

masalah pilihan ae seh kuwi, engko nek wes duwe anak bedo maneh kok. sing jelas aku setuju sing "uangku uangmu, uangmu uangmu" ama "gak usah ngrungokne omongane tonggo" hehehe