11 September 2009

Zakat Mal (Bukan Mall Lho Ya...)

Satu-persatu pegawai pabrik dipanggil ke ruangan majikan kemarin siang. Saya termasuk salah satu yang mendapat nomor urut awal. Dan seperti biasa saat dipanggil mendadak, saya sempat deg-degan dan panik. Tapi itu sesaat saja. Rasanya tak ada kesalahan, jadi sedikit tenang.

"Ini dari saya", katanya singkat sambil menyerahkan sebuah amplop putih. Setelah mengucapkan terima kasih, saya berlalu dan berganti giliran orang lain.

"Zakat Mall" tertulis di pojok kanan atas. Sebuah kesalahan kecil, huruf "l" tertulis ganda. Secara bahasa, zakat mal berarti zakat atas harta yang dimiliki. Lha kalau zakat mall? Secara berkelakar, kami sempat menggosipkannya sebagai zakatnya bos dari hasil kebanyakan belanja. Ah, tapi sudahlah. Terlepas dari kesalahan kecil itu, toh maksudnya kan baik. Semoga terliputi berkah atasmu bos...

Saya sempat berpikir, sepertinya ada orang lain yang lebih berhak menerimanya. Bukan karena saya sudah kaya. Bukan. Tapi karena ada yang lebih tidak mampu dari saya. Sebuah nama sudah saya pegang. Mister X yang pengabdiannya luar biasa terhadap sekitar di kampung, tapi sayangnya, ndak punya kemampuan mencari uang. Ya, dia lebih berhak menerima daripada saya.

Kemudian iseng-iseng saya membuka isinya. Mak deg. Byuh! Jumlahnya itu lho. Sungguh menggiurkan bagi tukang wedang seperti saya. Hm... Saya mulai berandai-andai. Seandainya itu saya pakai sendiri. Jumlah segitu sangat lumayan buat menambal biaya mudik dan tetek bengeknya yang seabrek itu. Sangat ingin saya menyimpannya sendiri. Toh si mister itu ndak tahu kalau saya sempat berniat menyerahkan kepadanya. Toh dia juga tetap bisa hidup seperti biasanya. Tapi...

Saya kemudian teringat omongan simbah almarhum: "Jangan kaya orang susah!" Maksudnya, jangan sampai mengambil jatah orang lain. Prinsip yang sama juga diterapkan saat mengeluarkan zakat atas hasil bumi kami. Intinya, zakat adalah perkara yang harus dipegang teguh dan tak ada tawar menawar lagi.

Tapi jumlahnya itu lho mbah... Mbah...

Note: Memang bener, berperang dengan diri sendiri itu terasa lebih berat dan rumit

07 September 2009

Tartil

Tersadar waktunya istirahat siang, malah bikin saya bingung sendiri. Mau makan, puasa. Mau tidur, tak ngantuk. Mau berselancar di dunia maya, sudah mabuk berjuta teks.

Aha! Saya masih punya simpanan. Mendengar bacaan tartil sepertinya bisa jadi terapi yang menarik.

Hm... Rasanya belum terlalu lama masa itu terjadi. Tiap kali mendengar ini, sebuah tempat di belahan timur sana segera tertampil di benak. Sebuah masjid yang belum jadi tersesat di tengah belantara hijau kebun tebu. Orang-orang bergamis, bersarung dan berpeci putih. Di seputar masjid, di sela-sela selasar, di lapangan bola yang menganggur, di bawah pohon-pohon mangga, dan di rumpun-rumpun bambu sepanjang pinggir sungai. Mereka membaca buku magis itu. Berdengung-dengung sepanjang waktu. Pagi, siang, malam, tengah malam. Jumlahnya ribuan. Menciptakan suasana magis yang sulit dilukiskan.

Selama ramadhan, dua pondok besar yang saling berseberangan jalan besar Jombang-Malang itu melebur. Gerbangnya terbuka hingga melewati tengah malam, keduanya bertukar murid, menerima pelawat dari segala penjuru. Orang-orang datang berduyun dari mana-mana berseped onthel. Mereka datang sebelum magrib, dan kembali pada dini hari. Kyai sepuh itu selalu menjadi magnet bagi semuanya.

Saya sendiri bukan bagian dari mereka, meski saya sangat menginginkannya. Ndak punya bekal Nahwu-sharaf, pun memori yang cukup untuk menghafal, cukup menjadi pembatas yang efektif. Saya menempatkan diri sebagai seksi sibuk yang ngider sana ngider sini selayaknya penikmat keramaian pasar malam. Saat bosan menghinggapi, saya ambil sepeda dan berkeliling desa seputaran pondok. Suatu kali pernah sampai ke daerah Kandangan, dan lagi-lagi sepanjang jalan masih didengungkan hal yang sama.

Saya tak pernah jadi bagian penting dari perhelatan itu . Herannya, saya selalu merindukannya. Menjadi pengganggu bagi mereka yang taat.

04 September 2009

Istri Bekerja: untuk apa dan Siapa?

Suatu kali seorang blogger senior panutan saya menanyakan, apa ndak sebaiknya istri berhenti bekerja saja? Jelasnya, apa ndak sebaiknya berhenti selama kuliahnya belum selesai? Biar kuliahnya lebih fokus dan ilmunya lebih dapet gitu. Dengan sedikit menyentil pula dia menegaskan: "mosok kamu ndak bisa mbiayain dia?"

Dengan gelagapan saya menjawab, belum kami pikirkan pakde.

Lama berselang setelah peristiwa itu, kami kembali merenungkan hal ini. Dan jawabannya adalah: tidak. Maksud saya, omith tidak mau berhenti.

Saya sendiri setuju dengan pilihannya dan tidak senang dengan pilihan nganggur karena alasan-alasan berikut:

1. Penghasilan

Faktanya, hidup di kota besar itu butuh biaya besar. Sebenarnya kalo mau dipaksa, bisa saja sih penghasilan saya dipakai untuk hidup kami berdua. Dan berdasarkan pengalaman, saya bisa hidup dengan standar yang jauh lebih minim dari yang saya jalani sekarang. Hanya saja, rasanya kok ndak manusiawi gitu.

Dengan punya penghasilan pula artinya dia bisa menghidupi, menyenangkan dirinya sendiri tanpa merepotkan saya. Orang kampung bilang, supaya bisa beli bedak dan gincunya sendiri. Nah, di sini bisa jadi muncul anggapan kalau saya mau enaknya saja, ndak bertanggung jawab sebagai laki-laki. Tapi apa iya kaya gitu masih berlaku? Atau kalau pun masih berlaku, apa perlu kami mendengarkan orang lain? Toh nyatanya ndak ada orang kenyang karena mengikuti orang lain kan? :P

Sukur-sukur sih dia bisa menabung untuk kebaikan kami ke depan, tapi kami sepakat untuk sama sekali tak menargetkan itu. Di sini berlaku perjanjian: Uang saya adalah uang dia, uang dia ya uang dia sendiri.

2. Dia butuh pergaulan

Dengan bergaul dia akan membuka wawasan dan sekaligus berkompetisi dengan orang lain. Dengan alasan itu pula dia akan tetap merawat diri agar tetap menarik. Kalo ndak percaya, cobalah iseng bilang ke salah satu rekanita di sekitar anda: "Kamu kok jadi gendut gitu ya?". Perhatikan reaksinya. Bisa jadi dia akan melupakan makan siangnya (kalau lagi ndak ramadhan) dan besoknya jadi rajin puasa. :P

Bagi saya ini jelas penting.

3. Bahaya Tikus Werog Syndrome

Saya kok ndak bisa mbayangin seorang istri yang cuma ngendon di rumah dan beraktifitas terbatas dalam radius yang cuma meteran. Perkiraan saya, waktunya pasti habis untuk menonton belasan sinetron aneh bin ajaib itu. Dan lebih sulit lagi dibayangkan itu berlangsung selama berpuluh tahun. Akibatnya, dia tidak merawat diri, jadi tidak menarik dan menggendut.

Ini benar-benar terjadi di sekitar lingkungan kos saya yang dulu. Ibu-ibu dan anak-anak gadis tidak bekerja berjejer di pinggir gang. Pagi, siang, sore, malam, bahkan menjelang tengah malam. Hampir tiap kali lewat, selalu saya lihat mereka sendang melahap sesuatu. Teman saya menyebutnya: Sindrom Tikus Werog.

Ini bagian yang paling sulit saya bayangkan.

4. Karena belum punya anak

Entah kalo sudah punya, rejeki lebih dari cukup, sudah punya rumah, kendaraan pribadi dan sejumlah tabungan.

Ngarep kan boleh-boleh saja to? hehehehe.

Jadi, kuliahnya gimana? Mbuh.