31 Agustus 2009

Tentang tamu-tamu tengah malam

"Mau makan atau medang kopi, ambil sendiri. Jangan lupa cuci wadah dan gelas-gelas itu setelahnya."

Rumah kami memiliki dapur yang tak pernah dikunci sepanjang waktu. Letaknya persis disamping rumah. Dan setiap malam, dapur itu disambangi orang. Jumlahnya 2-3 orang. Mereka datang sekitar pertengahan dan lebih sering selepas tengah malam. Tapi mereka bukan maling. Mereka cuma mengangkuti makanan yang ada di meja, dan atau di lemari dapur. Semuanya tanpa sisa.

Mereka itu anak-anak pesantren seberang rumah. Anak-anak yang mondok karena tidak mampu sekolah formal. Sebagian besar berasal dari seputaran Jawa saja, tapi ada beberapa juga dari Sumantra dan Sulawesi. Sedang untuk menghidupi diri dan memenuhi kebutuhan, mereka bekerja di siang hari. Nah, saat pekerjaan dan beras tak ada lagi, tak jarang mereka minta bantuan ke kami. Silih berganti orang yang mondok, kebiasaan ini terus berlangsung.

Ibu sangat suka memasak. Masak apa saja dalam jumlah berlebih, tak mau pas apalagi kurang. Sudah gawan bayi, kata bapak. Meski sudah dihitung semua jumlah anggota keluarga plus rewang atau pekerja tambahan lain, tak segan-segan ibu masih melebihkan porsi. Toh nanti bisa dikasihkan ke orang lain, begitu ibu selalu beralasan.

Dan nyatanya, selalu, yang menghabiskan ya anak-anak itu. Siapa yang datang semalam baru kami ketahui saat mereka mengembalikan peralatan makan di pagi hari.

Entah sudah berlangsung berapa lama kebiasaan ini. Saya dan saudara tak tahu, ibu tak ingat, bapak juga begitu. Yang jelas, jauh sebelum saya lahir. Tradisi ini diwariskan oleh simbah. Simbah entah darimana. Lha wong wimbah itu bukan asli Bangsari je. Sehingga tradisi keluarganya yang dari timur tidak banyak saya pahami.

Sering terjadi tamu-tamu yang menginap, di pagi hari, bilang bahwa semalaman mereka bolak balik terjaga. Mereka takut dengan suara-suara orang datang dan pergi sepanjang malam. Begitu rutinnya, kami lupa memberi tahu tentang kebiasaan ini. Bahkan besan dan mantu juga pernah mengalaminya.

Dan sesaat sebelum dan sesudah lebaran, biasanya ibu mulai mengeluh. Tidak ada lagi yang bisa menghabiskan kelebihan itu. Bertumpuk makanan itu akhirnya cuma menjadi aking. Anak-anak itu pulang kampung. Yang tidak mudik pun, mengungsi entah kemana.

Apa ndak pernah ada maling? Pernah. Seingatku sekali pernah ada maling yang makan, pup di depan pawon, dan mencuri sepeda kami. Sekali itu saja.

21 komentar:

kw mengatakan...

inspiratip. hebat. saya juga tahu ada sebuah keluarga macam itu di jakarta. pintunya selalu terbuka untuk semua orang ( khusus orang yang dikenalnya tentu saja. ;)

mereka bebas makan dan nginep di sana. lucunya siapapun dia. abis makan harus cuci piring sendiri...
setiap bulan puasa, dia menyediakan tajil gratis di depan rumahnya yang macet total pada jam kerja

(* tapi bulan ini aku tak liat lagi ada pembagian tajl :(

Bangsari mengatakan...

@kw: hm... jadi penasaran pengin kenal orang hebat itu.

Anang mengatakan...

Beh mulia sekali wong kuwi.

amethys mengatakan...

waduhhhhh.......enak banget masak banyak dan selalu ada yg menghabiskan...

Dulu di Semarang saya kadang masak banyak trus tak bagi ke tetangga2...mereka suka.
Sekarang disini? sering mubazir..abis masak tapi ngga kemakan...
bahagianya keluarga Bangsari ini...punya dapur yg selalu terbuka.

eko mengatakan...

wah, salut ful..
km neruskan tradisinya di Jkt?

nothing mengatakan...

unik banget mas,
berbagi tak akan pernah menghabiskan hartamu

hedi mengatakan...

wong seneng berbagi pasti jarang kecurian, masiyo tercuri yo dianggap amal....legowo

Moes Jum mengatakan...

lho itu kan ceritane kemuliaan wong tuwamu. Lha cara ini sendiri sudah diterapkan belum nang Tebet??

Bangsari mengatakan...

@anang: hooh.

@amethys: mungkin tetangga sampeyan terlalu makmur, jadi ga menerima sedekah lagi. :P

@eko: em... belum. semoga nantinya demikian.

@nothing: betul. kok dadi koyo pengajian yo? :P

@hedi: iya. soale, disadari atau tidak, kehadiran mereka juga menjaga keamanan sekitar sekaligus.

@moes jum: belum kang. pengine aku ngenger sampeyan wae piye? :P

-GoenRock- mengatakan...

Indahnya berbagi :)

belgendith mengatakan...

nduth, apa dia nanti tidak mencuriku
*ketakutan*

annosmile mengatakan...

wah..bisa numpang buka puasa nih

arham mengatakan...

wah jarang nemu yang bgtu lho.. apalagi di jakarta ini .. sulitt

Wisnu mengatakan...

seru juga!!! Berbagi emang nggak mengurangkan tapi menambah!!! Salut!!!

detEksi mengatakan...

wah kunjungan pertamax ke rumah bang iphoul... heheeh...

*ambil makanan*

mastongki mengatakan...

di mana alamat sampean?
*nyetater motor*
eh tapi, ada di antara mereka yang berusaha balas budi nggak?

Bangsari mengatakan...

@goen: aku njaluk bagianmu yo...

@belgendith: baguslah kalo begitu. :P

@annosmile: silahkan saja kalau sempat

@arham: di jakarta? hmm.. belum pernah menemukan.

@wisnu: mungkin. soal tambah atau kurang sih sepertinya ndak perlu dipikir.

@deteksi: mbayar lho ya...

@mastongki: di pelosok desa di cilacap sana. jauh banget dari kotanya deh. soal balas budi ya tentu saja banyak. bentuknya juga macam-macam, juga waktunya.

mpokb mengatakan...

sempat mengira ini cerita rumah di jakarta, ternyata di bangsari tho.. hmm.. itu yang pup sembarangan, maling penghilang jejak ya..

yati mengatakan...

:) berbagi emang ga bakal bikin miskin. justru nambah terus rezekinya
saya inget dulu setiap hari jumat masaknya selalu mirip masak buat pesta. banyak bener. karena kami tinggal deket mesjid. banyak yang ikut makan siang di rumah

didut mengatakan...

inspiratif mas :D

zam mengatakan...

jadi kapan bisa nginep di Bangsari?