26 Agustus 2009

Puasa: Untuk kelima kalinya saya jalani di kota ini

Setiap ramadhan menjelang, selalu saja ingatan buruk ini terulang.

Tepat tiga hari sebelum puasa empat tahun yang lalu, saya datang ke kota ini. Menenteng sebuah tas punggung berisi dua setel baju dan sebuah kaos. Dengan sangu 120 ribu hasil ngobyek di kampus, saya beli tiket kereta bisnis Senja Utama jurusan Pasar Senen dari Stasiun Tugu. Harganya delapan puluh ribu pas. Agak terlalu bergaya untuk seorang pangangguran sebenarnya. Tapi, saya pikir daripada nanti uyel-uyelan dan semalaman ndak tidur lalu tepar pas wawancara, lebih baik saya cari sedikit kenyamanan.

Tiba di Stasiun Senen pada senin pagi sekitar pukul enam kurang sedikit. Tujuan pertama adalah Kang Tabah, teman sealmamater yang ngontrak di seputaran pasar mampang. Niat awalnya sih sekedar menumpang mandi dan istirahat sebentar. Juga nebeng sarapan kalo ada. Eh, akhirnya plus penginapan selama empat hari (sebelum dapat tumpangan di tempat lain). Masih sda lagi, plus makan pagi dan malam selama tinggal disitu. Sungguh tamu yang merepotkan. Terberkatilah engkau dab...

Sehabis mandi dan sarapan, saya dipandu untuk menuju tempat wawancara. Di sebuah gedung hijau di dekat pasar Mampang. Singkat cerita, saya diterima. Agak heran juga kok saya bisa diterima, tapi nasib baik sudah sewajarnya disukuri bukan?

Sempat ditawari untuk kembali ke Jogja, tapi saya tolak. Alasan utamanya ya karena uang di kantong tinggal 20 ribu perak. Dus, jadilah saya bagian dari kota ini.

Hari pertama puasa, saya meneken kontrak. Tugas pertama, saya ditempatkan di seputaran monas. Ya begitulah, sehingga setiap hari harus bolak-balik Mampang-Monas via blok M (belum tahu rute lain waktu itu).

Disinilah kehidupan jalanan Jakarta yang sebenarnya saya rasakan. Jalanannya macet ruwet bukan main. Perjalanan dari seputaran monas ke Mampang prapatan saja membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam. Itu pun dalam keadaan yang panas, penuh bau asap kendaraan dan berdiri. Jangan cuma bayangkan, silahkan rasakan sendiri.

Sepanjang jalan, saya saksikan ribuan orang kleleran setiap saat menunggu angkutan. Pagi, sore hingga malam yang larut. Sungguh pemandangan yang bikin pening kepala.

Belum lagi armada angkutan umum yang buruk. Tua, bopeng-bopeng, tempat duduk yang kotor dan bunyi-bunyian yang ndak njelas saat mobil berjalan. Herannya, ini terjadi di Ibukota, Bung!.

Kejutan lainnya yaitu jam kerja yang panjang dan melelahkan. Tak peduli sudah maghrib dan malam beranjak, pekerjaan tak juga berhenti mengalir. Seingatku sabtu-minggu pun tak pernah libur. Alasannya, ngejar target lebaran. Pfiuh. Sepertinya semua orang gila kerja disini. Dan dengan aktifitas yang demikian, praktis selama puasa itu saya cuma sempat tiga kali tarwih.

Belum lagi bagaimana rekosonya sewaktu mudik. Byuh.

Intinya, Jakarta itu wassalam deh.

Bapak dan Ibu yang saya ceritai berkali-kali mengelus dada. Sampai dengan sebuah pertanyaan:
"Kamu digaji berapa?"
"Sekian koma sekian"

Dan tiba-tiba saja raut mukanya cerah gembira. Dengan sedikit berbisik, ibu berkata:
"Itu sudah cukup untuk menghidupi seorang istri le..."

Gubrak!

Catatan: Kelak di kemudian hari saya baru tahu Jakarta memang lebih gila dari biasanya selama bulan puasa.

12 komentar:

nothing mengatakan...

gaji 20 juta ya jelas cukup, bahkan untuk dua istri

*pindah malang wae mas, enak adem*

Bangsari mengatakan...

@nothing: masalahe, opo kuat bojo loro? :P

*soal pindah sih tetep pengin cak*

omith mengatakan...

rumah bapak tua itu menanti ndut..
=))

eko mengatakan...

di enteni konco2 buka puasa bersama di MPR (masjid pogung raya) :-)

Bangsari mengatakan...

@omith: ayo ditawar ndud....

@eko: iyo e. kangen bukber nang mesjid iku.

hedi mengatakan...

sekian koma sekian itu yg buat Jakarta jadi hidup sekaligus gila hahaha

Ksatrio Wojo Ireng mengatakan...

hehehehe... memang jakarta itu penuh derita dan juga suka cita.. inget lagunya Koesplus:

"ke jakarta ku 'kan kembalii...iiii.."

Inget jaman dulu - boro-boro nyampe "sekian koma sekian"..

Ndoro Seten mengatakan...

Ha kok le mabuk ning bis kota ora dicritoke dab?

Bangsari mengatakan...

hedi: bisa jadi. kalo kecil, edian stres. kalo gede, edian konsumtif. :P

@kang luigi: betul sekali. semacan hubungan benci tapi rindu gitu.

@ndoroseten: lali dab...

amethys mengatakan...

hehehehe ga bisa komen...
enakan hidup di Semarang.....

Pinkina mengatakan...

sekian koma sekian iku piro ??? gak cuma kenek digawe nguripi seorang istri, gawe 2 istri plus beli apartemen tingkat 7 mengisor 7 mendukur yho isok, yho kan mas ?

Evi mengatakan...

hehehe...batas antara benci dan cinta itu tipis Mas :D