19 Agustus 2009

Medan

Sebelum keberangkatan, seorang kawan dari Medan bilang ke saya: "Jangan pernah mengharapkan pelayanan yang baik di Medan".

Dengan menggunakan penerbangan Emprit Airline seperti pada seri pertama, saya menempuh perjalan malam ke sana. Satu jam lima puluh delapan menit, menurut pengumuman dari kokpit, sedikit lebih lama dari penerbangan ke Temasek.

Berikut beberapa catata menarik selama 3 hari disana.

1. Bandaranya terletak di tengah-tengah pemukiman padat penduduk. Saya yang terbangun pada saat pesawat hendak turun, terkaget-kaget dengan adanya pemukiman yang terlihat dekat sekali. Pesawat sepertinya hendak mendarat di atap-atap.

Bandara ini kecil saja. Begitu kecilnya, saat turun pesawat, penumpang dibiarkan jalan kaki melintasi landasan pacu sampai ke bangunan bandara. Dari kaki pesawat bangunan ini terlihat seperti rumah sakit daerah atau polsek-polsek di pulau Jawa. Konon bangunan ini adalah bangunan baru setelah yang sebelumnya terbakar.

2. Bandara penuh asap rokok. Ini hal kedua yang mengagetkan saya. Baru saja mendekat ke pintu masuk pengambilan barang, asap rokok langsung terasa. Ruangan berkabut. Pekat sekali. Rupanya di pintu keluar, barisan penjemput, sopir taksi dan para kuli angkut saling berjubel sambil mengepulkan asap.. Belum lagi perokok dalam ruangan. Sebagian penumpang sembari menunggu barang dan juga para petugas. Petugas? Ya, mereka itu. Pengambilan bagasi yang cuma beberapa saat itu terasa menyebalkan sekali.

Dan soal merokok, hotel berbintang pun tak luput dari kebiasaan ini. Bahkan liftnya masih berasap saat saya naik ke lantai 6. Di toilet ballroomnya pun menyediakan asbak sebesar gentong. Duh!

3. Tak ada taksi berargo di bandara. Bahkan mungkin di seluruh kota medan. Ongkos ditentukan berdasarkan jarak. Yang sayangnya bagi orang luar malah terasa membingungkan.

4. Kejutan lainnya, banyak perempuan malam beredar persis di depan hotel. Hotel berbintang lima Bung!

5. Di hari kedua hotel mati lampu. Tak lama memang, cuma sekitar 5 menit. Tapi ini terjadi di hotel bagus. Aneh bin ajaib.

6. Tata kotanya membingunkan. Bangunan-bangunan kuno memang bertebaran di sana sini. Sayangnya, tidak terawat atau malah dirombak dengan gaya yang aneh sekali.

Dengan begitu banyak keajaiban, saya mengabari kawan saya itu. Jawaban dia pendek saja: "Ini Medan Bung! :P". Saya sedikit sok dan baru tersadarkan. Oh, jadi begitu maksudnya ungkapan itu. Pantas saja kalimat ini begitu populer dan fenomenal. Dengan kata lain, anda harus maklum.

Meski begitu, tak semuanya mengecewakan.

Kota ini kaya sekali dengan aneka ragam makanan yang layak santap. Mulai dari bika ambon dan bolu meranti yang namanya sudah menasional plus beragam jiplakannya, makanan laut, tahu isi di kampung keling dan berbagai masakan kaum peranakan. Dan semua itu bisa Anda dapatkan dengan harga yang jauh lebih murah dari Jakarta atau Surabaya. Oh iya, masih ada lagi. Kedai-kedai duren di pinggir-pinggir jalan.

Untuk yang terakhir ini, sungguh maut! Sebut saja yang pahit atau yang manis, penjual dengan sigap menyiapkan pesanan Anda. Tidak bagus, tinggal ganti saja tanpa biaya tambahan. Faktanya, tidak pernah saya temukan pembeli yang kecewa dengan duren yang disajikan.

Jika Anda minta durennya dikemas sebagai oleh-oleh untuk dibawa ke Jakarta, Anda boleh makan sekuat mulut mengunyah sekuat perut menampung. Yang terakhir ini berikan secara cuma cuma alias gratis!

Nah, ini baru Medan Bung!

12 komentar:

amethys mengatakan...

wow...bagian makanan nya sangat menarik.....tapi asap rokok? alamakkkkk ga tahan aku bisa hoex2

Medan oh Medan.......

pitik mengatakan...

duren-e gowo nang mbunderan pul..

hedi mengatakan...

koncoku arek suroboyo ga betah ndok medan, padahal wis biasa ngawur ndok kota e dewe hahaha

eko mengatakan...

bakpia ono ora Ful?

Arham blogpreneur mengatakan...

Kok.. tampak semerawut , apa tidak ada yang positif disana ?

nothing mengatakan...

Ini Medan Bung!

Ksatrio Wojo Ireng mengatakan...

Persis seperti cerita kawan serumah yang bekerja sama-sama di Liberia.. lagak preman-nya pun ikut terbawa sampai ke ujung afrika sini.. meski demikian dia belumlah senekat kampret bulukan di negeri si bau kelek ini...

:-)

Seru pisan!

Mbilung mengatakan...

bayar berapa untuk "meloloskan" duren ke dalam pesawat?

Bangsari mengatakan...

@amethys: begitulah...

@pitik: wis entek cak.

@hedi: semula tak pikir jakarta wis semrawut, lha jebul isih kalah adoh.

@eko: di sudut bandara aku menemukan bakpia. beneran.

@arham: lha, sampeyan tidak membaca semua sih

@nothing: yoi coy...

@kang luigi: hahaha. negeri kelek sepertinya tak layak kunjung. hihihihi

@mbilung: 50 ribu. 20 ribu untuk petugas pemindai, dan 30 ribu untuk mbungkus lagi di dalam. padahal wis rapet-pet. cen kampret medan iki...

Rania mengatakan...

Banyak kok yg positive di Medan, cobalah untuk stay lebih lama disana.. peace

Bangsari mengatakan...

@rania: mestinya sih begitu. ini kan cuma pengalaman bagi orang luar medan seperti saya.

mikow mengatakan...

nah sekarang ngerti kan kenapa jakarta macet?
wong mayoritas pengendara angkutan umumnya orang sana :P J/K