22 Agustus 2009

Bisnis Jancuk

Dalam penerbangan ke Medan kemarin, seorang bapak-bapak duduk di samping saya. Perawakannya kecil, berjenggot jarang, berkulit keling, bergigi putih dan sedikit tonggos. Caranya berbicara biasa saja. Begitupun apa yang di kenakan dan bahasa tubuhnya terlihat seperti orang kebanyakan.

Dia mengaku kelahiran Madiun dan sedang dalam perjalanan menuju tempat tinggal keluarganya sejak bertransmigrasi berpuluh tahun yang lalu, Balikpapan. Yah, daripada bosan menunggu selama 3 jam ke depan, saya mengiyakan saja ajakannya untuk ngobrol. Dengan semangat 45, segeralah meluncur berbagai ceritanya.

Dia baru saja balik dari Jambi, melihat perkembangan cabangnya yang baru. Dua bulan sebelumnya dia sempat ke Kuala Lumpur, melaporkan perkembangan bisnisnya ke kantor pusat. Sampai disini, dia masih belum mau menceritakan apa bisnis utamanya. Oke, saya ikuti saja apa maunya dan lebih banyak diam selama dia bercerita.

Kemudian ceritanya beralih ke masa kuliahnya dulu di Jogja. Tahun 1989 dia menjalani kuliah di sebuah akademi komputer dengan keahlian pemrograman. Maka bisa ditebak, awal perjalanan karirnya tentu tak jauh dari situ. Masih di Jogja juga, dia bekerja di sebuah perusahaan kecil dengan gaji yang, menurutnya, pas pasan. Semuanya berlangsung rutin sampai dengan tahun keempat.

Saat itu dia merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Badan pegal-pegal, mudah lelah, emosi tidak stabil, maag yang mulai akut, sering sakit-sakitan dan lain-lain. Singkat kata, setelah mendapat konsultasi dari seorang teman, dia mengkonsumsi sebuah produk yang kata temennya itu bagus untuk kesehatan. Pendeknya, dia sembuh total dan penuh gairah. halah.

Kebetulan, saat mudik ke Balikpapan dia bertemu dengan teman yang memiliki keluhan sama. Dari sinilah kemudian dia memulai bisnis ini dengan masih tetap bekerja di perusahaan yang lama. Dua tahun berlalu, penghasilan di bisnis ini sudah melampaui gajinya sebagai programmer. Maka dia memutuskan keluar dan pulang kampung.

Di Balikpapan, dengan memanfaatkan gerai toko keluarga, bisnisnya berkembang pesat hingga kemudian dia membuka cabang di berbagai kota. Jambi yang saya ceritakan di awal adalah cabangnya yang ke-7. Hampir kesemua penanggung jawab cabang itu adalah mantan rekan-rekannya di Jogja dulu.

Setelah itu, tak lupa pula dia menawari siapa tahu saya berminat. "Cabang Cilacap belum ada lho...", ucapnya penuh tekanan.

Dari sinilah kemudian dia mulai sedikit menguak apa bisnis utamanya. Tubuh kita menerima racun dari makanan, udara, air dan sebagainya. Dan semua itu harus dibersihkan agar tubuh tetap sehat. Itulah mengapa produk ini sangat dibutuhkan tubuh kita, apalagi bagi yang tinggal di kota besar seperti Jakarta.

Cara kerjanya begini. Pertama, tubuh kita di-Cleansing untuk membuang semua racun dan oksidan. Setelah bersih, barulah tubuh di-Balancing. Pada tingkat yang lebih lanjut di-Activating mengaktifkan sel-sel baru agar kualitas hidup menjadi lebih baik. Kira-kira begitu, kesimpulannya di akhir presentasi.

"Jadi, bisnisnya apa?", tanya saya
"MLM", jawabnya bersemangat.
"Jancuk!", umpat saya sembari ngacir.

19 komentar:

hedi mengatakan...

hahaha orang MLM itu kalo berperang memang punya strategi dahsyat, tapi dia lupa....yang paling penting itu "MLM-nya" dan orang dah alergi denger ginian...kaya orang maen bola, yg penting golnya.

Bangsari mengatakan...

Bahkan orang yang baik-baik saja pun akan langsung ditempeli stigma buruk kalo sudah menyebut kata MLM. hahahaha

balibul mengatakan...

cilacap belum ada wetiga. ayo kopdar iwak pari wae..

Bangsari mengatakan...

@balibul: belum, tapi maaf ndak minat mas. lha sampeyan dah diamond saya mangsih nol. :P

mastongki mengatakan...

ngacir? terjun maksudnya?
salam kenal ;)

nothing mengatakan...

rejekine dewe dewe mas, ra sah engmosi :P

pertama moco tak kiro binis lendir hehehe

Ocha Rahamitu mengatakan...

hahaha... i tahu itu bisnis. pasti ka- leng.

MLM paling sotoy itu sekarang ditempatku.

amethys mengatakan...

MLM itu janjuk tah?

kekekekeke di mudeng2 no yo ndak mudeng...
apusi wae

ariosaja mengatakan...

jangan liat MLM nya bung.. tapi liat cara kerjanya, tirulah yang baik dan buang yang jelek

Chic mengatakan...

kalo gitu mending disebut franchise ya ketimbang MLM? hihihihihi

wisnu mengatakan...

ha ha ha ha ha
tak kiro opo bisnis jancukkk!!!
tibo o mlm
tp sukses jg yaaaa
dah ikutan?????

Evi mengatakan...

hahaha...ternyata...? buntute ga enak ya...?

Bangsari mengatakan...

@mastongki: pan masih di ruang tunggu gan...

@nothing: ngemosi karena jadi korban (lagi) cak.

@ocha: betul sekali. pernah jadi korban juga? :P

@amethys: begitulah. MLM itu seperti teroris.

@ariosaja: bisa lebih spesifik?

@chic: bisa jadi kalo semua orang sudah alergi, mereka berganti nama. :P

@wisnu: waduh. semoga selalu ada pilihan lain. :P

@evi: lha kuwi mba. untung penerbanganku dateng, coba kalo engga?

kw mengatakan...

bisnis gratisan yang belum banyak dikembangkan.
menarik tuh,,,,,

mikow mengatakan...

mun ngacir aja pul? ra kowe keplak wonge? :P

henny mengatakan...

hahaha, aku tahu mas produknya ..... yang ada susu kedelainya kan ???? yang organic itu to ??? hehehe, kapan lalu aku juga ditawari temen SMA ku gitu (produknya sih, bukan MLMnya). btw, penghasilannya kayaknya emang lumayan tuh mas ... kata temanku dia sekarang pendapatannya lebih tinggi dari pada gaji yang terakhir ia terima di tempat kerjanya. karena menjanjikan (versi dia lho ya), akhirnya dia pilih resign dari kerjaannya dan konsen di MLM ini. Padahal dia lulusan masin ITB mas, hehehe. Hebat ya .... keputusan yang berani :D

arham blogpreneur mengatakan...

MEmang MLM bikin alergi... tapi saya rasa alerginya juga perlu di benahi, MLM sendiri kalau systemnya ngak nguntungin pihak atas tentu semua juga mau aware kok...

eko mengatakan...

MLM belum ada lho mas di cilacap...he he he :-)

dita.gigi mengatakan...

kalo MLM ditawari dengan cara yg berbeda n ndak rada mekso mungkin org2 masih berminat kali yaa...

tapi kalo denger mereka berkicau apalagi dengan mata berbinar dan penuh semangat, dalam hati langsung terbersit, ah ini MLM pasti... :|