28 April 2009

BHI no 13: Muhammad Rohibun


Nama lengkapnya Muhammad Rohibun. Rumahnya cuma berselisih satu rumah plus sebuah jalan dari tempat tinggal saya di kampung. Ya kira-kira berjarak seratusan meter.

Selepas sekolah menengah atas di Sidareja, sebuah kota kecamatan berjarak tiga kilo kayuhan sepeda plus setengah jam naik bus, dia merantau ke Jakarta. Prestasi terbaiknya di sekolah, ranking ke 2 dari 38 murid di tahun ketiganya. Selebihnya, ya cukup sepuluh besar saja. Maklumlah, jauhnya perjalanan itu sudah lebih dari cukup untuk menguapkan ingatan tentang pelajaran yang didapat seharian. Namun bagi kami orang Bangsari waktu itu, bisa lulus sekolah menengah saja sudah hebat. Masalahnya, setelah itu mau ngapain?

Maka, mengadulah nasih di kota. Dan sebagaimana umumnya calon perantau dari desa kami, dia tak tahu mau kerja apa. Pokoknya merantau! Perkara nanti kerja apa atau jadi apa, itu urusan nanti.

Sewaktu pertama kali saya kerja di Jakarta, dia masih menjadi penjaga toko kecil kepunyaan kakaknya di sebuah daerah di Jakarta Timur. Pekerjaan sebagai bell boy di sebuah hotel di jakarta pusat pernah dia jalani selama 6 bulan sebelum hotel itu tutup. Setelah itu, ya balik lagi jadi penjaga toko.

Begitu dia tahu saya bekerja di Jakarta, dia segera menemui saya. Minta pekerjaan. Begitu bersemangatnya sampai-sampai dia bersedia mengelap sepatu saja jika diperlukan. Semula saya terbahak-bahak mendengar permintaannya. Lha gimana bisa saya ngasih kerjaan kalau saya juga cuma tukang wedang? Namun ada satu hal yang saya akui, keteguhan hatinya.

Karena jenis pekerjaan saya termasuk baru di pabrik, sehingga bos memberi kebebasan untuk merekrut para asisten tukang wedang. Namun untuk sampai mengajaknya bergabung, saya sangat tidak yakin. Saya lebih suka merekrut para calon yang punya skill dan pendidikan lebih baik.

Ternyata, skill yang bagus juga bisa mendatangkan masalah. Mereka kurang antusias dan cenderung ogah-ogahan bekerja. Mungkin karena mereka menganggap pekerjaan itu terlalu remeh, sehingga sering tidak masuk, kebanyakan main dan yang paling tidak menyenangkan, tiba-tiba mereka berhenti bekerja. Silih bergantinya orang membuat saya tak tahan juga pada akhirnya. Beberapa bulan kemudian, saya memanggilnya.

Pekerjaan pertama, tukang angkut-angkut, sortir dan hal-hal remeh lainnya. Di saat-saat rehat, dia minta diajari para tukang wedang lainnya untuk mengoperasikan mesin. Dan sunguh ajaib. Dalam tiga-empat bulan berjalan, dia sudah menguasai semua prosedur dan tetek bengeknya. Selanjutnya, tak usahlah saya ceritakan di sini.

Kini, tiga tahun kemudian, dia sudah menjadi staff infrastructure & architecture di salah satu perusahaan IT di sekitar Duren Tiga. Tugasnya: maintenance server, jaringan dan hosting web. Jauh melampaui saya yang masih mengoperasikan mesin wedang yang itu-itu saja. Satu-satunya hal yang masih tersisa dari pekerjaannya bersama saya adalah, dia masih mengetik dengan sebelas jari.

Menurut saya, dia mewakili gambaran umum tentang anak-anak kampung. Bahwa hal terpenting yang diperlukan oleh mereka untuk berkembang adalah: kesempatan yang cukup. Masalahnya, gimana caranya ngasih kesempatan buat yang lain?


Link terkait
BHI no 1-12
BHI no 11

15 komentar:

hedi mengatakan...

13? benar-benar angka top untuk mahluk keramat spt rohibun :D

Kuyus is cute mengatakan...

saya setuju !! chance is better.
Cuman banyak juga yang diberi kesempatan tapi tak bisa memanfaatkan dengan baik, padahal ia memiliki kemampuan.

Saya menemukannya hingga membuatku cukup gemes. Alhasil, kesempatan diberikan kepada mereka yang mampu menghargai besar sebuah kesempatan, dan betapa kesempatan belum tentu datang 2x.

Orang yang mampu memanfaatkan sebuah kesempatan adalah mereka yang mampu melihat sebuah keberhasilan.

nothing mengatakan...

wah cerita yang menginspirasi

didut mengatakan...

demn....encouraging nda *sedih lirik diri sendiri*

amethys mengatakan...

menurut saya : kemauan keras akan menciptakan kemampuan.....nah terbukti kan?

Pinkina mengatakan...

moral cerita : jgn meremehkan orang kampung :D

Ndoro Seten mengatakan...

wah elok cenan arek mBangsari ki....

gajah_pesing mengatakan...

itu dia masalahnya, coba kalo ada pasti gak bakal ilang kesempatan itu...

arya mengatakan...

wah semangatnya baja

eko mengatakan...

tetap semangat...

balibul mengatakan...

weeeh juragan ipul tooop melanjutkan tradisii ini. jokober endi tempe gembuse?

Kw mengatakan...

Cara terbaru untuk sukses:nekad,ngawur plus pakai cara apapun. :).

gambarpacul mengatakan...

hidup kang ibun lah..!

kw mengatakan...

wah ibun mana nih? kok belum komen?

bahtiar mengatakan...

mas rohibun, seng tansah mrantasi gaweyan ... jakarta - jogja numpak sepur karo usung-usung bantuan gempa - sungguh sangat mengesankan.

salam sukses buat mas rohibun
:)