30 April 2009

Restorasi

Entah bagaimana ceritanya, kok tempat makan di kereta api sampai disebut sebagai restorasi. Menurut saya sih artinya ya perbaikan. Tapi siapa sangka ternyata KBBI Daring juga mengakui makna tersebut dengan definisi: “gerbong kereta api yg dijadikan restoran”. Saya menduga ini sebagai serapan dari kesalah-kaprahan dari jaman baheula. Kalau pun dugaan saya benar, biarlah salah kaprah ini tetap saya lestarikan.

Dan entah dimulai dari kapan, restorasi telah menjadi tempat berbagai kegiatan biasa berlangsung. Yang paling sering tentu saja urusan perut: makan, minum, atau ngerokok. Di luar urusan perut pun ada. Minta pijit, bisa. Ngecas telepon genggam bisa. Yang ini paling banter cukup lima ribu perak. Bantal untuk ganjalan punggung bertumpuk-tumpuk menggunung ada di sini.

Transaksi lain yang juga jamak adalah beli tempat duduk. Kalau Anda Cuma berhasil mendapatkan tiket tanpa tempat duduk (TD), cobalah tanyakan pada petugas di restorasi. Dengan sumringah petugas akan memberi tahu. Dijamin. Tak peduli kelas ekonomi, bisnis dan eksekutif, hampir bisa dipastikan tersedia itu yang tuan dan nyonya kehendaki. Asal harga cocok, cingcai lah.

Hal unik lainnya, kita bisa minta diberhentikan di mana pun kita mau. Tinggal bilang saja. Di tengah persawahan sekali pun bisa dilayani. Dengan catatan, akan lebih mudah jika perjalanan malam. Pokoknya: lu minta, gua ada. Setidaknya begitulah yang pernah saya lakukan.

Dan fungsi yang paling umum, ini favorit saya, restorasi menjadi tempat ngobrol dan bergosip. Yang ini sih biasanya muncul karena kebutuhan akan teman ngopi dan merokok. Apalagi untuk kereta eksekutif (kalau yang ini saya baru sekali seumur hidup) yang berpendingin dan tak berjendela, restorasi menjadi surga bagi para ahli hisap. Para pecandu berat bahkan cuma duduk di restorasi di sepanjang perjalanan.

Jangan salah! Gosip di sini seringkali lebih bermutu daripada sajian dialog politik basi yang ditayangkan televisi lho. Dalam perjalanan ke jakarta beberapa waktu yang lalu, saya menemukannya.

Tiga orang (dua senior, satu yunior) dari kesatuan berbeda saling ngrasani para petinggi yang memobilisasi para serdadu guna kepentingan politik. Efeknya, kesatuan terpecah-pecah dalam beberapa kubu. Tentang penculikan mahasiswa di masa lalu, tentang campur tangan mereka dalam berbagai konflik di daerah, juga tentang siapa saja pelaku pembuatan uang palsu dari waktu ke waktu.

Juga tentang seorang konglomerat berinisial TW yang rajin mengadakan pesta dan membagi-bagikan uang kepada semua (ya semua) orang di Mabes AD dengan jumlah hingga milyaran rupiah setiap minggunya. Si yunior dengan terang-terangan mengatakan menerima setidaknya sejuta ripis setiap minggunya. Itulah sebabnya, menurut dia, bisnis judinya tak pernah tersentuh hukum. Dia pula yang ikut mensponsori penggulingan seorang presiden di masa lalu karena dia mencoba menggusik bisnis haramnya.

“Saya yakin, di 2014 nanti dia akan mengincar posisi RI satu!”, katanya meyakinkan.

Yah, namanya juga gosip. Tentang kebenarannya silahkan pikirkan sendiri.

28 April 2009

BHI no 13: Muhammad Rohibun


Nama lengkapnya Muhammad Rohibun. Rumahnya cuma berselisih satu rumah plus sebuah jalan dari tempat tinggal saya di kampung. Ya kira-kira berjarak seratusan meter.

Selepas sekolah menengah atas di Sidareja, sebuah kota kecamatan berjarak tiga kilo kayuhan sepeda plus setengah jam naik bus, dia merantau ke Jakarta. Prestasi terbaiknya di sekolah, ranking ke 2 dari 38 murid di tahun ketiganya. Selebihnya, ya cukup sepuluh besar saja. Maklumlah, jauhnya perjalanan itu sudah lebih dari cukup untuk menguapkan ingatan tentang pelajaran yang didapat seharian. Namun bagi kami orang Bangsari waktu itu, bisa lulus sekolah menengah saja sudah hebat. Masalahnya, setelah itu mau ngapain?

Maka, mengadulah nasih di kota. Dan sebagaimana umumnya calon perantau dari desa kami, dia tak tahu mau kerja apa. Pokoknya merantau! Perkara nanti kerja apa atau jadi apa, itu urusan nanti.

Sewaktu pertama kali saya kerja di Jakarta, dia masih menjadi penjaga toko kecil kepunyaan kakaknya di sebuah daerah di Jakarta Timur. Pekerjaan sebagai bell boy di sebuah hotel di jakarta pusat pernah dia jalani selama 6 bulan sebelum hotel itu tutup. Setelah itu, ya balik lagi jadi penjaga toko.

Begitu dia tahu saya bekerja di Jakarta, dia segera menemui saya. Minta pekerjaan. Begitu bersemangatnya sampai-sampai dia bersedia mengelap sepatu saja jika diperlukan. Semula saya terbahak-bahak mendengar permintaannya. Lha gimana bisa saya ngasih kerjaan kalau saya juga cuma tukang wedang? Namun ada satu hal yang saya akui, keteguhan hatinya.

Karena jenis pekerjaan saya termasuk baru di pabrik, sehingga bos memberi kebebasan untuk merekrut para asisten tukang wedang. Namun untuk sampai mengajaknya bergabung, saya sangat tidak yakin. Saya lebih suka merekrut para calon yang punya skill dan pendidikan lebih baik.

Ternyata, skill yang bagus juga bisa mendatangkan masalah. Mereka kurang antusias dan cenderung ogah-ogahan bekerja. Mungkin karena mereka menganggap pekerjaan itu terlalu remeh, sehingga sering tidak masuk, kebanyakan main dan yang paling tidak menyenangkan, tiba-tiba mereka berhenti bekerja. Silih bergantinya orang membuat saya tak tahan juga pada akhirnya. Beberapa bulan kemudian, saya memanggilnya.

Pekerjaan pertama, tukang angkut-angkut, sortir dan hal-hal remeh lainnya. Di saat-saat rehat, dia minta diajari para tukang wedang lainnya untuk mengoperasikan mesin. Dan sunguh ajaib. Dalam tiga-empat bulan berjalan, dia sudah menguasai semua prosedur dan tetek bengeknya. Selanjutnya, tak usahlah saya ceritakan di sini.

Kini, tiga tahun kemudian, dia sudah menjadi staff infrastructure & architecture di salah satu perusahaan IT di sekitar Duren Tiga. Tugasnya: maintenance server, jaringan dan hosting web. Jauh melampaui saya yang masih mengoperasikan mesin wedang yang itu-itu saja. Satu-satunya hal yang masih tersisa dari pekerjaannya bersama saya adalah, dia masih mengetik dengan sebelas jari.

Menurut saya, dia mewakili gambaran umum tentang anak-anak kampung. Bahwa hal terpenting yang diperlukan oleh mereka untuk berkembang adalah: kesempatan yang cukup. Masalahnya, gimana caranya ngasih kesempatan buat yang lain?


Link terkait
BHI no 1-12
BHI no 11

14 April 2009

Soto Madura Terminal Kampung Melayu


Di sebuah pojok salah satu sudut terminal kampung melayu. Bersebelahan dengan sebuah musholla kecil lumayan bagus yang sayangnya, karena kebanyakan pengunjung, menjadi pengap dan karpetnya berbau.

Di sana lah berada warung kecil ini. Sebuah warung kecil yang menjual hanya soto madura.

Penampilannya sama sekali tak mencolok. Dari dalam mau pun dari luar. Sliwar-sliwer angkutan, bus transjakarta dan lalu lalang kendaraan pribadi seperti menjadi aksesoris warung. Denyut terminal sangat terasa di warung ini. Namun, siapa peduli?

Bangku-bangku plastik berjejer menghadap sebuah meja sempit panjang yang menpel kuat di tembok. Dua meja lagi yang sama sempitnya terletak di tengah, menyisakan ruang sedikit berbentuk L. Cukuplah untuk membuat para penikmatnya duduk dengan "nyaman" jika semua bangku penuh terisi.

Bakul sotonya sendiri berada di dekat pintu masuk, lengkap dengan anjungannya. Gagang gayungnya terbuat dari kayu segenggaman tangan orang dewasa, seperti sebuah pegangan golok. Uap dan minyak soto menguapinya selama bertahun-tahun menjadikannya terlihat kekar dan gagah.

Sekilas tak ada yang luar biasa, kecuali sebuah papan di dinding bertuliskan: SOTO MADURA, CAMPUR SOTO/LONTONG, Rp 5000.

Apa istimewanya? Dengan riangnya, wanita disamping saya berpromisi: sotonya enak dan murah!

Kemudian dia bercerita, warung ini pernah sangat akrab baginya. Terutama pada masa-masa sulit awal kedatangannya di Jakarta beberapa tahun yang lalu. Pfiuh.

Maka, sehabis menunaikan magriban yang hampir telat, saya menuruti kehendak hatinya bernostalgia.

Dan, ternyata maknyus!