
Kata orang-orang di kampung saya, tepatnya dulu, kacamata itu mencerminkan citra cerdas, kota dan berpendidikan. Maklumlah, namanya juga orang kampung. (Eh, mang napa jadi orang kampung?.
Dulu, saya menganggap kacamata (baca) mewakili peradaban orang kota daripada barang fungsional. Maklum saja, orang berkacamata jarang ditemui di kampung. Lagi pula, kalau kebutuhannya cuma ke sawah, mencangkul, ngarit, mbawon, atau angon wedus, kacamata yo jelas ndak diperlukan to?
Keluarga saya pun ndilalahnya juga tak ada yang berkacamata. Tak hanya yang muda-muda, simbah pun tidak. Lha gimana mau pake kacamata, wong simbah itu buta huruf latin. Selain itu, toh seluruh hidup simbah itu hampir ndak pernah kemana-mana. Jadi, ya buat apa? Kalau pun nderes, toh tulisannya gede-gede.
Jadi, kami beranggapan kacamata itu hanya umum dipakai oleh orang kota. "Mereka yang kebanyakan nonton tipi berwarna sehingga matanya ndak normal", kata sebagian orang. "Orang yang kalau nonton tipi terlalu dekat", kata yang lain.
Maka kamipun menonton dengan jarak yang direkomendasikan petugas pemungut pajak jaman TVRI dulu, 5 kali panjang diagonal tabung. Eh, ngomong-omong anjuran begini masih ada ga ya?
Kadang geli juga mengingat ini. Tipi kami kan cuma hitam putih bergambar tokoh wayang Kresna (tipi ini masih dipakai keluarga kampung hingga sekarang). Itu pun baru boleh disetel setelah mengaji dan bedug isya ditabuh. Jam sembilan malam, sudah harus dimatikan dan tidur. Belum lagi kalau siarannya ternyata cuma Cerdas Cermat ala Kelompencapir atau Laporan Khusus yang membosankan itu. Dengan sendirinya, tipi dimatikan. Lumayan, untuk menghemat aki.
Artinya, waktu nonton sangat sedikit. Sehingga kekhawatiran mengalami trachoom (maksudnya, minus) sangat kecil.
Nah, minggu kemarin, iseng-iseng saya memeriksakan mata bersama istri. Hasilnya, saya didakwa petugas menderita sedikit minus dan silinder.
Dus, maka jadilah saya pemakai kacamata. Tapi, ngomong-omong kok ga nambah ganteng ya?
02 Februari 2009
Trachoom
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)



29 Sing Melu Umuk:
mana skrinsut berkacamata?
kowe ki kakehan nginceng...mosok bojo dewe yo diinceng...dadine motomu yo rusak dab...
nek aku wis suwe gak krungu kata2 trakom, bener... memang istilah ini kayaknya hanya punya orang kayak di desa saya.
*bukan kepala desa. hehe...
melu kontes tebak wajah ora? monggo mampir
panjenengan nangge ne sanes koco moto kudo tho kang?
hehe,,
kalo orang ganteng itu mo pake apa aja tetep ganteng kok gus :D
kok komenku ndak masuk sih
hahaha...mana skrinsutnyaaaaaaa...:))
aku yho minus ama silinder mas, tapi males pake kacamata, tambah ngelu je
kacamata kuda pul?
mosok nggak ono acara mbangun deso ndoro?
makan-makan™!!!
haha,. aku juga agak malas pake kacamata. ribet.....
Singkat, padat, ngangeni. Jd pengin mudik.
kalo wes nduwe bojo ki gak perlu ganteng, kacamata wae :P
tv-ne gambar kresna bukan arjuna ndeyan kang?..nenggala apa ya?
iya ya..mbiyen ngertine nek nganggo kacamata=trachoom, tp siki ana +, -, silindris
hehehe....ndhi gambare??
mesti banyakan nonton pilm saru nih!
ra tambah ngganteng kui nasib pul. eh iya, nek dikon milih, aku milih ra kacamataan.
@oon: koreksi diterima. matur nuwun...
hanya orang yang ndak ngganteng yang mempertanyakan kegantengan. orang ganteng cuman menjalani hidup saja...
pantes fotone ra dipajang! :)
endo potone mas ? ^_^
lah, mas ipul, pake kacamata emang bukan buat tambah ganteng kan? paling2 tambah genteng. ha3.
pengen liat dikau pake kacamata mas..
pasti lebih ganteng ah..
yg liatkan orang lain...
kakeyan nyawang bis balapan neng jakarta yo
aku kacamataan... jadi aku ini cerdas, kota, dan ganteng po mas? :D
Selamat jadi orang kota
dijamin teteup ganteng---->>dimata istri(mu..) loh. :D
kalau ciuman , dicopot sik..
Biarpun ndak pake kacamata tapi masih awas to kalo pas nindakke kewajiban sama Istri?? hahahaha
ah jadi ingat sama kacamataku yang ilang...=(
benci kacamata, mberat2in. tapi ngeri pake softlens. kalo udah ga tahan perihnya, baru dipake lagi kacamatanya. abis itu lepas lagi. enam bulan kemudian, ganti lagi. buang2 duit :D
Poskan Komentar