17 Februari 2009

Nasib

Sebuah pesan saya terima, mengabarkan tentang seorang kawan yang dulu seangkatan di bangku kuliah, kini sudah jadi salah satu ahli astronomi jogja. Woh. Terang saja saya kaget bukan kepalang. Bukan kaget pada keberhasilannya, tapi pada bidang yang dia geluti yang sama sekali lain dengan studinya dulu.

Si teman yang barusan saya dapat kabarnya ini, sedari dulu memang pintar, cerdas, kutu buku dan juga senang berorganisasi. Dengan pergaulan yang lintas fakultas, tak mengherankan jika dia kemudian menjadi pengurus sebuah jamaah kerohanian yang berpengaruh di lingkungan kampus, jamaah shalahuddin.

Suatu hari, tanpa alasan yang saya pahami, dia menghilang dari kegiatan kampus dan tak pernah kembali. Sesekali saya temui dia sedang memoderasi acara diskusi-diskusi bersama tokoh-tokoh politik lokal selama berlangsungnya reformasi di jogja. Sesekali saya temui dia di kejauhan sedang menyusuri selokan mataram. Yah, mungkin dia pindah kampus, pikir saya.

Saya pernah mencoba secara ngawur menebak-nebak masa depan beberapa teman kami yang juga tak jelas rimbanya. Mengacu pada kesukaan mereka dahulu, bagaimana pergaulan mereka, apa hobinya dan lain-lain, maka muncullah sederet daftar: programmer, pedagang, politikus,aktivis sejati dalam bidang lingkungan hingga fundamentalis. Tapi dugaan saya meleset jauh, tak satupun dugaan saya yang tepat sasaran.

Sampai sekarang saya masih takjub, bagaimana nasib membawa anak-anak nuklir menjadi pribadi yang sama sekali berlainan. Ada cerita seorang alumni yang tiba-tiba menjadi bos sebuah perusahaan IT, ada yang jadi pemain adsenser, ada yang bertani jagung di wonogiri sana, dan ada juga yang sekadar menjadi penjaga toilet umum di Pasar Giwangan Jogja hingga sekarang. Sementara saya sendiri, tukang wedang. Begitulah dunia, betapa tangan Tuhan bekerja dengan cara yang ajaib.

Mungkin dikarenakan lapangan kerja yang terbatas untuk bidang nuklir, menyebabkan para alumninya mencari pekerjaan yang waton entuk duit. Beberapa memang bisa berkarir dibidang yang sesuai, seperti ndoro seten ini. Namun sebagian besar berada di luar bidang. Dalam hal ini, saya termasuk golongan yang terakhir. Mungkin keadaan lah yang memaksa orang harus kreatif, bahkan sejak di bangku kuliah.

Sampai-sampai kemudian muncul sebuah unen-unen yang sangat populer di kalangan para alumni "sastra nuklir:: "Cah nuklir itu tahu banyak hal, kecuali nuklir itu sendiri".

Apakah hal ini terjadi pada alumni jurusan lain? Entahlah.

Dan tiba-tiba, saya merasa belum kemana-mana. Duh!

sumber gambar tak diketahui

13 komentar:

Ari F mengatakan...

kadang kita harus menaruh idealisme di bawah telapak kaki agar bisa terus berjuang untuk hidup. Pepatah lama mengatakan, gapailah langit, karena andaikata kau meleset dari tujuanmu, maka kemanapun kamu melangkah, kamu tetap akan ada di antara bintang-bintang

Ipoul Bangsari mengatakan...

@Ari F: begitulah. kalo ga salah, itu ungkapannya Bung Karno ya?

hedi mengatakan...

lha wong koki terkenal pun pegang ijazah hubungan internasional, ini kasus umum di Indonesia

Pinkina mengatakan...

hal biasa kalee...bahkan dulu waktu di batam aku kenal sopir taksi yang pinter pemrograman :D

pitik mengatakan...

selamat!
*mbalik maning nang travian*

~JERUKLEGI SEMENDHEH~ mengatakan...

Salam kenal dari ~JERUKLEGI SEMENDHEH~...
jika ada waktu, silahkan mampir ke blog saya....

bahtiar mengatakan...

Mesakne dosen2 teknik nuklir yen moco postingan iki :)

wes susah2 nyaring 50 lulusan sma terbaik se endonesa

mulang pelajaran seng angel-angel

bareng lulus, podo ga jelas pranane ... :)

Yen Aad bin Djafnan moco iki, bakal laporan karo Bapak'ne.

:)

Ari F mengatakan...

@Bangsari
Bukan, itu peribahasa lama dari Jerman.
Btw, sy msih yunior skli di komunitas astro, namun sptinya sy paham siapa yg anda maksud. Beliau, selain dkenal sbg astronom, jg populer sbg ahli fisika einstein & nuklir serta pakar gempa & tsunami, yg menjlskan hal2 rumit dg bhs sederhana&mdh dipahami.

kw mengatakan...

hiks... aku tak punya bidang apa-apa, sesempit apapun.
tapi cuek aja lagi!

arya mengatakan...

nuklir=manuk dikelir

Evi mengatakan...

seng penting iso kerjo :)

Anonim mengatakan...

bapak saya pernah bilang: kalaupun kau ingin cari uang dgn jadi penjahit (dulu aku gumun nek penjahit sugih-sugih),kau tetap harus (sekolah) cari ilmu yang kau inginkan semampumu.

hasilnya kini: jadi penjahit (yg berumah gedong) nggak, punya ilmu juga nggak :))

numpang kenal,

awan berarak

latree mengatakan...

banget.