30 Desember 2009

In Memoriam GD

Segera setelah Mbah Surip dan Rendra meninggal dalam jeda yang hampir beriringan beberapa saat yang lalu, saya dan beberapa kawan mendapat kabar bahwa Gus Dur sakit keras. Saraf-saraf ditubuhnya menjadi sangat sensitif terhadap sentuhan. Singkatnya, disentuh sedikit sudah kesakitan. Tentu saja kami jadi berburuk sangka, jangan-jangan kali ini beliau akan segera menyusul. Maka, segera saja kami putuskan untuk membezuk beliau di kediamannya di daerah Ciganjur.

Lha kami ini siapa kok sok ikut-ikutan mbezuk? Embuh. Kayanya aneh saja, kalau sebagai orang yang mengaku nahdliyyin kok ndak pernah ketemu GD langsung. Anehnya lagi, saya yang bukan siapa-siapa ini sempat merayakan sukuran pernikahan tepat setahun yang lalu di Wahid Institute, rumah kediaman GD semasa kecil dekat masjid matraman, ujung Menteng. Selebihnya, tidak ada yang istimewa.

Sewaktu kami datang, banyak sekali tamu mengantri di depan masjid. Mulai dari tokoh terkenal, kerabat, hingga orang-orang yang seperti kami. Simpatisan. Mba Ainun lah freepass kami dalam melewati protokoler. Meski begitu, sebagai figuran, tentu saja kami mendapatkan giliran terakhir. Sambil menunggu dibawah pohon mangga, saya mengamati keadaan sekitar.

Rumah ini lumayan besar, dengan sedikit sentuhan jawa. Terutama pada pintu masuknya yang terbuat dari kayu jati berukir. Jendelanya dari jati polos. Beberapa pot bunya diletakkan di depan rumah. Dua buah mobil hitam terparkir agak jauh di depan. Di samping kiri, terbentang lahan kosong yang luas. Sepertinya tidak dimanfaatkan.

Konon, rumah dan tanah ini adalah pemberian dari Pak Harto semasa berkuasanya dulu. Ketika itu kedaannya masih sangat sepi dan gung liwang liwung. Setelah GD jadi presiden, dan jalanan menuju kesana diperbaiki, kawasan ini menjadi ramai dan harga tanah melambung tinggi.

Lamunan saya terhenti saat kami mendapat kabar kemungkinan GD tak bisa dijenguk. Beliau baru saja tertidur. Untungnya, saat kami kehabisan harapan, tiba-tiba ada kabar kalau GD bisa ditemui. Dengan terburu-buru, kami memasuki ruang tamu.

Ruang tamunya besar dan hampir kosong melompong. Tidak banyak perabot di sini. Seset tempat duduk terletak di dekat jendela. Petugas pengawal kepresidenan memanfaatkanya untuk menonton televisi yang dinyalakan tanpa suara. Di ruang ini pula GD tidur.

Dia berbaring di atas lantai yang dilapisi karpet. Begitulah caranya tidur sedari dulu. Kulitnya menghitam akibat proses penumpukan zat besi yang tidak tersaring proses cuci darah selama bertahun-tahun, kurus dan lemah.

Dibuka oleh Mba Ainun yang sudah jadi bagian dari keluarga Ciganjur, satu-satu diantara kami memperkenalkan diri: Yudi, Kang Joko, Omith, saya sendiri. Tidak banyak yang diomongkan kecuali pas bagian Yudi. Sebagai anak Madiun, dia ditanya: " Apanya Semaun le?". Yang ditanya gelagepan menjawab tak begitu jelas. Di belakang, karuan saja kami jadi cekikikan.

Meski dalam keadaan sakit, GD tetap melaksanakan ritual seperti biasa. Bangun setiap jam 4 pagi, memberikan pengajian secara bandongan kepada santri-santri, dan mewajibkan putri-putrinya yang belum menikah untuk "menyetor" sema'an Al Qur'an seminggu sekali.

Itulah tatap muka saya dengan GD. Sekali dan satu-satunya. Setelah itu saya dengar beliau berangsur-angsur sehat. Sukurlah.

Lha kok, tiba-tiba saya mendapatkan kabar, dia telah meninggalkan kita untuk selamanya. Selamat jalan Gus...

18 November 2009

Setahun yang lalu


Hari ini, setahun sudah usia pernikahan kami.
Saya menganggap itu sebagai prestasi.

Ada sedikit cerita tentang mengapa tanggal ini yang kami pilih.
Ya. Bener-bener kami berdua yang memilihnya. Bukan pilihan kedua orang tua kami, apalagi menggunakan rumus-rumus njelimet berpatokan weton dan primbon. Permintaan dari mamanya (Bapak sudah almarhum) cuma satu: akad nikah harus dilaksanakan sebelum dia naik haji. Nah. Rupanya, ada alasan yang baginya sangat prinsip. Seperti banyak orang jawa timur lainnya, mama sudah menyiapkan diri kalau-kalau nanti dipanggil Pengeran di tanah suci sana. Owalah...

Cilakanya, eh ndak ding. Itu berarti kami cuma punya waktu ndak sampe dua bulan. Ya sudah lah. Maka kami pilihlah tanggal itu. Alasannya, cuma karena pada tanggal itu kami berdua bisa cuti dan tanpa diganggu pekerjaan. Sesederhana itu. Kami percaya sepenuhnya, tidak ada yang namanya hari buruk. Manusia lah yang kemudian mempersepsikannya sebagai baik atau buruk. Dan kami percaya setiap hari adalah hari baik.

Nyatanya, setahun berlalu dan kami baik-baik saja. Padahal saya belum bisa
makani, nyandangi dan mapani. Belum bisa makani, wong buktinya dia masih bekerja. Belum sepenuhnya bisa nyandangi, wong duit saya hanya baru cukup untuk hidup saya sendiri. Dan masih tetap ngontrak.

Hebatnya, kami tetap selamet. Karena itu kami merayakannya...

12 November 2009

Singapore #4: Mount Sophia nomor 7


Mount Sophia nomor 7. Sebuah alamat yang kami berempat belum pernah tahu, ke sana lah kami menuju. Mengingat waktu yang sudah larut, maka langsung saja kami menghampiri pangkalan taksi. Ada empat taksi mangkal berjajar di sana. Tak jauh dari situ, dua tiga orang terlihat sedang mengelilingi tong sampah. Merokok. Tebakan saya, mereka orang Indonesia. Selebihnya, sepi.

Secarik kertas berisi alamat kami sodorkan ke tukang taksi dan dia langsung mengiyakan. Ajaib! Sesuatu yang jarang saya jumpai di jakarta.

Dalam perjalanan, secara iseng teman yang duduk di samping sopir bertanya, darimana dia bisa tahu alamat dimaksud. Jawabannya ternyata dari GPS yang terpasang di dashboard mobil. Layarnya seukuran tivi kecil, jauh lebih besar dari GPS versi burung biru di Jakarta. Saya perhatikan, selama perjalanan si supir melakukan aktivitas menerima atau membaca pesan di layar itu, sepintas membaca peta dan berkali-kali mengobrol di telepon (sesuatu yang terasa janggal di Jakarta) plus melayani pertanyaan-pertanyaan kami. Oh iya, argometernya juga tertera di situ.

Kurang dari 30 menit, kami sampai di alamat. Adi sang tuan rumah, teman main rekan sepabrik yang hanya saya kenal lewat jejaring facebook, telah menanti di depan penginapan. Dan kami harus banyak berterima kasih kepadanya atas semua panduannya ke semua tempat tanpa diminta. Dari dia juga saya jadi tahu banyak hal. Berapa yang harus dibayar untuk naik MRT atau bus, dimana lokasi makanan yang halal dan bagaimana sertifikasi halal itu bisa diperoleh, tentang orang-orang kaya Indonesia yang tinggal dan mengendalikan bisnis dari sana, dan terlalu banyak hal yang saya tak bisa ingat satu-satu.

Karena baru sampai selepas tengah malam, kami tak sempat kemana-mana. Kecuali mencari pengganjal perut ke tempat makan terdekat. Hujan deras mengguyur saat kami memutuskan keluar. Salahnya kami, kami pikir tempat terdekat itu ya benar-benar dekat. Lha ternyata jaraknya ada sekiloan lebih. Saat berangkat, tak begitu terasa. Tapi begitu hujan menderas sewaktu pulang, jarak segitu terasa begitu berat. Belum lagi lelah yang mulai menyerang, ngantuk dan belum juga mandi.

Kloter kedua datang sekitar sejam setelah kami selesai makan. Waktu sudah menunjukkan pukul 02:30-an dan mereka kehabisan energi untuk mencari makan. Dan kami harus cepat tidur untuk menyimpan tenaga guna jalan-jalan esok hari. Dua teman kami memisahkan diri menginap di kawasan Arab Street.
*****


Paginya kami baru bisa memperhatikan sekeliling. Penginapan ini dulunya komplek gereja. Ini terlihat jelas dari sebuah salib yang masih bertengger kokoh di puncak aulanya. Kemudian tampat ini beralih fungsi menjadi Kampus Trinity College sekaligus pemondokan mahasiswa. Ya kira-kira mirip asrama mahasiswa Darma Putra di Jogja lah. Bedanya, di sini kamarnya lebih kecil dan ranjangnnya bersusun. Layaknya asrama, di sini juga disediakan dapur kecil, televisi milik bersama dan kamar mandi umum. Bedanya lagi, tersedia air panas dan dingin untuk mandi. Air krannya, sebagaimana standar sana, layak minum. Begitu sterilnya, kata Adi, orang sana cenderung jadi penakut. :P

Mount sophia terletak di perbukitan kecil, dekat dengan The Istana dan favoritnya kebanyakan orang Indonesia, Orchard Road. Mount sophia juga relatif dekat dengan kawasan backpacker di seputaran YMCA. Ke Marina Bay pun tak terlalu jauh. Sebenarnya sih bisa dikatakan hampir kesemua tempat itu relatif dekat. Lha wong singapura itu kecil je. Hal yang sangat saya sukai dari tempat penginapan kami adalah, suasana yang sepi dan pemandangan yang indah.


Berapa harga per malam? Ini dia pertanyaan yang sering di ajukan orang. Di hari terakhir, kami dikenakan SGD 30 per kepala. Ya, sangat murah untuk ukuran sana. Tapi kata teman saya, di Arab Street dan sekitarnya yang termasuk pusat kawasan backpacker, harganya sedikit berbeda. Tapi ya itu, harus mau berbagi dengan orang lain.
- untuk kamar berdelapan, harga perkepala SGD 15
- untuk kamar berenam, harga perkepala SGD 18
- untuk kamar berempat, harga perkepala SGD 21
- untuk kamar berdua, harga perkepala SGD 25
- untuk kamar berdua, kamar madi didalam, harganya beda lagi

Plus gratis sarapan pagi. Oh iya, seringkali harga penginapan di sana belum termasuk biaya registrasi SGD 20. Katanya, untuk uang member yang berlaku selamanya. Entahlah.

Catatan perjalanan 28 Oktober - 01 November 2009

09 November 2009

Singapore #3: Budget Terminal

Belum lama saya tahu, bahwa beberapa bandara menerapkan kebijakan untuk menempatkan maskapai-maskapai penerbangan murahnya khusus di satu terminal. Biasa disebut Budget Terminal, mungkin kependekan dari Low Budget Terminal. Ehtahlah. Pemisahan ini betujuan untuk menghindari penumpukan massa di terminal yang "lebih" mahal. Karena yang namanya murah itu ya biasanya selalu penuh peminat. Belum lagi, seperti disinggung pada tulisan pertama, biasanya penumpang murah itu cenderung pating crenthel banyak bawaan, relatif kurang tertib dan begitulah. Pokoknya dibedakan. Itu kata teman saya sih... Kuala Lumpur sudah menerapkan, Svarnabhumi iya dan Cengkareng sedang dalam proses. Singapura? Sudah pasti lah. Maka begitu pula si macan ini. Di Cengkareng sih masih campur dengan terminal biasa (2 D) dan dalam dalam proses ke terminal 3 (yang nantinya akan dikhususkan untuk penerbangan murah). Eh, masih katanya ding. Sementara di Changi, ya jelas sesuai kelasnya.

Terminal ini kecil, bercat coklat kekuningan, sangat bersih dan terang. Setelah saya perhatikan, terminal ini lebih mirip sebuah gudang yang tinggi dan luas dengan pengamanan ketat. Bentuknya mirip toserba Makro (yang tahunya saya cuma) di Jogja. Layaknya gudang, pilar-pilar bajanya langsung terlihat mata memandang. Selepas pemeriksaan imigrasi, terlihat cuma ada 3 atau empat konter jualan dan sebuah vending machine di sana. Sangat berbeda dengan terminal utama yang apa saja ada. Bahkan menginap di sana pun terasa nyaman. Lha wong semua kebutuhan pokok tersedia je. Yang bayar: makan, minum dan belanja dengan harga yang bisa dikata sama dengan di luar. Sedang yang gratisan, ada kolam renang, pijet kaki dan internet. Di budget terminal, apa yang saya sebut di atas juga ada tapi dalam skala lebih kecil. Tapi untuk urusan menginap, rasanya kok ndak tega rebahan di ubin lantai.

Satu hal lagi yang sangat terasa berbeda dengan terminal utama adalah, begitu keluar pintu terminal, suasananya mirip seperti suatu kota kecil di suatu negeri entah di mana. Jalanan yang sangat lebar, marka jalan yang banyak, pepohonan yang besar-besar dan tinggi serta lampu-lampu yang bertebaran. Dan sangat sepi.



Biarpun kecil, jangan ragukan fasilitasnya. Pertama, seperti sudah disebut didepan, mesin pijet kaki yang bisa dioperasikan sendiri. Kedua, banyak permen di sini. Di imigrasi maupun di bagian informasi yang berada tepat di samping pintu keluar. Toiletnya bagus dan sangat bersih, makanan berlabel halal dari Majelis Ulama Singapore dan ada beberapa taksi menunggu. Oh iya, jalan ke kota harus dicapai melalui terminal utama. Tapi tenang saja, tersedia bus menuju kesana. Gratis.

Berhubung kami ndak paham jalan menuju alamat, sementara waktu sudah mendekati tengah malam, maka kami putuskan menggunakan taksi. Menuju 7 Mount Sophia.

Catatan perjalanan 28 Oktober - 01 November 2009

05 November 2009

Singapura #2: Tiger Airways. Heh? Apanya Supra Fit tuh?

Tiger Airways?

Mendengar nama itu, dahi saya langsung berkerut. Yakin? Salah sebut kali? Ndak pernah denger tuh!

Bahkan sempat saya mengira itu "Thai Girl Airways". Thai Girl, yang biasa dibaca (dan diplesetkan) menjadi Tiger, adalah sebutan untuk wanita penghibur di negeri gajah sana. Tapi masa iya sih pesatuannya mereka sudah mampu memiliki maskapai penerbangan sendiri? Duh! Rasanya terlalu sulit untuk jadi kenyataan.

Namun karena teman seperjalanan dan pasangannya sudah memesan tiket pada maskapai itu, akhirnya saya juga mencari informasinya di internet. Dan ternyata memang ada di www.tigerairways.com. Dia sendiri juga mencoba karena rekomendasi temannya dan belum pernah mencoba sebelumnya. :D

Setelah membandingkan dengan maskapai lain, antara yakin dan tidak, akhirnya saya memesan tiket pergi-pulang untuk saya dan omith. Totalnya USD 118. Jauh lebih murah dibandingkan maskapi murah lainnya. Bahkan cuma separuh dari Singa Udara yang bermoto: Sekarang semua orang bisa terbang.

Tapi ya itu. Harga segitu tanpa bagasi dan nomor kursi. Sebenarnya masih ndak yakin saya. Tapi, ah sudahlah. Kalau pun nanti pesawatnya jelek, waktunya molor-molor dan di atas nanti akan terjadi rebutan kursi, toh itu cuma perjalanan sejam lewat sedikit. Tak jadi soal. Saya pernah mengalaminya sewaktu penerbangan ke Kendari dan selamat.

Oh iya, masih ada satu masalah lagi. Tidak ada perwakilannya di Indonesia. Jadi kalau tiba-tiba pesawatnya tidak datang, ya terima nasib. Salah sendiri jadi orang susah. Hahaha.

Namun itu belum selesai. Keraguan saya bertambah satu lagi setelah tak satu pun diantara kami yang tahu dimana letak terminalnya. Dari mana seharusnya kami naik di bandara Cengkareng? Dan ternyata memang tidak diterakan di tiket mau pun di website-nya. Byuh!
Dan lagi-lagi setelah browsing sana-sini lewat internet, akhirnya kami mendapat informasi tempatnya berada di terminal 2 D. Terpujilah engkau penemu teknologi ini.

Kekhawatiran itu belum juga habis. Loket
boardingnya cuma satu. Itu pun berada jauh di deretan paling ujung. Hmm... sepertinya memang bukan pilihan yang bagus, pikir saya dalam hati. Untungnya, kami mendapatkan nomor tempat duduk bersebelahan dekat koridor. Ndak bisa minta dekat jendela. Ya sudah. Setidaknya adegan rebutan kursi itu ndak bakalan terjadi. Satu risiko terkurangi. Di tiket tertera naiknya dari Gate 4.

Di ruang tunggu, antrian penumpang tumpah ruah. Banyak diantaranya bukan orang Indonesia. Ya jelas lah. Lha wong penerbangan ke luar negeri kok.

Tak lama berselang, terdengar pengumuman dari pengeras suara, penumpang disilakan memasuki pesawat. Maka ritual antrian para fakir segera dimulai. Beragam manusia, dengan berbagai jinjingan bergelantungan karena ga mau rugi, berbaris menuju pesawat.

Dari ujung lorong, saya melihat supirnya. Eh, maksudnya pilotnya. Bule. Ndak penting juga sih. Tapi setidaknya bagi manusia bermental
inlander macem saya, ini bisa mengikis sedikit rasa khawatir.


Dan kekhawatiran saya langsung sirna begitu memasuki pintu pesawat. Pesawatnya baru, berjenis Bus Udara Boeing 737-400. Dindingnya putih dan bersih sekali. Dan yang penting lagi, lampunya hidup semua!!! Belum lagi awak kabinnya yang cantik-cantik dan ganteng. Halah. Pokoknya lebih yahud dari si Singa Udara atau Asia Udara. Apa karena rutenya masih baru? Semoga tidak.

Dari majalah gratisan versi maskapai, saya mendapat informasi tambahan. Maskapai ini baru saja berulang tahun yang kelima sejak pertama kali terbang dari Changi (entah kemana, lupa). Dan lagi-lagi dari Internet, rute CGK-SG ternyata baru dibuka sejak maret 2009 yang lalu (kalau ndak salah).

Satu "cacat" kecil, penumpang tidak diberi minum selama perjalanan yang 1 jam 20 menit itu. Tapi ada sebungkus kecil kacang bawang asin yang enak. Kata temen, ini kacang benar-benar sebuah jebakan
betmen. Disuruh ngemil biar beli kehausan. :P Di atas semua itu, si macan tetep jempol!

Mau?

Catatan perjalanan 28 Oktober - 01 November 2009

Gambal diambil dari sini

Singapore #1: Catatan perjalanan singkat di akhir pekan

Hampir setahun yang lalu saya pernah menjanjikan ke omith untuk sebuah perjalanan ke luar negeri untuk yang kedua. Kenapa bukan dalam negeri? Ya karena saya (seperti kebanyakan orang indonesia lainnya, masih) menganggap luar negeri itu keren, maju dan glamor. Tapi saya ndak muluk-muluk, saya cuma menjanjikan perjalanan murah meriah ala backpacker yang marak itu lho. Tentang kapan dan kemana, saya cuma menjanjikan "nanti".

Berawal dari obrolan iseng-iseng pengin jalan murah-meriah entah kemana, lalu bener-bener dapet tiket yang murah. Jadi, kenapa tidak? Maka, akhir pekan yang lalu (28 Oktober - 01 November 2009), saya dan beberapa rekan sepabrik jalan-jalan ke negeri sebelah.

Walhasil, jadilah kami berdelapan: saya, omith, 5 rekan sepabrik dan seorang teman lain. Penerbangan terbagi dalam dua kloter dengan maskapai berbeda. Kloter pertama berangkat jumat pukul 20:05 WIB dan pulangnya pukul 18:35 waktu negeri singa, sedangkan kloter kedua berangkat sekitar pukul 22:05 WIB dan pulangnya pada jam yang sama waktu Singapore.

Pembagian kloter ini sebenarnya tak disengaja, lebih karena alasan kemurahan biaya. Empat rekan (yang berangkat lebih malam) sudah memesan tiket sebelumya di Jet Airways (tiket berangkat seharga 500 ribuan) dan pulangnya dengan Air Asia (sekitar itu pula). Sementara saya, omith dan 2 rekan lain baru mencari seminggu kemudian, atau seminggu sebelum keberangkatan. Lha, kok jebule ndilalahe kersane ngalah, kami dapet tiket yang lebih murah di Tiger Airways. Cuma separuh (benar-benar separuh) dari harga di atas. Cihuy!

Nah, dari negeri itu saya mencatat beberapa hal-hal kecil yang menurut saya menarik, setidaknya menurut ukuran saya. Rencananya sih saya buat berseri. Untuk menjadi kenang-kenangan yang bisa saya baca ulang suatu saat nani. Tapi ya itu, banyaknya seri nanti bergantung pada ingatan, kesempatan dan tentu saja hasrat menulis.

Jadi, silahkan ditunggu serialnya. :P

Cerita terkait kunjungan pertama ada di sana

Catatan perjalanan 28 Oktober - 01 November 2009

21 Oktober 2009

Muktamar 2009: Blogging for Nothing



Muktamar yang ketiga akan segera digelar! Kapan dan dimana? Baca detil dibawah ini.
Waktu: 20:00 - sampai bosen
Hari, tanggal: Jumat, 23 Oktober 2009
Tempat: Pojokan Bunderan Hotel Indonesia
Agenda: Kumpul-kumpul
Biaya: Rp 2.000,- (boleh diangsur 3 kali)

Suguhan: sudah disiapkan oleh juragan besar Kang Yoyok Putro Kusumo.

Dan seperti biasa, Muktamar Blogger ini digelar sebagai ajang parodi alias lucu-lucuan terhadap acara Pesta Blogger. Makanya tak perlu konfirmasi, biaya yang sangat murah dan tentu saja sajian yang bersahaja. Satu lagi, dilarang tersinggung!

Masih kurang? Ada lagi hal menarik agi Anda yang dari luar Jakarta. Tempat menginap di markas besar Kebon Kacang gratis. Dengan syarat tidak boleh berisik selama tinggal. Oh iya, handuk, sabun, sikat gigi dan sandal jepit bisa dipesan ke saudara Yudhi. Untuk tambahan sangu, silahkan dibicarakan diluar.

Namun sayangnya, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini kami kehabisan ide mengenai kegiatan sosial apa yang bisa dilakukan. Ide yang biasanya juga sekaligus dijadikan sebagai tema Muktamar. Maka dari itu, kemudian muncullah tagline untuk muktamar kali: Blogging for nothing. Alias ndak ngapa-ngapain.

Jadi, silahken datang jika berminat.

Tulisan terkait di nothing, fanabis dan pitik

14 Oktober 2009

Manusia bicara

Sebuah catatan sangat menarik dari kang joko:

Sayyiduna 'Ali berujar:"Al Quran itu tidak bicara, manusia lah yang berbicara atas nama Al Quran(au kama qala)"

13 Oktober 2009

Logika Sederhana

Hujan=rejeki. Hujan berarti bisa menanam padi. Berarti pula bisa makan setahun ke depan. Insya Allah...


Setiap hujan pertama turun, bapak-ibu kami mengucapkan ini. Berulang-ulang. Seolah mereka sedang meyakinkan diri sendiri, bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Sebuah ungkapan yang mecerminkan rasa optimisme, doa, harapan dan sekaligus khawatir.

Semoga panen tahun ini berlimpah ruah.

11 September 2009

Zakat Mal (Bukan Mall Lho Ya...)

Satu-persatu pegawai pabrik dipanggil ke ruangan majikan kemarin siang. Saya termasuk salah satu yang mendapat nomor urut awal. Dan seperti biasa saat dipanggil mendadak, saya sempat deg-degan dan panik. Tapi itu sesaat saja. Rasanya tak ada kesalahan, jadi sedikit tenang.

"Ini dari saya", katanya singkat sambil menyerahkan sebuah amplop putih. Setelah mengucapkan terima kasih, saya berlalu dan berganti giliran orang lain.

"Zakat Mall" tertulis di pojok kanan atas. Sebuah kesalahan kecil, huruf "l" tertulis ganda. Secara bahasa, zakat mal berarti zakat atas harta yang dimiliki. Lha kalau zakat mall? Secara berkelakar, kami sempat menggosipkannya sebagai zakatnya bos dari hasil kebanyakan belanja. Ah, tapi sudahlah. Terlepas dari kesalahan kecil itu, toh maksudnya kan baik. Semoga terliputi berkah atasmu bos...

Saya sempat berpikir, sepertinya ada orang lain yang lebih berhak menerimanya. Bukan karena saya sudah kaya. Bukan. Tapi karena ada yang lebih tidak mampu dari saya. Sebuah nama sudah saya pegang. Mister X yang pengabdiannya luar biasa terhadap sekitar di kampung, tapi sayangnya, ndak punya kemampuan mencari uang. Ya, dia lebih berhak menerima daripada saya.

Kemudian iseng-iseng saya membuka isinya. Mak deg. Byuh! Jumlahnya itu lho. Sungguh menggiurkan bagi tukang wedang seperti saya. Hm... Saya mulai berandai-andai. Seandainya itu saya pakai sendiri. Jumlah segitu sangat lumayan buat menambal biaya mudik dan tetek bengeknya yang seabrek itu. Sangat ingin saya menyimpannya sendiri. Toh si mister itu ndak tahu kalau saya sempat berniat menyerahkan kepadanya. Toh dia juga tetap bisa hidup seperti biasanya. Tapi...

Saya kemudian teringat omongan simbah almarhum: "Jangan kaya orang susah!" Maksudnya, jangan sampai mengambil jatah orang lain. Prinsip yang sama juga diterapkan saat mengeluarkan zakat atas hasil bumi kami. Intinya, zakat adalah perkara yang harus dipegang teguh dan tak ada tawar menawar lagi.

Tapi jumlahnya itu lho mbah... Mbah...

Note: Memang bener, berperang dengan diri sendiri itu terasa lebih berat dan rumit

07 September 2009

Tartil

Tersadar waktunya istirahat siang, malah bikin saya bingung sendiri. Mau makan, puasa. Mau tidur, tak ngantuk. Mau berselancar di dunia maya, sudah mabuk berjuta teks.

Aha! Saya masih punya simpanan. Mendengar bacaan tartil sepertinya bisa jadi terapi yang menarik.

Hm... Rasanya belum terlalu lama masa itu terjadi. Tiap kali mendengar ini, sebuah tempat di belahan timur sana segera tertampil di benak. Sebuah masjid yang belum jadi tersesat di tengah belantara hijau kebun tebu. Orang-orang bergamis, bersarung dan berpeci putih. Di seputar masjid, di sela-sela selasar, di lapangan bola yang menganggur, di bawah pohon-pohon mangga, dan di rumpun-rumpun bambu sepanjang pinggir sungai. Mereka membaca buku magis itu. Berdengung-dengung sepanjang waktu. Pagi, siang, malam, tengah malam. Jumlahnya ribuan. Menciptakan suasana magis yang sulit dilukiskan.

Selama ramadhan, dua pondok besar yang saling berseberangan jalan besar Jombang-Malang itu melebur. Gerbangnya terbuka hingga melewati tengah malam, keduanya bertukar murid, menerima pelawat dari segala penjuru. Orang-orang datang berduyun dari mana-mana berseped onthel. Mereka datang sebelum magrib, dan kembali pada dini hari. Kyai sepuh itu selalu menjadi magnet bagi semuanya.

Saya sendiri bukan bagian dari mereka, meski saya sangat menginginkannya. Ndak punya bekal Nahwu-sharaf, pun memori yang cukup untuk menghafal, cukup menjadi pembatas yang efektif. Saya menempatkan diri sebagai seksi sibuk yang ngider sana ngider sini selayaknya penikmat keramaian pasar malam. Saat bosan menghinggapi, saya ambil sepeda dan berkeliling desa seputaran pondok. Suatu kali pernah sampai ke daerah Kandangan, dan lagi-lagi sepanjang jalan masih didengungkan hal yang sama.

Saya tak pernah jadi bagian penting dari perhelatan itu . Herannya, saya selalu merindukannya. Menjadi pengganggu bagi mereka yang taat.

04 September 2009

Istri Bekerja: untuk apa dan Siapa?

Suatu kali seorang blogger senior panutan saya menanyakan, apa ndak sebaiknya istri berhenti bekerja saja? Jelasnya, apa ndak sebaiknya berhenti selama kuliahnya belum selesai? Biar kuliahnya lebih fokus dan ilmunya lebih dapet gitu. Dengan sedikit menyentil pula dia menegaskan: "mosok kamu ndak bisa mbiayain dia?"

Dengan gelagapan saya menjawab, belum kami pikirkan pakde.

Lama berselang setelah peristiwa itu, kami kembali merenungkan hal ini. Dan jawabannya adalah: tidak. Maksud saya, omith tidak mau berhenti.

Saya sendiri setuju dengan pilihannya dan tidak senang dengan pilihan nganggur karena alasan-alasan berikut:

1. Penghasilan

Faktanya, hidup di kota besar itu butuh biaya besar. Sebenarnya kalo mau dipaksa, bisa saja sih penghasilan saya dipakai untuk hidup kami berdua. Dan berdasarkan pengalaman, saya bisa hidup dengan standar yang jauh lebih minim dari yang saya jalani sekarang. Hanya saja, rasanya kok ndak manusiawi gitu.

Dengan punya penghasilan pula artinya dia bisa menghidupi, menyenangkan dirinya sendiri tanpa merepotkan saya. Orang kampung bilang, supaya bisa beli bedak dan gincunya sendiri. Nah, di sini bisa jadi muncul anggapan kalau saya mau enaknya saja, ndak bertanggung jawab sebagai laki-laki. Tapi apa iya kaya gitu masih berlaku? Atau kalau pun masih berlaku, apa perlu kami mendengarkan orang lain? Toh nyatanya ndak ada orang kenyang karena mengikuti orang lain kan? :P

Sukur-sukur sih dia bisa menabung untuk kebaikan kami ke depan, tapi kami sepakat untuk sama sekali tak menargetkan itu. Di sini berlaku perjanjian: Uang saya adalah uang dia, uang dia ya uang dia sendiri.

2. Dia butuh pergaulan

Dengan bergaul dia akan membuka wawasan dan sekaligus berkompetisi dengan orang lain. Dengan alasan itu pula dia akan tetap merawat diri agar tetap menarik. Kalo ndak percaya, cobalah iseng bilang ke salah satu rekanita di sekitar anda: "Kamu kok jadi gendut gitu ya?". Perhatikan reaksinya. Bisa jadi dia akan melupakan makan siangnya (kalau lagi ndak ramadhan) dan besoknya jadi rajin puasa. :P

Bagi saya ini jelas penting.

3. Bahaya Tikus Werog Syndrome

Saya kok ndak bisa mbayangin seorang istri yang cuma ngendon di rumah dan beraktifitas terbatas dalam radius yang cuma meteran. Perkiraan saya, waktunya pasti habis untuk menonton belasan sinetron aneh bin ajaib itu. Dan lebih sulit lagi dibayangkan itu berlangsung selama berpuluh tahun. Akibatnya, dia tidak merawat diri, jadi tidak menarik dan menggendut.

Ini benar-benar terjadi di sekitar lingkungan kos saya yang dulu. Ibu-ibu dan anak-anak gadis tidak bekerja berjejer di pinggir gang. Pagi, siang, sore, malam, bahkan menjelang tengah malam. Hampir tiap kali lewat, selalu saya lihat mereka sendang melahap sesuatu. Teman saya menyebutnya: Sindrom Tikus Werog.

Ini bagian yang paling sulit saya bayangkan.

4. Karena belum punya anak

Entah kalo sudah punya, rejeki lebih dari cukup, sudah punya rumah, kendaraan pribadi dan sejumlah tabungan.

Ngarep kan boleh-boleh saja to? hehehehe.

Jadi, kuliahnya gimana? Mbuh.

31 Agustus 2009

Tentang tamu-tamu tengah malam

"Mau makan atau medang kopi, ambil sendiri. Jangan lupa cuci wadah dan gelas-gelas itu setelahnya."

Rumah kami memiliki dapur yang tak pernah dikunci sepanjang waktu. Letaknya persis disamping rumah. Dan setiap malam, dapur itu disambangi orang. Jumlahnya 2-3 orang. Mereka datang sekitar pertengahan dan lebih sering selepas tengah malam. Tapi mereka bukan maling. Mereka cuma mengangkuti makanan yang ada di meja, dan atau di lemari dapur. Semuanya tanpa sisa.

Mereka itu anak-anak pesantren seberang rumah. Anak-anak yang mondok karena tidak mampu sekolah formal. Sebagian besar berasal dari seputaran Jawa saja, tapi ada beberapa juga dari Sumantra dan Sulawesi. Sedang untuk menghidupi diri dan memenuhi kebutuhan, mereka bekerja di siang hari. Nah, saat pekerjaan dan beras tak ada lagi, tak jarang mereka minta bantuan ke kami. Silih berganti orang yang mondok, kebiasaan ini terus berlangsung.

Ibu sangat suka memasak. Masak apa saja dalam jumlah berlebih, tak mau pas apalagi kurang. Sudah gawan bayi, kata bapak. Meski sudah dihitung semua jumlah anggota keluarga plus rewang atau pekerja tambahan lain, tak segan-segan ibu masih melebihkan porsi. Toh nanti bisa dikasihkan ke orang lain, begitu ibu selalu beralasan.

Dan nyatanya, selalu, yang menghabiskan ya anak-anak itu. Siapa yang datang semalam baru kami ketahui saat mereka mengembalikan peralatan makan di pagi hari.

Entah sudah berlangsung berapa lama kebiasaan ini. Saya dan saudara tak tahu, ibu tak ingat, bapak juga begitu. Yang jelas, jauh sebelum saya lahir. Tradisi ini diwariskan oleh simbah. Simbah entah darimana. Lha wong wimbah itu bukan asli Bangsari je. Sehingga tradisi keluarganya yang dari timur tidak banyak saya pahami.

Sering terjadi tamu-tamu yang menginap, di pagi hari, bilang bahwa semalaman mereka bolak balik terjaga. Mereka takut dengan suara-suara orang datang dan pergi sepanjang malam. Begitu rutinnya, kami lupa memberi tahu tentang kebiasaan ini. Bahkan besan dan mantu juga pernah mengalaminya.

Dan sesaat sebelum dan sesudah lebaran, biasanya ibu mulai mengeluh. Tidak ada lagi yang bisa menghabiskan kelebihan itu. Bertumpuk makanan itu akhirnya cuma menjadi aking. Anak-anak itu pulang kampung. Yang tidak mudik pun, mengungsi entah kemana.

Apa ndak pernah ada maling? Pernah. Seingatku sekali pernah ada maling yang makan, pup di depan pawon, dan mencuri sepeda kami. Sekali itu saja.

28 Agustus 2009

Pisang

Ini pengalaman teman saya. Selama 19 tahun terakhir dia tak pernah minum obat. Hebat ya? Begitulah.

Lalu apa rahasianya? Rahasianya ada di pisang. Ya, pisang. Pisang ambon, pisang bandung, pisang raja, pisang apa saja.

Lha apa selama itu ndak pernah sakit? Ya pernah lah. Sesekali masuk angin atau terserang flu, tentu saja masih.

Lalu gimana terapinya kalo ndak makan obat? Ya itu tadi, mengkonsumsi pisang. Kira-kira tiga-empat buah cukuplah. Dan tentu saja istirahat yang cukup.

Penjelasannya gimana tuh? Ehm, begini. Pisang itu mengandung berbagai macam zat yang baik sekali bagi tubuh. Antibiotik alaminya lebih tinggi dari produk obat keluaran apotik. Kaliumnya berguna untuk... untuk... untuk apa ya? Lupa. Intinya, manfaatkanlah fasilitas pencarian Google.

Saya sendiri sudah mencoba untuk kasus sedikit pilek, bersin-bersin, meriang dan masup angin. Dua kali mencoba dan dan sejauh ini berhasil.

Peringatan: Jangan percaya sama saya, karena itu musyrik. Tapi silahkan buktikan sendiri..

26 Agustus 2009

Puasa: Untuk kelima kalinya saya jalani di kota ini

Setiap ramadhan menjelang, selalu saja ingatan buruk ini terulang.

Tepat tiga hari sebelum puasa empat tahun yang lalu, saya datang ke kota ini. Menenteng sebuah tas punggung berisi dua setel baju dan sebuah kaos. Dengan sangu 120 ribu hasil ngobyek di kampus, saya beli tiket kereta bisnis Senja Utama jurusan Pasar Senen dari Stasiun Tugu. Harganya delapan puluh ribu pas. Agak terlalu bergaya untuk seorang pangangguran sebenarnya. Tapi, saya pikir daripada nanti uyel-uyelan dan semalaman ndak tidur lalu tepar pas wawancara, lebih baik saya cari sedikit kenyamanan.

Tiba di Stasiun Senen pada senin pagi sekitar pukul enam kurang sedikit. Tujuan pertama adalah Kang Tabah, teman sealmamater yang ngontrak di seputaran pasar mampang. Niat awalnya sih sekedar menumpang mandi dan istirahat sebentar. Juga nebeng sarapan kalo ada. Eh, akhirnya plus penginapan selama empat hari (sebelum dapat tumpangan di tempat lain). Masih sda lagi, plus makan pagi dan malam selama tinggal disitu. Sungguh tamu yang merepotkan. Terberkatilah engkau dab...

Sehabis mandi dan sarapan, saya dipandu untuk menuju tempat wawancara. Di sebuah gedung hijau di dekat pasar Mampang. Singkat cerita, saya diterima. Agak heran juga kok saya bisa diterima, tapi nasib baik sudah sewajarnya disukuri bukan?

Sempat ditawari untuk kembali ke Jogja, tapi saya tolak. Alasan utamanya ya karena uang di kantong tinggal 20 ribu perak. Dus, jadilah saya bagian dari kota ini.

Hari pertama puasa, saya meneken kontrak. Tugas pertama, saya ditempatkan di seputaran monas. Ya begitulah, sehingga setiap hari harus bolak-balik Mampang-Monas via blok M (belum tahu rute lain waktu itu).

Disinilah kehidupan jalanan Jakarta yang sebenarnya saya rasakan. Jalanannya macet ruwet bukan main. Perjalanan dari seputaran monas ke Mampang prapatan saja membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam. Itu pun dalam keadaan yang panas, penuh bau asap kendaraan dan berdiri. Jangan cuma bayangkan, silahkan rasakan sendiri.

Sepanjang jalan, saya saksikan ribuan orang kleleran setiap saat menunggu angkutan. Pagi, sore hingga malam yang larut. Sungguh pemandangan yang bikin pening kepala.

Belum lagi armada angkutan umum yang buruk. Tua, bopeng-bopeng, tempat duduk yang kotor dan bunyi-bunyian yang ndak njelas saat mobil berjalan. Herannya, ini terjadi di Ibukota, Bung!.

Kejutan lainnya yaitu jam kerja yang panjang dan melelahkan. Tak peduli sudah maghrib dan malam beranjak, pekerjaan tak juga berhenti mengalir. Seingatku sabtu-minggu pun tak pernah libur. Alasannya, ngejar target lebaran. Pfiuh. Sepertinya semua orang gila kerja disini. Dan dengan aktifitas yang demikian, praktis selama puasa itu saya cuma sempat tiga kali tarwih.

Belum lagi bagaimana rekosonya sewaktu mudik. Byuh.

Intinya, Jakarta itu wassalam deh.

Bapak dan Ibu yang saya ceritai berkali-kali mengelus dada. Sampai dengan sebuah pertanyaan:
"Kamu digaji berapa?"
"Sekian koma sekian"

Dan tiba-tiba saja raut mukanya cerah gembira. Dengan sedikit berbisik, ibu berkata:
"Itu sudah cukup untuk menghidupi seorang istri le..."

Gubrak!

Catatan: Kelak di kemudian hari saya baru tahu Jakarta memang lebih gila dari biasanya selama bulan puasa.

22 Agustus 2009

Bisnis Jancuk

Dalam penerbangan ke Medan kemarin, seorang bapak-bapak duduk di samping saya. Perawakannya kecil, berjenggot jarang, berkulit keling, bergigi putih dan sedikit tonggos. Caranya berbicara biasa saja. Begitupun apa yang di kenakan dan bahasa tubuhnya terlihat seperti orang kebanyakan.

Dia mengaku kelahiran Madiun dan sedang dalam perjalanan menuju tempat tinggal keluarganya sejak bertransmigrasi berpuluh tahun yang lalu, Balikpapan. Yah, daripada bosan menunggu selama 3 jam ke depan, saya mengiyakan saja ajakannya untuk ngobrol. Dengan semangat 45, segeralah meluncur berbagai ceritanya.

Dia baru saja balik dari Jambi, melihat perkembangan cabangnya yang baru. Dua bulan sebelumnya dia sempat ke Kuala Lumpur, melaporkan perkembangan bisnisnya ke kantor pusat. Sampai disini, dia masih belum mau menceritakan apa bisnis utamanya. Oke, saya ikuti saja apa maunya dan lebih banyak diam selama dia bercerita.

Kemudian ceritanya beralih ke masa kuliahnya dulu di Jogja. Tahun 1989 dia menjalani kuliah di sebuah akademi komputer dengan keahlian pemrograman. Maka bisa ditebak, awal perjalanan karirnya tentu tak jauh dari situ. Masih di Jogja juga, dia bekerja di sebuah perusahaan kecil dengan gaji yang, menurutnya, pas pasan. Semuanya berlangsung rutin sampai dengan tahun keempat.

Saat itu dia merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Badan pegal-pegal, mudah lelah, emosi tidak stabil, maag yang mulai akut, sering sakit-sakitan dan lain-lain. Singkat kata, setelah mendapat konsultasi dari seorang teman, dia mengkonsumsi sebuah produk yang kata temennya itu bagus untuk kesehatan. Pendeknya, dia sembuh total dan penuh gairah. halah.

Kebetulan, saat mudik ke Balikpapan dia bertemu dengan teman yang memiliki keluhan sama. Dari sinilah kemudian dia memulai bisnis ini dengan masih tetap bekerja di perusahaan yang lama. Dua tahun berlalu, penghasilan di bisnis ini sudah melampaui gajinya sebagai programmer. Maka dia memutuskan keluar dan pulang kampung.

Di Balikpapan, dengan memanfaatkan gerai toko keluarga, bisnisnya berkembang pesat hingga kemudian dia membuka cabang di berbagai kota. Jambi yang saya ceritakan di awal adalah cabangnya yang ke-7. Hampir kesemua penanggung jawab cabang itu adalah mantan rekan-rekannya di Jogja dulu.

Setelah itu, tak lupa pula dia menawari siapa tahu saya berminat. "Cabang Cilacap belum ada lho...", ucapnya penuh tekanan.

Dari sinilah kemudian dia mulai sedikit menguak apa bisnis utamanya. Tubuh kita menerima racun dari makanan, udara, air dan sebagainya. Dan semua itu harus dibersihkan agar tubuh tetap sehat. Itulah mengapa produk ini sangat dibutuhkan tubuh kita, apalagi bagi yang tinggal di kota besar seperti Jakarta.

Cara kerjanya begini. Pertama, tubuh kita di-Cleansing untuk membuang semua racun dan oksidan. Setelah bersih, barulah tubuh di-Balancing. Pada tingkat yang lebih lanjut di-Activating mengaktifkan sel-sel baru agar kualitas hidup menjadi lebih baik. Kira-kira begitu, kesimpulannya di akhir presentasi.

"Jadi, bisnisnya apa?", tanya saya
"MLM", jawabnya bersemangat.
"Jancuk!", umpat saya sembari ngacir.

20 Agustus 2009

Linggis: Les Nginggris untuk Pelahap Telo

Terus terang saya akui, kemampuan berbahasa inggris saya mangsih kacau balau. Sampai sekarang tentu saja. Secara teori (pakai mikir dulu tapinya) bisalah membedakan antara present, past dan future tense. Tapi ya itu cuma teori. Kalo sudah harus ngomong, apalagi berhadapan langsung dengan penutur asli, semua teori itu amblas entah kemana. Belum lagi aneka kombinasi kalimat-kalimat bentukannya, wassalam.

Suatu ketika saya kebagian bikin wedang di bali. Waktu itu acaranya seminar buat para bos instansi besar gitu. Pokoknya elit lah. Wong seminarnya aja make boso inggris. Tapi dasarnya orang kita yang tak mahir, ya sebagian besar peserta ga paham. Buktinya, mereka masih nempelin alat penerjemah di kuping sepanjang hari. Sesekali saya lihat mereka lepas. Tadinya saya pikir mereka mau mendengarkan penjelasan dalam bahasa inggrisnya langsung. Lha, jebulnya mereka cuma mau tidur di kursi. Ga bisa ngantuk kalo make alat itu, kata seorang peserta kepada saya. :P

Saya sendiri yang cuma tukang wedang, tentu saja tak dikasih. Lagian saya cuma jadi penyedia minum di seminar ini. Jadi ya saya bisa lebih ngantuk dari para peserta.

Ndilalah kersane Ngalah, pas rehat, lha itu pembicara kok malah ngajak ngobrol. Celingak celinguk ngga ada orang lain di samping saya, ya terpaksalah saya layani ajakan dia. Si bule itu malah terkekeh-kekeh dan beberapa kali mengerut kening mencoba memahami apa yang saya katakan. Mbuh lah. Pokoke slamet. Dia ndak tahu kalau saya kemringet gemrobyos setelahnya.

Di lain ketika saat nyoba jadi TKI di negeri tetangga, saya sempat tengsin berat dengan petugas kebersihan di bandara. Waktu itu saya nanya gimana caranya ke daerah yang hendak saya tuju. Dan dengan lancarnya dia, seorang ibu-ibu tua yang jalannya sudah tidak tangkas lagi, cas cis cus ngomong boso inggis. Sekalipun itu cuma Singlish (Inggris gaya Singapura, yang bagi mereka yang paham Inggris dianggap sangat berantakan), toh saya anggap itu sudah hebat. Belakangan saya baru tau kalau Singlish itu bahasa mereka sehar-hari. Ya terang aja mereka lancar.

Di lain ketika di negeri gajah, saya sempat bingung juga waktu mau ngomong sama pemandu wisata. Ealah, jebul kemampuan bahasa Inggris mereka lebih amburadul dari saya. Belum lagi pelafalan yang aduh, sulit sekali dipahami. Sebagai contoh, Svarnabhumi dibaca Swannabuum. Bus dibaca Bat, sama dengan mata uang mereka. Maka terjadilah percakapan yang aneh bin ajaib di tepi pantai ini.

Saya: We want around around in old phuket mister. how do you take our rombongan? seven people all
Dia: Oh, no problem. I have a minibath. only 600 bath for you.
Kami: ???

Aha! Di sini kemampuan saya terlihat bagus sekali. Puji Tuhan...

Suatu ketika saya setengah mengeluh ke teman karib yang saya anggep pinter. Eh, dia malah balik mengejek saya: "Wong lidahmu bisanya cuma dijejeli telo kok mau belajar nginggris? Ntar kena rematik malah repot lho...".

Byuh!

Didedikasikan untuk kelas linggis di langsat yang digawangi oleh Al Mukarrom Guru Pito Al Nggilani

19 Agustus 2009

Medan

Sebelum keberangkatan, seorang kawan dari Medan bilang ke saya: "Jangan pernah mengharapkan pelayanan yang baik di Medan".

Dengan menggunakan penerbangan Emprit Airline seperti pada seri pertama, saya menempuh perjalan malam ke sana. Satu jam lima puluh delapan menit, menurut pengumuman dari kokpit, sedikit lebih lama dari penerbangan ke Temasek.

Berikut beberapa catata menarik selama 3 hari disana.

1. Bandaranya terletak di tengah-tengah pemukiman padat penduduk. Saya yang terbangun pada saat pesawat hendak turun, terkaget-kaget dengan adanya pemukiman yang terlihat dekat sekali. Pesawat sepertinya hendak mendarat di atap-atap.

Bandara ini kecil saja. Begitu kecilnya, saat turun pesawat, penumpang dibiarkan jalan kaki melintasi landasan pacu sampai ke bangunan bandara. Dari kaki pesawat bangunan ini terlihat seperti rumah sakit daerah atau polsek-polsek di pulau Jawa. Konon bangunan ini adalah bangunan baru setelah yang sebelumnya terbakar.

2. Bandara penuh asap rokok. Ini hal kedua yang mengagetkan saya. Baru saja mendekat ke pintu masuk pengambilan barang, asap rokok langsung terasa. Ruangan berkabut. Pekat sekali. Rupanya di pintu keluar, barisan penjemput, sopir taksi dan para kuli angkut saling berjubel sambil mengepulkan asap.. Belum lagi perokok dalam ruangan. Sebagian penumpang sembari menunggu barang dan juga para petugas. Petugas? Ya, mereka itu. Pengambilan bagasi yang cuma beberapa saat itu terasa menyebalkan sekali.

Dan soal merokok, hotel berbintang pun tak luput dari kebiasaan ini. Bahkan liftnya masih berasap saat saya naik ke lantai 6. Di toilet ballroomnya pun menyediakan asbak sebesar gentong. Duh!

3. Tak ada taksi berargo di bandara. Bahkan mungkin di seluruh kota medan. Ongkos ditentukan berdasarkan jarak. Yang sayangnya bagi orang luar malah terasa membingungkan.

4. Kejutan lainnya, banyak perempuan malam beredar persis di depan hotel. Hotel berbintang lima Bung!

5. Di hari kedua hotel mati lampu. Tak lama memang, cuma sekitar 5 menit. Tapi ini terjadi di hotel bagus. Aneh bin ajaib.

6. Tata kotanya membingunkan. Bangunan-bangunan kuno memang bertebaran di sana sini. Sayangnya, tidak terawat atau malah dirombak dengan gaya yang aneh sekali.

Dengan begitu banyak keajaiban, saya mengabari kawan saya itu. Jawaban dia pendek saja: "Ini Medan Bung! :P". Saya sedikit sok dan baru tersadarkan. Oh, jadi begitu maksudnya ungkapan itu. Pantas saja kalimat ini begitu populer dan fenomenal. Dengan kata lain, anda harus maklum.

Meski begitu, tak semuanya mengecewakan.

Kota ini kaya sekali dengan aneka ragam makanan yang layak santap. Mulai dari bika ambon dan bolu meranti yang namanya sudah menasional plus beragam jiplakannya, makanan laut, tahu isi di kampung keling dan berbagai masakan kaum peranakan. Dan semua itu bisa Anda dapatkan dengan harga yang jauh lebih murah dari Jakarta atau Surabaya. Oh iya, masih ada lagi. Kedai-kedai duren di pinggir-pinggir jalan.

Untuk yang terakhir ini, sungguh maut! Sebut saja yang pahit atau yang manis, penjual dengan sigap menyiapkan pesanan Anda. Tidak bagus, tinggal ganti saja tanpa biaya tambahan. Faktanya, tidak pernah saya temukan pembeli yang kecewa dengan duren yang disajikan.

Jika Anda minta durennya dikemas sebagai oleh-oleh untuk dibawa ke Jakarta, Anda boleh makan sekuat mulut mengunyah sekuat perut menampung. Yang terakhir ini berikan secara cuma cuma alias gratis!

Nah, ini baru Medan Bung!

02 Agustus 2009

Update

Semalam, di wetiga, seorang kawan mengeluhkan dunia blogosphere yang menurutnya kini tak lagi asyik. Tepatnya, sepi. Ini semua gara-gara fesbuk, katanya.

Aha! Inilah saat yang saya sukai. Sebagai orang dengan tingkat kepercayaan diri yang kurang bagus, saat sepi seperti ini, justru terasa lebik asyik. Setidaknya, saya tak perlu merasa kurang kualitas. Lha wong ga ada yang baca kok.

Maka, dengan ini saya ngupdate. Sayangnya, belum ada bahan. :P

09 Juni 2009

Kota Balap

Mungkin cuma di kota ini, balap massal (yang barangkali terbesar di dunia) berlangsung setiap hari.

Begitulah. Setelah pindah ke tempat baru, saya baru "merasakan" jakarta yang sesunguhnya. Ya di jalanannya itu, terutama di pagi hari. Meskipun itu hanya berlangsung tak sampai setengah jam tiap hari kerja. Deru ribuan mesin kendaraan sepertinya tak kalah dengan raungan balap di televisi. Memaksa jantung para pelintas berdetak lebih cepat.

Konon katanya , kota ini dihuni 13 juta orang di malam hari dan menjadi dua kali lipatnya di siang hari. Bisa dibayangkan, berapa juta orang berseliweran di jalanan setiap saat. Kendaraan mengalir seperti air bah. Sesekali aliran mengecil, sesekali meluap.

Namun, justru di situlah asyiknya menjadi bagian dari kota ini. Setidaknya, saya coba anggap begitu. Lha daripada capek-capek mikirin macet, kan mending dianggap hiburan aja. Biar agak mendingan lah.

Mengendarai sepeda motor, saya cuma bisa menggeber laju hingga 40-an km per jam. Lebih dari itu, saya takut. Dan karena laju yang lambat itu, saya bisa melihat sisi yang jarang saya perhatikan. Baliho-baliho raksasa, gedung-gedung tinggi yang megah plus yang tidak selesai-selesai dari kapan tahu, dll yang ternyata tak jelas polanya. Hampir semuanya terlihat kusam. Bahkan daun-daun pohon di sepanjang jalannya juga terlihat menghitam. Beda banget dengan Singapura atau bangkok misalnya (jelas ga sekelas). Juga ternyata jalanan protokol kita tak begitu mulus.

Karena laju yang menyiput itu pula, otomatis saya selalu disalip pengendara lain. Motor, mobil, bus, angkot dan bajaj. Praktis cuma tukang sayur yang bisa salip. Dan di situ pula saya merasakan denyut kota ini yang begitu kencang.

Saya suka memperhatikan barisan sepeda motor yang mendominasi jalanan. Dengan helm besar berkaca hitam plus jaket tebal berwarna gelap, mereka seperti barisan dementor dalam film Harry sang penyihir. Sementara yang tidak, seperti sudah diberi instruksi entah oleh siapa, mereka memasang muka datar, kaku dan dingin. Tak jarang terlihat masih ada sisa kantuk di wajahnya. Sesekali saya lihat ibu-ibu berdandan di dalam mobil.

Kesemuanya dalam ketergesaan. Saling berlomba menyalip apa saja yang di depannya. Beradu cepat, beradu balap. Gas pol rem pol. Begitu aliran sedikit melambat, bunyi klakson segera menggema. Sedikit-sedikit tet. Sedikit-sedikit tet.

Kadang-kadang saya berpikir, jangan-jangan klakson-klakson itu memang tak berguna. Lha gimana engga coba, wong kendaraan ada di segala penjuru gitu. Mau digimanain juga ya tetap saja jalanan penuh alias macet. Jadi, sepertinya ritual bunyi klakson bersaut-sautan itu muspro. Herannya, kok ya bisa jadi tradisi massal. Ngga ada yang ngasih perintah. Pun ngga ada yang ngajarin.

Atau, kadang saya malah curiga jangan-jangan klakson itu sebenarnya menggambarkan ketakutan si pengendara itu sendiri. Takut terlambat. Wah, kalau gitu ada tambahan hantu baru dari sekian yang sudah di kota ini. Anehnya, ketakutan itu kok bisa massal gitu ya? Embuh.

Saya sendiri sih kurang begitu peduli. Alon-alon waton kelakon (kira-kira berarti: biar lambat asal selamat) terasa lebih nyaman. Dan nyatanya ya cuma sesekali saja telat. Biarin.

Tapi benarkah ketergesaan itu disebabkan ketakutan terlambat? Sepertinya sih tidak. Buktinya, di sore hari pun mereka berperilaku sama. Lebih dahsyat malahan. Sebagai ilustrasi, kalau di pagi hari saya cuma butuh waktu 25-an menit, di sore hari butuh waktu yang hampir separuh lebih lama dari itu. Eh, tapi itu kan plus njemput bini ding. Padahal (menurut logika saya) seharusnya kita sudah ngga perlu risau mikirin kerja lagi lho. Artinya, tinggal santainya saja lah. Tapi yo mbuh. Wong logika saya ndak nyampe.

Jadi, sebenarnya apa yang membuat penduduk kota ini begitu tergesa?

Embuh (lagi). Yang penting, jangan sampai saya menjadi seperti itu. Menjadi pribadi-pribadi yang tergesa. Lebih cilakanya lagi, menjadi pribadi yang selalu diburu-buru hantu kota ini.

Semoga saja tidak. Werrrrr!


foto diambil dari sini.

03 Juni 2009

Bebaskan Ibu Prita!



Sekembali dari pengasingan, saya dikejutkan oleh 2 berita heboh: Manohara dan Ibu Prita. Untuk yang pertama, ah, sudahlah. Tayangan berulang hampir sepanjang hari itu bukan saja bikin bosan, juga eneg. Saya ndak yakin masih ada yang kuat menerima pemberitaannya. Belum lagi adanya isu bahwa berita dalam kasus ini ngga semuanya benar. Woh! Untunglah tak ada tipi di rumah kontrakan kami. hehehe.

Untuk kasus kedua, menurut saya ini sungguh telah menodai rasa keadilan. Lha gimana engga? Orang komplain tentang pelayanan Rumah Sakit (yang katanya bertaraf internasional) kok malah dipenjara? Bukankah sudah menjadi hal yang jamak bila keluhan ketidak-puasan dilayangkan ke milis atau surat pembaca media besar? Sungguh aneh bin ajaib.

Herannya, berita tentang kasus ini "cuma" muncul di internet dan sebagian koran. Sungguh berbeda dengan pemberitaan kasus pertama. Sepertinya ada yang salah dengan media kita. Ah, sudahlah.

Kembali ke soal Ibu Prita. Bukankah selama ini juga banyak kasus serupa yang justru karena diselesaikan dengan baik, malah bisa menjadi cara promosi yang jauh lebih effektif? Sepertinya dalam hal ini pihak RS Omni tidak bisa bermain cantik.

Hal yang kemudian saya tangkap adalah RS Omni bertindak diluar batas, sama sekali tidak elegan dan sangat arogan. Jadi, jangan salahkan ibu Prita jika kemudian citra yang muncul di benak publik adalah: Omni memang tak layak kunjung.

Nah, lho!

20 Mei 2009

Sing Jembar Segarane

"Telpun saya kok ga diangkat?", ketus suara seorang pelangggan di ujung seberang sana.

Saya pun terpaksa menjelaskan, bahwa dalam beberapa kasus saya harus multi tasking dan multi asking. Dan berpindah-pindah tempat. Dan ngleremke ati. Sehingga tak mungkin semua telpun bisa saya angkat. Lagian sih, telponnya ke telepon pribadi.

Apa? Pribadi? Emang ada batas ruang pribadi? Kami tuh bayar bukan untuk urusan pribadi tauk. Huh!

Begitulah. Pelanggan terkadang tidak (mau) mengerti, bahwa pelayan punya kemampuan terbatas. Bahkan dalam keadaan fit seratus persen sekali pun. Tak mungkin seseorang bisa melayani lebih dari inderanya sendiri. Tak mungkin orang menerima telpun dua atau lebih sekaligus. Mustahal. Belum lagi kenyataan bahwa pekerja mana pun kan tidak mungkin fit terus menerus. Ada yang namanya capek, lagi tidak happy, tabungan menipis, kos yang semalam bocor, bisul yang menyembul tadi pagi de el el. Intinya, pelayan bukan superman.

Ya bagi-bagi tugas dong. Kami kan bayar, ngga gratis. Enak aja kamu ngelak.

Lha situ ngapain maunya tilpun ama saya kalo dah tau harus bagi-bagi tugas? Emangnya ga bisa dilayani orang lain apa?

Plak! Bluk! Plak! Mau dipecat kamu?

30 April 2009

Restorasi

Entah bagaimana ceritanya, kok tempat makan di kereta api sampai disebut sebagai restorasi. Menurut saya sih artinya ya perbaikan. Tapi siapa sangka ternyata KBBI Daring juga mengakui makna tersebut dengan definisi: “gerbong kereta api yg dijadikan restoran”. Saya menduga ini sebagai serapan dari kesalah-kaprahan dari jaman baheula. Kalau pun dugaan saya benar, biarlah salah kaprah ini tetap saya lestarikan.

Dan entah dimulai dari kapan, restorasi telah menjadi tempat berbagai kegiatan biasa berlangsung. Yang paling sering tentu saja urusan perut: makan, minum, atau ngerokok. Di luar urusan perut pun ada. Minta pijit, bisa. Ngecas telepon genggam bisa. Yang ini paling banter cukup lima ribu perak. Bantal untuk ganjalan punggung bertumpuk-tumpuk menggunung ada di sini.

Transaksi lain yang juga jamak adalah beli tempat duduk. Kalau Anda Cuma berhasil mendapatkan tiket tanpa tempat duduk (TD), cobalah tanyakan pada petugas di restorasi. Dengan sumringah petugas akan memberi tahu. Dijamin. Tak peduli kelas ekonomi, bisnis dan eksekutif, hampir bisa dipastikan tersedia itu yang tuan dan nyonya kehendaki. Asal harga cocok, cingcai lah.

Hal unik lainnya, kita bisa minta diberhentikan di mana pun kita mau. Tinggal bilang saja. Di tengah persawahan sekali pun bisa dilayani. Dengan catatan, akan lebih mudah jika perjalanan malam. Pokoknya: lu minta, gua ada. Setidaknya begitulah yang pernah saya lakukan.

Dan fungsi yang paling umum, ini favorit saya, restorasi menjadi tempat ngobrol dan bergosip. Yang ini sih biasanya muncul karena kebutuhan akan teman ngopi dan merokok. Apalagi untuk kereta eksekutif (kalau yang ini saya baru sekali seumur hidup) yang berpendingin dan tak berjendela, restorasi menjadi surga bagi para ahli hisap. Para pecandu berat bahkan cuma duduk di restorasi di sepanjang perjalanan.

Jangan salah! Gosip di sini seringkali lebih bermutu daripada sajian dialog politik basi yang ditayangkan televisi lho. Dalam perjalanan ke jakarta beberapa waktu yang lalu, saya menemukannya.

Tiga orang (dua senior, satu yunior) dari kesatuan berbeda saling ngrasani para petinggi yang memobilisasi para serdadu guna kepentingan politik. Efeknya, kesatuan terpecah-pecah dalam beberapa kubu. Tentang penculikan mahasiswa di masa lalu, tentang campur tangan mereka dalam berbagai konflik di daerah, juga tentang siapa saja pelaku pembuatan uang palsu dari waktu ke waktu.

Juga tentang seorang konglomerat berinisial TW yang rajin mengadakan pesta dan membagi-bagikan uang kepada semua (ya semua) orang di Mabes AD dengan jumlah hingga milyaran rupiah setiap minggunya. Si yunior dengan terang-terangan mengatakan menerima setidaknya sejuta ripis setiap minggunya. Itulah sebabnya, menurut dia, bisnis judinya tak pernah tersentuh hukum. Dia pula yang ikut mensponsori penggulingan seorang presiden di masa lalu karena dia mencoba menggusik bisnis haramnya.

“Saya yakin, di 2014 nanti dia akan mengincar posisi RI satu!”, katanya meyakinkan.

Yah, namanya juga gosip. Tentang kebenarannya silahkan pikirkan sendiri.

28 April 2009

BHI no 13: Muhammad Rohibun


Nama lengkapnya Muhammad Rohibun. Rumahnya cuma berselisih satu rumah plus sebuah jalan dari tempat tinggal saya di kampung. Ya kira-kira berjarak seratusan meter.

Selepas sekolah menengah atas di Sidareja, sebuah kota kecamatan berjarak tiga kilo kayuhan sepeda plus setengah jam naik bus, dia merantau ke Jakarta. Prestasi terbaiknya di sekolah, ranking ke 2 dari 38 murid di tahun ketiganya. Selebihnya, ya cukup sepuluh besar saja. Maklumlah, jauhnya perjalanan itu sudah lebih dari cukup untuk menguapkan ingatan tentang pelajaran yang didapat seharian. Namun bagi kami orang Bangsari waktu itu, bisa lulus sekolah menengah saja sudah hebat. Masalahnya, setelah itu mau ngapain?

Maka, mengadulah nasih di kota. Dan sebagaimana umumnya calon perantau dari desa kami, dia tak tahu mau kerja apa. Pokoknya merantau! Perkara nanti kerja apa atau jadi apa, itu urusan nanti.

Sewaktu pertama kali saya kerja di Jakarta, dia masih menjadi penjaga toko kecil kepunyaan kakaknya di sebuah daerah di Jakarta Timur. Pekerjaan sebagai bell boy di sebuah hotel di jakarta pusat pernah dia jalani selama 6 bulan sebelum hotel itu tutup. Setelah itu, ya balik lagi jadi penjaga toko.

Begitu dia tahu saya bekerja di Jakarta, dia segera menemui saya. Minta pekerjaan. Begitu bersemangatnya sampai-sampai dia bersedia mengelap sepatu saja jika diperlukan. Semula saya terbahak-bahak mendengar permintaannya. Lha gimana bisa saya ngasih kerjaan kalau saya juga cuma tukang wedang? Namun ada satu hal yang saya akui, keteguhan hatinya.

Karena jenis pekerjaan saya termasuk baru di pabrik, sehingga bos memberi kebebasan untuk merekrut para asisten tukang wedang. Namun untuk sampai mengajaknya bergabung, saya sangat tidak yakin. Saya lebih suka merekrut para calon yang punya skill dan pendidikan lebih baik.

Ternyata, skill yang bagus juga bisa mendatangkan masalah. Mereka kurang antusias dan cenderung ogah-ogahan bekerja. Mungkin karena mereka menganggap pekerjaan itu terlalu remeh, sehingga sering tidak masuk, kebanyakan main dan yang paling tidak menyenangkan, tiba-tiba mereka berhenti bekerja. Silih bergantinya orang membuat saya tak tahan juga pada akhirnya. Beberapa bulan kemudian, saya memanggilnya.

Pekerjaan pertama, tukang angkut-angkut, sortir dan hal-hal remeh lainnya. Di saat-saat rehat, dia minta diajari para tukang wedang lainnya untuk mengoperasikan mesin. Dan sunguh ajaib. Dalam tiga-empat bulan berjalan, dia sudah menguasai semua prosedur dan tetek bengeknya. Selanjutnya, tak usahlah saya ceritakan di sini.

Kini, tiga tahun kemudian, dia sudah menjadi staff infrastructure & architecture di salah satu perusahaan IT di sekitar Duren Tiga. Tugasnya: maintenance server, jaringan dan hosting web. Jauh melampaui saya yang masih mengoperasikan mesin wedang yang itu-itu saja. Satu-satunya hal yang masih tersisa dari pekerjaannya bersama saya adalah, dia masih mengetik dengan sebelas jari.

Menurut saya, dia mewakili gambaran umum tentang anak-anak kampung. Bahwa hal terpenting yang diperlukan oleh mereka untuk berkembang adalah: kesempatan yang cukup. Masalahnya, gimana caranya ngasih kesempatan buat yang lain?


Link terkait
BHI no 1-12
BHI no 11

14 April 2009

Soto Madura Terminal Kampung Melayu


Di sebuah pojok salah satu sudut terminal kampung melayu. Bersebelahan dengan sebuah musholla kecil lumayan bagus yang sayangnya, karena kebanyakan pengunjung, menjadi pengap dan karpetnya berbau.

Di sana lah berada warung kecil ini. Sebuah warung kecil yang menjual hanya soto madura.

Penampilannya sama sekali tak mencolok. Dari dalam mau pun dari luar. Sliwar-sliwer angkutan, bus transjakarta dan lalu lalang kendaraan pribadi seperti menjadi aksesoris warung. Denyut terminal sangat terasa di warung ini. Namun, siapa peduli?

Bangku-bangku plastik berjejer menghadap sebuah meja sempit panjang yang menpel kuat di tembok. Dua meja lagi yang sama sempitnya terletak di tengah, menyisakan ruang sedikit berbentuk L. Cukuplah untuk membuat para penikmatnya duduk dengan "nyaman" jika semua bangku penuh terisi.

Bakul sotonya sendiri berada di dekat pintu masuk, lengkap dengan anjungannya. Gagang gayungnya terbuat dari kayu segenggaman tangan orang dewasa, seperti sebuah pegangan golok. Uap dan minyak soto menguapinya selama bertahun-tahun menjadikannya terlihat kekar dan gagah.

Sekilas tak ada yang luar biasa, kecuali sebuah papan di dinding bertuliskan: SOTO MADURA, CAMPUR SOTO/LONTONG, Rp 5000.

Apa istimewanya? Dengan riangnya, wanita disamping saya berpromisi: sotonya enak dan murah!

Kemudian dia bercerita, warung ini pernah sangat akrab baginya. Terutama pada masa-masa sulit awal kedatangannya di Jakarta beberapa tahun yang lalu. Pfiuh.

Maka, sehabis menunaikan magriban yang hampir telat, saya menuruti kehendak hatinya bernostalgia.

Dan, ternyata maknyus!

12 Maret 2009

Pajak dan ruang publik


Akhir bulan ini adalah batas untuk penyerahan semua pelaporan pajak, sebelum kebijakan sunset policy ditutup. Maka tak heran petugas keuangan pabrik kami sejak awal bulan sudah ngoprak-opraki para buruh untuk menginventarisir daftar kekayaan plus hutangnya sekalian, guna pengisian laporan pajak tahunan tiap orang.

Sejauh ini sunset policy, yang entah bagaimana kejadiannya menjadikan lebah bersilit kuning sebagai ikon itu, saya pahami sebagai suatu pemutihan. Yah, kira-kira sama dengan upaya menghapus semua dosa-dosa sebelumnya dan memulai meteran dari nol lagi.

Untuk itu, sangat masuk akal jika kemudian tiada ada ampun lagi buat para pelanggar setelahnya. Lha, wong sudah dikasih waktu selama setahun, plus perpanjangan dua bulan, kok masih juga bandel. Kurang baik apa coba negara ini? Nehi lah yaw...

Tapi tunggu dulu. Kebijakan ini juga masih menyisakan sedikit pertanyaan bagi saya. Lha, trus buat yang sudah taat aturan sejak aturan ini belum diberlakukan gimana tuh?

Mbuh. Saya ga punya jawabannya. Atau kalo mau make jawaban ngawur ala orang kita yang suka berolok-olok: Salah sendiri jadi orang kok terlalu lurus! Hehehe.

Terlepas dari itu semua, paling tidak kini saya bisa mulai bergirang hati: “Hore... negaraku menuju kemajuan! Sarana publik diperbanyak dan diperbaiki! Hidup menjadi lebih mudah! ”. Pendeknya, kita sedang menuju negara yang lebih manusiawi!

Eits, tapi apa ya iya begitu? Jelas sekali itu terlalu optimis.

Coba saja cermati tulisannya Andre Vitchek tentang Jakarta yang katanya hendak jadi A Sinking Giant itu. Masya Allah... ternyata yang namanya kemajuan itu masih sangat jauh dari angan negara ini. Coba simak bagian berikut:

Di saat hampir semua kota-kota utama lain di Asia Tenggara menginvestaikan dana besar-besaran untuk transportasi publik, taman kota, taman bermain, trotoar besar, dan lembaga kebudayaan seperti museum, gedung konser dan pusat pameran, Jakarta tumbuh secara brutal dengan berpihak hanya pada pemilik modal dan tidak peduli akan nasib mayoritas penduduknya yang miskin.

Kebanyakan penduduk Jakarta belum pernah pergi ke luar negeri, sehingga mereka tidak dapat membandingkan kota Jakarta dengan Kuala Lumpur atau Singapura, Hanoi atau Bangkok . Liputan dan statistik pembanding juga jarang ditampilkan oleh media massa setempat. Meskipun bagi para wisatawan asing Jakarta merupakan neraka dunia, media massa setempat menggambarkan Jakarta sebagai kota "modern", "kosmopolitan", dan "metropolis".

Para pendatang/wisatawan seringkali terheran-heran dengan kondisi Jakarta yang tidak memiliki taman rekreasi publik. Bangkok, yang tidak dikenal sebagai kota yang ramah publik, masih memiliki beberapa taman yang menawan. Bahkan, Port Moresby, ibukota Papua Nugini, yang miskin, terkenal akan taman
bermain yang besar, pantai dan jalan setapak di pinggir laut yang indah.

Di Jakarta kita perlu biaya untuk segala sesuatu. Banyak lahan hijau diubah menjadi lapangan golf demi kepentingan orang kaya. Kawasan Monas seluas kurang lebih 1 km persegi bisa jadi merupakan satu-satunya kawasan publik di kota berpenduduk lebih dari 10 juta ini. Meskipun menyandang predikat kota
maritim, Jakarta telah terpisah dari laut dengan Ancol menjadi satu-satunya lokasi rekreasi yang sebenarnya hanya berupa pantai kotor.

Ngomong-omong soal ruang publik, saya jadi ingat kasus anak-anak BHI yang belakangan diusiri para petugas keamanan Plaza Indonesia. Lha masa iya, nongkrong di ruang publik yang dibayar dengan uang rakyat kok ndak boleh.

Dengan alasan mengganggu orang lewat, menimbulkan keresahan dan lain-lain, para petugas silih berganti mengusir dan memperingatkan. Alasan yang sebenarnya tidak bisa dibuktikan oleh mereka sendiri.

Dua jumat kemarin, kami katanya ndak boleh nongkrong di situ, terutama pelataran yang berlantai marmer. Alasannya, marmer itu di bangun oleh Plaza Indonesia dan bukan ruang publik. Maka adalah hak Plasa Indonesia untuk mengatur ruangnya sendiri.

Baiklah, alasan ini bisa kami terima. Tapi bukankah di luar batas marmer Plasa Indonesia juga tak punya hak? Mas Pitik dan Mas Ipung yang sampai terjerembab di lantai marmer plasa yang licin saat mencoba menyampaikan protes dengan menemui atasan mereka. Dan lagi-lagi kami terbentur pada jawaban standar yang sepertinya adalah satu-satunya jawaban yang dikuasai dan dihafal oleh para petugas keamanan di seluruh dunia: "Maaf, kami hanya menjalankan perintah atasan. Atasan sedang tidak berada di tempat." Gubrak!

Jadi, sementara kami anggap masalahnya cuma tidak boleh duduk di marmer.

Lha kok jumat kemarin larangan itu berganti lagi menjadi kami ngga boleh duduk di pelataran karena dianggap mengganggu buat orang lewat. Lagi-lagi alasan yang aneh, karena kenyataanya sudah tidak ada orang lewat (waktu itu sudah selepas jam 1 pagi)

Mungkin terlalu maksa menghubungkan pajak dan nongkrongnya anak BHI. Tapi bukankah tidak ada yang gratis di dunia ini? Artinya, kalo saya bayar pajak, saya mendapatkan hak saya yang antara lain berupa ruang publik itu. Dan nyatanya, selama saya mulai bisa mencari uang, sebagian penghasilan saya selalu dipotong pajak oleh perusahaan. Meskipun laporannya tidak secara pribadi. Bukankah itu artinya saya sudah membayar pajak secara sah?

Dan saya yakin banyak di antara saudara-saudara juga mengalami pemotongan yang sama bukan?

Selamat membayar pajak saudara-saudara. Ingat, pajak dan kemajuan itu dua hal yang berbeda. Maka, teruslah menuntut hak-hak Anda...

17 Februari 2009

Kang Bah


Bagi saya, dia sudah seperti saudara dan teman sekaligus. Ceritanya yang mirip dengan astronom dadakan itu, juga dialami sobat yang satu ini. Setelah sempat pindah kuliah di IAIN Sunan Kalijaga, menjadi penjaga warnet di jogja, eh tahu-tahu kini presiden di Bunderan HI.

Saya mengenalnya sebagai priyayi solo yang santun, lembut dan tak neko-neko. Dengan surjan lurik dan vespa antik kesayangannya, saya sering ketemu di ruang kuliah semester-semester akhir. Namun karena batasan semester tidak ada, maka mahasiswa lintas angkatan mungkin saja bertemu dalam satu kelas.

Lama semenjak itu, pada suatu hari di awal tahun 2005, tanpa sengaja saya bertemu dengannya di sebuah bengkel vespa di jalan monjali. Dia mengajak saya mengikuti sebuah seminar tentang blog di semarang atas undangan Pak Nukman Luthfie. Sebuah ajakan yang dikemudian hari terbukti membawa saya pada nasib baik. Meski saya ndak tau sama sekali apa itu blog, saya setuju-setuju saja. Lha wong pengangguran, jelas ini sebuah penawaran yang menarik.

Rencana awalnya, kami akan naik vespa saja sembari jalan-jalan. Namun, sehari sebelum keberangkatan, ternyata dia agak meriang. Maka diputuskan berangkat menggunakan bis Joglosemar, bis jurusan joga semarang yang menaikkan dan menurunkan penumpang hanya di hotel-hotel tertentu di kedua kota. Dari jogja, kami naik melalui Novotel jalan solo.

Dari kegiatan ini, saya mendapatkan beberapa hal: Pertama, hotel itu ternyata boleh dimasuki tanpa perlu mbayar atau beli apapun. Kedua, Semarang itu ternyata panas dan ruwet. Ketiga, rasanya nginep di hotel itu uenak tapi ademe pol. Keempat, pembuka botol minum di hotel berbintang selalu ada di kamar mandi, nempel dekat wastafel. Kelima, dikasih upah atas kerja yang gagal saat mengoperasikan laptop yang untuk presentasi. Keenam, ini yang terpenting, saya mendapatkan pekerjaan.

Sebuah wawancara singkat yang saya (S) ingat saat nodong pekerjaan pada Pak Nukma Luthfie (NL):
S: Pak, saya ini baru lulus. Ada kerjaan untuk saya ngga?
NL: Kamu bisa apa?
S: Ngga bisa apa-apa. Tapi saya mau mengerjakan apa saja. Gimana?
NL: Baiklah, nanti kalau proyek barunya tembus, kamu tak panggil.

Berselang tiga bulan sejak acara tersebut, saya dipanggil kerja. Di Virtual Consultingnya pak Nukman, saya diberi pekerjaan melayani suatu institusi. Perintahnya sederhana: "Kerjakan apa yang mereka minta". Sebuah pekerjaan yang benar-benar mulai dari nol, tanpa juklak dan juknis. Selanjutnya kontak dengan sobat saya ini cuma lewat dunia maya.

Lha kok ndilalahnya, pada awal 2006 kantor tempat dia bekerja gulung tikar. Maka, atas ajakan mas Bagong dia ke jakarta. Lalu karena posisinya masih nyari-nyari gaweyan, saya ajak sekalian ngerjain proyek yang sedang saya kerjakan. Sekalian saya ajak kos bareng di bon kacang. Disini, dia hanya bertahan beberapa bulan. Selanjutnya, ya, nyari-nyari pekerjaan lain. Kalau tak salah ingat, periode ini berlangsung hampir 6 bulan.

Oh, iya, selama periode ini dia juga menemukan jodoh yang sekarang sudah memberinya seorang putera. Mpok Rini, saya menyebutnya. Selain tetangga kos, dia juga adik kelas di sastra nuklik. Orang jawa bilang peknggo (ngepek tonggo, dapat jodoh tetangga sebelah).

Dia juga sempat ditawari ke Aceh, namun tak diambil karena alasan masa depan. Dari sinilah Bebek Almarhum menjadi gantinya.

Dia sempat bekerja di perusahaan alat-alat radiasi, sebelum berhenti akibat sakit tipes sewaktu dimutasi ke Pekanbaru. Yah, maklum saja, waktu itu istrinya baru mengandung, eh malah dimutasi ke daerah. Sepertinya sekarang dia sangat betah di kantornya yang baru.

Komunitas (kalo bisa disebut demikian) BHI, didirikan atas dasar pemikirannya bahwa jakarta itu perlu dindesokan. Setidaknya agar kami bisa tetap ndeso di Jakarta. Perkara khalayak menganggap norak kegiatan nongkrong di situ, ya itu urusan orang.

Mangkanya, selalu ada sarung saat nongkrong. Supaya bisa tidur setiap saat diperlukan.

Beberapa orang sempat bertanya, mengapa Kang Bah bisa jadi Presiden di HI? Entahlah, saya sendiri tak tahu jawabannya. Pokoknya, begitu bangun, tahu-tahu dia sudah jadi presiden!

Pokoknya, Selamat Ulang Tahun buat Panjenenganipun Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Presiden Mbunderan Hotel Indonesia Sayidin Panatablogger Bahtiar Satria Pitpancal*....

Semula saya pengin menulis yang personal tentang dia, lha kok jebul jadinya gini? hihihi.

Foto diambil dari Facebooknya Mr Brink

Gelar oleh Paman Tyo

Nasib

Sebuah pesan saya terima, mengabarkan tentang seorang kawan yang dulu seangkatan di bangku kuliah, kini sudah jadi salah satu ahli astronomi jogja. Woh. Terang saja saya kaget bukan kepalang. Bukan kaget pada keberhasilannya, tapi pada bidang yang dia geluti yang sama sekali lain dengan studinya dulu.

Si teman yang barusan saya dapat kabarnya ini, sedari dulu memang pintar, cerdas, kutu buku dan juga senang berorganisasi. Dengan pergaulan yang lintas fakultas, tak mengherankan jika dia kemudian menjadi pengurus sebuah jamaah kerohanian yang berpengaruh di lingkungan kampus, jamaah shalahuddin.

Suatu hari, tanpa alasan yang saya pahami, dia menghilang dari kegiatan kampus dan tak pernah kembali. Sesekali saya temui dia sedang memoderasi acara diskusi-diskusi bersama tokoh-tokoh politik lokal selama berlangsungnya reformasi di jogja. Sesekali saya temui dia di kejauhan sedang menyusuri selokan mataram. Yah, mungkin dia pindah kampus, pikir saya.

Saya pernah mencoba secara ngawur menebak-nebak masa depan beberapa teman kami yang juga tak jelas rimbanya. Mengacu pada kesukaan mereka dahulu, bagaimana pergaulan mereka, apa hobinya dan lain-lain, maka muncullah sederet daftar: programmer, pedagang, politikus,aktivis sejati dalam bidang lingkungan hingga fundamentalis. Tapi dugaan saya meleset jauh, tak satupun dugaan saya yang tepat sasaran.

Sampai sekarang saya masih takjub, bagaimana nasib membawa anak-anak nuklir menjadi pribadi yang sama sekali berlainan. Ada cerita seorang alumni yang tiba-tiba menjadi bos sebuah perusahaan IT, ada yang jadi pemain adsenser, ada yang bertani jagung di wonogiri sana, dan ada juga yang sekadar menjadi penjaga toilet umum di Pasar Giwangan Jogja hingga sekarang. Sementara saya sendiri, tukang wedang. Begitulah dunia, betapa tangan Tuhan bekerja dengan cara yang ajaib.

Mungkin dikarenakan lapangan kerja yang terbatas untuk bidang nuklir, menyebabkan para alumninya mencari pekerjaan yang waton entuk duit. Beberapa memang bisa berkarir dibidang yang sesuai, seperti ndoro seten ini. Namun sebagian besar berada di luar bidang. Dalam hal ini, saya termasuk golongan yang terakhir. Mungkin keadaan lah yang memaksa orang harus kreatif, bahkan sejak di bangku kuliah.

Sampai-sampai kemudian muncul sebuah unen-unen yang sangat populer di kalangan para alumni "sastra nuklir:: "Cah nuklir itu tahu banyak hal, kecuali nuklir itu sendiri".

Apakah hal ini terjadi pada alumni jurusan lain? Entahlah.

Dan tiba-tiba, saya merasa belum kemana-mana. Duh!

sumber gambar tak diketahui

11 Februari 2009

Ultah dengan Orangutan


Umumnya ulang tahun ya ada pesta, ya ada kado. Lazimnya pula, kado itu ya berdasarkan kerelaan pemberi. Tapi ndak begitu dengan nona kita yang satu ini. Dia maksa minta uang dari sampeyan semua. Nah, lho?

Begitulah Nananias dara Salatiga yang tinggal di Tanjung Benoa Bali ini. Lalu niasnya? Entahlah. Bagian ini saya masih belum paham.

Dalam upaya kampanye penyelamatan orangutan, dia merelakan momen ulang tahunnya kali ini dipakai guna tujuan yang sama sekali berbeda. Dan dalam rangka penyelamatan orangutan dan habitatnya, dia mengharapkan sumbangan dalam bentuk uang, duapuluh ribu sampai dengan kelipatannya.

Ceritanya, nanti uang-uang dari kado-kado sampeyan itu akan dibelikan buat beli pohon di sumatra sana. Hutan yang berkurang itu sebagaimana kita tahu adalah masalah bagi mereka, juga manusia.

Orang-orang disana menebangi hutan karena inginya merubahnya menjadi perkebunan kelapa sawit. Belum lagi pembunuhan orang utan secara langsung. Sehingga praktis orang orang utan terancam punah.

Nah dengan pohon pohon yang nana minta sebagai hadiah ulang tahunnya itu, nona kita yang satu ini berharap dapat kembali menanam pohon dan menyediakan rumah baru buat orang utan tersebut supaya bisa hidup sentosa.

Pengumpulan pohon nantinya diharapkan akan semakin meluas, namun pengumpulan pertama akan digelar bertepatan dengan moment ulang tahun nananias tanggal 9 Maret 2009 untuk itu akan ada event nananias birthday with orang utans!

Setiap orang boleh bergabung. Siapapun yang merasa tergerak menyelamatkan orang utan.

Masih bingung dengan kegiatannya atau mau bergabung?

Untuk tahu lebih jelasnya bisa bertanya tanya ke yang empunya kegiatan di smiley.nana@gmail.com atau visit the invitation.

Perkara sampeyan kemudian ngasih tambahan kado berupa jodoh, ya itu pilihan yang lebih bijaksana.

sebagian dikutip dari sini
gambar diambil dari sini

02 Februari 2009

Trachoom


Kata orang-orang di kampung saya, tepatnya dulu, kacamata itu mencerminkan citra cerdas, kota dan berpendidikan. Maklumlah, namanya juga orang kampung. (Eh, mang napa jadi orang kampung?.

Dulu, saya menganggap kacamata (baca) mewakili peradaban orang kota daripada barang fungsional. Maklum saja, orang berkacamata jarang ditemui di kampung. Lagi pula, kalau kebutuhannya cuma ke sawah, mencangkul, ngarit, mbawon, atau angon wedus, kacamata yo jelas ndak diperlukan to?

Keluarga saya pun ndilalahnya juga tak ada yang berkacamata. Tak hanya yang muda-muda, simbah pun tidak. Lha gimana mau pake kacamata, wong simbah itu buta huruf latin. Selain itu, toh seluruh hidup simbah itu hampir ndak pernah kemana-mana. Jadi, ya buat apa? Kalau pun nderes, toh tulisannya gede-gede.

Jadi, kami beranggapan kacamata itu hanya umum dipakai oleh orang kota. "Mereka yang kebanyakan nonton tipi berwarna sehingga matanya ndak normal", kata sebagian orang. "Orang yang kalau nonton tipi terlalu dekat", kata yang lain.

Maka kamipun menonton dengan jarak yang direkomendasikan petugas pemungut pajak jaman TVRI dulu, 5 kali panjang diagonal tabung. Eh, ngomong-omong anjuran begini masih ada ga ya?

Kadang geli juga mengingat ini. Tipi kami kan cuma hitam putih bergambar tokoh wayang Kresna (tipi ini masih dipakai keluarga kampung hingga sekarang). Itu pun baru boleh disetel setelah mengaji dan bedug isya ditabuh. Jam sembilan malam, sudah harus dimatikan dan tidur. Belum lagi kalau siarannya ternyata cuma Cerdas Cermat ala Kelompencapir atau Laporan Khusus yang membosankan itu. Dengan sendirinya, tipi dimatikan. Lumayan, untuk menghemat aki.

Artinya, waktu nonton sangat sedikit. Sehingga kekhawatiran mengalami trachoom (maksudnya, minus) sangat kecil.

Nah, minggu kemarin, iseng-iseng saya memeriksakan mata bersama istri. Hasilnya, saya didakwa petugas menderita sedikit minus dan silinder.

Dus, maka jadilah saya pemakai kacamata. Tapi, ngomong-omong kok ga nambah ganteng ya?

09 Januari 2009

Jumatan yang aneh

Idealnya, dalam ibadah sholat jumat seluruh anggota jamaah berada dalam tempat yang sama. Rasa-rasanya kok kurang afdol jika jamaah tidak bisa melihat sang khotib atau imam sedang memimpin ibadah. Namun, di pusat kota yang harga tanahnya tak tak terbeli ini rasa-rasanya hanya segelintir masjid yang bisa begitu. Dan masjid pabrik kami tidak termasuk golongan yang itu.

Letak masjid kompleks pabrik kami berada di bawah tanah mirip gua modern dilengkapi pendingin yang kenceng. Meskipun sudah cukup besar untuk ukuran jakarta pusat, tapi karena tak sebanding dengan jumlah jamaah, hampir separo jamaah selalu tak kebagian tempat. Maka dipakailah areal parkir yang terletak di permukaan tanah (di basement gedung belakangnya) untuk menambahi ruang. Tak cukup nyaman sebenarnya. Berisik oleh orang-orang dan terkadang satu dua lalu lalang kendaraan. Anehnya, bagi saya tempat itu justru terasa nyaman karena sebuah alasan ndeso, hawanya anget. Setelah seminggu didinginkan dalam gedung, rasa-rasanya badan ini perlu diangetin. hehehe.

Bagi yang di luar, pengelola masjid menyediakan beberapa pengeras suara dan 2 televisi serta gelaran karpet plastik. Yang masih belum kebagian karpet harus membawa sajadah atau koran bekas. Selama ini semua itu berlangsung lancar tanpa masalah, sampai dengan jumatan kali ini.

Saat khutbah berlangsung, tiba-tiba suara pengeras suara mati di tengah pergantian khutbah. Segeralah khotib dadakan muncul di sana sini. Mulai dari bisik-bisik kecil hingga cekikan. Yang tadinya tidur lelap juga ikut-ikutan menggeliat dan mulai angkat bicara. Belum lagi suara telepon genggam yang ikut-ikutan meramaikan suasana.

Kekacauan pertama dimulai saat takbiratul ikhram. Sebagian besar jamaah berdiri mengikuti gerak mereka yang di depan televisi. Segara saja takbir dilantunkan jamaah, termasuk saya. Kemudian hening sejenak. Sesaat kemudian, jamaah televisi mengucapkan takbir dengan keras.

Lho, yang tadi apaan? Oh, mungkin tadi ada sedikit pengumuman dari imam, pikir saya. Yah sudahlah. Saya ulangi lagi takbirnya. Kemudian senyap lagi. Tiba-tiba amiiiiinnn... dst.

Kreatifitas ma'mum pun mulai muncul. Setiap ucapan pada perubahan posisi sholat diucapkan dengan keras, sehingga jamaah di belakangnya bisa mengikuti dengan baik.

Lancar? Belum saudara. Kekacauan yang lebih besar terjadi ketika qunut. Tanpa pemberitahuan, tentu saja sebagian besar jamaah langsung sujud dari posisi ba'da ruku'. Begitu duduk, jamaah di depan televisi mulai berdiri satu persatu. Lho, ada apa lagi ini? Oh, ternyata qunut. Dan ndilalahnya, qunutnya kok lama sekali. Tak pelak hal ini menimbulkan kekacauan di belakang.

Jamaah yang tidak segaris dengan televisi mulai kacau. Ada yang diam saja, ada yang celingukan, ada yang melanjutkan sholat sendiri-sendiri dan ada yang mulai kasak-kusuk bahkan cekikikan.

Saya tetap mencoba mengikuti jamaah depan televisi dalam suasana yang tidak karu-karuan lagi. Maka jadilah ibadah kali ini jumatan teraneh dalam hidup saya.

07 Januari 2009

Bos yang selalu jadi trend setter

Pagi yang lalu di ruangan pabrik. Bos besar kesal karena kesalahan yang saya tak tahu.

"Kalian itu kalo kerja yang bener ya. Jangan sampai bikin kesalahan. Awas! Pokoknya no excuse me lagi! Penulisan nama percas inson suatu instansi itu harus betul. Mengerti?"

Moral dari cerita ini: Pelajarilah bahasa gaul bosmu....