
Ada sebuah tanah kosong tepat di sebelah hotel Sari Pan Pacific. Tanah yang terbentang dari tepi jalan Thamrin hingga Sabang. Kira-kira dua kali luas lapangan bola. Tanah yang menjadi sengketa beberapa pihak selama bertahun tahun.
Yang namanya tanah kosong di pusat segitiga emas, tentu saja mengundang orang untuk memanfaatkannya. Sebagian besar ruang kosong ini sudah di patok menjadi areal parkir motor dan mobil. Sisanya, para pedagang. Mereka memarkir gerobak dagangannya sekaligus membuka lapak di ujung timur berbatasan dengan Sabang. Juga ada dua warung penjual nasi atau biasa disebut dengan warteg.
Salah satunya berjualan mepet tembok yang berbatasan persis dengan areal parkir taksi Sari Pan Pacific. Pemiliknya, suami istri dari Kebumen yang sudah tinggal di tanah ini dari tahun 80-an. Meski dibatasi tembok setinggi 2 meteran, jual beli berjalan lancar. Si istri melayani di warung, sementara sang suami melayani di dalam tembok. Pelanggannya: supir taksi, pekerja hotel dan tukang wedang. :P.
Untuk kebebasan memakai ruang ini, mereka harus membayar 150 ribu rupiah sebulan kepada aparat. Tentang siapa aparat ini, mereka tak tahu. Pokoknya begitu masanya tiba, mereka datang menagih sewa.
Warung satunya lagi adalah warteg ini. Terletak di bawah pohon kersen subur yang menaunginya. Atapnya hanya sedikit lebih tinggi dari tinggi orang dewasa. Sebuah gubuk kecil yang dihuni beberapa orang, juga seorang anak kecil. Sebagaimana umumnya pengelola warteg, mereka berasal dari Tegal.
Makanan keduanya cocok untuk lidah saya, lebih cocok lagi untuk kesehatan kantong saya. Bayangkan saja, untuk nasi porsi setengah plus sambal-sayur dan bawal goreng cukup 5 ribu rupiah saja.
Belum lagi ditambah gratisan hidangan pencuci mulut. Silahkan tinggal ambil sendiri di atas kepala. Buah kersen. :P