Dua hari ini telepon selular saya mengalami gangguan. Maksud saya, memang dari providernya sana yang bermasalah. Sinyal penuh tapi tak bisa digunakan untuk menelepon maupun ditelpon. Begitulah resiko layanan hemat, harap diterima kalau cuma seadanya. Murah gitu loh...
Mengeluh? Nehi lah yaw.
Sebelum datangnya era komunikasi bergerak, toh hidup saya baik-baik saja. Telpon tidak, pager tidak, kebutuhan online (email, chatting dan blog) pun tidak. Mau ketemu orang ya harus menyambangi ke tempatnya. Perkara setelah sampai di tempar ngga ketemu orang yang kita tuju, itu soal lain. Mau berkomunikasi dengan keluarga (karena saya merantau sejak lulus sekolah menengah) ya harus dengan surat. Pesannya pun cukup singkat saja: "Putro waras, arto telas" (Ananda sehat, uang habis).
Itulah kelebihan dunia yang tak mengglobal. Adanya ketidak-pastian. Bukankah ini juga sekaligus berguna untuk melatih orang bersikap lebih taktis dan strategis plus sabar? *halah*. Intinya, tanpa ponsel hidup ini tak masalah.
Begitu juga saat mati lampu (mungkin lebih tepat mati listrik). Sampai dengan tahun 2000 saat dimana kampung kami belum juga berpenerangan listrik, orang-orang justru lebih banyak saling ngendong (bertamu) dan ngumpul. Setelah masuknya listrik, orang-orang kemudian dilanda tren baru. Sepertinya semua orang tersihir oleh kotak ajaib bernama televisi. Maka muncullah ritual baru, menthelengi (nonton) tivi. Setiap waktu, setiap saat. Apa lacur, kebutuhan untuk srawung (bersosialisasi) pun menjadi jauh berkurang. Otak orang Indonesia pun mengalami cekokan baru, iming-iming menjadi artis, kaya, tampil bergaya dan terkenal.
Ya, saya merindukan saat itu. Tanpa HP dan listrik. Benar-benar membebaskan.
Eh, maap... HP saya dah bunyi lagi nih...
Type rest of the post here
Selengkapnya...