Apalah arti sebuah nama? Usang dan klise memang, tapi begitulah.
Pangkal masalahnya adalah nama saya yang berbau arab. Ketika ditulis dalam huruf latin, hasilnya bisa berbeda. Maka tak heran, akte lahir saya salah. Kesalahannya, terjadi penggandaan huruf konsonan yang tak perlu (huruf f-nya dobel). Ejaannya pun masih menggunakan pola lama dimana huruf kh ditulis sebagai ch. Yang terakhir masih bisa diterima.
Karena administratif birokrat kita yang kacau, merevisi akte adalah pilihan yang tidak masuk akal, memakan waktu lama dan jelas menjengkelkan. Belum lagi perjalanan ke kota kabupaten yang tidak gampang untuk ukuran waktu itu. Oleh sebab itu, meski sudah berakte, menjelang lulus dari sekolah dasar, Bapak memutuskan untuk mengganti akte saya. Saya pun memiliki akte ganda. Cilakanya, nama saya di ijasah SD juga tidak persis benar dengan akte. Di kemudian hari, saya baru menyadari bahwa penulisan nama di akte lahir saya yang kedua pun masih belum tepat juga. Ya sudah, mau gimana lagi? Terima nasib saja.
Tak cuma berhenti disitu. Penulisan selanjutnya di identitas KTP, SIM, dan dokumen lain yang berhubungan identitas dasar itu, seringkali salah. Di setiap jenjang sekolah, saya menemui pertanyaan berulang setiap kali menghadapi kenaikan kelas dan, tentu saja kelulusan. Di tingkat perguruan tinggi juga demikian. Sampai tingkat ini, saya masih tak peduli. Biarin saja. Toh yang penting, untungnya (orang jawa memang selalu beruntung), semua penulisan ijasah yang saya punya seragam.
Sampai dengan kemarin. Kali ini saya benar-benar kesal. Sudah lewat seminggu dari jadwal, gaji kok belum dapat juga? Gimana ini? Biasanya keterlambatan terjadi paling lama 3-4 hari. Pernah juga terlamat 5 hari, tapi itu cuma sekali. Penanggung jawab keuangan pabrik bilang, gaji saya sudah ditransfer sebagaimana yang lain dan tidak ada catatan pengembalian uang. Sebaliknya, dari pihak bank juga tidak ada keterangan jelas.
Setelah 3 hari berturut-turut menanyakan hal yang sama, akhirnya ketahuan juga pangkal masalahnya. Sekali lagi soal nama. Nama saya di rekening bank dan di kepegawaian ternyata berbeda meski nomer rekening yang tercantum sama. Entah sudah muter kemana gaji saya itu. Sampai tidak, kembali pun tidak. Seperti arwah gentayangan saja, gerutu saya.
Dia berjanji akan mengurusnya besok. Dan sepertinya, baru senin depan saya bisa gajian. Seperti yang sudah-sudah, transfer antar bank memakan waktu sehari pada hari biasa, dan 3 hari jika dilakukan hari jumat.
Gondok dan sedih? Iya, tapi cuma sedikit. Pasalnya, semalam bos gembul menghampiri kos saya. Dengan senyum-senyum tur mbedani, dia membanting segepok uang ratusan ribu dari balik bajunya ke lantai seraya bertanya: "saiki butuhmu opo? aku akeh duit hasil proyekan minggu wingi ki." (artinya: kamu pengin apa? aku banyak uang hasil pekerjaan sampingan minggu kemarin nih).
Hore...
Pangkal masalahnya adalah nama saya yang berbau arab. Ketika ditulis dalam huruf latin, hasilnya bisa berbeda. Maka tak heran, akte lahir saya salah. Kesalahannya, terjadi penggandaan huruf konsonan yang tak perlu (huruf f-nya dobel). Ejaannya pun masih menggunakan pola lama dimana huruf kh ditulis sebagai ch. Yang terakhir masih bisa diterima.
Karena administratif birokrat kita yang kacau, merevisi akte adalah pilihan yang tidak masuk akal, memakan waktu lama dan jelas menjengkelkan. Belum lagi perjalanan ke kota kabupaten yang tidak gampang untuk ukuran waktu itu. Oleh sebab itu, meski sudah berakte, menjelang lulus dari sekolah dasar, Bapak memutuskan untuk mengganti akte saya. Saya pun memiliki akte ganda. Cilakanya, nama saya di ijasah SD juga tidak persis benar dengan akte. Di kemudian hari, saya baru menyadari bahwa penulisan nama di akte lahir saya yang kedua pun masih belum tepat juga. Ya sudah, mau gimana lagi? Terima nasib saja.
Tak cuma berhenti disitu. Penulisan selanjutnya di identitas KTP, SIM, dan dokumen lain yang berhubungan identitas dasar itu, seringkali salah. Di setiap jenjang sekolah, saya menemui pertanyaan berulang setiap kali menghadapi kenaikan kelas dan, tentu saja kelulusan. Di tingkat perguruan tinggi juga demikian. Sampai tingkat ini, saya masih tak peduli. Biarin saja. Toh yang penting, untungnya (orang jawa memang selalu beruntung), semua penulisan ijasah yang saya punya seragam.
Sampai dengan kemarin. Kali ini saya benar-benar kesal. Sudah lewat seminggu dari jadwal, gaji kok belum dapat juga? Gimana ini? Biasanya keterlambatan terjadi paling lama 3-4 hari. Pernah juga terlamat 5 hari, tapi itu cuma sekali. Penanggung jawab keuangan pabrik bilang, gaji saya sudah ditransfer sebagaimana yang lain dan tidak ada catatan pengembalian uang. Sebaliknya, dari pihak bank juga tidak ada keterangan jelas.
Setelah 3 hari berturut-turut menanyakan hal yang sama, akhirnya ketahuan juga pangkal masalahnya. Sekali lagi soal nama. Nama saya di rekening bank dan di kepegawaian ternyata berbeda meski nomer rekening yang tercantum sama. Entah sudah muter kemana gaji saya itu. Sampai tidak, kembali pun tidak. Seperti arwah gentayangan saja, gerutu saya.
Dia berjanji akan mengurusnya besok. Dan sepertinya, baru senin depan saya bisa gajian. Seperti yang sudah-sudah, transfer antar bank memakan waktu sehari pada hari biasa, dan 3 hari jika dilakukan hari jumat.
Gondok dan sedih? Iya, tapi cuma sedikit. Pasalnya, semalam bos gembul menghampiri kos saya. Dengan senyum-senyum tur mbedani, dia membanting segepok uang ratusan ribu dari balik bajunya ke lantai seraya bertanya: "saiki butuhmu opo? aku akeh duit hasil proyekan minggu wingi ki." (artinya: kamu pengin apa? aku banyak uang hasil pekerjaan sampingan minggu kemarin nih).
Hore...
















