05 Desember 2008

Gopur

Umumnya, orang jawa menamai anaknya dengan beberapa kata. Untaian nama itu biasanya mengandung doa, jampi-jampi dan harapan bapak-ibunya. Kalaupun cuma satu kata, paling tidak nama itu terdiri dari beberapa suku kata. Poniran, tulkiyem atau Sandemo misalnya. Tapi jarang sekali orang jawa menamai anaknya hanya dengan dua suku kata.

Teman yang akan saya ceritakan termasuk perkecualian itu. Orangnya kurus, rambut kriwil dan kulit yang legam. Namanya Gopur. Ya, Gopur dengan huruf "p" dan bukan "f". Di KTP, Surat Lahir (bukan Akte Lahir lho) dan ijasahnya , nama itu satu satunya yang tertulis tanpa embel-embel.

Menurut cerita yang diingatnya, dulu dia dinamai Abdul Ghofur. Cilakanya, pada saat dia ditanya kepala sekolah dasar sewaktu pengisian rapor, dia menyebut namanya cuma Gopur. Maka, jadilah nama itu satu satunya yang melekat hingga sekarang.

Saya mengenalnya sebagai tetangga kos di Sendowo, Jogja, 12 tahun lalu. Bahasa jawa yang ngapak, kampung yang bertetangga dan sama-sama suka makan telo membuat kami menjadi sahabat akrab sejak itu. Dia memiliki energi berlimpah yang membuatnya tak bisa diam. Dari membuat kaligrafi (kebiasaannya sejak di pesantren mbanyumas), kemampuannya menggambar teknik, membuat replika pesawat hingga kemampuannya dangdutan di depan kos.

Pada awal-awal masa kuliah, saya benar-benar takjub kepadanya secara materi. Maksud saya, sebagai orang kampung kami kok duitnya bisa banget ya? Kalo dia di kampung banyak duitnya, oke lah. Tapi ini kan di kota? Rasanya kok aneh, orang kampung juga kaya di kota.

Bajunya bagus-bagus, makanan selalu melimpah dan berbagai perangkat elektronik koleksinya membuat anak kos yang lain betah nongkrong di kamarnya. Maka, jadilah kamar itu semacam markas besar anak-anak kos lainnya.

Usut punya usut, ternyata kakaknya kerja di arab menjadi TKW. Ow, pantes saja. Di kemudian hari, kakaknya pernah bercerita pada saya, bahwa dia dikasih jatah minimal 1 juta setiap bulan. Suatu kali bahkan pernah hingga 2,5 juta. Bandingkan dengan saya yang cuma 120 ribu. :P... Itu sebelum krisi moneter lho.

Orang bilang dunia tak selamanya indah. Begitulah. Sampai akhirnya sang kakak mudik dari rantau dan tak lagi bisa menyokongnya. Ditambah lagi krisi moneter yang mulai melanda siapa saja. Masa-masa sulit itu mulai membayang. Dia pun kelimpungan menafkahi dirinya sendiri. Mulai dari MLM versi Ahadnet, jualan stiker partai, menjadi penunggu warung angkringan hingga jadi penjual nasi goreng.

Pada masa masa itu, seringkali hidup terasa sesak sekali dengan uang yang cuma sepuluh-dua puluh ribu di kantong. Sementara jadwal "gajian" masih seminggu lagi. Bersama Ucok, perantau dari Toba, uang segitu biasanya kami belikan singkong dan mie instan semuanya. Maka, selama seminggu kalo kami ngga kentut-kentut melulu ya sulit buang air besar. (Sampai kemudian saya hijrah ke jakarta akhir 2005.)

Selain kreatif, dia juga sableng. Begitu sablengnya, dia pernah mencoba merasai (maaf) tinjanya sendiri. "Pait-pait sepat. Mirip sawo mentah", katanya tergelak. Saya merindunya. Rindu kesablengannya, kekonyolannya, juga kreatifitasnya.

Kemarin dia mengirim pesan pendek: "tgl 13 Desember nanti aku ujian pendadaran". Setelah 12 tahun kuliah!

Betapa pun lamanya itu, selamat ya bro. Kini namamu tak lagi tunggal, sudah ada tambahan di belakangnya. Gopur, ST!

23 komentar:

hedi mengatakan...

gopur si macan kampus

Anang mengatakan...

nama saya juga sebenernya salah tulis... sebenarnya fatur.. hiks.... tapi hikmahnya lebih mirip anantatur

imponk mengatakan...

selamat untuk pak gopur,
st!

arya mengatakan...

huwanjrit lucu pul

Felicity mengatakan...

Haha, lutju banged... Makasih buat ceritanya. Selamat buat mas Gopur ST yak. Salam Kenal :D

escoret mengatakan...

hua....gopur ST..????
edannn 12 tahun..????

untung aja ga di DO !

gopur,selamat !

yuswae mengatakan...

Anake koncoku (wong meduro pisan) pernah dijenengi Muhammad Che Guevara..
Pas selametan kelahiran, jeneng anake ditulis gawe huruf arab. Akhire ustadz moco: Muhammad Si Goffaro (jarena,"wah apik iki,mas..iki jeneng Islami. ono goffaro-goffaro-ne.")

Suhar Bumen mengatakan...

Temenku namanya juga singkat dan antik. Buang. Ya, cuma buang alias Buang saja. Nasibnya pun tak seperti Gopur krn cuma jadi Kepala Dusun.

Salam..

yati mengatakan...

ya ampun! langka! bener2...

selamat buat dia

Evi mengatakan...

selamat buat mas Gopur, ST
ternyata rekor adikku kuliah 7 thn masih kalah ama gopur ini :D

wah...jatah bulananmu kok sama ama aku 120 rb/bln
jik turah2 kuwi, soale tiap minggu pulang dan minta tambah lagi hehehe.....

Pinkina mengatakan...

temenku SMP ada yg namanya JUMAT :D
yha udah itu aja, gak tau skrg dimana dia..

mantabbb rek kuliahe 12 tahun, betah banget yakk..aku ae sing 3 thn wes ra betah...

eko mengatakan...

kuliah 12 tahun?
untung ora di-DO :-)

yuswae mengatakan...

Koncoku yo ono sing jenenge Buang.
pemain bola kampung..oleh komentator bola, namanya digenti: Mabuang Kessak..koyok pemain kamerun..
hahahaha

anakperi mengatakan...

haibat, begja bisa 12 tahun. setia sungguh...

yudhiapr mengatakan...

kesalahan kecil (nyebutin nama), yg akhirnya kebawa sampai akhir hayat.

untung aja orangnya ngga sakit2an, bisa2 namanya diganti lagi deh .. ;)

senengnya yg mau lulus yah .. syelamat.

ipungmbuh mengatakan...

podo dadi kemutan karo kancaku, ra ono udud, tanggal tuwa..papir karo teh garing di slomod..jiakakak

mikow mengatakan...

temen dikantorku lebih irit lagi.. "Fi'i"

mei mengatakan...

wehh mahasiswa abadi ^_^

Pacul Cicipilah mengatakan...

12 tahun??? ediaaannnn........!

goenoeng mengatakan...

pait2 sepat....haha...jan rak nguwati tenan !

[OMTRI] mengatakan...

"......Suhar Bumen mengatakan...

Temenku namanya juga singkat dan antik. Buang. Ya, cuma buang alias Buang saja. Nasibnya pun tak seperti Gopur krn cuma jadi Kepala Dusun............."


Saya juga punya kenalan namanya Buang. Sekarang jadi Satpam di BPR Sukorejo. Deket Pandaan Jawa Timur.

Semoga nggak di buang oleh direkturnya....

Btw, ceritanya bagusss banget lucu puolll.

bah reggae mengatakan...

Selamat buat Gopur. Sampaikan juga padanya, belum tentu lho stl sekian tahun rasanya masih "pait2 sepat kaya sawo mentah".

The Bitch mengatakan...

huahahaha!!! aku suka bagian pait2 sepet-nya! nendang bianget!