09 Desember 2008

Orang asing naik bis kota

Suatu malam di bawah jembatan layang karet, tepat di pojokan hotel Le Meridien, dua orang asing (sepertinya india singapura) menghampiri saya. Rupanya mereka hendak ke pusat perbelanjaan untuk membeli baju ganti. Setelah berbincang-bincang dengan bahasa inggris yang ala kadarnya:

Orang India: Where I have to stop the bus?
Saya: In Jakarta, you can stop the bus every where.
Orang India: What?
Saya:Yup. Every where!

Kedua orang India itu saling pandang dengan muka bingung. Sapertinya mereka takut saya salah ucap.

Selamat datang di Jakarta mister...

boso enggrese elek yo ben

05 Desember 2008

Gopur

Umumnya, orang jawa menamai anaknya dengan beberapa kata. Untaian nama itu biasanya mengandung doa, jampi-jampi dan harapan bapak-ibunya. Kalaupun cuma satu kata, paling tidak nama itu terdiri dari beberapa suku kata. Poniran, tulkiyem atau Sandemo misalnya. Tapi jarang sekali orang jawa menamai anaknya hanya dengan dua suku kata.

Teman yang akan saya ceritakan termasuk perkecualian itu. Orangnya kurus, rambut kriwil dan kulit yang legam. Namanya Gopur. Ya, Gopur dengan huruf "p" dan bukan "f". Di KTP, Surat Lahir (bukan Akte Lahir lho) dan ijasahnya , nama itu satu satunya yang tertulis tanpa embel-embel.

Menurut cerita yang diingatnya, dulu dia dinamai Abdul Ghofur. Cilakanya, pada saat dia ditanya kepala sekolah dasar sewaktu pengisian rapor, dia menyebut namanya cuma Gopur. Maka, jadilah nama itu satu satunya yang melekat hingga sekarang.

Saya mengenalnya sebagai tetangga kos di Sendowo, Jogja, 12 tahun lalu. Bahasa jawa yang ngapak, kampung yang bertetangga dan sama-sama suka makan telo membuat kami menjadi sahabat akrab sejak itu. Dia memiliki energi berlimpah yang membuatnya tak bisa diam. Dari membuat kaligrafi (kebiasaannya sejak di pesantren mbanyumas), kemampuannya menggambar teknik, membuat replika pesawat hingga kemampuannya dangdutan di depan kos.

Pada awal-awal masa kuliah, saya benar-benar takjub kepadanya secara materi. Maksud saya, sebagai orang kampung kami kok duitnya bisa banget ya? Kalo dia di kampung banyak duitnya, oke lah. Tapi ini kan di kota? Rasanya kok aneh, orang kampung juga kaya di kota.

Bajunya bagus-bagus, makanan selalu melimpah dan berbagai perangkat elektronik koleksinya membuat anak kos yang lain betah nongkrong di kamarnya. Maka, jadilah kamar itu semacam markas besar anak-anak kos lainnya.

Usut punya usut, ternyata kakaknya kerja di arab menjadi TKW. Ow, pantes saja. Di kemudian hari, kakaknya pernah bercerita pada saya, bahwa dia dikasih jatah minimal 1 juta setiap bulan. Suatu kali bahkan pernah hingga 2,5 juta. Bandingkan dengan saya yang cuma 120 ribu. :P... Itu sebelum krisi moneter lho.

Orang bilang dunia tak selamanya indah. Begitulah. Sampai akhirnya sang kakak mudik dari rantau dan tak lagi bisa menyokongnya. Ditambah lagi krisi moneter yang mulai melanda siapa saja. Masa-masa sulit itu mulai membayang. Dia pun kelimpungan menafkahi dirinya sendiri. Mulai dari MLM versi Ahadnet, jualan stiker partai, menjadi penunggu warung angkringan hingga jadi penjual nasi goreng.

Pada masa masa itu, seringkali hidup terasa sesak sekali dengan uang yang cuma sepuluh-dua puluh ribu di kantong. Sementara jadwal "gajian" masih seminggu lagi. Bersama Ucok, perantau dari Toba, uang segitu biasanya kami belikan singkong dan mie instan semuanya. Maka, selama seminggu kalo kami ngga kentut-kentut melulu ya sulit buang air besar. (Sampai kemudian saya hijrah ke jakarta akhir 2005.)

Selain kreatif, dia juga sableng. Begitu sablengnya, dia pernah mencoba merasai (maaf) tinjanya sendiri. "Pait-pait sepat. Mirip sawo mentah", katanya tergelak. Saya merindunya. Rindu kesablengannya, kekonyolannya, juga kreatifitasnya.

Kemarin dia mengirim pesan pendek: "tgl 13 Desember nanti aku ujian pendadaran". Setelah 12 tahun kuliah!

Betapa pun lamanya itu, selamat ya bro. Kini namamu tak lagi tunggal, sudah ada tambahan di belakangnya. Gopur, ST!