21 Oktober 2008

Kartu Pos dari Mas Luigi


Sebuah kartu pos dari Afrika saya terima setelah cuti panjang kemarin. Pengirimnya Mas Luigi Pralangga.

Siapa dia? Saya mengenalnya sekitar dua tahun lalu, dari blog, sebagai tentara yang berkecimpung dalam pasukan perdamaian PBB di Afrika. Gita meralat saya, tapi biarlah saya tetap menganggapnya demikian. Soalnya saya merasa lebih susah memahaminya kalau harus dijelaskan lagi. hehehe.

Bukankah bergabung dengan pasukan penjaga perdamaian adalah hal yang luar biasa bagi seorang prajurit (maupun bukan) di muka bumi manapun? Apalagi seorang tentara yang bergelut dengan dunia maya dan terutama ngeblog? Begitulah dia.

Kartu itu bertulis tangan dan berperangko (Amerika) asli. Sebuah kombinasi yang sudah sulit ditemukan bukan?

Saya jadi ingat. Dulu. Dulu sekali. Saya pernah mendengar istilah sahabat pena. Sebuah hubungan kekerabatan yang dilakukan melalui surat menyurat. Saling berbagi kabar, juga pikiran dan mungkin juga keluh kesah. Katanya. Makanya daftar sahabat pena selalu muncul dalam setiap majalah anak-anak usia sekolah waktu itu. Menurut cerita di bangku sekolah, "Habis Gelap Terbit lah Terang" adalah salah buku fenomenal yang dilahirkan dari tradisi ini.

Sayangnya, saya selalu ketinggalan untuk edisi kapan pun, dan dari majalah manapun. Gimana enggak? Lha wong saya, maksud saya keluarga saya yang dipelosok, tak pernah berlangganan majalah manapun. Jadi ya hanya kebetulan-kebetulan saja yang membuat saya memiliki majalah.

Namun sebenarnya, saya belum pernah melakukan kegiatan korespondensi macam begini. Surat surat yang saya kirmimkan ke orang tua semasa sekolah menengah karena harus merantau biasanya cuma berisi sepenggal kalimat ogah-ogahan namun bernada kritis: "Putro waras arto telas". Surat menyurat dengan orang lain tak pernah benar-benar rutin.

Kini, model begini sudah dilupakan orang. Kemudahan teknologi internet juga telepon telah mengikis kebiasaan ini. Namun tak bisa dipungkiri, kartu pos dengan tulisan tangan dan perangko asli menimbulkan kesan yang jauh lebih hangat dan bersahabat.

Terima kasih mas Luigi, selamat atas kelahiran putra ketinganya. Salam hangat dari pusat Jakarta.

Ya, Jakarta sedang hangat-hangatnya sekarang. Rata-rata 34 derajat Celcius menurut rilis badan meteorologi beberapa hari lalu. Hujan belum turun, padahal musim hujan seharusnya sudah berlangsung hampir dua bulan dari jadwal seharusnya. Sangat hangat dan sumuk.

23 komentar:

aprikot mengatakan...

saya inget prtama kali dpt kiriman kartu pos dr mas luigi adalah thn 2005, ya thun pertama saya ngeblog, sejak itu beliaunya rajin mengirimi saya kartu pos lbh terharunya ketika bapak saya meninggal dunia th 2006 silam, mas luigi pun menyempatkan menelepon sayah tengah malam untuk memberikan dukungan moril. what a trully friend. indeed

yati mengatakan...

doh, baik sekali.....

masih syawal kan ya? maaf lahir batin mas. gmana kabarnya? sepertnya ada berita gembir nih?

upss...maaf lahir batin, lagi!

Anang mengatakan...

wah.. bapak itu kok ga ngirimi saya kartu pos ya.. hehe.. ngarep banget nang....

eko mengatakan...

wah, salut juga je..tentara kita msh sempat2nya untuk nge-blog..

eko mengatakan...

"Putro waras arto telas"

kok podho wae tho Ful :D :D

Evi mengatakan...

mas luigi emang orang yang baik :)

Ipoul Bangsari mengatakan...

@aprikot: kalo diposting semua bisa jadi blog tersendiri tuh.

@yati: sama-sama, maap lair bathin. kabar gembira apa ya? *ngelesdotkom*

@anang: berarti sampeyan ndak punya salah, makanya ndak dikirimi ucapan lebaran. :D

@eko: itulah hebatnya mas luigi ini.

@evi: lebih tepatnya: baik hati, tidak sombong dan rajin menabung. :D

bangpay mengatakan...

nek tek kirimi kartu pos sekang aku bakal diposting ra ya???

iman brotoseno mengatakan...

Anang mbok dikirimi kartu pos dari Jakarta saja tuh pul...Sementara Luigi dibalesi karo kartu pos prewedding wae...

Ipoul Bangsari mengatakan...

@bangpay: lha monggo, mengko tak postinge kang...

@iman brotoseno: soal anang, beyes. soal kang luigi, kartu posnya belum dibikin je mas...

yuswae mengatakan...

kata anang; biar cepet, kartu posnya dikirim via rekening aja. :D

kw mengatakan...

mengharukan...
inspiratip.

goenoeng mengatakan...

bener kang, kartu pos, surat 'tenanan', kuwi barang mahal buat sekarang.
lha wong yang masih rajin ngirimi aku 'sing asli' wae sekarang malah wong landha, kok.

Ndoro Seten mengatakan...

kasetyaning prajurit!!!!

SOUL-o-MITH mengatakan...

jaman sekarang era teknologi, sangat menyentuh banged pake tulisan tangan pulak..
*doh... aku sampe terharu
jd inget waktu kecil punya sahabat pena..

heheh *kang luigi emg sahabat sejati*

-GoenRock- mengatakan...

Wes mbok bales durung Kang?

Kaboer Kanginan mengatakan...

kartu pos memang sudah ditinggalkan kayaknya oleh orang Indonesia. Setahu saya, itu orang2 bule masih hobi berkirim2 kartu. Kenapa yaa?

endik mengatakan...

ndi bahan kartu posmu mas tak olahe

escoret mengatakan...

alamatmu opo pul..????
aku meh ngirim beras..????

elly.s mengatakan...

pengen minta perangkonya mas...

thuns mengatakan...

mas luigi emang top markotop yo dab!

lintasmarketing mengatakan...

Artikel di blog ini sangat menarik dan bagus. Anda bisa lebih mempromosikan artikel Anda di lintasberita.com dan jadikan artikel Anda Topik yang terbaik bagi para pembaca di seluruh Indonesia. Nantikan segera plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi untuk Blogspot dan Wordpress dengan instalasi mudah & singkat. Salam!

Luigi Pralangga mengatakan...

Juragan, moon update lagi alamat posnya.. akan kukirimin lagi dari negeri 1001 malam ya...