10 September 2008

Makan murah meriah di sisi Thamrin


Ada sebuah tanah kosong tepat di sebelah hotel Sari Pan Pacific. Tanah yang terbentang dari tepi jalan Thamrin hingga Sabang. Kira-kira dua kali luas lapangan bola. Tanah yang menjadi sengketa beberapa pihak selama bertahun tahun.

Yang namanya tanah kosong di pusat segitiga emas, tentu saja mengundang orang untuk memanfaatkannya. Sebagian besar ruang kosong ini sudah di patok menjadi areal parkir motor dan mobil. Sisanya, para pedagang. Mereka memarkir gerobak dagangannya sekaligus membuka lapak di ujung timur berbatasan dengan Sabang. Juga ada dua warung penjual nasi atau biasa disebut dengan warteg.

Salah satunya berjualan mepet tembok yang berbatasan persis dengan areal parkir taksi Sari Pan Pacific. Pemiliknya, suami istri dari Kebumen yang sudah tinggal di tanah ini dari tahun 80-an. Meski dibatasi tembok setinggi 2 meteran, jual beli berjalan lancar. Si istri melayani di warung, sementara sang suami melayani di dalam tembok. Pelanggannya: supir taksi, pekerja hotel dan tukang wedang. :P.

Untuk kebebasan memakai ruang ini, mereka harus membayar 150 ribu rupiah sebulan kepada aparat. Tentang siapa aparat ini, mereka tak tahu. Pokoknya begitu masanya tiba, mereka datang menagih sewa.

Warung satunya lagi adalah warteg ini. Terletak di bawah pohon kersen subur yang menaunginya. Atapnya hanya sedikit lebih tinggi dari tinggi orang dewasa. Sebuah gubuk kecil yang dihuni beberapa orang, juga seorang anak kecil. Sebagaimana umumnya pengelola warteg, mereka berasal dari Tegal.

Makanan keduanya cocok untuk lidah saya, lebih cocok lagi untuk kesehatan kantong saya. Bayangkan saja, untuk nasi porsi setengah plus sambal-sayur dan bawal goreng cukup 5 ribu rupiah saja.

Belum lagi ditambah gratisan hidangan pencuci mulut. Silahkan tinggal ambil sendiri di atas kepala. Buah kersen. :P

11 komentar:

Fitra mengatakan...

Haaahhh 5rb pake bawal? itu bawalnya utuh apa kepalanya aja, apa ekornya aja...ato jangan2 tulangnya aja? heheheh.....untungnya dimana ya?

Hedi mengatakan...

lho berati awakmu ga poso yo? wah kaum murtad kowe :P

didut mengatakan...

tumben nih bulan puasa postingannya makanan semua :D

Anang mengatakan...

haiah pas waktu buka membaca ini, buka dulu mas ipul. kapan2 lek kesana tak nyobak deh

Herman Saksono mengatakan...

Murah tenan ik

Lare rantau mengatakan...

Warunge sederek sampean nopo pak...?

Evi mengatakan...

kok ga pernah ngajak aku....? masuknya lewat yg jualan CD/MP3 itu ya?
kapan2 yo yen aku pas jalan2 neng lorong sebelah pabrikmu, golek seng murah meriah mayan buat lebaran kaos2 bermerk dgn hrg miring hehehe.... :D

Pinkina mengatakan...

nek daerah sebelah kono aku seneng warung Arema, langganan ket jaman nganggur dulu sekitar thn 2003 :D sampek skrg kl ke daerah situ pasti mampir ke Arema

eko mengatakan...

eling kos ning Yogya ya Ful, panganan murah2...iso utang pisan :-)

Diana mengatakan...

waduh puasa2 bang, postingannya makanan terus nih, bikin laper! Tuh sampe ada yg nuduh ga puasa :) btw, senang wisata kuliner ya, ceritanya coba makanan di sana-sini... Slurp, salah jg ngeblog pagi, inilah resikonya :D

Den B@gus mengatakan...

duh....jadi pengen cepetan buka puasa nih..
salam kenal dari mbrebes, orang kampung juga