Gara-gara ikut ngurusi proyek pengumpulan seribu buku, saya jadi tahu. Bahwa kebijakan pemerintah membeli hak cipta buku-buku bahan ajar ternyata masih belang-blentong (bolong-bolong).Ceritanya, kemarin itu ada seorang donatur yang siap membiayai pengadaan buku-buku pelajaran anak-anak Bangsari. Terutama yang untuk kelas 3 MTs. Pertimbangannya, ya karena kelas tiga itu sudah hampir lulus. Kan sayang sekali kalau mereka sampai kekurangan bahan belajar. Untuk kelas yang dibawahnya, insya allah akan menyusul kemudian. Dengan catatan, selama dananya masih cukup.
Rencana awalnya begini. Kami akan mengunduh materi bahan ajar yang dipublikasikan di websitenya Diknas, dan kemudian akan kami perbanyak sendiri. Dengan dicetak sendiri, fotokopi atau mencoba melobi penerbit tertentu.
Untuk keperluan itulah kemudian saya meminta bapak saya (sebagai ketua komite sekolah di MTs Bangsari) mengumpulkan data buku pelajaran apa saja yang dijadikan sebagai bahan ajar di sana. Bukunya apa, pengarangnya siapa, penerbitnya apa, kebutuhannya berapa dan sebagainya.
Nah, kemarin pagi sebelum berangkat kerja, daftar yang saya minta tiba di kos melalui kiriman pos. Sesampainya di pabrik, segera saya kirimkan ke beliau melalui mesin faks. *Memakai fasilitas pabrik itu termasuk korupsi ndak ya?*
Sebentar kemudian ada respon dari beliau, bahwa tak satu pun dalam daftar itu sesuai dengan yang terpampang dalam website Diknas. Terang saja saya terkaget-kaget. Segera saya teliti daftar tersebut. Dan ternyata benar saudara-saudara. Tak satu pun yang sama. Lha, bagaimana ini?
Buru-buru saya telpon ke Bapak di kampung mengenai hal ini. Bapak menjelaskan bahwa buku-buku itulah yang dipakai di sana. Mengapa tidak sesuai standar Diknas? Lha bagaimana mau menyesuaikan dengan Diknas, informasinya saja mereka tidak tahu harus mencari kemana.
E-book yang selama ini dicanangkan pemerintah itu tak sampai ke sana. Internet saja tak ada, maka jangankan murid, gurunya saja tak pernah tahu internet itu apa.
Maka, kalau ada materi yang lebih up to date, tentu saja mereka bergembira. Karena toh biasanya soal Ujian Nasional itu sesuai dengan standar yang dibuat dari pusat.
"Informasi perubahan kebijakan dari Diknas pusat biasanya baru sampai disini sekitar 1-2 tahun ajaran. Jadi ya harap maklum", kata bapak.
Bayangkan! Untuk kampung saya yang cuma di pelosok Cilacap saja membutuhkan waktu selama itu, bagaimana yang di pedalaman Kalimantan atau Papua sana ya? Itu pun dalam keadaan normal. Maksud saya, buku hardcopy yang tinggal terima saja butuh waktu dua tahun, bagaimana dengan e-book yang harus di ini itukan lebih dulu?
Benar-benar sulit dibayangkan.
Atau, jangan-jangan proyek ini baru cocok diterapkan satu generasi yang akan datang ya? Semoga saja tidak...




25 Sing Melu Umuk:
semuanya pasti butuh proses.... ga mungkin secepat itu langsung jadi.. tapi prosesnya kalo lama ya.. sama aja boong
kuwi depdiknas di bubarke wae... kacrut
tahu nggak pul, departemen yang paling tinggi angka korupsinya adalah Dep Agama dan Dep Diknas..
Ya ide EBook ini sangat tidak populer diantara para cengkune, mafia pengadaan buku buku yang selama bancaan sama pejabat pejabat departemen. Sudah sebenarnya urusan pendidikan di lepas ke otonomi daerah saja deh. Terserah gubernurnya.
besok abis pemilu 2009 ganti menteri pasti ganti kebijakan lagi. e-book bakal tinggal kenangan
semua proyek di indonesia itu kebanyakan ga beresnya...cincai lah :D
kayaknya mesti ada program internet masuk desa nih, biar anak2 di desa juga bisa mengakses pelajaran2 sekolah via internet
di Bangsari ono sinyal gak? :-)
wah.. boss klo gitu sampean bener2 membantu orang yang sangat memerlukan informasi, apalagi itu di dalam dunia pendidikan.
Salut dan terharu broo
lho kok baru nyadar sih, pul?
Itulah mas... mestinya kalo pemerintah mau bikin kebijakan buku lewat e-book tadi yaa setidaknya soal internet juga harus dipahami di sekolah-sekolah, biar gak bingung... Kebijakan bagus, tapi juga harus siap.
thanks udah mampir di blog ku :)
ujung-ujungnge korupsi maneh .....
capek deh.... :(
itu internet ..lah kalo bisa ngunduh mo dibaca dimana wong sekolah yg punya komp msh bisa dihitung dgn jari
kate sinau ae soro yho...dikandani pendidikan hanya untuk orang kaya kok fyiuhhh....
13 september 2008
selamat ulang tahun mas ipul..
sehat selalu sukses selalu
i luv u :)
Buku-pendidikan itu bisnis, mas ! Duit. Jadinya, ya, kayak begitulah. Ruwet.
donlod e angel, opo maneh nyebarke. mumet...
horeeeee mas ipul ulang tauuuunn.. muah muaaaahhhh
dan akhirnya kita kembali ke.....PASAR SENEN! Huahaaaaa
woalah..meh mbagi ilmu wae kok angel tenan yo? :(
Yang di pedalaman Kalimantan atau Papua mungkin satu dekade baru ada apdet Informasi perubahan kebijakan dari Diknas pusat. Atau satu abad? Mwakakak! *ngaco*
kan kebijakan itu kebijakan kagetan, kang... kaya ABG baru melek friendster lah...
Ah, mbalik ngrungokna CURANMOR baen lah... :)
Btw paling tidak program EBook sudah dimulai sekarang. tinggal bagaimana masalah infrastruktur dll-nya itu menyusul. harus ada memulai walaupun tidak sempurna :)
-Setiaji-
www.kodokijo.net
Betul... anak-anak sekolah di Maumere masih kekurangan bahan ajar yg berkualitas...jangankan sampe Papua, sampe Maumere aja mungkin baru 5 tahun lagi, hehe...
Yah... negara ini terlalu akrab dengan kebijakan instan dan instan...
yang bikin proyek pasti tinggal di jakarta dan gak pernah jalan-jalan ke kampung saya :)
smoga bisa jalan lancar programnya...
calon leg.. eh..hush..
hihih...*CLEP
semangat kang! hehehe...
oya... kok jumat wingi aku mampir neng BHI ra ono sopo2 yo???
Poskan Komentar