29 September 2008

Selamat Berlebaran, Mohon Maaf Lahir dan Bathin

Jika dicermati, sebenarnya pergaulan dengan Gusti Allah itu jauh lebih enak ketimbang dengan manusia. Allah Maha Pengampun. Lembaga pengampunan-Nya banyak sekali. Beristighfar; menghapus doa; bersembahyang; menghapu dosa; berpuasa; menghapu dosa; berbuat baik; menghapu dosa; dan masih banyak lagi.

Berbeda dengan (sebagian) manusia. Salah sedikit marah, bahkan sering kehilafan yang tidak disengaja pun sulit dimaafkan. Maka, untuk meminta maaf atau memaafkan, orang memerlukan timing tertentu seperti Lebaran ini.

Selamat Berlebaran, Mohon Maaf Lahir dan Bathin.

Dikutip dari tulisan Gus Mus dalam Membuka Pintu Langit:

22 September 2008

Gelang Keseimbangan


Dua orang Ibu-ibu dan seorang Bapak datang ke pabrik. Berjas dan berbaju necis serta wewangian yang layak. Mereka menenteng map berisi brosur, tas-tas kerja dan juga sebuah laptop mini. Salah satunya sepertinya berasal dari negeri seberang, terlihat dari logat melayunya yang kental. Cerita tentang pentingnya kesehatan segera mengalir.

Salah satu sebab terjadinya berbagai penyakit dalam tubuh adalah karena terjadinya ketidak-seimbangan magnetik di sekitar kita. Berkurangnya sumber magnet alami bumi, juga terutama akibat munculnya peralatan modern. Radiasi dari alat-alat inilah yang paling banyak andil dalam mengacaukan sistem ketidak-seimbangan tubuh. Masih ingat cerita tentang dua telur yang diletakkan diantara dua handphone yang berbicara secara terus menerus selama 65 menit? Telurnya matang!

Ketidak-seimbangan ini menyebabkan gangguan: insomnia, migrain, kelelahan, sembelit, ketegangan dibelakang bahu, sakit leher dan tulang belakang, pusing yang hilang timbul. Juga konsumsi makanan dan minuman yang tidak sehat, residu polusi udara yang dalam jangka panjang akan menyebabkan berbagai penyakit. Mulai dari penyakit degeneratif, penyakit akibat gangguan imunitas tubuh, gangguan pencernaan, gangguan hormonal, dan lain sebagainya.

Namun jangan takut Saudara. Kini tersedia alat yang bisa mengembalikan peran medan magnet bumi itu. Yang akan membereskan semua masalah tanpa anda perlu lelah. Yang akan mengembalikan keseimbangan bioenergi sel dalam tubuh Anda. Sekaligus melancarkan aliran darah, mengembalikan "Natural Self Healing", menghilangkan "Natural Killer Cell", membantu regenerasi sel dan sebagainya.

Percayalah, gelang ini bisa menjadi obat yang luarbiasa. Yang menyembuhkan begitu banyak penyakit. Juga mengatasi masalah kekayaan kebahagiaan keluarga Anda.

Cukup dengan XXX saja, hidup anda akan menjadi lebih baik.

Dalah hati saya membatin: Yah, namanya juga MLM. Ada-ada saja cara kreatif mereka menawarkan produk.

Tapi satu gelang mengapa tidak? Apalagi jika itu adalah gratisan...

18 September 2008

Muktamar Blogger II

Sampeyan blogger yang suka ngumpul-ngumpul ala ndeso? Ayo ikuti Muktamar Blogger II 2008. Muktamar kali ini yang mengusung tema "Blogging for Wit-witan" adalah kelanjutan dari Muktamar yang lalu.

Melalui acara ini diharapkan puyeng-puyeng, pegel-pegel dan roso ati terhadap kota nJakarta menjadi plong. Yang terlanjur jadi penghuni jakarta bisa curhat sekaligus nyari teman ndesonya. Yang dari luar kota (perlu diingat, orang Jakarta menganggap luar Jakarta bukanlah kota) bisa melihat Jakarta langung dari jantungnya langsung, Bunderan Hotel Indonesia.

Ayo tunggu apalagi? Keluarkan uneg-uneg dan gerutumu. Bergabunglah dengan kami di emperan BHI.

Tidak ada syarat dan ketentuan. Sampeyan datang, sampeyan muktamirin. Sampeyan boleh datang pake sarung, sendal jepit dan caping gunung. Tak perlu khawatir, tidak ada AC disini. Jadi sampeyan ndak mungkin masuk angin.

Acara ini digelar malam sebelum Pesta tetangga sebelah berlangsung. Yah, semacam malam towong (malam menjelang acara inti hajatan) lah. Untuk lengkapnya, silahkan lihat di sini...

Traveller's Cheque

Belakangan istilah Travellers's Cheque (orang keuangan pabrik sering menyebutnya "TC"), atau disebut juga Cek Perjalanan, atau ada juga media yang menyebut Cek Pelawat, begitu sering terdengar. Itu makanan apa sih?

Menurut info yang saya terima dari orang keuangan, terdapat dua jenis cek dalam transaki perbankan. Cek (biasa) dan cek perjalan.

Secara sederhana, cek (biasa) adalah lembaran surat bank yang bisa digunakan untuk mengambil uang di bank. Cek dicairkan dengan cara mengurangi sejumlah uang dari rekening seseorang. Besarnya uang yang tertera pada cek jenis ini tergantung jumlah nominal yang diisi oleh pihak yang mengeluarkan (pemilik rekening). Inilah kelebihan cek jenis ini. Jumlah yang diterakan lebih fleskibel.

Masalahnya, karena ditulis manual, bisa saja terjadi ketidak-sesuaian antara jumlah tertulis dengan deposit yang tersimpan dalam rekening tersebut. Karena itulah bisa dimengerti, mengapa sampai ada kejadian pembayaran dengan cek kosong oleh PSSI tempo hari itu.

Sedangkan cek perjalanan tidak dicairkan dari rekening manapun, tapi langsung bisa diuangkan di bank yang mengeluarkan cek tersebut. Lha trus sumber uangnya didebet darimana? Pada kasus cek perjalanan, sumber dananya harus diserahkan pemohon di awal transaksi kepada bank penerbit. Istilah kasarnya, si pemohon harus membeli dulu sesuai satuan-satuan nominal tertentu (jutaan hingga ratusan juta). Plus tambahan biaya administrasi.

Sehingga, dari situ saja dapat diketahui kelebihan cek perjalanan di banding cek biasa. Kepastian bisa diuangkan. Makanya, cek perjalanan sudah menjadi alat bayar yang umum. Pasti, mudah, ringkas dan flesiksibel. Itulah sebabnya, pelaku penyuapan belakangan sering menggunakan cek jenis ini.

Lha, kok sampeyan tahu tentang TC? Ya maklum saja. Saya ini tukang wedang yang sering berperan juga menjadi kurir.

Jadi, kalau tulisan ini terasa kurang pas ya harap dimaklumi. Cuman bala dhupak gitu loh...

11 September 2008

E-book dan dunia pendidikan kita

Gara-gara ikut ngurusi proyek pengumpulan seribu buku, saya jadi tahu. Bahwa kebijakan pemerintah membeli hak cipta buku-buku bahan ajar ternyata masih belang-blentong (bolong-bolong).

Ceritanya, kemarin itu ada seorang donatur yang siap membiayai pengadaan buku-buku pelajaran anak-anak Bangsari. Terutama yang untuk kelas 3 MTs. Pertimbangannya, ya karena kelas tiga itu sudah hampir lulus. Kan sayang sekali kalau mereka sampai kekurangan bahan belajar. Untuk kelas yang dibawahnya, insya allah akan menyusul kemudian. Dengan catatan, selama dananya masih cukup.

Rencana awalnya begini. Kami akan mengunduh materi bahan ajar yang dipublikasikan di websitenya Diknas, dan kemudian akan kami perbanyak sendiri. Dengan dicetak sendiri, fotokopi atau mencoba melobi penerbit tertentu.

Untuk keperluan itulah kemudian saya meminta bapak saya (sebagai ketua komite sekolah di MTs Bangsari) mengumpulkan data buku pelajaran apa saja yang dijadikan sebagai bahan ajar di sana. Bukunya apa, pengarangnya siapa, penerbitnya apa, kebutuhannya berapa dan sebagainya.

Nah, kemarin pagi sebelum berangkat kerja, daftar yang saya minta tiba di kos melalui kiriman pos. Sesampainya di pabrik, segera saya kirimkan ke beliau melalui mesin faks. *Memakai fasilitas pabrik itu termasuk korupsi ndak ya?*

Sebentar kemudian ada respon dari beliau, bahwa tak satu pun dalam daftar itu sesuai dengan yang terpampang dalam website Diknas. Terang saja saya terkaget-kaget. Segera saya teliti daftar tersebut. Dan ternyata benar saudara-saudara. Tak satu pun yang sama. Lha, bagaimana ini?

Buru-buru saya telpon ke Bapak di kampung mengenai hal ini. Bapak menjelaskan bahwa buku-buku itulah yang dipakai di sana. Mengapa tidak sesuai standar Diknas? Lha bagaimana mau menyesuaikan dengan Diknas, informasinya saja mereka tidak tahu harus mencari kemana.

E-book yang selama ini dicanangkan pemerintah itu tak sampai ke sana. Internet saja tak ada, maka jangankan murid, gurunya saja tak pernah tahu internet itu apa.

Maka, kalau ada materi yang lebih up to date, tentu saja mereka bergembira. Karena toh biasanya soal Ujian Nasional itu sesuai dengan standar yang dibuat dari pusat.

"Informasi perubahan kebijakan dari Diknas pusat biasanya baru sampai disini sekitar 1-2 tahun ajaran. Jadi ya harap maklum", kata bapak.

Bayangkan! Untuk kampung saya yang cuma di pelosok Cilacap saja membutuhkan waktu selama itu, bagaimana yang di pedalaman Kalimantan atau Papua sana ya? Itu pun dalam keadaan normal. Maksud saya, buku hardcopy yang tinggal terima saja butuh waktu dua tahun, bagaimana dengan e-book yang harus di ini itukan lebih dulu?

Benar-benar sulit dibayangkan.

Atau, jangan-jangan proyek ini baru cocok diterapkan satu generasi yang akan datang ya? Semoga saja tidak...

10 September 2008

Makan murah meriah di sisi Thamrin


Ada sebuah tanah kosong tepat di sebelah hotel Sari Pan Pacific. Tanah yang terbentang dari tepi jalan Thamrin hingga Sabang. Kira-kira dua kali luas lapangan bola. Tanah yang menjadi sengketa beberapa pihak selama bertahun tahun.

Yang namanya tanah kosong di pusat segitiga emas, tentu saja mengundang orang untuk memanfaatkannya. Sebagian besar ruang kosong ini sudah di patok menjadi areal parkir motor dan mobil. Sisanya, para pedagang. Mereka memarkir gerobak dagangannya sekaligus membuka lapak di ujung timur berbatasan dengan Sabang. Juga ada dua warung penjual nasi atau biasa disebut dengan warteg.

Salah satunya berjualan mepet tembok yang berbatasan persis dengan areal parkir taksi Sari Pan Pacific. Pemiliknya, suami istri dari Kebumen yang sudah tinggal di tanah ini dari tahun 80-an. Meski dibatasi tembok setinggi 2 meteran, jual beli berjalan lancar. Si istri melayani di warung, sementara sang suami melayani di dalam tembok. Pelanggannya: supir taksi, pekerja hotel dan tukang wedang. :P.

Untuk kebebasan memakai ruang ini, mereka harus membayar 150 ribu rupiah sebulan kepada aparat. Tentang siapa aparat ini, mereka tak tahu. Pokoknya begitu masanya tiba, mereka datang menagih sewa.

Warung satunya lagi adalah warteg ini. Terletak di bawah pohon kersen subur yang menaunginya. Atapnya hanya sedikit lebih tinggi dari tinggi orang dewasa. Sebuah gubuk kecil yang dihuni beberapa orang, juga seorang anak kecil. Sebagaimana umumnya pengelola warteg, mereka berasal dari Tegal.

Makanan keduanya cocok untuk lidah saya, lebih cocok lagi untuk kesehatan kantong saya. Bayangkan saja, untuk nasi porsi setengah plus sambal-sayur dan bawal goreng cukup 5 ribu rupiah saja.

Belum lagi ditambah gratisan hidangan pencuci mulut. Silahkan tinggal ambil sendiri di atas kepala. Buah kersen. :P

05 September 2008

Bacaan tartil di internet


Internet masih saja membuat saya tergumun-gumun. Termasuk dalam hal yang satu ini.

Tahukan Anda bahwa layanan bacaan tartil Al Qur'an dan terjemahannya juga tersedia di internet? Atau, jangan-jangan malah sampeyan sudah lebih dulu tahu saya.

Untuk Anda yang belum tahu, cobalah buka website ini. Silahkan pilih Surat , Ayat (settingan default untuk seluruh ayat pada surat dimaksud), Juz dan juga pentartilnya. Setelah itu tinggal klik tombol "play" di sebelah kiri bawah.

Surat dan terjemahan yang sedang dibaca, ditandai dengan higlight pada teksnya yang bergerak menyesuaikan suara pentartil.

Selain dalam bahasa Indonesia, bahasa lain yang tersedia adalah: Belanda, Inggris, Perancis, Turki dan Urdu.

Proses buffering juga cepat, untuk surat-surat panjang seperti surat Al Baqarah sekalipun. Jadi untuk yang fakir benwith juga tidak masalah.

Nah, sekarang pindah topik. Mmengenai kemajuan teknologi ini, guju ngaji saya di Jombang dulu secara berguaru sering menyinggung sikap kita yang menurutnya senang enaknya saja: "Kalau tape-nya yang rajin tadarrus, ya tape itulah yang masuk surga". Maklum saja, waktu itu belum banyak piranti yang lebih canggih dari itu.

Secara berkelakar pula saya menjawab: "Dan yang punya tape juga dipastikan masuk surga. Karena sudah memberikan kesempatan tape-nya untuk masuk lebih dulu". hehehe

Nah, silahkan tinggal pilih tape, eh komputer Anda atau diri sendiri...

04 September 2008

Bunderan HI


Saat masih ada Laporan Khusus di TVRI jaman dulu, acara ini selalu didahului penayangan gambar-gambar Bunderan HI dengan air mancurnya, Tugu Pancoran, Monas dan Istana Negara sebagai ikon keberhasilan pembangunan. Tayangan yang terus menerus tentu saja meninggalkan jejak yang mendalam pada benak banyak pemirsanya. Termasuk saya.

Maka, ketika pertama kali sampai di Jakarta pada 3 puasa yang lalu, ndoro seten sebagai kompatriot saya di Kebon Kacang segera mengajak berziarah pada tempat-tempat tersebut. Supaya sah saratnya sebagai orang nJakarte, katanya.

Monas, Istana Negara (meski cuma depannya saja) dan Bunderan HI kami sambangi. Sedang Tugu Pancoran tidak.

Dan di sini, di pusat pembangunan yang dibangga-banggakan itu, kini saya berada. Di sini pula saya menemukan orang-orang senasib. Orang-orang yang yang "terpaksa" ke Jakarta karena tak banyak lapangan kerja di kampung. Buruh bangunan (pembongkaran HI), atau para pekerja di plasa indonesia. Juga para penjual wedang.

Perjalan hidup saya bahkan tak kemana-mana, hanya seputaran situ. Membosankan sebenarnya, tapi tak buruk-buruk amat lah...

Lokasi: foto diambil dari Grand Hyatt - Plasa Indonesia

Cimpluk Berry


Dalam angan saya, seandainya cimplukan tumbuh di eropa, mungkin ia akan dikenali sebagai salah satu jenis buah berry. Cimpluk Berry, katakanlah.

Dan sepertinya sangat keren jika kemudian cimplukan yang banyak tumbuh liar di sini, diburu orang karena harganya menjadi mahal dan bergengsi.

Coba saja sampeyan perhatikan. Bentuk dan rasanya saya kira sudah memenuhi sarat untuk masuk keluarga berry (pakde ndobos sangat fasih mengenai hal ini).

Buahnya bulat kecil seujung kelingking yang terbungkus oleh balon selubung yang terlalu besar sehingga menyisakan rongga udara. Saat selubungnya berubah warna menjadi kecoklatan, itu pertanda cimplukan didalamnya sudah matang. Tapi kalau di kampung saya, itu jarang sekali terjadi karena biasanya sudah keburu diembat. Bahkan dari sebelum berbuah, pohon cimplukan ini sudah dithengi (diincar) anak-anak.

Warnanya kuning jika sudah matang dan rasanya manis. Sangat cocok untuk dijadikan topping kue ini bukan?

Lokasi: Resto Fiesta - Sari Pan Pacific

Lesehan Bu Gendut Blok M


Bertempat di sebuah emperan kecil di salah satu pojok Blok M, tak jauh dari terminal. Satu-satunya petunjuk yang saya dapat dari KW, lesehan itu berada di dekat Pojok Busana.

Tak ada daftar menu, spanduk apalagi papan nama. Kami menyebutnya lesehan Bu Gendut, mengacu pada pemiliknya seorang ibu-ibu bertubuh makmur yang semanak.

Saya sendiri lebih suka menyebutnya, lesehan yang dahsyat. Yang sebagaimana umumnya masakan standar kaki lima, makanannya kaya dalam hal rasa. Rendang, telor asin, kikil, sate telor puyuh, urap, ayam bakar, ayam dan lele goreng, udang sambal goreng, tempe goreng, bothok, pare dan kangkung terhampar di lapak setinggi lulut. Anda tinggal liat, tunjuk dan nikmati.



Menilik rasanya yang pedas dan "berani", saya menduga si ibu ini berasal dari daerah pesisir jawa. Namun dugaan saya salah besar. Aslinya Solo. Masih bertetangga dengan pentraktir kita malam itu. Maka, pantas saja jika gudeg dan areh (kuah untuk gudeg) tersaji juga di situ.

Untuk semua makanan plus minuman kami bertujuh (KW, Mumu, Iqbal, Zam, Suprie, Omith dan saya sendiri), cuma menghabiskan 129 ribu rupiah.

Sekali-kali, mampirlah kesana kisanak...

Dari Presiden HI untuk Blogger

Judul : Mengenal dan Mempercantik Blog
penulis : Bahtiar Rifai, ST & Eko Priyo Utomo,ST
penerbit : Yrama Widya, Bandung
halaman : 120
cetakan : 1
tahun : september 2007
ukuran : 12,5 x 19,5 cm
ISBN : 978-979-543-551-8

Untuk detailnya silahkan lihat di sini...

02 September 2008

In memorian "Bebek" Susiawan Wijaya

Ia datang ke HI saat semuanya masih sepi. Tinggal bersama saudaranya di mampang, di belakang salah satu stasiun swasta, juga Universitas Paramadina yang kelak dia mendapatkan tambatan hatinya. Dengan motor bebek yang kreditnya sempat tersendat-sendat karena di PHK, dia selalu antusias menghadiri suatu kopdar ke kopdar lainnya. Hampir setiap hari. Dalam sebuah pertemuan di semanggi, dia bercerita bahwa dia baru saja menghadiri kopdar kelompok si A. Dan setelah acara selesai, dia menuju kopdar yang lain. Itulah makanya dia disebut Panglima Kopi Darat (Pangkopdar).

Beberapa kali menginap di kebon kacang, hanya untuk memuaskan kehausannya akan komputer. Dia suka memperbaiki settingan komputer saya semalaman dan keesokannya dia memberikan laporan lengkap. "Perfomance-nya sudah kuoptimalkan, fitur-fitur yang tak perlu juga sudah ku hilangkan. Bla... bla... bla...", dia terus saja nyerocos. Saya tak tega dengan perjuangannya, pura-pura saya menganngguk. Padahal saya ndak paham apa yang dia omongkan. hehehe

Dia juga sangat kecanduan Internet. Begitu kecanduannya, pernah pada suatu tengah malam dia mengajak saya dan kang Bah ke pabrik untuk sekedar meng-update blog dan ubo rampene. Cilakanya, fingerprint saya hanya mempan pada pintu pertama yang sekaligus berfungsi sebagai absen para buruh. Maka, di emper pabriklah kami akhirnya nongkrong. "Yang penting luberan wifinya masih kenceng", katanya girang. Dia ngenet, sementara saya molor di kursi sampai pagi. Belakangan bagian HRD ngomel-ngomel karena terdapat absen saya yang tidak normal. hahaha

Tak pernah ketinggalan, rokok Dji Sam Soe filter yang selalu ditentengnya kemana pun. Cara merokoknya seperti kereta jaman dulu, selalu ngebul setiap saat. Pernah suatu ketika saat jalan-jalan di belakang Plasa Indonesia, dia tak mau saya ajak makan siang karena rupanya dia sedang tidak punya uang selain untuk rokok.

Setelah beberapa bulan menganggur, ia pergi ke Aceh atas bantuan Kang Bah, sekitar dua tahun lalu. Dia sempat bercerita posisi yang ditawarkan kalau tak salah adalah database administrator. Untuk itu dia girang setengah mati karena dalam perhitungannya, dia pasti akan banyak berhubungan dengan internet.

Tiga hari sesudah keberangkatannya, saya sempat menelponnya. Dia misuh-misuh karena ternyata senjata kerjanya cuma PC offline dan database yang dimaksud ternyata hanya olah data melalui Microsoft Excel. Dengan area kerja yang berpindah-pindah, kesempatan beronline tentu saja semakin sulit. Itulah makanya gaji pertamanya dia belikan handpone 3G. Masalah yang timbul kemudian, ternyata kesukaannya berinternet menghabiskan sebagian pendapatannya.

Oleh karenanya, dia bertekad kembali ke Jakarta. Dimana wifi dan tempat nongkrong sangat melimpah, katanya.

Sayang sekali, Tuhan berkehendak lain. Setelah kepulangannya yang terakhir (yang seperti sebuah perpisahan), Tuhan memanggilnya.

Foto diambil dari sini tanpa ijin