07 Agustus 2008

Masjid Perahu

Satu lagi masjid hebat yang tersembunyi di Jakarta


Secara tak sengaja saya "menemukan" masjid ini. Penerangan di depan gang yang hanya ala kadarnya membuat tulisan pada plang kecil menuju masjid tak begitu jelas terlihat. Sempat malahan saya mengira jalan ini menuju sebuah komplek kuburan atau setidaknya melewati tanah kosong. Ceritanya, waktu itu saya sedang mencari jalan pintas menuju ke seputaran Saharjo. Namun, adanya kejutan ini segera menyita perhatian saya. Kejutan yang menyenangkan.

Dari Karet naiklah angkot M 44. Turun di depan apartemen Casablanca, tepat sebelum angkutan naik ke flyover. Di antara dua tower apartemen yang menjulang, terdapat sebuah gang kecil yang diterangi neon 10-an watt. Terdapat beberapa anak undakan menurun yang tak bisa dilalui dengan kendaraan.

Kira-kira 15 meter berjalan, senyap langsung menyergap. Gegap gempita deru kendaraan menghilang tanpa bekas. Inilah kompleks masjid itu.

Kelelawar, Pilar Kayu Jati Utuh, Al-Qur'an raksasa dan Batu Mulia

Pohon-pohon besar menaungi atap dan pelataran masjid yang, menurut angan-angan saya, sepertinya relatif sedikit terkena cahaya matahari di waktu siang. Diapit dua bangunan bersusun yang menjulang di sisi sisi kanan-kirinya, menjadikan masjid ini mirip seperti tempat persembunyian yang sempurna. Kelelawar-kelelawar besar beterbangan kesana kemari berpesta buah juwet yang sedang meranum. Beberapa diantaranya berjatuhan mengotori pelataran.

Ingatan saya langsung tebang ke masa lalu. Ah, seandainya tidak malu, ingin sekali saya bergabung dalam serta pesta mereka. Suasana ini mengingatkan saat saya pada masa kecil dulu di Bangsari. Pohon juwet belakang rumah Mbah Kyai Sarbini karena buahnya yang lebat, menjadi salah satu pohon incaran anak-anak seputaran pesantren. Berebut saling memanjat dengan sengit, terkadang diselingi sedikit adu mulut. Simbah dengan sabar menunggui kami dari kejauhan sambil terkekeh-kekeh. Hmm, kesenangan itu ernyata sederhana.

Cicitan segerombolan kelelawar membuat saya tersadar kembali. Sebuah perahu besar di samping kiri masjid langsung menyita perhatian saya. Saya sempat bingung hendak melanjutkan perjalanan atau mampir sebentar. Ndilalahnya, saat itu azan isya sedang dikumandangkan. Sehingga ada alasan untuk memasuki masjid.


Rupanya perahu di samping masjid itu adalah tempat wudlu jamaah wanita. Waktu itu tak satu pun terlihat. Saya pun memasukinya. Rupanya bentuk perahu itu berfungsi sebagai hijab (pembatas) saat jamaah wanita mengambil air wudlu. Sebuah ide yang cerdas. Seniman hebat pun saya rasa akan mengacungi jempol untuk ide ini.

Selesai wudlu, beberapa jamaah pria mulai muncul. Tak banyak jamaah malam ini. Kalau tak salah ingat, semuanya cuma ada delapan orang termasuk saya dan imam.

Bagian inti masjid tidak terlalu besar. Kurasa hanya sedikit lebih besar dari empat kali ukuran kamar kosku. Empat pilar kayu berukuran besar menegakkan bangunan ini. Semuanya terbuat dari kayu jati berdiameter kira-kira 60-an centimeter. Dua pilar belakang terbuat dari gelondongan kayu utuh tanpa sentuhan pahat. Sedang dua yang di depan terbuat dari potongan-potang kayu jati (tatal-jawa) yang disatukan dan diukir. Sepertinya, sang pendiri sengaja meniru pilar Masjid Agung Demak. Karena saya belum pernah mengunjungi Masjid Demak, jadi saya ya hanya mengira-ngira saja. Setidaknya begitulah cerita yang pernah saya dengar.




Lantai dan dinding bagian dalam ini terbuat dari marmer kehijauan. Sedang garis shof marmer berwarna putih. Hal ini sangat berbeda dengan lantai bagian serambi yang “cuma” terbuat dari keramik putih polos sebagaimana umumnya masjid jaman sekarang.

Sisi depan yang sejajar ruang imam dihiasi kayu jati berukir. Begitu pun tempat imam memimpin sholat. Sebuah batu putih berukuran lebih besar dari kepala manusia diletakkan persis di depan tempat khutbah. Sebuah batu mulia yang mirip giok atau jade.

Selesai jamaah, seorang makmum saya tanyai mengenai batu itu. Tidak cuma menjelaskan tentang batu depan tempat khutbah itu, beliau mengajak saya melihat koleksi batu di ruang yang lebih dalam. Belasan batu mulia yang jauh lebih besar ada di sini. Ada yang hijau sangat licin dan transparan, sampai-sampai lantai dibawahnya samar terlihat. Ada yang berwarna merah bata, hitam dan juga putih kecoklatan. Ada juga yang masih kasar dan belum dipoles.

Belasan batu besar itu semuanya mengelilingi sebuah mushaf Alqur'an raksasa. Taksiran saya besarnya 2x1,5 meter dengan ketebalan sekitar 30-an centi. Kulit luarnya terbuat dari kayu jati yang berukir serumit dinding pengimaman. Mushaf ini selesai dibuat sekitar akhir 90-an oleh salah seorang ustad. Penyelesaiannya sendiri memakan waktu beberapa tahun, katanya tak menyebutkan rinciannya.

Dia kemudian bercerita, masjid ini didirikan sekitar awal tahun 60-an. Sang pendiri yang merupakan salah satu tokoh thoriqoh (atau tarekat) menjadikan batu-batu itu sebagai bagian dari laku ritual. Untuk menciptakan suasana yang mampu mendatangkan ketenangan batin, jelasnya. Entah benar atau tidak, saya akui suasana di masjid ini memang sangat menentramkan hati dan pikiran.

“Coba, untuk apa orang muslim jauh-jauh datang ke mekah berhaji? Mereka itu ya hendak menemui ibunya batu dari segala batu.”

Saya menebak yang dia maksud adalah Hajar Aswad (secara bahasa berarti batu hitam), yang terletak pada salah satu sudut kubus Ka'bah.

Ajaran thoriqoh yang mengajarkan kesederhanaan dan kezuhudan membuat mereka tidak mau mengekpos masjid ini keluar. “Untuk apa kami dikenal?”, ungkapnya.

Belum sempat saya menanyakan filosofi perahu di samping masjid, beliau sudah mengundurkan diri. Sepertinya saya perlu kembali lagi suatu saat.

Lokasi: Masjid Agung Al-Munada Darrossalam "Baiturrohman" (Masjid Perahu)
Jl. Menteng Dalam RT 003/RW 05 Tebet Jakarta Selatan

45 komentar:

Evi mengatakan...

ruar biasa....sepertinya menarik sekali.
eh, menteng dalam berarti dibelakang pancoran ya?

mikow mengatakan...

"Sempat malahan saya mengira jalan ini menuju sebuah komplek kuburan"

disebelahnya itu emang kuburan pul

Bangsari mengatakan...

@evi: belakang apartemen casablanca persis mba. kalo dari pancoran, ndak begitu paham jalan aku.

@mikow: mungkin juga. tapi ya ga papa. kuburan di jakarta kan tak mengerikan kaya di kampung.

zen mengatakan...

kang, aku penasaran soal tatal kuwi. opo bener koyo nang demak? teknik penyatuane kepiye kuwi? ampuh emen nek saiki isih ono sik nganggo tatal dg teknik pembuatan koyo mesjid demak.

*tulisanmu serius saiki, meh koyo feature*

eko mengatakan...

jadi pingin berkunjung kesana. Kapan2 mbok aku di ajak kesana...

beradadisini mengatakan...

ih, saya udah pernah lihat ini di tipi, tapi foto-foto di sini kok lebih bagus. jadi ingin ke sana ...

MaNongAn mengatakan...

Sangat menyejukkan hati.
Saya tunggu kelanjutannya.

.::he509x™::.

Moes Jum mengatakan...

Pul, piye yen kowe nggawe perjalanan tour de masjid wae ... trus diposting. Sopo ngerti iso nyaingi tour de warung/resto-ne Bondan Winarno

iman brotoseno mengatakan...

aku malah nggak pernah tahu ya pul...
wah perlu dikunjungi

cewekndeso mengatakan...

Jakart ada masjid yang unik kek Gitu?

maruria mengatakan...

Subhanallah..."temuan" yang luar biasa. Ko bisa ya punya ide bikin tempat wudhu wanita berbentuk kapal gitu. Ancen kreatip tenan kie...

mit@ mengatakan...

itu masjid emg tidak mau di expose ama orang..tp tempatnya bener2 keren..

org nya sangat ramah..

Bangsari mengatakan...

@zen: kapan-kapan kita sana bareng bareng. ok?

@eko: insya allah...

@beradadisini: berminat kesana?

@manongan: silahkan dibuktikan

@moes jum: ide bagus kang. matur nuwun.

@cewekndeso: jakarta itu gudang bangunan bersejarah. cuma kurang publikasi saja

@maruria: begitulah

@Mit@: setuju.

Fitra mengatakan...

Eh unik juga ni masjid...kapan2 coba kesana....tenks share nya

yuswae mengatakan...

halah...secara...
Mestinya di awali dengan: pada suatu hari...
(koyok pelajaran mengarang pas SD).
hehehee

yuswae mengatakan...

Kenapa perahu di masjid itu menjadi tempat wudlu wanita? karena wanita itu ibarat perahu..
Kita menaikinya, mengayuh sampai keluar peluh, dan...ah betapa indahnya makhluk Tuhan satu ini..

gambarpacul mengatakan...

maen mesjide....

amethys mengatakan...

baca ttg batu...jadi ingat ibu2 disebelahku waktu sholat Ied, beberapa th yl.
Ibu2 ini membawa batu pipih abu2 yg dibungkus kain putih...lalu dibuka diletakkan di tempat dimana dia sujud (pas dijidatnya).
Selesai sholat diambilnya batu itu dan diciuminya sambil air matanya ber linang2 dan terus mengucapkan doa.....

setiap lebaran aku berkumpul dengan orang2 yg berasal dari seluruh dunia untuk sholat Ied...walau kadang tata cara sholatnya beda...

wku mengatakan...

jadi penasaran kang, lho kalo apartemen casablanca sama mal ambassador itu sebelah mananya ya? maklum saya masih bingung daerah itu

Ipoul Bangsari mengatakan...

@fitra: silahkan dikunjungi mba

@yuswae: silahkan dikoleksi mahluk indahnya mas yus...

@amethys: wah, jadi ngiri saya...

@wku: dari ambassador ke arah kampung melayu. tak lebih dari 10 menit naik angkotnya mas..

retno damar mengatakan...

mampir.. tp durung ono sing arep diumukke hehe..

Ndoro Seten mengatakan...

welha....dalah
masih ada juga mutiara tersembunyi di sudut ibukota yo?

Taufik mengatakan...

Wooi piye kabarmu ? ijih neng tanah abang ?

bagjapatria mengatakan...

wooo ada ya?
kok baru tau, boleh juga nih kapan2 mampir klo maen ke Jakarta

-Salam kenal Kang-

mantan kyai mengatakan...

wah masjidnya kok me-ndelik ngono yah ... kpn2 mampir ayem koyoke

Xnu_G mengatakan...

Subhanallah. Mas sungguh beruntung bisa dipertemukan dengan Masjid ini. Moga-moga bisa berkunjung ke sana suatu saat nanti. Minta doanya mas.

vizon mengatakan...

subhanallah... hebat sekali.
sebetulnya saya sangat sering ke menteng setiap kali ke jakarta, kok gak ada yag kasi tau ya?
insya Allah kapan ke Jakarta lagi tak mampir ke sana... :)

Ipoul Bangsari mengatakan...

@retno damar: monggo.

@Ndoro Seten: katanya sih ada beberapa masjid yang benar-benar mengesankan di jakarta ini. tapi saya belum tahu ndoro.

@taufik: apik kang. isih ki.

@bagjapatria: monggo silahkan di sowani. salam kenal balik...

@mantan kyai: sumonggo...

@Xnu_G: saya ikut mengamini mas

@vizon: pengurusnya itu adalah penggiat thoriqoh. makanya mereka tak begitu suka dikenal orang banyak.

Diana mengatakan...

Assalamu'alaikum. Slm kenal Bang, bagus tulisannya, jd penasaran pengen liat sendiri mesjidnya :) Thx for sharing ya,insya Allah mo ngajak anak2 ke sana...

danudoank mengatakan...

gak jauh2 amat dr ktr nih, bisa ditengok sekalian sholat di mesjid perahu nih. apalagi kalo bisa ngobrol sama pengurusnya. syukron infornya bang.

linda mengatakan...

jadi penasaran sama mesjidnya
thanx infonya pak

Anonim mengatakan...

Ass. Wr. Wb.
Salam Kenal,saya salah satu dari murid KH. Abdurrahman Ma'shum (pendiri masjid perahu),
saya mengundang anda untuk berdiskusi atau bertukar pikiran dalam DUNIA PENGOBATAN ala Tasawuf seperti yg telah diajarkan oleh Mursyid saya Syekh KH.Abdurrahman Ma'shum.
InsyaAllah jika Allah Azza Wa Jalla mengidzinkan dan meridhoi kiranya saya dapat membantu berbagi dengan kawan2 blogger.
Wass. Wr.Wb.
H. Tb. Muhammad Ibnushiyam
Kompleks Dasana Indah Tangerang, Karawaci
ph. 021-5463412

Anonim mengatakan...

INNALILLAHI WA INA ILLAIHI ROJI'UN
Telah berpulang ke Rahmatulloh Almukarrom Mursyid KH. Abdurrahman Ma'shum (pendiri masjid perahu), pada hari Rabu tgl 06 Mei 2009 sekitar siang hari (ba'da Dzuhur) +/-jam 13.00 WIB. Semoga Allooh Azza Wa Jalla menerima segala amal ibadah beliau dan memaafkan segala kesalahannya Amiin. Agar berita ini dapat disampaikan kepada yang mengenal Beliau...

Bangsari mengatakan...

@Anonim: Innalillahi wa Inna Ilaihi Rojiun. Terima kasih atas informasinya pak/bu. semoga beliau diterima dan diberi tempat yang layan di sisi-Nya. Amin...

Larry mengatakan...

Lokasinya sangat dekat Harris Hotel Tebet http://harris-tebet-jakarta.com

ndza mengatakan...

askum..
Slm silturahmi dr cirebon
msh murid y syech mursyd syarif qosim abdurohman ma'sum brhbng beliau sdh wfat jd d cirebon jg ad jmaah zkir yg d pimpin ustd.H syariffudin & ank yua isa syarifuddin abddurohman,smg aml ibdah y abah ma'sum d trima d sisi Allah & mndptkn surga y allah amin.
klo ad rzki insy jmaah d crbn brsltrahmi k msjid baiturohman( mesjid prahu ).

Muslichj mengatakan...

Luar Biasa nyaman dan menenteramkan. Aku juga "tidak sengaja" menemukan masjid ini. Alhamdulillah sempat sholat Dhuhur, Asar, Maghrib.

Di tengah kepungan hedonisme kehidupan, Masjid memang tempat berpulang yang paling nyaman untuk mengingat Allah.

cah angon mengatakan...

Kapal itu hadiah/kenang kenangan dr TNI AL...atas jasanya beliau KH.Abdurrohman Ma'shum ketika membebaskan kapal2 perang RI yg di tawan inggris di malaysia saat Indonesia bersitegang sama Malaysia di jaman presiden Soekarno(ganyang malaysia).yg ketika itu beliau cuma menyuruh 3 muridnya yg salah satu diantaranya bisa bhs inggris untuk negosiasi.dan berangkat dgn kapal yg sama persis ky kapal yg ada di masjid.sebenarnya mau di bangunkan sebuah masjid oleh pihak pemerintah sebg penghargaan jasanya beliau dlm membela negara dg di bebaskanya kapal2 TNI di malaysia..tp berhubung masjid udah ada...akhirnya pemerintah membangunkan sebuah kapal yg sama seperti kapal yg di pakai ke malaysia.dan bagian depan kapal ada ruangan khusus untuk KHOLWAT.sedang 2tiang di dalam bgian depan memang dr serbuk gergajian dan tatal kayu.kalo mustaka brrbentuk POHON yg daun2nya bertuliskan 25 Nama Nabi Rosul yg terbuat dr emas 3kg.salah satu masjid tanpa PaKu satupun.dan masih bnyak lg.

ciganjur mengatakan...

Mang Din yach...salam dr Nur Muhammad Hidayatullah (putranya Abah).mbah Mustadi di pekalongan jg ada majlis dzikir jg.mudah2an....dg wasilah murid2nya Beliau....ilmunya beliau lbh bermanfaat di seluruh pelosok negri.

cah angon mengatakan...

Banyak yg nulis mengenai hal ikhwal masjid perahu....tp soal keberadaan kapal disitu dsb bnyk keterangan penulis yg simpang siur walopun bersumber dr pengurus masjid.jd mhn cari sumber yg lbh akurat...dan setau sy silahkan bertanya kpd putranya beliau langsung yg bernama NM.Hidayatullah..untuk menghindari kesimpang siuran mengenai hal ikhwal masjid perahu tsb.

little dabelyu mengatakan...

Adakah transportasi dngan transjakarta sblm naik angkot m44? Sy posisinya di taman mini

Ipoul Bangsari mengatakan...

@little dabelyu: untuk transjakarta, bisa dicapai via tranjakarta jurusan Kota-Blok M. turunlah di depan Hotel Le Meridien, lalu bergantilah angkot 44 jurusan Kampung Melayu.

Dino mengatakan...

Saya punya 2 batu cincin merah dan ungu, pemberian dari beliau pendiri masjid perahu,... Bapak haji maksum.., sampai skarang masih saya simpan... Warnany bagus... Jadi kenang2 an dari beliau.

Hafidz Ihsan mengatakan...

Huhuhu jd inget masa kecil bermain berlarian dilapangan masjid bersama teman" kecil, tapi sekarang cuma tinggal kenangan digerus jaman dan kerakusan cukong" mata sipit

Unknown mengatakan...

Alhamdulillah Dr dulu saya kecil saya sering d ajak ibu solat d mesjid perahu ini,,memang rasanya tenang dan damai sekali kali d mesjid ini.rasa itu yg bikin sampai sekarang ingin trus solat d sana.