27 Juni 2008

Musholla hotel


Ini adalah musholla hotel terbaik sepanjang yang saya tahu. Meski negeri kita dihuni mayoritas muslim, namun hotel berbintang (di Jakarta) dengan fasilitas musholla yang bagus tidak gampang ditemukan. Apalagi dengan tempat wudlu yang didesain apik dan nyaman. Mushollanya? Lha jelas dong. Toiletnya saja bagus masa mushollanya kumuh?

Umumnya, musholla hotel dibuat "seadanya" dengan memanfaatkan ruang kosong di salah satu sudut. Di hotel sebelah Sarinah-Thamrin, musholla berada di lantai empat yang ruangannya terhubung langsung dengan lobi hotel. Sehingga pada waktu maghrib dan isya, sangat sering terjadi sholat diiringi dengan hingar-bingar pertunjukan musik pop, jaz, hingga yang agak ndangdut. Apa ndak blaen tuh? Bahkan salah satu hotel berbintang yang pernah dibom beberapa waktu yang lalu, hanya membuka salah satu kamar di lantai 6 untuk dijadikan mushola dengan digelari karpet yang sama dengan karpet lantai yang lain. Tempat wudlunya, cukup di toilet!

Sepertinya perencana pembangunan hotel ini menghargai betul kebutuhan itu.



Lokasi: Musholla dalam hotel, lantai 2 Hotel Bidakara - Pancoran

Awas sepatu anda ilang


Sebuah guyonan basi masih sering dibunyikan untuk menggambarkan perkara ini: "ambillah yang baik-baik, buanglah yang buruk." Bahkan di tempat peribadatan pun kemungkinan kehilangan barang masih terjadi. Apalagi cuma alas kaki, seperti yang saya alami dua jumat lalu. Beribadah itu satu perkara, butuh uang itu perkara lain.

Lokasi: Musholla parkir Hotel Bidakara - Pancoran

Awas kesetrum


Apaan tuh? Entah. Saya tak paham. Sepertinya sih sebuah bagian dari instalasi listrik. Lha kok bolong tanpa pelindung begitu? Nanti kalo ada orang celaka karenanya, kesetrum misalnya, bagaimana? Lha ya mbuh. Soal itu tanyakan saja pada pemda DKI, si pemilik properti.

Di negeri yang masih berkembang ini, semua orang harus bisa melindungi diri sendiri. Intinya, jangan usil, jangan nggrathil. Celaka, tanggung sendiri!

Lokasi: lampu lalu lintas perempatan Sarinah-Thamrin.

20 Juni 2008

Percakapan pagi di dapur pabrik

Obrolan fashion antara 3 wanita dan 2 pria sambil sarapan, saya pendengar pasif.

Cewek 1: Eh, tau ngga? Ntar malem ada Midnight Sale di Senayan City lho.
Cewek 2: Oh iya? Ntar lu kesono kan? Mau dong gue ikutan. Dah beberapa kali gue ketinggalan nih.
Cowok 1: Kemarin juga ada tuh di Pacific Place. Gucci dan Guess aja sale abis up to 50 % (dilafalkan dengan sangat fasih dalam bahasa indonesia dan inggris sekaligus). Makanya gue beli jam tangan yang tadinya dua koma sekian, trus didiskon jadi cuma 1,4 jeti bo. Seru banget deh pokoknya.
Cewek 3: Eh, omong-omong kok merek branded (artinya apa ya?), kok bisa mereka kasih diskon gede-gedean gitu ya?

yang membuat saya terkaget-kaget, pertanyaan itu ternyata justru dijawab temen cowok (secara, cowok itu biasanya ga fashionable gitu loh...).

Cowok 2: itu kan karena mereka lagi ngabisin stok. Misalnya nih, gue kan kemarin liat tas yang didiskon Prada, ternyata yang berwarna silver atau kuning emas. Warna-warna itu kan dah out of date. Begitu juga Gucci dan Guess, semua yang didiskon itu model-model yang sebentar lagi diganti. Kasarnya, cuci gudang gitu lah.

Duh Gusti, paringono kiyat...

13 Juni 2008

Ritual pagi para wanita

Ritual pagi hari pegawai wanita di pabrik kami:

Blow rambut
Bisa dilakukan sendiri-sendiri. Sering juga secara bergiliran, terkadang saling memblow

Cabut alis
Bisa dilakukan sendiri-sendiri. Terkadang saling membantu

Make up
Dilakukan sendiri, dengan cermin kecil yang selalu tersedia di tiap meja para pegawai wanita

Maaf, memerah susu (bagi yang sedang menyusui).
Dilakukan dalam ruang tertutup, ramai-ramai sambil bergosip dan berhaha-hihi. Setelah ritual selesai, gliran opisboi yang mengantar hasilnya ke rumah yang bersangkutan.

Ke toilet
Dilakukan berkelompok, masih sambil bergosip dan berhaha-hihi

Bagaimana dengan tempat saudara?

11 Juni 2008

Google Analytics dan Google Blog Search

Sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa blogger tidak menyediakan layanan statistik seperti halnya wordpress. Nah, mas momon yang pernah jadi pengguna setia blogspot memberikan sedikit tips bagaimana mengakalinya.

Untuk mengetahui statisik blogspot, Anda bisa menggunakan Google Analytics. Untuk itu, Anda diharuskan mendaftarkan diri terlebih dulu. Jika sudah memiliki akun gmail, anda tinggal mengaktifkan layanan ini dengan cara memasukkan alamat blog anda.

Sedangkan untuk mengetahui tautan atas sebuah blog oleh blog lain, gunakanlah Google Blog Search. Tak perlu daftar untuk menggunakan layanan ini. Ketikkan saja alamat blog yang dikehendaki, berbagai tautan yang berhubungan dengan blog tersebut akan muncul dalam sekejap. Bahkan tautan terbaru yang masih anget kebul-kebul (dalam hitungan menit) sudah terpampang disini. Dengan cara ini, bahkan Anda bisa memantau blog lain jika mau. Sangat cepat dan mudah.

Basi? Biarin...

03 Juni 2008

Tentang Habib dan Budaya Premanisme

Habib? Saya selalu menghela napas setiap kali mendengan nama itu disebut. Sebagai kaum nahdliyyin, kampung kami sangat menghormati para guru, ulama, juga para keturunan darah biru yang disebut habib itu.

Suatu pagi sehabis subuh, kira-kira 3 tahun yang lalu, karib bapak saya yang juga tetangga kami bertandang ke rumah. Dia menunggu bapak di teras, sepertinya tak ingin masuk. Kemudian bapak menemuinya. Keduanya berbincang sambil berbisik sebentar sebelum bapak masuk ke kamar. Dengan tergesa, keluar lagi menenteng sebuah amplop dan menyerahkannya. Tak biasanya sepagi itu sudah ada yang bertamu, pikir saya. Mencium hal yang kurang lazim, saya menghampiri bapak.

"Ada apa pak?"
"Biasa. Ada Habib minta sedekah", jawabnya
"Berapa?"
"Dua Setengah juta. Harus ada pagi ini", kata bapak
"Ha? Dua setengah juta untuk apa? Itu kan uang yang banyak sekali?"
"Biasa lah. Namanya Habib kalau sudah minta ndak mau kompromi."

Begitulah cerita tentang habib di Bangsari. Tak sekali dua kali mereka meminta. Dalam sebulan bisa terjadi beberapa kali. Habib yang berbeda tentu saja. Mereka telah menjadi momok yang menakutkan. Sekali meminta, maunya sejek senyet, seketika. Sejumlah yang ada dalam pikirannya.

Paling sering, mereka minta dalam bentuk uang. Tetapi barang pun diterima. Ibu saya punya pengalaman tak mengenakkan tentang ini. Dulu, sewaktu ibu masih belasan tahun (sekarang sudah hampir enam puluh), ada seorang habib yang masuk ke ruang tamu simbah saya tanpa permisi. Setelah berkeliling, secara tiba-tiba dia mengambil tip (tape) simbah di meja. Ya. Mengambil begitu saja, seolah barang itu tak bertuan. Padahal, untuk ukuran waktu itu, tip jelas merupakan barang yang sangat mewah. Terang saja ibu saya berang luar biasa. Ibarat jambret yang ketahuan, sang habib itu tak mau kalah, ia menyumpahi ibu saya dengan mendoakan yang jelek-jelek. Begitu tak mengenakkanya sumpah serapah si habib, ibu sampai-sampai berteriak, menempeleng dan mengusirnya pergi. Dus, sejak itulah ibu memusuhi para habib.

Hingga sekarang, praktek seperti itu masih banyak terjadi di kampung saya. Modusnya, mereka datang menjual minyak wangi yang katanya bisa membawa berkah ini dan itu. Minyak wangi serupa yang di pasar paling seharga Rp 1.000. Tapi di sini, mereka menjualnya puluhan hingga ratusan ribu. Jika tuan rumah takut, mereka akan meminta uang dalam jumlah yang lebih banyak. Beberapa kali malah saya dengar mereka meminta kambing. Entah untuk apa.

Dulu, setiap kali datang, biasanya mereka menginap di ruang khusus pesantren kami. Suatu kali, teman-teman saya pernah mengintip apa yang sebenarnya mereka lakukan di dalam. Ternyata tak lebih dari tidur, makan (disedikan keluarga kyai), main gaple dan mengobrol. Saat keluar, mereka akan mengincar rumah-rumah yang dianggap kaya. Dari satu rumah itu, dia akan meminta alamat rumah lain yang berpotensi menghasilkan uang.

Mereka umumnya mengaku dari tegal dan sekitarnya. Tak lupa pula mereka bercerita tentang ketinggian nasab mereka, yang konon, keturunan nabi Muhammad. Karena dekat dengan nabi, doa mereka tentu saja sangat mujarab. Proses selanjutnya gampang ditebak, mereka akan meminta tuan rumah mengamini doanya. Doa keselamatan untuk yang memberi, dan doa keburukan bagi yang menolak.

Umumnya orang kampung yang bodoh, mereka memeperlakukan para habib bagaikan wakil tuhan di bumi. Apa mau mereka adalah maunya tuhan. Siapa yang tak takut dilaknat tuhan atau mahluk kesayangan tuhan?

Karib teman bapak di atas pernah bercerita, melayani para habaib adalah kenikmatan yang luar biasa. Mereka mendatangkan berkah, menolak bala, juga mendatangkan rejeki. Singkatnya, melayani habib itu adalah anugrah, katanya. Makanya, sudah sewajarnya dunia melayani mereka. Para keturunan nabi. Golongan yang sangat dekat dengan surga. Siapa tak mau masuk surga?

Ketika saya ke Jombang, yang notabene kultur pesantren dan nahdliyyinnya jauh lebih kuat dari Bangsari, ternyata tak ada praktek semacam ini. Tentu saja saya kecewa berat. Bahwa selama ini ternyata mereka hanyalah sekumpulan penipu yang memanfaatkan kebodohan kami.

Di sini, di Jakarta, ternyata cerita kampung saya ini berulang. Belakangan, nama-nama yang didahului habib sering muncul di media. Dan seringkali, nama yang berhabib-habib ini terlibat dalam budaya kekerasan berdalih agama. Contoh kongkritnya ya peristiwa monas kemarin. Seperti apakah mahluk yang disebut habib itu?

Habib (jamaknya habaib, perempuan habibah), menurut sebagian kalangan, adalah golongan mereka-mereka yang menurut garis nasab adalah keturunan nabi Muhammad. Seperti diketahui, tidak ada anak laki-laki nabi yang menurunkan cucu, semuanya meninggal sebelum sempat dewasa. Sehingga jika memang benar mereka keturunan nabi, garis keturunan para habib bersambung melalui keturunan perempuan. Hal yang sebenarnya tidak lazim dalam tradisi arab. Mana ada orang arab menggunakan nasab garis ibu? Tapi siapa berani melawan mereka?