13 Mei 2008

Uang kondangan: berapakah nominal yang pantas?

Sudah menjadi tradisi dalam masyarakat kita untuk memberikan sumbangan saat seseorang yang kita kenal (atau tak jarang dianggap kenal) lagi punya gawe. Mulai dari pernikahan, khitanan, kelahiran, bermacam syukuran hingga kematian. Harga sosial yang harus dibayar sebagai tanda guyub rukun. Meski pada kenyataannya terdapat oknum si empunya gawe yang memanfaatkannya untuk mencari keuntungan. Ya, benar. Mencari untung. Modusnya, semua biaya hajatan didapat dari berhutang pada sebuah toko kelontong. Setelah hitung-hitungan hasil "panen", barulah semua hutang dibayarkan. Perkara setelah itu ternyata hasilnya tekor, ya terima nasib. Paling tidak sudah berusaha. :P

Di kampung, tepatnya kampung saya, sumbangan biasanya disampaikan secara langsung saat menyalami sohibul hajat. Umumnya berupa beras plus tempe, bihun, mie keriting, sayuran, panganan (pacitan) hingga hasil bumi. Namun kini, tradisi sumbangan berupa barang itu sudah mulai berkurang. Mulai mengikuti model orang kota yang cukup memasukkannya ke dalam kotak sumbangan bertuliskan "masukkan uang sumbangan disini" plus daftar absen di pintu masuk. Karena lubang kotaknya kecil, tentu saja sumbangannya tak mungkin berupa untelan telo. Lha, terus sumbangan berupa barang dibawa kemana? Ya langsung ke dapur seperti biasanya.

Menurut saya, penyampaian sumbangan melalui kotak ini terasa lebih bermartabat. Tuan rumah tidak terkesan mencari untung, si pemberi sumbangan juga tak perlu minder jika sumbangannya cuma sedikit.

Masalahnya, jika karena suatu dan lain hal, kita tak bisa menghadiri acara tersebut dan harus menyampaikannya secara langsung kepada calon si punya hajat. Yang tentunya lebih mudah dalam betuk uang bukan? Hendak dititipkan ke teman kok belum tentu bisa hadir. Mau tak mau akhirnya ya harus disampaikan sendiri.

Lantas bagaimana jika sesudah itu amplop langsung dibuka oleh si penerima? Bagaimana kalau kemudian sumbangannya dianggap kurang pantas? Lalu yang disebut pantas itu berapa?

Maka, bisik-bisik sesama calon penyumbang menjadi hal yang jamak. Supaya tidak disebut sok kaya. Atau sebaliknya, supaya tak terlalu sedikit. Lebih tepatnya, supaya terasa wajar dan tak dibilang pelit.

Maka, pertanyaan ini masih terasa relevan. Berapakah nominal uang kondangan yang pantas?

27 komentar:

Pinkina mengatakan...

sing penting ikhlas mas :)

venus mengatakan...

sesuai kemampuan dan yang paling penting, ikhlas. betoolll??

Hedi mengatakan...

ga ada jawaban pasti buat itu Pul...dua komen di atas udah betul

Ga hobi kondangan mengatakan...

Nanti bakal lebih instan lagi mas. terima kartu kredit / debit. Dan juga diberi papan informasi berisi nomor rekening pemilik hajat. Kalau perlu bisa juga melayani via paypal. Halah :D

Totok Sugianto mengatakan...

wis siap2 itung2an kalau nanti kawin bakal dapat angpau berapa hihihi... sampai sekarang saya juga masih bingung nominal ini parameternya apa? pengundang? tempat resepsi? atau ada yg lain :D

didut mengatakan...

gak ada nominal yg iklas mas, pokoknya dr hati aja

amethys mengatakan...

di undangan kawinan ada tulisannya " akan lebih menyenangkan bila tanda cinta yg anda berikan tidak berupa barang/makanan"

hua ha ha ha ha...........

Fany mengatakan...

sbaiknya sih ikhlas,
ikhlas dari si pemberi,
dan ikhlas menerima berapa aja (si penerima).
:D

lha sampeyan bsk kalo resepsi mintanya diamplopi berapa? :P

Evi mengatakan...

liat situasi dan kondisi( mksdnya tanggal tuo opo tanggal enom)
kalo sodara, temen deket ya mungkin lebih gede angpau-nya. dan yang penting ikhlas.

kenny mengatakan...

iya tergantung sikon yg penting iklas yg memberi dan menerima.
klo kondangan dikampung dikasih nominal gede ntar kaget, kondangan di kota dikasih nominal kecil ntar dikira ngece :D

percaya nggak disini perkawinan melayu (dikampung) yg diadakan dirumah, masih ada yg ngasih seringgit-dua ringgit loh, tenan.

kenny lagi mengatakan...

tambahan, biasanya dikasihkan langsung ke bapak pengantin didepan pintu masuk, sekian terima kasih ;))

langit mengatakan...

seng penting doanya mas :)

yati mengatakan...

seikhlasnya deh...moga yang dikasih juga nerima dengan ihlas

gus pitik mengatakan...

amplop-e diisi kertas, trus ditulisi "anda belum beruntung"..wis cukup..modal kertas, mangan gratis..

ini angpaonya mengatakan...

@gus pitik :
pengalaman pribadi yo kang?

mikow mengatakan...

yg penting diamplopin

kesambet mengatakan...

Separo "Gajimu" yo ndak apa2 to Pul...hehehe.

kw mengatakan...

haha aku ko ora pernah nyumbang yo. kalau di undang ya datang aja, ngucapain selamat, makan dan pamit.

ada alasan tertentu yang membuat saya enggan "menyumbang". aku kok menganggapnya seperti menggarami laut.

karena sudah kebiasaan hal yang aneh ini tak ada yang mempertanyakan.

Pacul Cicipilah mengatakan...

nek sing sugih ora nyumbang.......

sluman slumun slamet mengatakan...

di suatu tempat nun jauh di sana, tepatnya di daerah tapal kuda. uang kondangan di umumkan di depan umum pas acara berlangsung. pakai hitung2an segala. misal si A pernah nyumbang si B 10 ribu.
pas si B ada gawe, ada pengumuman kayak gini...
A nyumbang 15 ribu, lebih 5 ribu.

benar2 bhinneka tunggal ika.

Dew mengatakan...

Pertanyaan bagus, oom. Kadang "gak enak" juga soal ini.
Kalo pakai standar KPK (@ angpaw Hidayat Nurwahid), maksimal sejuta aja, katanya.
Lha trus minimalnya??

Jaman saiki kudu ati2, ojo sampe keikhlasan kita berbagi dianggap suap alias gratipikasihnantiditagih...

Fitra mengatakan...

Yang penting sih....gak ketauan nyumbang kecil...kalo nyumbang gede sebaiknya ketauan....hahahah yo arep umuk toh....

daniel mengatakan...

kalau saya sih biasa kasih ke teman dikisaran 30-50 ribu mas trus kalau ke sodara dikisaran 70-100 ribu. tapi pemberian sewaktu-waktu bisa berubah tanpa pemberitahuan terlebih dahulu (tergantung dari gaji):P. tapi berapapun yang kita kasih yang penting sih ikhlas dan yang terlebih penting lagi tuh doanya... :D

Ndoro Seten mengatakan...

ikhlas di hati anda,
halal di tangan kami....

a l i mengatakan...

nek pas nyumbange sitik ojo nganggo kartu nama, nek nyumbange okeh pamer kartu nama. tapi sebenere nge'i sitik utowo okeh seng penting ikhlas. lan ojo lali pul (iki penting!!) ben ora rugi mangane kudu ngentek-ngenteke hahaha...

Ilmi Aji mengatakan...

sesuai kemampuan aja gan, yg penting kan kehadiran kita dan doa restunya

sebuah karya kecil mengatakan...

Aku mau kondangan tapi ngga ada duit ..haduh gimana ya
.